Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Kerisauan Mama Atha


__ADS_3

"Mbak Sabila?"


"Iya, Carissa tidak sengaja melihatnya di sebuah toko baju. Tapi saat kami kesana, Sabila sudah pergi."


"Ab,"


"Hem."


"Aku tutup dulu telponnya ya!"


Baru saja Abra hendak bertanya, mengapa Camelia ingin menutup telponnya, sambungan telepon mereka sudah terputus lebih dahulu.


"Mbak Cam. Mbak kenapa?" tanya Riana yang mendapati Camelia hanya terdiam memandangi ponselnya.


"Dia telah datang, Ri!" seru Camelia.


"Siapa, mbak?" tanya Sari yang muncul dari dapur karena mendengar suara Camelia yang begitu gembira.


"Ibu Carissa, Mbak Sabila, Sar. Dia ada dikota ini."


"Mantan istri, mas Atha?" tanya Riana memastikan.


Sari yang melihat perubahan wajah Camelia langsung saja menoleh pada Riana dan memberinya kode kalau Riana telah salah bicara. Mengetahui kalau dirinya salah, Rania lantas menutup mulutnya.


"Aduh, maaf. Aku kelepasan bicara," bisiknya pada Sari.


"Sudahlah, semua sudah terjadi," balasnya. Sari lalu beralih pada Rania. "Emm, mbak. Kalau gitu aku kebelakang dulu, mau cek brownies-nya lagi."


"A ... aku juga mbak, mau kedepan dulu. Siapa tau ada pembeli."


"Hem."


Kedua karyawan Camelia pun kembali ke pekerjaan masing-masing. Berbeda dengannya, ia masih duduk diam melihat ponsel yang baru saja ia non aktifkan. Ia tidak tau harus berbuat seperti apa.


Apakah setelah mengetahui kalau Sabila telah kembali, maka perjodohannya dengan Atha akan dibatalkan atau malah akan dipercepat. Ia tidak dapat menduganya. Pasalnya, kemunculan Sabila begitu tiba-tiba. Apalagi dia muncul disaat perjodohannya dengan Atha sudah dalam tahap pembicaraan antara kedua keluarga.


Apa yang akan dikatakannya pada kedua orang tuanya kelak, saat mereka tau kalau ibu kandung Carissa ada di kota yang sama dengan mereka?

__ADS_1


Ah, semua hal itu membuat Camelia jadi sakit kepala saja. Apa perjodohan mereka harus serumit ini?


***


Sama seperti Camelia, kedua orang tua Atha terkejut mendengar perkataan Atha lewat ponsel yang mengatakan kalau Carissa telah melihat ibu kandungnya.


Siapa yang tidak terkejut, coba! Saat wanita yang tidak lagi mempunyai kabar selama bertahun-tahun, kini tiba-tiba saja muncul di hadapan semua orang? Dan lebih parahnya, Sosok yang tidak memiliki kabar selama bertahun-tahun itu, seakan tidak memiliki ingatan kalau dirinya telah mempunyai seorang anak kecil yang sudah sangat merindukan dirinya! Ah, jangankan anak, ia seakan lupa kalau ia pernah mempunyai sosok lelaki yang sangat dicintainya.


Apa gunanya ia menunjukkan diri kalau ia tidak ingin menemui anak semata wayangnya walau hanya sekali saja? Apa gunanya ia berada di kota yang sama kalau ia tidak ingin menyapanya walau sebentar? Apa karena ia sengaja menunjukkan diri?


Meski berbagai pertanyaan hinggap di kepala kedua orang tua Atha, kekesalan mama Atha tidak bisa di pungkiri lagi.


"Wanita itu, kenapa harus muncul disaat seperti ini?" gerutu mama Atha. "Lebih baik dia tidak pernah datang lagi."


"Ma, tenang."


"Mama ngga bisa tenang kalau dirinya tiba-tiba muncul seperti ini," ujar mama. "Mama tidak mau kalau perjodohan anak kita sampai batal karena dia. Kehidupan Atha dan Carissa sudah tertata baik, tapi wanita itu muncul lagi. Pa, mama tidak ingin Atha merasa sedih lagi seperti tahun-tahun yang telah lalu," jelas Mama. "Papa tau, kan. Bagaimana keadaan anak dan cucu kita saat wanita itu meninggalkan mereka?"


"Papa sangat tau, tapi ma. Mama ingat, mereka belum resmi bercerai. Mereka belum pernah ke pengadilan."


"Pokoknya, mereka tidak bisa bersama lagi. Apa papa ngga kasihan sama cucu kita? Pa, harusnya dia sadar kalau dia masih mempunyai anak kecil. Kalau dia tidak mau menemui Atha, ya tidak masalah. Tapi kalau dia ngga mau nemui Carissa walau sebentar aja, mama rasa dia sudah keterlaluan. Apa ada ibu macam dia!"


"Pokoknya, besok kita harus kerumah nak Camelia untuk membahas lanjutan perjodohan anak kita! Mama tidak ingin memberi peluang wanita itu untuk masuk ke dalam kehidupan keluarga kita lagi, apalagi kehidupan Atha dan Carissa!" tegas mama.


"Ma, bukannya itu terlalu mendadak?" ujar Papa. "Atau begini saja, besok kita berangkat, tapi nanti lusa kita kerumah nak Camelia. Biar lebih dahulu kita mengabari mereka lewat telepon, biar mereka tidak kaget nantinya."


"Baiklah, mama setuju. Kalau begitu, mama beres-beres pakaian yang ingin dibawa dulu. Mama tidak mau nunggu besok lagi."


"Terserah mama saja."


Mama pun masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan pakaian yang akan mereka bawa selama ke bandung. Mama menyiapkan begitu banyak pakaian. Papa yang ikut menyusul mama ke kamar pun sampai terkejut dibuatnya.


"Ma, kenapa mama banyak sekali membawa pakaian."


"Mama rencana mau tinggal sampai pernikahan anak kita dilaksanakan, pa."


"Ma, mama juga tidak perlu seperti itu. Nanti bukannya membawa keadaan yang bahagia, malah jadi sebaliknya."

__ADS_1


"Papa ngomong apa, sih."


"Maksud papa, kalau pertunangan anak kita telah dilakukan, kita akan ķembali kesini dulu. Lagi pula, papa masih ada kerjaan disini. Kalau kita tinggal lama disana, siapa nantinya yang akan menghendel pekerjaan disini?"


Mama diam, ia sepertinya tidak dapat menjawab pertanyaan papa yang begitu detail.


"Kalau memang mereka berjodoh, walau nak Sabila muncul, hal itu tidak akan berpengaruh pada kehidupan mereka."


"Baiklah, mama ikutin perkataan papa," ujar mama membuat papa tersenyum.


Mama pun kembali memasukkan beberapa baju kedalam lemari dengan dibantu oleh papa.


***


Keesokan harinya, seperti kata mama dan papa Atha, mereka pun berangkat ke bandung untuk lebih lanjut membahas perjodohan anak mereka. Biar bagaimana pun, mama Atha tidak akan membiarkan Sabila masuk kedalam kehidupan anak dan cucunya lagi.


Sudah cukup waktu itu ia terlena akan kelembutan palsu Sabila. Saat ini, ia tidak akan tertipu lagi, meski Sabila akan mengatakan kata maaf beribu-ribu kali padanya.


Ah, andai saja waktu itu ia tidak luluh akan bujukan Atha dan merestui hubungan mereka, pastinya keadaan seperti ini tidak akan pernah terjadi. Tapi, kata andai pun kini sudah tidak berguna lagi. Mama hanya bisa melupakan apa yang menjadi keputusannya di masa lalu.


"Pa, bawa mobilnya agak cepetan dong, nanti kita ketinggalan pesawat."


"Ma, ma! Bahkan kita ke bandara ini sudah sangat cepat. Penerbangannya kan masih masih dua jam lagi."


"Duh, papa. Lebih cepat lebih baik. Aku ngga mau kalau kita sampai terlambat nanti."


"Iya, ma. Iya."


Papa pun menambah sedikit laju mobilnya menuju bandara karena dengan begitu, istrinya akan sedikit lebih tenang.


***


Camelia tersedak tehnya saatnya mama mengatakan sesuatu yang sangat dihindarinya dalam beberapa jam belakangan ini.


To be continued


Like, vote dan komen ya

__ADS_1


By zolovelypeony


__ADS_2