Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Kebahagiaan Ini


__ADS_3

Halo semua, terima kasih ya udah nungguin cerita ini update dan terima kasih kalian yang udah memberikan like, vote maupun komen 🤗🤗🤗


...***...


Sesampainya mereka dilapangan basket, Camelia tersenyum lebar melihat para remaja yang menggunakan lapangan basket ini sedang berlarian kesana kemari. Mencoba satu sama lain merebut bola yang dominan warna orange itu.


"Kenapa Cam?" tanya Abra yang melihat Camelia hanya diam saja.


"Ngga papa, jujur aja aku baru pertama kali datang kesini. Ternyata banyak orang yang hobi main basket juga."


"Iya, setiap minggu banyak orang yang datang kemari. Hanya untuk sekedar bersantai ataupun memanfaatkan fasilitas olahraga yang disediakan oleh pemerintah. Kalau sudah hari seperti ini, banyak orang yang akan datang kesini."


"Mengapa baru mengajakku sekarang!"


Abra tercengang dengan perkataan Camelia barusan. Ia tidak menyangka Camelia akan menyukai tempat ini. Tau begini, ia jauh-jauh hari sudah mengajak Camelia.


"Aku takut kamu menolak. Ayo, kita main di ring sebelah sana saja. Oh iya, kali ini apa taruhannya?" tanya Abra sebelum mereka memasuki lapangan basket.


"Kamu pilih sendiri, aku ngikut aja. Asal jangan yang aneh-aneh."


"Yakin nih, aku yang pilih?"


Camelia mengangguk. "Iya yakin. Cepat katakan. Sebelum aku berubah pikiran."


"Baiklah, siapapun yang menang, akan mentraktir makan siang tiga hari kedepan."


Camelia tertawa, "kamu modus ya," canda Camelia yang dianggap serius oleh Abra.


"Eh, ngga kok. Lumayanlah dapat makan siang gratis. Juga ngga perlu makan sendiri diruangan kantor."


"Baiklah aku setuju, belum tentu juga kamu menang! Jadi kita deal."


"Deal! Kamu bawa koin ngga, Cam?"


"Ngga. Gini aja, kalau cewek yang lewat gerbang itu berarti aku duluan yang menguasi bola. Begitupun sebaliknya. Gimana?"


"Aku setuju."


Tidak sampai semenit, akhirya ada seseorang yang melewati gerbang yang telah ditunjuk Camelia tadi. Melihatnya, Camelia merasa senang. Pasalnya, orang yang lewat gerbang itu adalah seorang wanita yang menandakan kalau Camelia lah yang pertama kali mengendalikan bola.


"Aku menang. Kemarikan bolanya," pinta Camelia.


Abra pun memberikan bola basket itu pada Camelia yang sudah menyodorkan tangannya ingin menerimanya.

__ADS_1


"Kali ini gimana peraturannya?" tanya Camelia.


"Seperti yang biasa kita mainkan."


"Baiklah, kalau gitu. Siap-siap saja kalah," Camelia tersenyum tipis.


"Ok, mulai!"


Mereka berdua pun mulai bertanding basket. Perlahan, anak remaja yang semula bermain di ring sebelah, jadi menghentikan permainan mereka. Para remaja itu memilih fokus pada pertandingan Abra dan Camelia yang begitu seru.


Bagaimana tidak, mereka baru pertama kali melihat seorang wanita dan berjilbab pula mampu beberapa kali memasukkan bola ke dalam ring. Meski permainan dari lawan tidak kalah menariknya.


Para remaja dan beberapa penonton pun kini membentuk sebuah kelompok untuk mendukung jagoan basket mereka masing-masing. Tentu saja pihak Abra mendapat banyak dukungan dari pihak wanita. Siapa juga yang tidak ingin mendukung Abra? Apalagi Abra kini semakin terlihat tampan dengan basahan keringat yang berkumpul di wajahnya.


Bisik-bisik dari para wanita pun tidak terelakkan. Ada yang mengatakan Abra tampan lah, ada yang mengatakan pria idaman lah dan berbagai macam pembicaraan yang semakin menambah nilai plus pada diri Abra.


Begitu pula dengan Camelia yang banyak di dukung oleh lawan jenisnya, meski kebanyakan para remaja lelaki yang tadi bermain basket di ring sebelah. Namun, ia tak kalah populernya dari Abra. Hanya saja, ia sedikit risih karena tujuannya datang kesini bukanlah untuk mendapatkan perhatian. Ia hanya ingin mendapatkan tubuh yang sehat dan hati yang tenang. Dua hal itu saja sudah cukup baginya.


Tapi apa ini? Malah hal ini sedikit melenceng dari perkiraannya. Untuk itulah, ia ingin mempercepat langkah permainan agar poin untuk mengakui kemenangan yang mereka telah setujui dapat diselesaikan dengan cepat.


"Kayaknya sehabis bertanding banyak deh yang bakalan mau main sama kamu," ujar Camelia sambil terus berusaha mempertahankan bola yang masih terus berusaha direbut oleh Abra.


"Ngga kebalik? Aku lihat penggemarmu juga banyak loh!" kekeh Abra yang malah mendapat teriakan histeris disertai tawa kegirangan dari pendukungnya. Tentu saja para wanita itu berteriak histeris saat melihat senyuman Abra yang menawan.


"Udah, aku ngga mau bahas itu lagi. Mending kamu usaha lebih keras lagi untuk rebut bola ini dari tanganku," elak Camelia disela berlari mendekat ke ring untuk memasukkan bolanya.


Benar saja, sebelum Camelia memasukkan bola kedalam ring, Abra berhasil merebut bola dari tangan Camelia dan memasukkannya ke dalam ring.


"Apa aku bilang, sedikit-sedikit aku pasti bisa mengejarnya," ujar Abra.


Sebenarnya, jika ingin mengalahkan Camelia, Abra sudah dari tadi mengalahkannya. Hanya saja, ia sengaja mengulur-ulur kemenangannya agar ia bisa berlama-lama bermain dengan Camelia. Kapan lagi ia bisa punya waktu begitu lama dengan Camelia seperti hari ini?


Ia bahkan tidak tau kapan mereka akan punya waktu luang lagi ataupun mungkin keadaan yang tidak mendukung.


Abra semakin gencar memasukkan bola ke dalam ring di menit-menit terakhir. Karena ia harus pastikan kalau dirinyalah yang memenangkan pertandingan ini agar makan siangnya di kantor tidak terasa sepi seperti biasanya. Makan sendiri diruangan yang tiga kali lipat dari lapangan basket ini. Memikirkannya, membuat Abra tambah semangat.


Setelah beberapa menit bergulat dalam permainan, akhirnya kini poin Abra telah melebihi poin Camelia yang tertinggal beberapa poin dibawahnya. Camelia tentu saja tidak akan menyerah dengan mudahnya. Ia selalu saja berusaha merebut bola dari kuasa Abra, walaupun kecepatan dalam merebut bolanya tidak secepat dulu, saat ia masih sma.


"Jangan bilang kamu sudah menyerah, Cam!"


"Tidak, siapa bilang aku menyerah. Tidak ada kata menyerah dalam pertandinganku denganmu," ujar Camelia.


Menit-menit terakhir, Camelia masih saja berusaha untuk mengimbangi poinnya dengan Abra. Tapi, seberapa kuatnya ia berusaha, ia tetap saja kalah. Akhirnya, kemenangan ada ditangan Abra. Abra tentu saja senangnya bukan main. Karena dengan itu, Camelia bisa menemaninya makan siang.

__ADS_1


Orang-orang yang juga sebelumnya memberikan mereka sorak pun berangsur bubar. Namun, masih ada beberapa wanita juga yang masih saja dengan terang-terangan melihat Abra. Merasa tidak ingin diperhatikan lagi, Abra pun mengajak Camelia untuk duduk di bangku taman yang tidak jauh dari lapangan.


"Selamat atas kemenanganmu," ujar Camelia saat mereka telah duduk.


"Hem, terima kasih. Jadi, perjanjian kita sebelumnya berlakukan?"


"Tentu saja, emangnya wajah aku tertulis kata tidak dapat memenuhi janji," gurau Camelia disertai senyum kecilnya.


"Tentu tidak, hanya saja ... hanya saja ...."


"Hanya saja apa?" tanya Camelia penasaran.


"Hanya saja aku takut, aku tidak bisa memberikan respon balik."


"Kamu yang ngga bisa ditemani makan siang gitu?"


"Iya."


"Kenapa? Jangan buat aku penasaran. Katakan saja."


"Tidak apa, lupakan saja kataku barusan. Kamu haus?"


Camelia mengangguk sebagai jawaban.


"Baiklah, tunggu aku disini. Aku pergi membelinya dulu."


Abra pun pergi meninggalkan Camelia dengan segudang rasa penasaran didalam hatinya. Namun, Camelia tidak bisa memaksa Abra untuk berbicara karena hal itu bukalah haknya. Camelia pun memilih diam dan membiarkan waktu yang akan menjawab semuanya.


Tidak lama kemudian, Abra kembali dengan dua botol air mineral ditangan. Sesampainya di dekat Camelia, ia pun memberikan satu pada Camelia.


"Terima kasih," ujar Camelia. Ia pun membuka tutup botol air mineral dan meminumnya. Melepaskan haus yang tadi melandanya.


"Kenapa ngga minum?" tanya Camelia saat Abra tidak menyentuh sedikitpun air yang telah dibelinya.


"Cam," panggil Abra seraya memiringkan sedikit duduknya agar ia bisa berbicara lebih jelas pada Camelia.


"Apa?" Camelia menoleh. Melihat Abra yang juga tengah melihatnya.


"Jika suatu saat ada lelaki yang ingin mengenalmu lebih jauh, apakah kamu akan membuka diri?"


Camelia seketika menegang.


...To be continued. ...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca 🤗


...By Peony_8298...


__ADS_2