
Keesokan harinya, Abra mengantar adiknya balik ke Jakarta. Namun, sebelum berangkat, Bella meminta kakaknya untuk singgah di toko brownies Camelia untuk membelikan pesanan teman-teman kuliahnya.
Abra tentu senang karena sebelum ia pergi, ia bisa melihat wajah wanita yang harus ia perjuangkan sampai titik darah penghabisan. Memikirkannya saja membuat bibir Abra melengkung.
"Kak, kenapa kakak senyum-senyum begitu? Hayo lagi mikirin kak Camelia lagi kan!" tebak Bella.
"Anak kecil tau apa!"
"Ya tau lah, aku kan adiknya kakak. Bella dukung kok kakak sama kak Camelia, seratus persen." Bella tersenyum cengegesan memperlihatkan gigi kelincinya dan senyuman yang menawan.
"Udah, kamu cukup duduk, diam dan santai, ok!" Bella lantas mengangguk patuh.
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mereka tiba didepan toko brownies Camelia. Mereka masih berada didalam mobil saat melihat Camelia tertawa begitu lepasnya dengan seorang lelaki yang membelakangi mereka. Mereka tidak tau siapa lelaki itu. Namun, Abra sepertinya mengenal hanya dengan melihat gestur tubuhnya.
Abra memalingkan wajah ke sisi lain. Bella yang memang sudah tidak sabaran pun bergegas ke luar dari mobil. Ia tidak terima kalau calon kakak iparnya tertawa begitu lepas dengan seorang lelaki. Ia kesal karena tindakannya kali ini untuk membela kakaknya. Namun apa ini? Kakaknya malah tidak kunjung-kunjung keluar dari mobil.
Saat Bella sudah memutuskan, apapun yang terjadi, ia akan menerima resikonya. Bella pun keluar dari mobil dan berjalan ke arah samping, pintu mobil kakaknya. Dari balik kaca, Bella mengibas-ngibaskan tangannya berharap Abra segera keluar, namun sampai semenit kemudian, Abra tidak kunjung memiliki tanda-tanda keluar dari mobil. Bella lantas membuka pintu mobil.
"Sini kak, cepat keluar," ucap Bella setelah membuka pintu kemudi.
Sangking kesalnya karena tidak ada respon cepat dari Abra, Bella pun menarik tangan kakaknya. Mendekati Camelia dan si lelaki berbaju biru itu.
"Assalamualaikum kak Cam," ucap Bella.
"Waalaikumsalam. Bella, Abra," ucap Camelia yang tidak menyangka akan bertemu Abra lagi dalam waktu yang terbilang singkat.
"Abra!" ucap lelaki tadi yang tak lain adalah Rafa. Ia berbalik melihat adik kakak itu.
"O, hai Raf."
"Kalian mau beli Brownies?" Tanya Camelia.
"Iya kak."
"Gimana ya, browniesnya udah laku dibeli semua sama Rafa." Camelia tersenyum canggung sedangkan Bella lagi-lagi kesal karena semuanya ulah Rafa.
"Kalau Bella mau, ini bisa ambil sebahagian milik kakak. Gratis," ucap Rafa menawarkan.
"Ngga kak, terima kasih. Kayaknya kakak lebih butuh dari pada aku."
"Poin kita seimbang," batin Bella tersenyum kemenangan.
__ADS_1
Rafa tersenyum kikuk. Camelia pun mengajak mereka kembali duduk untuk membuat suasana yang sempat tengang, menjadi santai kembali.
"Oh iya, silahkan duduk gih," Ajak Camelia.
"Ngga kak, kami mau langsung ke Jakarta. Aku kira brownies kakak masih ada. Jadi Bella hampir dulu deh kesini buat beliin teman-teman."
"Wah udah abis Bel. Lain kali pesan dulu sama kaka ya. Biar kakak buatin."
Bella mengangguk sedangkan Abra, tanpa pamit balik duluan ke mobil tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia tidak mau menunjukkan rasa cemburunya melihat Camelia dan Rafa si musuh bebuyutannya tertawa lepas. Apalagi sampai dekat seperti tadi.
Bukannya ia ingin bersikap egois. Hanya saja, setelah apa yang telah ia lewati, ia akan terus memperjuangkan meski harus menahan rasa cemburunya dengan cara menghindar. Ia percaya, suatu saat Camelia akan melihatnya sebagai seorang Abra yang berbeda dari sebelumnya.
"Kak Cam. Kami pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Bella bergegas mengejar kakaknya.
"Waalaikumsalam. Hati-hati dijalan ya."
Sesampainya didepan mobil, ia mendesah panjang. Ia pun bergegas masuk kedalam mobil. Memasang sabuk pengaman. Abra pun menjalankan mobilnya menjauh dari toko brownies Camelia. Hening, tidak ada percakapan antara adik kakak itu.
Bella menoleh pada Abra. Ia heran melihat kakaknya hanya diam sepanjang perjalanan mereka. Lantas ia pun berinisiatif untuk memulai percakapan. Bella berdehem! Dengan sangat hati-hati, ia memanggil sang kakak.
"Kak," panggil Bella dengan suara yang lumayan pelan.
"Hem."
"Kakak sedang tidak baik-baik saja." Jujur Abra sambil terus fokus menyetir mobil.
Bella lega, akhirnya ia bisa sedikit santai menaggapi sang kakak. "Oalah, aku kira kakak tidak punya rasa cemburu sama kak Cam. Soalnya yang Bella lihat waktu di Malang, kakak biasa-biasa aja tuh mandang kak Cam sama kak Atha. Jadi Bella pikir, rasa cemburu kakak ini hanya palsu saja."
"Anak kecil tau apa," ujar Abra seraya mengacak-acak jilbab adiknya.
"Kakak lihat nih, jilbab Bella kan jadi berantakan gini."
"Kan bisa diperbaiki. Tinggal lihat kaca pun selesai."
"Hati kakak tuh yang harus diperbaiki. Bukan jilbab Bella," ejek Bella.
Abra diam tak mau menanggapi ejekan adiknya karena Ia tau apa yang dikatakan adiknya itu benar.
Lama berkendara, akhirnya mereka tiba di kost an Bella. Abra mengantar adiknya sampai kedepan pintunya. Ia juga berpesan kepada Bella agar menjaga diri dengan baik saat jauh dari keluarga. Apalagi Bella adalah seorang anak perempuan satu-satunya di keluarga.
Bella lantas memberi hormat pada sang kakak. "Sipp kak, Bella akan ingat pesan kakak dan kakak harus hati-hati dijalan."
__ADS_1
"Hem, baiklah kakak pergi Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," ujar Bella sebelum menghilang dari balik pintu.
Abra tidak lantas kembali pulang ke Bandung. Ia mau bertemu dengan seorang teman lamanya yang tak lain adalah Delia. Ia pun berkendara mengikuti maps yang tadi sudah dikirimkan Delia padanya lewat pesan whatsapp.
Setelah sampai disebuah cafe tempat janji temunya dengan Delia. Abra pun masuk kedalam. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok teman lama yang ia rindukan. Setelah melihat Delia, Abra pun menghampirinya.
"Maaf Aku kelamaan, pasti kamu sudah dari tadi nungguin aku."
"Santai Aja, Ab. Aku juga baru tiba kok."
Abra mengangguk. Delia lantas mengangkat tangannya, hendak memanggil pelayan cafe yang tadi sempat menghampirinya.
Pelayan cafe yang melihat seorang pengunjung memanggilnya, lantas berjalan ke arahan mereka.
"Mau pesan apa mbak?"
"Dalgona Coffee dan ... Ab, kamu mau pesan apa?" Tanya Delia beralih pada Abra.
"Aku coffe cappucino saja."
"Coffe cappucino satu dan dalgona coffee satu," ucap Delia mengulangi pesanan mereka.
"Makannya?" tanya pelayan cafe.
"Tidak itu saja," jawab Delia.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka berbincang dan menanyakan kabar masing-masing. Sampai topik pembicaraan tentang Camelia pun mereka bicarakan.
"Oh iya, apa kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Delia.
"Iya, kami sudah bertemu beberapa hari ini," ucap Abra.
"Baguslah kalau begitu. Aku kira kamu belum bertemu dengannya," ucap Delia tersenyum.
Saat mereka tengah asik berbincang tentang Camelia, pintu masuk cafe berbunyi. Entah dari mana ketertarikan mereka berdua melihat orang yang baru masuk ke cafe ini.
"Camelia?" ucap Abra dan Delia hampir bersamaan.
...To be continued....
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komennya ya! Sebagai timbal balik dari yang kalian baca.
...By Peony_8298...