Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Tidak Bisa Ke Lain Hati Lagi


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali dengan tidak sabaran Delia telah berdiri didepan pintu kamar papanya karena ingin segera menyampaikan permintaannya. Ia bahkan sudah ada didepan pintu kamar Papa Samuel sejak sepuluh menit yang lalu. Namun, tak kunjung Delia berani mengetuk pintunya karena ia tidak ingin menganggu waktu istirahat Papa. Apalagi Papa Samuel pulang larut malam saat Delia sudah terlelap tidur ke alam mimpi.


Ia kian meremas jari-jarinya saat matahari mulai masuk lewat disela-sela gorden yang separuhnya belum di buka oleh bibi, asisten rumah tangga Papa Samuel. Ia juga telah mondar-mandir sedari tadi. Jika saja ia memberanikan diri dari tadi, ia pasti bisa sangat tenang pagi ini. Menikmati teh dan roti seperti pagi biasanya.


Beberapa menit lagi telah berlalu. Akhirnya, Papa Samuel keluar dari kamar yang membuat senyuman kini merekah diwajah Delia. Delia pun maju memeluk Papa Samuel yang selama ini telah membesarkannya seorang diri.


"Papa," lirih Delia dengan nada suara yang serak seperti ingin menangis.


"Nak, kamu kenapa?" tanya papa khawatir mendapati anaknya seperti ini.


Pasalnya, Papa Samuel tau jika kelakuan Delia seperti ini, pasti ada yang sedang diinginkan oleh sang anak dan sebagai orang tua tunggal, ia akan berusaha mewujudkan keinginan anaknya. Meski ia harus menghabiskan banyak uang atau pun waktu dengannya.


"Ayo duduk dulu," ajak Papa Samuel mengajak Delia untuk duduk di sofa depan kamarnya. "Ada apa? Cerita sama papa," lanjut Papa Samuel setelah mereka duduk.


"Pa, perjodohan ini ngga bakalan batal kan, pa?" tanya Delia khawatir.


"Tentu nak. Siapa yang mengatakan kalau perjodohanmu akan batal? Papa dan Papa nak Abra sudah setuju. Lagipula semua juga tau kalau nak Abra dan kamu adalah teman sma."


"Delia takut, perjodohan ini akan batal," ujar Delia semakin erat memeluk sang papa.


"Tenang saja, papa janji. Perjodohan kalian akan tetap berlangsung. Jadi, putri papa ini tenang saja. Biarkan papa yang mengurus semuanya, ok!" ujar Papa Samuel disela menangkup kedua pipi putrinya.


Delia mengangguk. "Delia percaya sama papa."


"Baiklah, karena sudah percaya bagaimana kalau kita sarapan. Pasti anak papa ini sudah lapar," ajak Papa Samuel.


"Iya pa. Ayo!"


Papa dan anak gadis itu pun pergi ke meja makan. Sarapan pagi bersama sebelum beraktifitas seperti biasanya. Mereka makan seperti biasanya. Meja makan yang lumayan besar tidak membuat mereka merasa kosong karena mereka menikmati sarapan ini penuh dengan kehangatan.


Selagi Delia menikmati makannya, Papa Samuel berhenti sejenak melihat putrinya yang lahap. Beliau kembali sedih jika mengingat sang istri yang tidak ada bersama mereka lagi.


"Pa, papa kenapa?" tanya Delia saat mendapati Papa memberhentikan makannya.


"Tidak apa-apa, nak. Makanlah. Keburu nanti makannya dingin."


"Ada yang papa sembunyikan. Ada apa pa?" tanya Delia juga ikut menghentikan makannya. Ia pun beringsut mendekati papa. "Pa," lanjut Delia dengan nada merengek agar papa mau mengatakan apa yang sedang ada didalam hatinya.


"Papa sempat berpikir. Jika kamu sudah menikah nanti, pasti papa akan makan sendirian di meja makan sebesar ini," ujar Papa Samuel pada akhirnya.

__ADS_1


"Papa jangan bilang begitu. Delia akan tetap bersama papa."


"Tidak nak. Jika kamu telah menikah, maka tugas pertamamu sebagai seorang istri adalah harus mengikuti apapun kata suaminya. Begitu pula jika seorang suami membawanya pergi dari rumah orang tuanya. Istri tersebut harus mengikuti kemanapun suaminya pergi. Mama kamu pun dulu begitu, dia begitu patuh pada papa. Apapun yang papa katakan atau suruhkan, selama itu masuk akal bagi mama. Mamamu akan menuruti papa. Itulah mengapa papa tidak bisa berpaling dari mamamu walaupun mamamu sudah tiada bersama kita disini. Papa harap, kamu bisa seperti mamamu."


"Delia janji," ujar Delia yang matanya kini telah berkaca-kaca mendengar penjelasan papa.


Papa mengelus pipi Delia sayang. "Papa doakan, semoga kamu mendapat suami yang dapat menerimamu apa adanya."


"Terima kasih pa," ujar Delia kini sudah tidak bisa membendung lagi air matanya.


Perlahan papa pun menghapus air mata putrinya, ia bahkan sangat sayang padanya. "Baiklah, kita lanjut makan lagi ya."


"Iya pa."


Papa Samuel dan Delia pun melanjutkan kembali sarapan mereka. Meski begitu, perasaaan mereka berdua kini telah sama-sama lega. Papa kini siap melepaskan putri semata wayangnya.


...***...


Disisi lain, Abra saat ini tidak berangkat kerja karena ingin menjemput Bella di Jakarta. Untung saja kemarin-kemarin ia telah menyelesaikan begitu banyak dokumen. Jadi, hari ini ia bisa pergi menjemput adiknya yang bawel. Namun, dengan adanya Bella, Abra bisa sedikit terbantu jika nanti muncul sebuah masalah yang tidak bisa ia selesaikan.


Abra sampai di kosan adiknya sekitar jam sepuluh. Meski bersaudara, Abra tetap menunggu Bella di dalam mobil mengingat ia adalah seorang lelaki. Tentu ia harus menghindari masalah yang mungkin akan muncul dikemudian hari. Apalagi suasaan kosan Bella hari ini terbilang sepi.


Abra mengusap kepalanya, mengapa ia baru tersadar. "Huft ... kenapa tidak ajak dia sekalian. Mungkin saja dia ada perlu lagi di Jakarta," tutur Abra.


"Ajak siapa kak?" tanya Bella yang tiba-tiba muncul di jendela mobil.


"Astagfirullah, Bella. Kamu ngagetin kakak saja. Kamu bisakan bertanya pelan-pelan."


"Ngga bisa. Sejak kakak memundurkan kisah cinta kakak. Bella jadi seperti ini. Hufft, lihat sekarang. Bella pun sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi."


Bella cemberut kala mengingat rencana penjemputannya karena kakaknya akan dijodohkan. Awalnya Bella merasa senang karena ia mengira kakaknya akan di jodohkan dengan Camelia. Mengingat mereka yang kian dekat tiap harinya. Tapi apa ini? Malah dugaannya terlempar jauh sampai ke planet Neptunus. Planet terjauh dari tata surya. Saat Bella tau kalau kakaknya akan dijodohkan dengan wanita lain. Seketika itu juga semangat Bella jadi berkurang. Bahkan sebenarnya ia tidak ingin pulang kerumah.


"Hufft, Bella ngga terima," teriak Bella sambil menghentak-hentakkan kakinya dijalan.


"Kamu mau buat kakak jadi budek apa? Teriak-teriak tepat di telinga kakak lagi!"


"Biarin. Biar wanita itu menolak perjodohan dengan kakak."


"Ngga sampai gitu juga kali Bel. Emang kalau kakak jadi seperti itu, Camelia mau juga sama kakak?"

__ADS_1


"Hus, stop sebutin nama kak Cam. Kakak ngga pantas lagi buat sebutin namanya."


"Dasar anak kecil. Cepat ambil keperluanmu, baru kita berangkat."


Setelah beberapa saat, akhirnya emosi Bella mereda. Namun, ia masih tetap meledek kakaknya.


"Baiklah, kakak yang kasian banget."


"Apa?"


Secepatnya Bella menghindar dari murka kakaknya dengan berlalu masuk kembali ke dalam kostnya mengambil beberapa barang.


"Kak Cam, maafin Bella ngga bisa jagain kak Abra buat kakak," gumam Bella sebelum kembali menghampiri kakaknya yang masih setia didalam mobil.


"Cepat, kakak masih harus masuk kantor ini."


"Iya ... iya ... sabar." Setelahnya Bella pun masuk ke dalam mobil, duduk disamping kakaknya.


Selama perjalanan, Bella tetap diam kala mengingat perjodohan kakaknya dengan wanita lain. Sungguh sebagai adiknya, ia tidak terima jika perjodohan ini tetap berlangsung, tapi ia juga tidak bisa menentang keinginan orang tuanya.


Tau akan jadi begini, Bella sudah lebih dulu bicara terang-terangan tentang perjodohan kakaknya dengan Camelia saja. Bella mendesah. Ia tidak menyangka, ucapannya malam itu disalah artikan oleh Papa Fauzi.


"Kamu kenapa?" tanya Abra saat mendengar helaan nafas Bella yang panjang.


"Bella ngga setuju."


"Ngga setuju? Tentang perjodohan kakak?"


"Iya kak. Kakak gimana sih!"


Abra manggut-manggut, seketika ide muncul di kepalanya. Ia pun menoleh dan memanggil Bella pelan.


"Bel, kamu mau bantu kakak ngga?"


"Bantu apa kak?" tanya Bella begitu penasaran


...To be continued ...


Jangan lupa like/vote dan komen sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya readers. 🤗

__ADS_1


...By Peony_8298...


__ADS_2