Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Berdamai Dengan Masa Lalu


__ADS_3

Halo semua, maaf ya baru up lagi. Soalnya penulisnya lagi flu berat jadi ngga tahan kalau pegang hp lama-lama. 😅


...***...


Camelia dan Dilla masih berada di taman saat Mama Lia mengatakan kalau ada teman Camelia yang menunggu di ruangan inap. Mama mengatakan namanya Delia. Sontak Camelia dan Dilla terkejut.


"Delia sama siapa ma?"


"Sendiri, gih pergi temui dia."


"Iya ma."


"Kalau gitu mama pulang dulu ya. Kalau mama sudah urus keperluan papa, mama akan datang kembali."


"Iya ma."


"Baiklah mama pergi dulu."


Seperginya Mama Lia, Mereka lantas kambali ke ruangan inap Camelia. Sesampainya disana, Camelia dan Dilla melihat Delia yang berdiri di depan pintu ruangannya sambil tersenyum.


"Cam," panggil Delia saat melihat Camelia dengan jalan yang masih tertatih-tatih.


"Delia, kamu disini. Gih masuk. Kita bicara didalam saja," ajak Camelia.


"Ini untukmu," ujar Delia seraya memberikan Camelia bingkisan saat mereka telah duduk di sofa.


Camelia menerimanya dengan mengucapkan terima kasih karena telah menjenguknya dan juga membawakannya buah tangan.


"Oh iya, saat aku tau kamu masuk rumah sakit aku bergegas kesini."


"Yang bener?" tanya Dilla, ia seperti merasa kalau Delia punya maksud lain datang kesini dan mengatakan kata-kata itu. Dirinya saja sebagai sahabat tidak begitu-begitu sekali. Apalagi dia yang hanya seorang teman. Dilla katakan, tidak mungkin Delia begitu perhatian tanpa ada maksud lain.


"Kay," tegur Camelia.


"Ngga papa kok, Cam. Mungkin Dilla belum melupakan masa lalu."

__ADS_1


"Aku sudah melupakannya, tapi saat melihatmu lagi. Entah kenapa semuanya jadi bermunculan satu persatu," ujar Dilla ceplas ceplos. Selain penakut, Dilla juga adalah tipe orang yang mengingat setiap detial kejadian dimasa lalu.


"Kay." Kali ini Camelia menegur Dilla sambil memegang tangannya. Ia tidak ingin membuat sahabatnya ini masih saja menjadi pendendam saat  menyangkut masa lalunya.


"Maaf Cam. Aku sudah berusaha melupakan tapi tetap saja tidak bisa."


Camelia jelas tau bagaimana sifat Dilla. Semakin kamu memaksanya, maka dia semakin menjadi. Camelia pun memilih jalur aman dengan mengatakan perlahan-lahan saja saat melupakannya. Biar masa lalu itu mengalir seperti air di sungai.


"Akan ku coba," ujar Dilla membuat Camelia tersenyum menanggapinya.


Delia pun ikut tersenyum karena Dilla sudah ingin melupakan masa lalu. Pasalnya tiap kali bertemu, Dilla selalu memberikannya tatapan tidak suka begitupula dengan cara bicaranya kepadanya.


"Maaf Delia, aku mungkin sudah banyak melakukan salah padamu, tapi jujur sama, saat ini aku masih tidak menyukaimu. Namun, aku akan berusaha berdamai dengan masa lalu," ujar Dilla.


"Aku ngerti kok. Aku mungkin akan bersikap seperti kamu juga, jika tempatkan di situasi yang sama," ujar Delia.


Diam-diam Camelia tersenyum. Ia tidak menyangka, dibalik sakitnya Delia dan Dilla bisa saling memaafkan. Meski belum sepenuhnya, tapi ada kalanya kalau mereka sama-sama belajar. Mungkin itulah hikmah yang tersembunyi dengan dirinya yang jatuh sakit. Jika benar, ia akan sangat bersyukur. Karena dengan begitu, Dilla sahabatnya bisa berdamai dengan masa lalunya.


"Jadi karena kalian sudah baikan, jabat tangan gih. Biar deal."


"Udah salim aja, biar kamu ingat udah baikan."


Baik Dilla maupun Delia saling berjabat tangan dan tersenyum satu sama lain. Sesaat setelah mereka berjabat tangan. Dilla beranjak pergi ke tempat tidur Camelia untuk mengambilkan Camelia buah-buahan yang tadi dibawa oleh Revan. Saat Dilla tengah berjalan untuk mengambil buah-buahan itu, Delia meremas jari-jarinya. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi terhalang oleh sesuatu juga.


"Kenapa kamu gelisah? Ada yang ingin kamu omongin?" tanya Camelia saat melihat Delia sepertinya tidak tenang.


"Em, Cam. Sebenarnya aku juga kesini ingin memberitahukanmu sesuatu, tapi ... tapi," ujar Delia sambil menoleh melihat Dilla yang telah berjalan kembali ke arah mereka dengan buah-buahan di tangannya.


Camelia mengerti maksud Delia. Bukannya menduga, tapi sepertinya Delia tidak ingin berbicara kalau ada Dilla disini. Jadinya, Ia meminta tolong pada Dilla untuk membelikannya dulu roti di mini market depan rumah sakit. Meski tidak sedang ingin memakannya, tapi itulah salah satu cara agar Dilla menjauh sebentar dari mereka dan juga bisa membuat Delia berbicara terbuka dengannya.


"Bicaralah, mumpung Dilla usah ngga ada," ujar Camelia setelah Dilla pergi.


"Sebenarnya aku kesini untuk mengundangmu ke acara perjodohanku besok dengan Abra dirumahku, tapi melihatmu sakit sepertinya kamu ngga bisa datang." 


Deg, seketika jantung Cemelia berdetak kencang. Ia tidak menyangka kalau ternyata Delia datang menjenguknya karena ingin mengundangnya juga ke acara perjodohannya dengan Abra.

__ADS_1


Sambil tersenyum tipis, Camelia mengambil tangan Delia untuk digenggamnya. "Selamat ya. Coba saja aku ngga sakit, pasti aku datang."


"Kamu ngga papa kan?" tanya Delia memiliki makna di tiap perkatanyaan.


"Aku? Aku baik-baik saja."


Dibalik dinding, seseorang menitihkan air matanya untuk seorang sahabat yang pastinya sedang menahan perasaannya didalam sana. Meski telah menyatakan 'aku baik-baik saja' tapi sebagai seorang sahabat yang sudah seperti saudara, ia tau apa maksud dari kata-katanya.


"Aku kira, semuanya akan baik-baik saja mulai dari sekarang. Namun ternyata dugaanku salah."


Ia semakin terisak saja tiap detiknya. Seakan ia bisa merasakan apa yang tengah dirasakan oleh sahabatnya itu. Dengan isakan yang lebih jelas, ia membekap mulutnya sendiri. Ia tidak ingin mereka mendengarnya.


Sambil menahan tangis, ia berjalan menjauh. Jujur ia sudah tidak sanggup lagi mendengar pembicaraan sahabatnya dengan wanita tidak tau situasi itu. Bisa-bisanya dia dengan entengnya menambahkan garam di luka sahabatnya yang sedang sakit? Apakah dia tidak punya perasaan sama sekali?


Ia tidak habis pikir, bagaimana wanita itu bisa begitu jahat lagi? Padahal semula ia beranggapan kalau dia memang telah berubah. Tapi apa ini? Sepertinya tindakan dan ucapnya sangat bertolak belakang.


Ia baru kembali saat sembab dimatanya mulai turun. Jujur saja, ia bahkan hampir sejam lamanya mengurung diri didalam mobil untuk menghindari kecurigaan. Namun, semuanya tetap saja terbongkar saat  mata jeli Camelia menelisiknya. Bahkan sampai menebaknya.


"Kamu mendengar pembicaraan kami?"


Dengan merasa bersalah Dilla mengangguk mengiyakan. "Maaf, aku tidak punya pilihan lain."


"Tapi kamu tau kan, kalau kelakuanmu itu ngga baik."


"Iya aku tau, makanya aku minta maaf." Dilla lalu maju, memegang tangan Camelia.


"Maaf, maaf." Kini air matanya mulai mengalir lagi. "Maaf karena tidak bisa berbuat apa-apa saat tau segalanya."


"Dil, sudah. Semua sudah terjadi. Sudah jangan menangis lagi." Camelia pun memeluk Dilla agar tangisnya segera berhenti. Namun bukannya berhenti, tangisan Dilla makin parah saja. Bahkan sampe sesegukan.


"Udah ya," ujar Camelia sekali lagi seraya menghapus air mata Dilla.


...To be continued ...


Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya readers 🤗

__ADS_1


...By Peony_8298...


__ADS_2