Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Bagiku, Kamu Terlalu Manis


__ADS_3

Abra tersentak kaget saat Papa menyebutkan nama wanita yang ingin dijodohkan dengannya. Ia tidak menyangka, ternyata tebakannya salah.


Bahkan ia masih ingat betul ucapan Mama sebelumnya, "Gimana kalau Mama jodohkan kamu dengan seorang gadis. Dia anak yang baik loh! Mama kenal baik sama dia."


Kata-kata Mama sangat jelas diingatkannya. Apakah disini dirinyalah yang salah karena telah salah menangkap perkataan Mama-nya atau ada kesalahpahaman diantara mereka. Entahlah, Tapi saat ini ia sepertinya masih ingin menyendiri.


Abra pun berlalu meninggalkan kedua orang tuanya yang masih belum selesai berbicara perihal perjodohannya.


"Papa, Mama kira kita sepemikiran. Ternyata tidak," ujar Mama sebelum ikut pergi meninggalkan Papa didalam kebingungannya.


"Ada apa dengan mereka berdua. Sudahlah, nanti dengan sendirinya akan baik-baik saja," ujar Papa.


Abra yang telah sampai di dalam kamarnya, langsung saja membuang diri diatas tempat tidur. Ia mengambil bantal dan menaruhnya diatas kepalanya.


Mendengar ketukan pintu dari pintu kamarnya, membuat Abra malah semakin mengeratkan bantal tersebut menindis kepalanya. Ia tidak ada kemauan untuk pergi membuatnya karena percuma saja, kekacauan hatinya tidak akan terobati secepat mungkin.


"Nak, Abra. Dengar penjelasan Mama dulu," ujar Mama Rania.


Lagi dan lagi, tidak ada sahutan dari Abra. Mama Rania pun memakluminya. Ia mengembuskan napas, sebelum berlalu dari pintu kamar Abra.


"Mama kenapa sama Abra?" tanya Papa.


"Papa tuh yang kenapa? Masa keinginan anak sendiri ngga tahu!" ujar Mama Rania kembali meninggalkan Papa.


Papa menggelengkan kepalanya, tidak mengerti apa kemauan anak dan istrinya. Saat Papa hendak menyusul Mama, ponselnya berdering. Ia langsung saja menggeser tampilan telepon berwarna hijau ke arah kanan.


"Assalamualaikum, Pak Samuel," ujar Papa


"Waalaikumsalam, jadi kapan kita akan membahas perihal perjodohan anak kita?"


"Secepatnya."


"Aku menunggu kabar baik selanjutnya," ujarnya sebelum memutuskan sambungan telepon.


...***...


Keesokan harinya, Camelia berangkat pagi sekali ke tokonya. Perasaan hatinya saat ini masih tidak terlihat bagus sejak kejadian semalam.


Ia terus saja tidak fokus menata browniesnya di etalase toko. Riana yang baru saja selesai menata kursi didepan, lantas mendekat ke Camelia.


"Mbak Cam! Mbak kenapa melamun terus? Hati-hati loh, nanti kesambet," tegur Riana.


"A ... apa Ri?" beo Camelia tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan oleh Riana.


"Mbak lagi mikirin apa? Sampe sebegitu tidak fokusnya. Kalau disini Riana bosnya, Mbak udah aku pecat," kekeh Riana bercanda.


Camelia tersenyum. Akhirnya candaan Riana tidak sia-sia juga. Camelia lantas berjalan keluar. Ia duduk di kursi yang barusan Riana perbaiki tempatnya. Ia pun menyandarkan kepalanya di meja.


"Mbak ingat anak Mbak," ujar Camelia.


"Hah! Mbak udah punya anak? Tapi bukannya Mbak masih ... masih ...."


"Masih gadis?" potong Camelia. "Carissa bukan anak kandung Mbak. Tapi dia adalah anak kecil yang sudah Mbak anggap sebagai anak sendiri. Tadi malam pas Mbak vc-an sama dia. Dia terjatuh, makanya Mbak tidak tenang."


Camelia menghela nafas panjang. Riana pun ikut duduk didepan Camelia. Mengambil kesempatan bersantai saat pelanggan belum datang.


"Ibu-nya kemana Mbak?"

__ADS_1


"Ngga tau."


Riana manggut-manggut mendengar cerita Camelia. Tidak lama kemudian, Revan yang memang sudah menjadi tetangga bisnis mereka, terlihat datang menghampiri mereka dengan tiga gelas kopi ditangannya. Riana yang jelas-jelas melihatnya tersenyum. Pikirnya, dia dapat gratisan lagi.


"Ehm, aku ngga ganggu kan?"


Camelia berpaling melihat sosok lelaki yang selalu berdebat dengan sahabatnya kala bertemu. Camelia lantas memperbaiki cara duduknya.


"Ngga, kamu lagi ada disini rupanya," ujar Camelia.


"Hem, seperti yang kamu lihat."


"Mas Rev, itu yang ditangan mas, buat kami kan?"


Riana yang baru-baru kenal dengan Revan, tanpa malu meminta apa yang ada di tangannya. Revan mengangguk dan memberikan Riana dan Camelia apa yang seharusnya ia berikan.


"Terima kasih," ujar Camelia dan Riana bersamaan.


"Mas, kapan-kapan gratis lagi ya," ujar Riana tersenyum.


"Ok, tapi ada gratis juga ngga disini?" tanyanya.


Seketika Riana melihat Camelia yang sedang menikmati kopi pemberian Revan. Camelia lantas menaruhnya dan mendonggak melihat Revan.


"Ada kok yang gratis. Tapi yang gosong, kebetulan aku tadi panggang nya terlalu lama. Mau?"


"Kamu wanita yang tegaan."


Revan mundur, ia berdecak pinggang tidak menerima perkataan Camelia. Meski gratis, orang mana yang mau memakan brownies yang kelewat matang itu. Camelia lantas tertawa melihat ekspresi wajah Revan yang terkejut.


"Aku bercanda kok. Sini duduk didepanku," panggil Camelia. "Ri, tolong ambilkan brownies yang pake marshmallow ya," lanjutnya.


Lagi dan lagi, ia bertemu dengan makhluk teraneh bumi ini. Kanaya menggeleng, ia tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi. Tidak mau tinggal berdiri melihatnya, Kanaya pun pergi mendekati mereka.


"Assalamualaikum, Cam," ujar Kanaya.


"Waalaikumsalam, Kay. Akhirnya kamu datang juga," ujar Camelia melirik Revan.


"Iya, aku lagi disuruh sama atasan untuk beli kue buatnya," ujar Kanaya lesu.


Camelia tersenyum lucu melihat ekspresi wajah Kanaya yang kelelahan.


"Ini minumlah," ujar Camelia menyodorkan kopi yang tadi diberikan Revan.


"Kamu tau aja kalau aku haus, terima kasih."


Kanaya lantas duduk disamping Camelia. Menikmati kopi yang menurutnya sangat enak.


"Enak ngga?" tanya Camelia. Sebagai jawaban, Kanaya mengangguk mengiyakan. Camelia kini beralih melihat Revan.


"Rev, kamu tau ngga. Baru kali ini loh Kanaya mengakui kalau kopi yang diminumnya itu enak dan itu kopi bantuanmu. Biasanya bilang pahit."


Mendengar ucapan Camelia, seketika Kanaya menyemburkan kopi yang belum sampai di tenggorokan-nya.


"Apa?" pekik Kanaya.


"Hem, kopi yang kamu minum itu adalah kopi dari kedai Revan. Itu kedai yang samping jalan," tunjuk Camelia.

__ADS_1


"Syukurlah," ujarnya mendesah lega. "Kalau gitu aku ngga jauh-jauh lagi beli pesanan kedua atasanku," lanjutnya.


"Disuruh seperti itu lagi? Itukan bukan kerjaan kamu," komentar Camelia.


"Ya, mau gimana lagi. Ini juga udah syukur."


"Kamu kerja dimana emangnya?" tanya Revan.


"Udah deh, ngga usah kepo. Biar aku katakan juga, kamu ngga bisa bantu. Cam, aku beli browniesmu dua kotak ya."


Revan mengepalkan tangannya. Bukan karena marah pada Kanaya, melainkan marah pada atasan Kanaya yang menyuruh diluar kerjaan. Disaat yang sama, Riana datang membawa brownies yang tadi disuruhkan oleh Camelia.


"Ini Mbak Cam."


"Ri, bungkusan dua kotak brownies untuk Mbak Kay, ya," ujar Camelia.


"Ok Mbak. Oh iya Mbak Kay mau brownies apa?"


"Apa aja yang ada," jawab Kanaya asal.


"Mau yang gosong, Mbak. Grafis loh!" canda Riana yang juga menganggap Kanaya sebagai kakaknya.


"Hem, ya. Itu boleh juga." Kanaya tersenyum licik kala menerawang jauh memikirkan ekspresi wajah atasannya. "Eh, tapi jangan untuk saat ini, Mbak masih sayang kerjaan Mbak," lanjutnya dengan kekehan.


Seketika Camelia dan Riana tertawa terbahak-bahak mengetahui kalau rencana Kanaya hanya sampai pada pemikirannya saja.


"Astagfirullah, astagfirullah. Maaf Kay, kamu sih bercandanya kelewatan," ujar Camelia.


Sedang mereka bertiga tertawa, orang ke empat diantara mereka, rupanya telah jatuh kedalam pesona disalah satu dari mereka.


"Rev, Revan." Camelia mengibaskan tangannya didepan wajah Revan.


"I ... iya."


"Kamu kenapa?" tanya Camelia.


"Ngga papa."


"Paling juga pusing kayak aku. Tapi bedanya, dia lagi ngga ada pelanggan, makanya kesini menghibur diri. Sedangkan aku, disuruh beli pesanan," ujar Kanaya menyama-nyamakan nasibnya dengan Revan.


Revan tersenyum. Ia memilih mengangguk saja, membiarkan Kanaya salah paham padanya.


"Ini Mbak Kay, nanti balik belanja lagi ya," ujar Riana seraya memberikan dua kotak brownies.


Kanaya lantas menerimanya. Ia berkata, "Tergantung situasi. Baiklah, aku pergi dulu. Rev, terima kasih kopinya," ujarnya sebelum berlalu pergi.


"Tapi kopi itu punyaku," komentar Camelia yang sebenarnya cuma bercanda saja.


"Iya, iya. Tau. Terima kasih tuan putri," ujar Kanaya menirukan gaya seorang wanita kerajaan yang membungkukkan badan tatkala melihat putri raja.


Camelia terkekeh. "Sama-sama."


Revan menggelengkan kepala melihat tingkah kedua wanita dewasa didepannya ini.


...To be continued....


Halo, selamat hari jumat berkah, semoga yang like, vote dan komen diberikan kemudahan rezeki oleh Allah, aamiin. 🤲🏻

__ADS_1


...By Peony_8298...


__ADS_2