Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Semakin Mencintainya


__ADS_3

Camelia sedang video call dengan Carissa, anak kecil yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri dan anak kecil yang sempat membuat Abra putus asa dalam mengejar cinta wanita yang disukainya.


Lama tidak bertemu, membuat Carissa yang berada dikota lain jadi menangis sesegukan karena telah sangat merindukan Camelia yang sudah  dianggapnya sebagai Bunda.


Awalnya, Carissa sempat ngambek tidak ingin video call dengan Camelia karena ia merasa dibohongi. Ia bahkan sempat tidak mau menerima panggilan video call dari Bunda-nya. Tapi setelah Atha memberikan Carissa pengertian, akhirnya Carissa mau juga mengangkat video call dari Camelia.


Video call mereka saat ini telah sampai pada pembicaraan, dimana Camelia menanyakan keadaan Carissa.


"Carissa baik-baik saja Bunda," jawab Carissa.


Mendengar kalau Carissa baik-baik saja, membuat Camelia dapat bernafas lega. Pasalnya, Carissa tidak pernah jauh dengannya hingga sampai waktu selama ini.


"Alhamdulillah kalau gitu, jadi pesan bunda, terus dijalankan ngga?" tanya Camelia.


"Iya bunda, saat ini Carissa udah iqro dua," ujar Carissa dengan semangatnya memberitahukan bacaan dasar Al-Qur'an nya.


"Anak pintar, mau bunda hadiah in apa?"


"Boneka berbie."


"Baiklah Bunda akan belikan."


Carissa seketika bangun dari tidurnya dan melompat-lompat diatasnya.


"Sayang jangan melompat-lompat nanti ...."


Belum juga Camelia menyelesaikan kata-katanya, ponsel yang dipegang oleh Carissa sudah terjatuh diikuti dengan suara yang sangat jelas terdengar oleh Camelia. Tidak lama setelahnya, Camelia mendengar suara tangisan disana.


"Carissa," teriak Camelia panik.


Mama Lia dan Papa Carel yang mendengar suara teriakan Camelia, langsung saja bangun dari tempat duduk yang berada didepan tv dan bergegas ke kamar Camelia.


"Ada apa nak? Kenapa kamu berteriak?" tanya Mama Lia.


"Ma, Carissa kayaknya jatuh dari tempat tidur."


"Kok bisa?" tanya Papa Carel.


"Tadi Camelia janji Carissa mau beliin boneka berbie. Sangking senangnya, Carissa lompat-lompat dan jatuh." Kini mata Camelia sudah berkaca-kaca.


Bagaimana pun ia tetaplah seorang ibu baginya. Meski ia bukalah ibu yang telah melahirkannya.


"Tenang nak. Pasti disana nak Atha bisa mengurus Carissa," ujar Mama Lia yang telah mengambil tempat duduk disamping Camelia.


Camelia mengangguk, tapi jauh didalam hatinya, Camelia merasa tidak tenang. Ia seakan ingin pergi menemuinya.


"Kalau begitu, mama dan papa keluar," ujar Mama Lia.


Tidak lama setelah kedua orang tua Camelia keluar dari kamarnya, video call yang tadinya sempat terputus, kini tersambung lagi. Menampilkan Carissa dengan mata sembabnya dan Atha yang senantiasa menenangkan anaknya.

__ADS_1


"Carissa sudah ngga apa-apa, Cam," ujar Atha.


"Tapi ... tapi, lihat Carissa jadi kesakitan." Air mata yang coba ditahannya pun akhirnya lolos juga melewati pipinya.


Bukannya ikut simpati, Atha malah menampilkan wajah yang tersenyum lucu melihatnya menangis.


"Kenapa malah senyum?" lirih Camelia sambil menghapus jejak air matanya.


"Aku tersenyum karena melihatmu mengkhawatirkan anakku. Terima kasih," ujar Atha tulus pada wanita yang telah membuat anaknya merasakan kehadiran sosok seorang ibu.


Camelia mengangguk, ia sudah mulai tenang kembali saat melihat Carissa yang juga sudah mulai ikut tersenyum.


"Kapan-kapan mas dan Carissa kesini," ujar Camelia


"Iya, nanti Mas usahain. Lagi pula sudah lama sekali kita ngga ketemuan," ujar Atha.


Camelia sontak tertawa. "Baiklah, Carissa bobo ya nak. Ini udah jam tidur kamu," ujar Camelia.


"Iya Bunda. Bunda selamat malam. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Carissa pun turun dari pangkuan Atha dan bergegas untuk tidur.


"Mas istirahat juga gih, besok harus kerja lagi kan!"


Atha mengangguk mengiyakan. Mereka pun memutuskan sambungan video call.


Hari telah malam saat Abra sampai dirumah. Untung saja sebelumnya ia singgah di mushola kantor untuk melaksanakan sholat magrib. Kalau tidak, hatinya tidak akan tenang sebelum menunaikan kewajibannya.


Ketika Abra ingin membuka pintu rumah, pintu rumah itu telah terbuka, menampilkan sosok wanita yang sampai kapanpun Abra akan selalu mencintainya. Abra lantas mencium tangan sang Mama.


"Assalamualaikum," ujarnya.


"Waalaikumsalam," ujar Mama Rania.


Abra melepaskan sepatunya, tidak seperti terakhir kali saat ia menerobos masuk kerumah tanpa membukanya karena kelelahan. Ia lalu menunduk mengambilnya dan menyimpannya di rak sepatu belakang pintu


"Gimana kerjaannya hari ini?" tanya Mama Rania.


"Alhamdulillah lancar, Ma. Tidak seperti hari-hari sebelumnya," jawabnya berbalik melihat Mama.


Mama Rania seperti gadis remaja yang sedang senang. Ia berlari kecil mendekat ke Abra dan berbisik, "Gimana kalau Mama jodohkan kamu dengan seorang gadis. Dia anak yang baik loh! Mama kenal baik sama dia."


Abra tersenyum, ia mengangguk. Lalu berlalu meninggalkan mama yang tidak menyangka akan persetujuan anaknya untuk dijodohkan.


Mama Rania buru-buru pergi dari sana. Ia bahkan hampir mengelilingi rumah saat tidak mendapati Papa Fauzi di kamar dan ruangan keluarga.


"Pa, Papa. Sayang kamu dimana?" panggil Mama Rania.

__ADS_1


"Papa disini? Kenapa mama mencari Papa?"


Mama Rania seketika berbalik belakang, ia lalu menghampiri sang suami yang entah dari mana muncul begitu tiba-tiba.


"Papa dari mana sih? Bikin mama greget aja."


"Papa kan ada dihati mama," ujar papa mulai mengeluarkan rayuan gombalnya.


Mama memukul pelan lengan Papa. "Ih, papa di saat serius begini masih gombal," ujar mama disela mengajak papa untuk duduk di sofa depan tv.


"Tapi mama suka kan?"


Blus, pipi mama merona seperti jaman mereka baru menikah. Mama pun mengangguk malu.


"Kenapa mama cariin papa?" tanya Papa saat mereka telah duduk.


"Pa, Abra mau dijodohkan. Tadi pas pulang kerja kan mama tuh yang bukain pintu, terus mama iseng-iseng deh. Mama tanyakan kalau Abra mau dijodohkan atau tidak. Eh, taunya Abra mengangguk mengiyakan."


Papa Fauzi memegang pipi mama dan


menatapnya sayang. Selalu saja, apa yang mama lakukan, Membuat Papa Fauzi semakin mencintainya walau usia mereka tidak muda lagi.


"Papa ikut senang," ujar Papa.


"Ehem, disini ada anaknya, loh!" ujar Abra menghampiri Mama dan Papanya.


"Ngga Bella, ngga kamu. Selalu saja merusak suasana mama," gerutu Mama.


Papa Fauzi tersenyum melihat tingkah Mama seperti anak kecil yang tidak diberikan permen. Sedangkan Abra tertawa terbahak-bahak. Ia mengira setelah kembali ke indonesia, sikap Mama telah berubah, ternyata tidak.


"Papa mau bicara apa?" tanya Abra setelah ikut duduk di sofa.


"Papa berniat menjodohkanmu," ujar Papa tanpa basa basi.


"Jadi apa yang Mama katakan tadi serius?"


Abra menoleh pada Mama. Ia tidak menyangka, apa yang tadi dikatakan Mama bukalah sebuah becandaan belaka.


"Abra setuju aja kalau gitu,"


"Syukurlah. Kalau gitu, dalam beberapa  hari kedepan, kamu coba luangkan waktu lagi karena Papa ada rencana ingin menemui keluarga wanita yang ingin Papa jodohkan denganmu," ujar Papa Fauzi.


Abra mengangguk. Setelah merasa tidak ada yang ingin Papa dan Mama bicarakan lagi, ia pun pamit masuk ke dalam kamar. Namun belum juga langkah kakinya menjauh, Papa Fauzi kembali memanggil Abra agar duduk didekatnya.


"Oh iya, Papa hampir lupa. Papa punya foto perempuan yang ingin Papa jodohkan denganmu. Ini dia, cantikkan kan?" ujar Papa sambil menujukkan sebuah foto yang dikirimkan calon besan-nya nanti.


Abra dan Mama Rania lantas terkejut melihat siapa perempuan yang papa maksud.


To be continued ....

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya readers 🤗


...By Peony_8298 ...


__ADS_2