Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Mengukir Masa Depan


__ADS_3

"Makanya kak, cepet lamar kak Cam. Nanti diambil orang loh! Baru kakak menyesal," ujar Bella membuat seseorang dari belakang mereka tersentak kaget.


Ia mematung dan berbalik hendak pergi meninggalkan keluarga kecil itu. Namun, belum juga ia sempat menghilang dari pandangan pemilik toko brownies ini, ia malah ketahuan.


"Delia," panggil Camelia. "sini," lanjutnya.


Wanita yang ternyata Delia itu pun berbalik, melihat secara bergantian  empat pasang mata yang sedang melihatnya. Ia tersenyum canggung. Diam-diam dalam hati ia berkata, "Semoga saja, mereka tidak mengetahui kalau aku sudah mendengar pembicaraan mereka tadi."


Delia pun melangkah mendekat, pergi kearah Camelia.


"Kamu belum tiba juga udah mau pulang," ujar Camelia.


"Oh itu, aku kelupaan dompet di mobil, jadi aku berbalik ingin mengambilnya. Aku ambil dulu ya."


Camelia mengangguk. Camelia pun membawakan pesanan Abra.


"Kenapa Delia pulang?" tanya Abra.


"Dia mau ambil dompetnya yang tertinggal di mobil. Nanti dia balik lagi kok. Kalau gitu aku pamit dulu," ujar  Camelia.


"Loh kak Cam, temani kita dulu disini," ujar Bella.


"Kakak mau buat pesanan pembeli dek," ujar Camelia.


"Tenang, nanti Bella bantu. Begini-begini Bella bisa diandalkan loh," ujar Bella yang tau sebenarnya Camelia ingin menghindari mereka.


"Ngga usah Bel, nanti juga ada yang bantuin Kakak," ujar Camelia.


Mau tak mau, Camelia pun mengurungkan niatnya itu. Ia tidak ingin menampilkan kecurigaan di hati mereka semua. Ia lantas duduk di kursi samping kanan Abra. Tidak lama kemudian, Delia pun tiba.


"Del, duduk disini," ajak Abra untuk duduk didekatnya. Lebih tepatnya disamping kirinya.


"Kamu mau beli brownies juga?" lanjut Abra.


"Iya,"


"Kamu, nak Delia, teman Abra juga masa Sma?" tanya Mama Rania.


"Iya Tante."


"Kok jarang tante lihat seperti Nak Camelia?"


"Dia emang murid pindahan waktu itu, Ma. Jadi ngga terlalu kenal sama Mama," jawab Abra.


"Iya tan, Delia juga suka dijemput sama Papanya jadi jarang pulang bareng sama kita," tambah Camelia.


Mama Rania manggut-manggut mendengar cerita Abra dan Camelia. Begitu pula dengan Bella. Pantasan ia jarang melihat Delia pulang bareng kakaknya.


Bella pun menahan kekesalannya satu meja dengan Delia. Bella jelas tau penyebab Camelia ingin menghindar. Tapi, ia tidak ingin sampai hal itu terjadi lagi. Apapun keadaannya, ia tidak ingin kakaknya dekat dengan wanita ini lagi.


"Kak Del, bisa temani Bella pergi beli minuman disana?" tunjuk Bella sebuah kedai kopi samping jalan.


Dalam hati, Bella tersenyum senang karena Delia mengikuti ajakannya. Dengan begitu, ia tidak perlu repot-repot membuat alasan lain agar Delia menjauh dari kakaknya.


"Ayo kak," ajak Bella.


Mereka berdua pun pergi ke kedai kopi yang tadi ditunjukan Bella.


"Ma, kapan Bella balik ke Jakarta?" tanya Abra.


"Entar sore, katanya adikmu mau numpang sama temennya. Jadi ngga usah diantar."


"Emang Bella udah semester berapa, Tan?" tanya Camelia.

__ADS_1


"Udah semester lima. Makanya kalau datang ke rumah ngga bisa lama-lama," ujar Mama Rania berbalik belakang melihat Bella dan Delia yang telah sampai di kedai kopi.


"Tau begini, kenapa mama beri izin Bella untuk kuliah di Jakarta, di Bandung kan juga banyak tempat kuliah yang bagus?"


"Mau gimana lagi, kalau adikmu maunya kuliah di Jakarta! Mama ngga bisa larang, yang penting dia bisa jaga diri. Itu pun mama udah syukur karena adikmu masih mau lanjutin pendidikannya."


"Tapi ma, Bella tetaplah perempuan," ujar Abra.


"Bukannya kamu kuliah di singapura? Berarti kamu juga ...," ujar Camelia terpotong.


"Iya, iya tau. Ini kan gara-gara kamu juga, makanya jangan langsung menghilang gitu. Lagipula aku ngga ada niatan buat kuliah disini kalau ngga kuliah sama kamu," ujar Abra.


"Loh kok, jadi aku sih yang disalahkan. Kamu tuh!" ujar Camelia tidak terima akan tuduhan Abra.


"Emang benerkan."


Sangking tidak adanya yang mau mengalah, mereka bahkan lupa kalau Mama Rania sudah dari tadi memperhatikan mereka.


"Ehem," dehem Mama Rania berusaha membuat mereka berdua tersadar.


"Tante, maaf Cam ... Cam ...."


"Ngga papa nak Cam, Tante ngerti," ujar Mama Rania. Kini Mama Rania beralih menatap Abra, "Nak, sebagai seorang lelaki, kamu harusnya ngalah. Ngga baik loh kalau kalian berdua udah sama-sama berumah tangga, tapi satu sama lain ngga ada yang mau ngalah," ujar Mama Rania membuat Abra tersenyum dengan Camelia salah tingkah.


Untung Bella dan Delia tiba tepat waktu. Membuat suasana yang tadi canggung jadi santai kembali.


"Kak Abra, kak Cam. Ini cappucino untuk kalian. Kalau mama, aku ngga pesankan karena mama ngga suka kopi kan?" ujar Bella seraya memberikan cappucino masing-masing pada mereka.


"Terima kasih dek," ujar Abra dan Camelia hampir bersamaan.


Delia pun kembali duduk ditempatnya semula.


"Apa yang kalian bicarakan, saat kami pergi?" tanya Delia penasaran. Pasalnya ia melihat ekspresi setiap orang berbeda.


"Dan masa depan mereka berdua," tambah Mama Rania antusias.


Bella tersenyum. Ia melirik sang kakak dan melirik Camelia secara bergantian. Delia pun juga ikut tersenyum, namun ada yang berbeda dengan senyumnya itu. Ia seperti tersenyum terpaksa. Ia tidak menyangka pembahasan saat ia pergi akan jauh seperti ini.


"Oh," beo Delia sebagai jawaban.


"Wah, apa pembicaraan Mama dan Papa berlanjut sampai ke tahap ini? Kok Bella ngga tau ya?" ujar Bella bertanya-tanya.


"Pembicaraan apa?" tanya Abra penasaran.


"Rahasia, makanya siapa suruh kakak mau trasfer pada akhir bulan."


Mama menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya. Ia tertawa kecil.


"Nak Cam, Nak Delia. Maklum ya sama mereka berdua," ujar Mama Rania.


Meski tidak muda lagi, Mama Rania masih bisa bercanda seperti anak-anaknya. Mungkin itulah yang membuat anak-anaknya sangat sayang padanya.


Tiba-tiba ponsel Abra berdering. Ia pun menyudahi aksi tanya-tanyanya pada Bella. Ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya dan menjauh untuk mengangkatnya.


"Kenapa nak?" tanya Mama Rania setelah Abra mendekat.


"Abra harus segera ke kantor. Kalau gitu Abra pamit ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab keempat wanita yang dekat dengan Abra.


Seperginya Abra, Bella masih kesal karena tadi sebelum Abra pergi, kakaknya itu sempat mengacak-acak jilbabnya.


"Huh, ini mah kebiasaan kakak," sunggut Bella tidak terima.

__ADS_1


"Udah, itu tandanya kakak sayang kamu," jelas Mama Rania.


Camelia dan Delia otomatis mengangguk, membenarkan perkataan Mama Rania.


"Iya, Ma."


"Baiklah Nak Cam, Nak Delia. Tante sama Bella pulang dulu ya," ujar Mama Rania.


"Iya, Tan. Hati-hati dijalan," ujar Camelia dan Delia.


Kini tinggalah Camelia dan Delia berdua saja.


"Kamu mau beli berapa? Biar aku ambilkan," ujar Camelia.


"Tiga kotak brownies sama lima cup cake, ya."


"Baiklah, tunggu sebentar ya."


Delia mengangguk, Camelia pun masuk kedalam mengambilkan pesanan Delia. Tidak lama kemudian, ia telah kembali dengan membawa pesanan Delia.


"Ini, Del."


"Berapa semuanya?"


Delia membuka dompet dan memberikan sejumlah uang pada Camelia seraya berkata, "Terima kasih."


"Sama-sama."


"Oh iya, Cam. Kamu tau ngga yang punya kedai kopi disana?" tunjuk Delia.


"Aku ngga tau karena kedai itu baru-baru buka minggu ini. Kamu tau siapa yang punya?"


Delia mengangguk. "Iya, ternyata kedai itu milik Revan. Aku sempat kaget juga."


Camelia manggut-manggut sebagai jawaban. Mereka mengobrol tidak terlalu lama karena Delia harus cepat-cepat pulang.


"Cam, Aku pergi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Camelia.


Seperginya Delia, Camelia pun kembali masuk kedalam tokonya untuk memulai memainkan pesanan brownies pembeli yang harus diambilnya besok.


Camelia mulai sibuk mencampur bahan-bahan saat Riana masuk ke dapur untuk mengambil air minum.


"Mbak Cam!" panggil Riana.


"Iya," jawab Camelia yang masih fokus membuat adonan brownies.


"Mbak, Sari berapa hari izinnya?"


"Tiga hari, kamu mau izin juga? Kalau mau, Mbak potong gaji kamu," canda Camelia.


"Eh, ngga Mbak," jawab Riana gelagapan dan secepat mungkin kembali kedepan melayani para pembeli.


Sepeninggal Riana, Camelia jadi teringat kata-kata Mama Rania. "Ngga baik loh kalau kalian berdua udah sama-sama berumah tangga, tapi satu sama lain ngga ada yang mau ngalah."


Camelia menggeleng, mencoba menghilangkan kata-kata Mama Rania yang dari tadi mengusiknya.


"Pikirin Apa sih, Cam! mungkin saja Tante Rania bilang gitu karena melihat diantara kamu dan Abra ngga ada yang mau ngalah. Bukan berarti Tante ingin Abra dan Kamu mempunyai hubungan yang lebih. Huft, Cam ... Cam," batin Camelia.


...To be continued ...


halo semua, yuk dukung karya ini dengan memberikan timbal balik kalian dengan memberikan like, vote dan komen.

__ADS_1


...By Peony_8298...


__ADS_2