
"Bukannya hari ini kamu harus pergi kerumah Delia? Kenapa malah datang kesini?" tanya Camelia heran dengan Abra yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.
"Hah! Oh itu, aku hanya tidak ingin pergi saja. Lagipula tadi Atha menelponku, dia meminta tolong padaku untuk mengantarmu pulang karena sepertinya dia punya urusan mendadak."
"Emm begitu, tapi kan aku bisa naik taksi. Penting malah kamu pergi ke sana. Ini masa depan kamu loh!"
"Tapi bagiku, kamu lebih penting dari hal apapun," batin Abra.
"Tak apa. Semuanya berjalan lancar tanpa adanya aku. Jadi kamu ngga usah khawatir. Hem."
"Setidaknya kamu pergi, Ab. Apa nanti kata Delia saat tau kamu ngga datang kesana, tapi malah datang kesini. Kamu pergilah, aku naik taksi saja. Lagipula aku sudah baikan."
"Cam, aku serius ingin anterin kamu pulang."
Camelia terdiam, ia tidak tau harus berkata apa lagi untuk membujuk Abra agar pergi dari sini. Abra yang melihat Camelia diam saja pun berinisiatif untuk kembali mengajaknya berbicara.
"Oh iya, mana barang kamu yang ingin dibawa pulang? Biar aku menaruhnya lebih dahulu di bagasi mobil."
"Ngga banyak, cuma itu aja." Tunjuknya pada tas sedang yang berada diatas meja.
Tidak lama kemudian, Mama Lia datang setelah selesai membayar biaya rumah sakit Camelia.
"Cam, nak Atha udah datang?" tanya Mama Lia.
"Mas Atha ngga jadi datang ma. Katanya, Abra yang akan antar Camelia pulang," ucapnya menoleh pada mama.
"Iya tan. Tadi Atha minta tolong padaku untuk mengantarkan Camelia pulang."
"Begitu, baiklah. Siap-siap gih. Urusan rumah sakit juga udah selesai."
"Iya ma."
Setelah semuanya beres, mereka pun melangkahkan kaki keluar dari rumah sakit. Saat telah sampai di parkiran mobil, Abra membukakan pintu depan yang sebenarnya untuk Camelia. Namun Camelia malah membuka pintu belakang. Jadi, Mama Lia lah yang duduk didepan bersama Abra.
Disepanjang jalan, sesekali Abra melihat Camelia dari kaca tengah mobil. Ia selalu melihat Camelia jikalau ada kesempatan. Ia melihat Camelia dengan perasaan sendu. Bagaimana tidak, ia merasa kalau Camelia mulai menjauhinya lagi. Meski tadi Camelia mengajaknya berbicara, tapi nyatanya hal itu tidak bisa menjamin kalau Camelia tidak akan menjauh lagi darinya.
__ADS_1
Terlebih lagi secara terang-terangan tadi Camelia menolak untuk duduk didepan bersamanya. Karenanya, hal itu malah membuatnya merasa gelisah. Ia takut dikemudian hari, Camelia bahkan tidak ingin bertemu dengannya.
Abra menghentikan laju mobilnya saat mendapati lampu merah di perempatan jalan raya. Ia sibuk dengan dunianya sendiri saat lampu merah yang telah berubah menjadi hijau. Ia tersentak kaget saat Camelia memanggil namanya.
"Eh, maaf. Aku tidak begitu fokus."
Setelahnya, keadaan kembali hening sampai mereka tiba dipelanataran rumah Camelia. Sekali lagi Abra duluan keluar dari mobil dan membukakan Camelia pintu. Abra tersenyum, syukur karena Camelia tidak menolak niat baiknya lagi.
"Terima kasih," ujar Camelia.
"Sama-sama."
Mama Lia pun mengambil barang bawaannya dan ikut keluar dari mobil.
"Nak Abra singgah dulu ya," ajak mama.
Belum juga Abra menjawab ajakan mama, sudah lebih dahulu Camelia menaggapinya seraya melihat ke arah Abra. "Abra ngga bisa singgah ma. Dia ada urusan yang lain. Mendadak lagi. Iyakan, Ab?" ujar Cemelia menaikkan alisnya.
Abra terkejut mendengar suara Camelia. Namun pada akhirnya, ia mengangguk juga. Membenarkan perkataan Camelia.
"Iya tan. Pasti," ujar Abra membalas melihat Camelia. Ia bermaksud ingin memberitahu kalau dirinya tidak mudah untuk menyerah. "Kalau gitu Abra pamit pulang, assalamualaikum," lanjutnya.
"Waalaikumsalam," jawab Camelia dan Mama Lia berbarengan.
Abra meninggalkan pekarangan rumah Camelia menuju kantornya. Soal pertemuan tentang perjodohannya, ia tidak akan pergi kesana. Lagipula ia memang tidak punya niatan untuk pergi ke sana walau sedikit pun.
Ia bisa menduga apa yang akan terjadi kalau dirinya berada disana. Untuk itulah, ia lebih memilih masuk kantor, menyibukkan diri dengan dokumen-dokumen yang tertumpuk dimeja kerja dari pada pergi membahas masalah perjodohannya dengan seorang perempuan yang hanya ia anggap sebagai teman saja tidak lebih.
Selama perjalanan itu pula, ia berinisiatif mencari cara agar pembicaraan tentang perjodohan mereka di masa mendatang tidak ada lagi. Seketika ide muncul di kepalanya. Namun ia tidak tau, apakah dengan ide yang datang tiba-tiba itu bisa semulus saat ia inginĀ membatalkan perjodohan.
Ia pun menyemangati diri sendiri agar tidak mudah putus asa dalam masa depannya. Ya, dia adalah Abraham Fauzi. Seorang lelaki yang akan mempertahankan keputusannya walau masalah yang akan datang seperti besarnya gunung. Tingginya gunung pun masih bisa di daki, apalagi cintanya.
"Harus!" ujarnya pada dirinya sendiri sambil mencengkeram stir mobil sampai kuku-kukunya memutih.
Abra yang masih asik dengan dunia sendiri, kini berbanding terbalik dengan keadaan keluarganya yang baru saja sampai didepan rumah Delia. Bukan berbanding terbalik karena apanya! hanya saja, Abra yang harusnya berada disana malah seperti bertukar posisi dengan Atha yang ikut ajakan Mama Rania.
__ADS_1
Tentu saja Atha tak bisa menolak saat di ajak. Apalagi itu adalah permintaan tantenya sendiri, saudara papanya. Bagaimana bisa ia menolak permintaan pertama tantenya. Lagipula, permintaannya pun bukan hal yang sulit untuk dilakukan.
Mereka kini telah berada di ruangan tamu Delia. Papa Samuel dan para keluarga yang lain pun turut hadir dalam perbincangan awal ini. Mereka tersenyum satu sama lain. Hingga, nenek Delia yang penasaran dari calon cucunya pun angkat bicara.
"Dia nak Abra?" tanya nenek dengan menunjuk Atha yang dianggapnya sebagai Abra.
"Bukan, Bu. Dia keponakan kami. Sepupu Abra," jawab Mama Rania.
"Jadi, dimana nak Abra?"
"Itu, dia lagi banyak kerjaan dikantor jadi tidak sempat hadir."
"Loh kok gitu, ini termaksud pembicaraan penting loh! Gimana saya mau serahkan cucu saya sama anak Anda kalau kesan pertamanya begini. Bisa-bisa dia lebih mementingkan pekerjaannya dari pada cucu saya," sewot nenek.
"Nek," ujar Delia menegur halus neneknya seraya mengelus pelan tangannya agar nenek tidak berbicara lebih lanjut lagi, yang mungkin akan membuat perbincangan mereka berakhir batal.
Mama Rania tersenyum menanggapi, begitupula keluarga yang lain. Memang benar apa yang dikatakan oleh nenek dari Delia, tapi sebagai seorang ibu, ia tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri.
"Saya sebagai ibunya minta maaf kepada keluarga Anda."
"Jadi, bisa kita mulai pembicaraan sekarang?" potong Papa Samuel cepat.
"Tentu saja," ujar Papa Fauzi menanggapi.
Pembicaraan tentang perjodohan Abra dan Delia pun mulai di diskusikan oleh kedua belah pihak keluarga. Sesekali nenek juga menanggapi kalau ia merasa ada sesuatu yang kurang dari pembicaraan kedua orang tua laki-laki itu.
Tentu saja sebagai orang yang paling tua di kedua keluarga tersebut, pendapatnya sangatlah penting. Mengingat beliau telah banyak makan garam (berpengalaman) dari mereka semua. Tentu semuanya telah dipertimbangkannya dengan matang.
Sejam kemudian, akhirnya pembicaraan sudah ditetapkan kalau pertunangan Abra dan Delia akan dilakukan dalam seminggu ke depan. Dari kedua belah pihak pun tidak ada yang ingin menyanggah saat nenek memberikan ide tersebut. Bahkan Mama Rania yang awalnya ingin menunda jadi tidak bisa berkata-kata lagi.
Pembicaraan pun selesai, keluarga Abra telah dalam perjalanan pulang balik ke rumah. Namun ada yang berbeda dengan Mama Rania. Ia selalu saja diam saat setelah mobil di lajukan. Apakah karena pembicaraan Papa Fauzi sebelumya pada Mama Rania?
...To be continued....
Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya readers š¤
__ADS_1
...By Zolovelypeony...