
"Arggh, malu maluin aja. Bisa-bisanya aku tertidur dan malah bersandar di pundaknya," ucap Camelia pelan namun masih bisa didengar oleh temannya Dilla.
"Nginget dia lagikan? Kamu sih bisa sampai seceroboh itu, malah tidur segala lagi. Bersandar pula lagi sama dia. Kan begini jadinya. Kejadian yang udah lewat seminggu masih terus aja diinget-inget," sahut Dilla pelan.
"Iya tapikan kejadian itu ...," ucap Camelia terpotong.
"Aku tau, anggap saja itu bonus untukmu. Bereskan!" ucap Dilla santai seraya kembali menyeruput kopi moccachino-nya.
"Ya ngga harus gitu juga dil," Camelia menutup wajahnya karena malu.
"Terus kalau ngga gitu ya bagaimana. Coba kamu jelaskan! Aku akan jadi pendengar yang terbaik," ucap Dilla menaikkan alisnya satu.
"Ya. Terserah deh. Baiklah aku balik duluan. Ada yang harus aku kerjakan dan terima kasih traktirannya. Assalamualaikum," ucap Camelia.
"Iya sama-sama. Waalaikumsalam," balas Dilla.
Se-perginya Camelia, Dilla jadi tersenyum sendiri mengingat kelakuan Camelia tadi yang menurutnya agak sedikit lucu.
"Cam ... Cam ... ikuti kata hatimu Camelia. Aku tau perasaan kamu padanya sampai kapanpun tidak akan pernah pudar. Meskipun banyak lelaki yang mendekatimu," gumam Dilla berharap sahabatnya itu memahami perasaannya sendiri.
Sedangkan Camelia yang telah sampai dirumahnya, malah kembali memikirkan kejadian minggu lalu. Entahlah seakan kejadian itu tidak mau pergi dari ingatan Camelia hingga saat ini.
Minggu lalu, Di mobil Abra, Camelia baru-baru saja terbangun dari tidur lelapnya. Entah sudah berapa jam ia tertidur didalam mobil dengan bersandar di pundak Abra. Ia masih belum sadar hingga beberapa detik kemudian ia berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Tunggu ... tunggu aku ketiduran dimobil dan bersandar sama ...," ucap Camelia dalam hati. Ia menoleh dan mendapati wajah Abra tidak jauh dari wajahnya.
"Abra! " ucap Camelia terkejut sambil berusaha memperbaiki posisinya.
"Oh, rupanya kamu sudah bagun. Kenapa?" tanya Abra yang melihat Camelia dengan pandangan aneh karena Camelia seakan memandangnya seperti hantu saja.
"Hei, sudah memandangku seperti itu, aku bukan hantu. Aku masih Abra yang pulang bersamamu," lanjut Abra.
"Ma ... af aku ... aku kaget saja," ucap Camelia jujur.
"Tak apa. Tenangkan dulu dirimu. ini minumlah," ucap Abra seraya memberikan Camelia sebotol air mineral.
"Te ... terima kasih." ucap Camelia tiba-tiba menjadi gugup
__ADS_1
"Ya. Sama-sama. Kalau Kamu masih mau istirahat, istirahat aja. Pundakku masih kuat kok," ucap Abra yang kini mulai kembali fokus melihat ke jalanan.
Blus .... Mengingatnya lagi membuat pipi Camelia bersemu merah. Untung saja, sewaktu bertemu dengan Dilla tadi pipinya tidak memerah seperti ini.
"Emang ya, kalau mata udah ngantuk banget. Dimanapun bisa tertidur juga. Hufft, Cam ... Cam. Aku sepertinya bakalan malu kalau bertemu dia lagi!" ujar Camelia seraya menutup wajahnya dengan bantal.
...***...
Sama halnya dengan Abra. Ia juga telah memikirkan percakapannya minggu lalu bersama Camelia. Dimana dalam percakapan mereka, Abra tau kebenaran yang sesungguhnya. Memikirnya, membuat ia senyum-senyum sendiri. Sangking senangnya, percakapan yang sudah lewat seminggu yang lalu, masih teringat jelas di ingatannya.
Saat itu, setelah Abra merasa Camelia sudah cukup lama tersadar dari tidur lelapnya tadi. Abra pun mulai kembali membuka percakapan dengannya. Ia ingin mengetahui kebenaran tentang Camelia, Atha dan juga Carissa. Dengan tidak sabaran, akhirnya Abra memanggil Camelia juga.
"Cam," panggil Abra pelan.
"Iya. Ada apa?" tanya Camelia melihat ke arah Abra yang masih tetap fokus menyetir.
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Abra meminta persetujuan Camelia. Pasalnya, ia tidak ingin nantinya Camelia malah jadi salah paham pada maksudnya.
"Iya boleh, apa yang ingin kamu tanyakan? Tanyakan saja," ujar Camelia sedang menikmati cemilan yang diberikan Atha sebelum mereka berangkat.
"Oh itu, tidak kami belum menikah. Carissa adalah Putri Mas Atha dan Mbak Sabila," terang Camelia
"Tapi bagaimana bisa? kalian bahkan bisa seakrab ini dan Carissa pun memanggilmu dengan sebutan bunda!" ucap Abra bertambah penasaran.
"Kami bertemu di Turki saat aku baru saja berada disana. Lantas kami berteman cukup lama hingga akhirnya dia balik kembali ke Indonesia karena dia sudah berkuliah. Katanya di dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan Mbak Sabila. Nah, dari sanalah mereka kenal hingga melangsungkan pernikahannya dengan Mbak Sabila. Dia juga mengundangku di acaranya itu tapi aku tidak datang karena aku sudah nyaman berada di Turki dan tidak ingin balik ke Indonesia," ucap Camelia sesekali melihat Abra untuk melihat bagaimana reaksinya saat ia bercerita.
"Hingga beberapa tahun kemudian, ia kembali datang ke Turki tapi dia tidak sendiri melainkan dia membawa seorang putri kecil yang bernama Carissa. Selang beberapa lama, aku baru tau jika dirinya dan istrinya punya masalah keluarga. Mulai saat itulah anaknya mulai memanggilku dengan sebutan bunda karena aku juga ikut menjaganya saat Mas Atha punya jadwal kuliah. Aku pun tak mempermasalahkannya karena aku sendiri menyukai anak itu. Yah hingga sampai sekarang pun begitu," lanjut Camelia menerangkan sambil menatap lurus ke depan.
"Bagaimana dengan papa dan mamamu? Bagaimana mereka mengetahuinya?" tanya Abra lagi untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Untuk hal itu, kedua orang tuaku, waktu itu datang mengunjungiku dan mereka pun kenal disana dan mereka juga tak mempermasalahkan hal itu karena mereka juga menyukai Carissa," ucap Camelia.
Abra yang mendengarnya pun menjadi sangat laga, sampai-sampai ia tak sadar bahwa ia menghembuskan nafas panjang yang membuat Camelia melihat ke arahnya sambil menatapnya heran.
"Ada apa? " tanya Camelia
"Oh, tidak, tidak apa-apa kok," ucap Abra gelagapan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sedikitpun.
__ADS_1
Flashback end
"Alhamdulilla ternyata mereka tidak punya hubungan yang spesial kecuali hanya berteman saja," ucap Abra senangnya bukan main. Sampai sampai ia berteriak melampiaskan kegembiraannya saat ini.
"Hubungan yang spesial? Siapa kak? " tanya Bella adik Abra yang kini sudah ada didalam kamar Abra karena kamarnya yang tidak terkunci.
"Ini rahasia, anak kecil tidak boleh tau," ucap Abra acuh
Sedangkan Bella hanya mendelik kesal pada kakaknya itu.
"Oh iya kapan kamu tiba?" tanya Abra.
"Baru aja kak. Kak besok anterin aku balik lagi ke Jakarta ya kak."
"Kalau besok mau balik lagi, kenapa pulang kesini."
"Ya itu kan mama yang suruh aku pulang. Jadi besok pokoknya kakak harus anterin aku balik."
"Insya Allah besok kakak lihat kalau kakak tidak terlalu sibuk."
"Bener ya kak. Baiklah aku ke kamar dulu mau istirahat."
"Iya. Lain kali kalau mau masuk ketuk pintu dulu biar pun pintunya tidak terkunci, paham?"
"Hehe maaf kak. Abisnya sih, kakak ngelamun aja kerjanya. Jadi aku masuk aja. Apalagi ditambah teriakan kakak itu loh. Kayak orang, gimana gitu," ucap Bella seraya keluar dari kamar Abra
Abra malu ternyata adiknya mendengar terikannya tadi. Sudah yang penting saat ini ia telah lega, setelah mengetahu semuanya.
...To be continued....
Jangan lupa like, vote sama komen ya, sebagai timbal balik dari yang kalian baca 🤗.
yuk yang mau vote poin 10 aja silahkan ya. karena itu sangat berharga juga bagi aku.
...Salam hangat dariku ...
...Peony_8298 ...
__ADS_1