
Halo semua, sebelumya saya mau menerima kasih pada kalian semua karena telah memberikan like dan komen kalian di bab sebelumnya. terima kasih ya. oh iya, yg mau berikan hadiah poin tinggal klik hadiah aja ya.
...***...
Abra kembali dengan dua botol air mineral ditangannya. Sesampainya di dekat Camelia, ia pun memberikan satu pada Camelia.
"Terima kasih," ujar Camelia seraya membuka tutup botol air mineral dan meminumnya. Melepaskan haus yang tadi melandanya.
"Kenapa ngga minum?" tanya Camelia saat Abra tidak menyentuh sedikitpun air yang telah dibelinya.
"Belum haus aja. Cam," panggil Abra seraya memiringkan sedikit duduknya agar ia bisa berbicara lebih jelas pada Camelia.
"Apa?" Camelia menoleh. Melihat Abra yang juga tengah melihatnya.
"Jika suatu saat ada lelaki yang ingin mengenalmu lebih jauh, apakah kamu akan membuka diri?"
Camelia seketika menegang. Mencerna perkataan Abra barusan. Lalu, beberapa detik kemudian ia menyinggungkan senyuman sebagai jawab yang membuat Abra ikut tersenyum juga.
"Bisa kita pulang sekarang, udah jam 9 nih," ujar Camelia.
"Baiklah, ayo," ajak Abra.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan taman dengan perasaan yang setengah mereka utarakan masing-masing. Sepanjang jalan, Abra sesekali Abra melirik Camelia yang melihat keluar. Entahlah, apa Camelia sengaja menghindarinya atau Camelia malu karena dirinya selalu melirik Camelia.
Hal tersebut membuat Abra senyum-senyum sendiri. Namun, tanpa Abra ketahui, Camelia sebenarnya juga tengah senyum-senyum sendiri jika mengingat perkataan Abra sewaktu di taman. Tantu saja Camelia tau apa maksud dari perkataan Abra. Hanya saja, ia langsung mengalihkan pembicaraan yang mengatakan kalau ia ingin segera pulang. Baginya, perkataan Abra yang seperti itu sudah cukup untuk membuatnya tersenyum.
Abra memang pintar membuat kata-kata yang tidak menjurus pada dirinya, namun nyatanya kata-kata tersebut sebenarnya untuk dirinya sendiri. Lihat, mana ada lelaki yang mau membicarakan lelaki lain di hadapan wanita yang diinginkan. Tentu saja tidak ada. Kalau pun ada, mungkin lelaki itu harus menahan sakit di dada ataupun memang lelaki tersebut tidak serius dengan seorang wanita.
"Cam," panggil Abra detelah lama terhanyut dalam pikiran masing-masing.
"Hem, ada apa?" ujarnya menoleh pada Abra.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memanggilmu saja," kekeh Abra.
"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Camelia.
"Tidak ada, hanya saja aku merasa seperti lagi sendirian saja didalam mobil. Seperti tidak ada kamu," ujar Abra mampu membuat Camelia menoleh lama padanya.
"Maaf aku terlalu suka melihat keluar," ujar Camelia merasa tidak enak.
"Lupakan saja, aku tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini. Oh iya, masih suka berhubungan dengan Carissa?" tanya Abra bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan yang bisa-bisa membuat mereka terdiam lagi.
__ADS_1
"Iya, kami masih sering video call kalau malam hari. Biasa aku yang memulainya biasa dia. Tapi belakangan ini kami jarang berkomunikasi."
"Aku dengar, Atha akan pindah kerja di sini karena mendapat promosi dari kantor tempatnya kerja."
"Hem, iya. Mas Atha juga bilang begitu padaku. Mungkin karena mengurus kepindahannya kami jadi jarang berkomunikasi."
Abra merasa lain pada dirinya saat Camelia menyebut Atha lengkap dengan panggilan 'mas' Ia merasa seperti ada yang berbeda pada dirinya. Meski Camelia hanya memanggil mas Atha sebagai bentuk panggilan kesopanan saja, tetap saja panggilan itu mengusik rasa cemburu didalam hatinya. Setidaknya, ia harus mencoba membuat rasa yang tidak pantas itu menghilang dengan mengembuskan nafas pelan.
Masih fokus melihat jalanan didepan, Abra mulai kembali mengajak Camelia berbincang, "Cam, kalau aku menyuruhmu manggil aku 'mas' kamu mau ngga?"
Camelia tertawa. "Apaan sih. Umur kita tuh ngga jauh berbeda tau. Meski kamu tua dari aku, aku merasa lain aja jika harus memanggilmu mas. Lagipula kita ini temenan. Udah ah, jangan buat aku tambah tertawa."
"Sekali aja, coba manggil aku pakai sebutan mas. Aku hanya ingin mendengarnya saja. Ayo lah, sekali saja," ujar Abra.
"Mas ... Mas Abra," ujar Camelia pelan. Setelah mengatakannya, Camelia tertawa tak tertahankan. Ia bahkan menutup mulutnya agar suaranya sedikit teredakan. Aneh saja saat dirinya memanggil Abra dengan memakai embel-embel sebutan mas.
"Cam, aku serius."
"Iya mas, aku tahu. Mas Abra kan!" Lagi-lagi Camelia berakhir dengan tertawa puas mendengar dirinya sendiri memanggil Abra pakai embel-embel mas.
"Sudahlah, panggil Abra aja kalau gitu. Jangan panggil pakai mas lagi. Ntar yang ada kamu tertawa terus. Mana memanggilnya ngga ikhlas lagi."
"Kalau gitu, panggil saja aku Absay," ujar Abra menyinggungkan senyum selebar mungkin.
"Absay?"
"Iya, Absay."
"Dalam mimpi kamu. Tunggu aja saat tidur, ntar kesampaian juga. Udah ah, kamu ngga seru."
Absay? Tentu saja Camelia tau apa kepanjangan dari panggilan itu. Hanya saja, ia tidak ingin membahasnya lebih jauh. Jadi, ia memilih memalingkan wajah melihat jalanan yang kian ramai dengan kendaraan pribadi. Ia memilih diam tanpa menanggapi ucapan Abra.
"Kenapa keadaannya malah menjadi seperti ini," batin Abra yang sebenarnya tidak bermaksud untuk membuat keadaan mereka kembali menjadi canggung.
"Maaf, aku hanya bercanda."
Abra tau sifat Camelia yang tidak ingin diberikan kata-kata yang bertolak dengan hati Camelia. Tentu, Camelia adalah anak yang terdidik. Dia tau pasti panggilan yang tepat untuk orang yang lebih tua, sahabat, maupun orang lain. Ia tau, saat ini ia sudah kelewat batas. Bagaimana bisa ia menyuruh Camelia memanggilnya Abra sayang sedangkan belum ada ikatan yang kuat untuk membuat Camelia memanggilnya seperti itu.
"Tidak apa. Hanya saja, lain kali tidak usah membicarakannya lagi."
"Aku janji."
__ADS_1
Sesampainya mereka dipelanataran rumah Camelia, Abra lantas keluar duluan dari mobil dan berjalan ke samping untuk membukakan pintu mobil buat Camelia.
"Terima kasih, pak sopir."
"Sama-sama. Eh, pak sopir?"
"He-em sopir. Kenapa mau komen? Kan tadi emang kamu yang nyetir."
"Dari dulu aku selalu kalah, baiklah aku pulang dulu. Sampai jumpa besok siang di kantorku," ujar Abra tersenyum.
Camelia mengangguk. "Iya."
Setelah itu, Camelia pun masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Abra yang masih melihatnya hingga menghilang dibalik pintu.
"Semoga mulai hari ini, kita akan semakin dekat," batin Abra.
Abra pun meninggalkan pekarangan rumah Camelia yang begitu asri dengan bunga dan pohon buah disana sini.
Diperjalanan pulang kerumah, Abra lantas mendapatkan panggilan telepon dari Papa Fauzi. Ia pun memasang handsfree untuk memudahkannya selama panggilan telepon dengan Papa.
"Assalamualaikum, Pa."
"Waalaikumsalam, kamu dimana son?"
"Abra lagi dalam perjalanan pulang, Pa."
"Baiklah, setelah kamu sampai, ada yang ingin Papa dan Mama katakan."
"Iya pa, ini ngga lama lagi dekat rumah."
"Papa tunggu."
Abra pun memutus sambungan telepon dari papa. Ia merasa deg-degan dan menduga-duga kalau pertemuannya dengan Papa kali ini, akan membahas tentang perjodohannya dengan Delia. Abra yakin itu. Bagaimana tidak, sudah beberapa hari ini, pembahasan itu lenyap dan akhirnya dalam hitungan menit tadi, pembahasan tentang perjodohannya akan kembali terkuak.
"Semoga mama bisa membantuku," ujar Abra.
...To be continued ...
Jangan lupa like/vote dan komen sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya readers.
...By Peony_8298...
__ADS_1