Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Mencuri Pandang


__ADS_3

Di kediaman keluarga Atha, semua orang tengah berbincang hangat sebelum bunyi bel pintu masuk sedikit memecah kehangatan itu.


"Mungkin itu dia ma," ucap salah seorang anggota keluarga.


"Biar aku yang bukakan pintunya," ucap Camelia. Camelia pun bergegas membukakan pintu.


Clek ... bunyi pintu yang Camelia buka.


"Assalamu ..., kamu ...," ucap seorang yang terkejut dengan keberadaan Camelia di sini. "Apa yang dilakukannya disini?" lanjutnya dalam hati.


"Siapa, bunda?" tanya Carissa berlari ke pintu depan menyusul Camelia yang juga sama-sama terkejutnya dengan lelaki yang ada didepannya ini.


"Uncle?" ucap Carissa tersenyum menampilkan gigi susunya yang masih berbaris rapi.


"Waalaikumsalam, Abra. Kenapa kamu ada disini?" tanya Camelia tanpa sadar.


"Seharusnya aku yang nanyain kamu, kenapa kamu berada disini?" tanya balik Abra juga yang merasa heran akan keberadaan Camelia di rumah keluarga mamanya.


"Aku duluan yang nanya," ucap Camelia sengit.


"Huffft baiklah, aku kesini karena rumah ini punya keluarga aku. Lihat anak kamu tuh bengong melihat kita berdua," ucap Abra membuat Camelia terkejut.


Bagaimana tidak, Camelia bahkan tidak tahu kalau Carissa akan menyusunnya keluar. Camelia yang sibuk dengan pemikirannya sendiri, membuat Abra semakin kedinginan. Anda pun menggosok-gosokkan kedua tangannya dan beralih menempelkan kedua tangannya itu ke pipinya.


"Udah, boleh aku masuk dulu? Dingin nih," ucap Abra kian menggigil kedinginan karena Camelia yang belum juga mempersilahkan Abra masuk sedang diluar udara malam bertambah dingin akibat hujan yang telah mengguyur kota ini dari tadi. Baru saja Camelia ingin bersuara, sudah duluan suara seorang di belakangnya menghentikan dirinya.


"Abra, alhamdulillah akhirnya kamu sampai juga. Aku kira besok kamu akan datang. Carissa masuk dulu gih," ucapnya


"Maunya gitu, tapi ngga jadi. Boleh aku masuk?" ucap Abra sekali lagi 


"Eh ... ayo masuk, semua udah ada didalam. Nungguin kamu," ucapnya lagi.


Mereka pun pergi ke ruangan keluarga. Dengan Abra yang jalan sedikit membungkukkan badannya, memeluk diri sendiri berharap ia bisa mendapat kehangatan lebih.


"Sayang, kok baru sampai?" tanya Mama Rania lantas mendekati Abra.


"Tadi Abra kena macet juga di jalan, ma," ucap Abra seraya duduk didekat mamanya.

__ADS_1


"Ini teh untukmu," ucap sepupu perempuan Abra memberinya secangkir teh hangat


"Terima kasih."


Camelia yang masih berada disana, nampak canggung sejak kehadiran Abra. Oh tidak, sejak kehadiran papa dan mama Abra. Namun, rasa canggungnya itu sedikit berbeda dengan yang tadi karena ia tidak terlalu mengingat betul wajah mama dan papa Abra. Ia bahkan sudah mencoba mengingatnya dari tadi, tapi selalu saja gagal. Hingga ia baru teringat setelah ia melihat Abra tadi.


"Jadi ini!" ucap Camelia dalam hati.


...***...


Keesokan paginya, semua anggota keluarga tengah menikmati sarapan pagi dengan tenangnya sebelum Carissa yang tiba-tiba berceletuk, "uncle kok dari tadi lihat Bunda Carissa terus." Celetukan itu sukses membuat Abra tersedak dan Camelia menjadi salah tingkah.


"Minum dulu, " ucap Mama Rania seraya memberikan segelas air untuk Abra.


"Sayang, kalau sedang makan jangan bicara dulu ya. Ngga baik," ucap Atha menengahi Carissa yang ingin kembali berbicara lagi.


"Maaf pa," ucap Carissa tertunduk.


"Sudah, ayo makan lagi atau mau bunda suap?" tanya Camelia mencoba mencairkan suasana akibat kata-kata Carissa barusan.


"Mau disuap sama bunda," ucap Carissa merajuk.


Yah, Abra memang tidak bisa memungkiri bahwa jika ada kesempatan ia selalu melihat Camelia. Bukan apanya, ia tau bahwa sepupunya itu belum menikah sampai saat ini setelah kepergian istrinya. Lalu tanpa diketahui, mengapa tiba-tiba ia bersama Camelia. Jikalau pun mereka memang bersama, mengapa ia tidak diundang ke pernikahan mereka atau setidaknya ia diberitahukan oleh orang tuanya atau bahkan Atha sendiri.


"Ini tidak mungkin," ucap Abra bergumam pelan namun masih sempat didengar oleh Atha.


"Abra ada apa?" tanya Atha.


"Emm tidak, tidak apa-apa."


Abra dan yang lainnya pun kembali menikmatinya sarapan pagi mereka. Sore harinya, acara kumpul bersama menjadi lebih beda dari sebelumnya. Dimana pertemuan kali ini mereka mengadakan lomba bermain basket.


Lomba basket ini akan diadakan secara berkelompok yang anggota kelompoknya terdiri dari 3 orang per kelompok. Kelompok pertama adalah Atha, Lina (adik Atha) dan Papa Fauzi. Anggota keduanya adalah Abra, Camelia dan papa Atha.


Pemilihan kelompoknya pun tidak memilih dengan sistem tunjuk tapi dalam pemilihannya diadakan dengan cara nama masing-masing ditulis disebuah kertas lalu kertas tersebut di gulung dan dimasukkan kedalam botol yang nantinya di pakai untuk menentukan anggota yang tergabung didalamnya.


Jadilah Abra dan Camelia satu kelompok. Bahkan saat tau mereka satu kelompok, keduanya benar-benar terkejut dan menjadi salah tingkah. Memang mereka pernah satu kelompok di kejuaraan lomba main basket tapi itu dulu, sewaktu mereka masih akrab bak permen karet.

__ADS_1


"Ayo kita mulai," ucap Papa Fauzi menginstruksikan untuk memulai permainan dengan mama Abra dan mama Atha yang menjadi wasitnya.


Permainan pun dimulai. Dimana bola pertama menjadi milik kelompok Atha dan saat ini pun mereka masih menguasai bola tersebut. Mereka semua terlihat bersemangat bermain.


Bahkan, sudah duapuluh menit berlalu, kedua kelompok masih saja berusaha memasukkan bola mereka di ring basket lawan masing-masing. Namun bedanya, tim Abra tertinggal 1 poin dari tim Atha.


Tak mau tertinggal jauh, Tim Abra pun semakin gencar merebut bola yang masih berada di tangan lawan. Camelia yang mulai menguasai permainan pun sukses merebut bola dari Atha yang hampir saja memasukkan bola tersebut ke dalam ring timnya.


Camelia yang mendapat hadangan pemain dari lawan, segera saja ia mengopor bolanya pada Papa Atha baru setelah itu, papa Atha mengopor bolanya pada Abra. Lantas Abra pun memasukkan bola tersebut ke dalam ring basket lawan.


Setelah sekian lama bergelut dalam taktik permainan bertahan dan menyerang, akhirnya permainan pun telah berakhir. Dimana permainan tersebut di menangkan oleh kelompok Abra karena kerja keras dan kekompakan yang terjalin.


Bahkan Camelia dan Abra yang tadinya sedikit canggung akibat semalam, kini mereka menjadi sangat akrab satu sama lain.


"Ini, minumlah. Aku kira kamu ngga terlalu lihai lagi bermain basket, tapi ternyata dugaanku salah. Malah kamu tidak berubah sama sekali," ucap Abra yang memberikan Camelia air minum.


"Terima kasih. Mungkin saja aku sudah mulai lancar benelan kembali," ucap Camelia singkat sebelum pergi meninggalkan Abra sendirian yang sebenarnya Abra masih ingin mengobrol banyak dengan camelia.


Sedang di tempat duduk yang berbeda, Carissa kembali menunjukkan ketidaksukaannya pada Abra yang ingin berada didekat bundanya.


"Pa, kenapa sih, Uncle Abra dekat-dekat dengan bunda terus, Carissa kan mau juga," ucapnya cemberut sambil mengerucutkan bibirnya lucu.


"Ya kan, bunda sama uncle kamu temenan. Jadi Carissa ngga boleh gitu dong. Emang Carissa mau jika Carissa punya temen terus ada yang ceritain Carissa juga?" ucap Atha memberi pengertian.


"Ngga mau," ucap Carissa.


"Nah, kalau ngga mau. Carissa ngga boleh ngomong kayak gitu lagi. Biar bagaimana pun, Uncle Abra tetap saudara papa," ucap Atha.


"Iya pa. Carissa janji," ucapnya sambil menyodorkan jari kelingkingnya.


"Anak pintar. Ayo pergi sama bunda."


Kecupan sukses mendapat di dahi Carissa. Mereka pun pergi mendekati Camelia yang saat ini tengah duduk sendiri di bangku lapangan basket.


...To be continued. ...


Halo halo kali ini aku minta saran kalian dong, tolong tinggalkan saran kalian di kolom komentar ya, agar aku tau pendapat kalian tentang cerita ini. Jangan lupa juga like sama vote-nya

__ADS_1


...By Peony_8298 ...


__ADS_2