Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Degupan Jantung Camelia


__ADS_3

Halo semua, maaf baru up lagi. Akhir-akhir ini saya mempunyai banyak kesibukan didunia nyata saya. Jadi, semoga saja kalian memaklumi. Baiklah, tanpa banyak berkata lagi, selamat menikmati bacaan ini šŸ¤—


...***...


"Uncle lucu," ujar Carissa tersenyum dengan menampilkan deretan gigi susunya.


"Kamu juga lucu," ujar Abra seraya menoel hidung mancung Carissa.


"Uncle, kapan uncle menikah?" tanya Carissa tiba-tiba membuat Abra tersedak macaroon.


Camelia langsung refleks memberikanĀ  teh yang belum sempat diminumnya pada Abra yang wajahnya sudah memerah.


"Terima kasih," ujar Abra membuat Camelia menganggukkan kepalanya.


Camelia lalu beralih pada Carissa yang tiba-tiba merasa bersalah dengan mengigit-gigit kuku jarinya. Jujur Carissa tidak bermaksud ingin membuat Abra tersedak. Apalagi Carissa adalah seorang anak kecil. Apa yang ditahukannya kalau ucapannya itu bisa membuat seseorang tersedak.


Carissa juga terus tertunduk karena takut pada Camelia yang mungkin akan memarahinya. Namun dugaan Carissa salah saat ia menerima elusan lembut di kepalanya. Ia lalu mendonggak dan melihat Camelia yang tersenyum menenangkan padanya.


"Maaf bunda, Carissa tidak sengaja."


"Tidak apa, uncle mu sekarang sudah baikan, tapi lain kali jangan bersikap seperti itu lagi ya. Karena itu tidak sopan."


"Carissa janji."


Abra yang sudah tidak tersedak lagi, lantas mengangkat Carissa untuk duduk dipangkuannya. Ia bermaksud ingin menenangkan Carissa.


"Maaf uncle, Carissa sudah tidak sopan."


"Hem." Abra pun juga ikut mengelus kepala Carissa lembut.


"Uncle turunin," ujar Carissa.


"Mau kemana?"


"Mau main basket lagi."


"Mau uncle temani?"


"No, uncle cukup lihatin Carissa aja dari sini."


"Baiklah ...."


Belum juga Abra menyelesaikan kata-katanya, Carissa sudah lebih dahulu berlari menjauh dari mereka dan pergi mengambil bola basket. Tinggallah Abra dan Camelia disana.


Abra menggaruk keningnya karena tidak tau harus memulai darimana lagi. Lagipula Camelia pasti agak canggung lagi padanya setelah mengetahui masalah perjodohannya. Mereka punĀ  terdiam cukup lama sebelum Abra membuka percakapan.


"Cam," panggil Abra.


Camelia yang sedang memainkan ponselnya lantas menoleh pada Abra. "Iya, ada apa?"


"Kamu udah merasa baikan betul?"


Camelia pun menaruh ponselnya dimeja dan menjawab pertanyaan yang menurutnya aneh dari Abra.


"Alhamdulillah, iya. Seperti yang kamu lihat. Malah seperti yang hampir terjadi saat aku ingin mengajar Carissa main basket."


Abra menganggukan kepalanya senang. Lalu tanpa diduganya, Camelia memberikan selamat padanya.


"Oh iya, selamat ya. Maaf aku baru ucapin sekarang."


"Hah! Oh itu, jangan beri selamat padaku, Cam. Karena aku tidak menyetujuinya," ujar Abra lesu.


Sebagai respon singkat, Camelia terkekeh mendengar perkataan Abra.


"Kamu mengetawai aku?"

__ADS_1


"50% ya, 50% lagi tidak."


"Kamu meledek?"


"Ngga, hanya saja suaramu terlihat lucu. Lihat, kalian bahkan bisa bersama sekarang."


"Tapi aku tidak mengharapkannya."


"Aku heran sama kamu. Dulu aja kamu dan Delia begitu lengket. Sekarang pas udah dibuat dekat, kamu malah mau menjauh. Kamu masih Abra kan!"


"Iya. Anggaplah aku lelaki bodoh," ungkap Abra yang sebenarnya mengatakan dirinya bodoh karena dirinya pernah membuat Camelia menjauh.


"Eh, aku ngga bilang gitu ya," ujar Camelia langsung.


"Aku tau, tapi kenyataannya begitu. Maaf karena telah mengabaikanmu waktu yang lalu."


"Sudahlah semua sudah berlalu, mulai dari sekarang kamu harus menerima keadaanmu."


"Dan kamu, mau ikut pasrah juga?" tanya Abra menoleh pada Camelia.


"Maksudmu?"


...***...


Didalam rumah, Papa Carel yang baru pulang dari kantor, lantas pergi ke halaman belakang untuk menemui Carissa yang kata Mama Lia sedang belajar main basket. Sepanjang menuju halaman belakang, senyuman diwajah Papa Carel tidak pernah sedikitpun memudar.


Bagaimana tidak? Carissa terlihat begitu menggemaskan dimata Papa Carel. Apalagi Papa Carel juga tau bagaimana pertumbuhan Carissa sejak kenal dengan anaknya, Camelia sewaktu Papa Carel sering mengunjunginya di Turki. Baginya, Carissa sudah dianggapnya sebagai cucunya sendiri yang tidak ada bedanya kelak jika memulai cucu kandung dari Camelia.


Papa lalu memutar knop pintu dan kembali melangkahkan kakinya sampai ke halaman belakangm. Papa Carel sedikit menghentikan langkah kakinya saat melihat Carissa tengah serius dalam bermain basket sendiri. Namun itu hanya sebentar karena Papa Carel memanggilnya seraya merentangkan tangan agar Carissa segera mendekati dirinya. Carissa yang mendengar Papa Carel memanggilnya, langsung saja membuang bolanya ke sembarang arah dan berlari menuju Papa Carel.


"Opah, Carissa rindu," ujarnya setelah sampai dipelukan Papa Carel.


"Opah juga rindu."


"Opah, Carissa udah mulai pintar main basket loh! Opah mau lihat?" ujar Carissa antusias.


Carissa mengangguk sebagai jawaban. Lalu ia menarik tangan Papa Carel untuk ikut bergabung dengan mereka. Sesampainya Papa Carel disana, Abra lantas berdiri menghampiri Papa Carel untuk mencium tangannya.


"Sore, om."


"Nak Abra, udah lama disini?"


"Iya pa, Abra udah lama disini. Ini baru mau pulang," celetuk Camelia tiba-tiba membuat papa beralih padanya.


Lalu tanpa disadari Abra, Papa Carel memberikan kode mata pada Camelia seperti hendak mengatakan kalau Camelia tidak boleh bersikap seperti itu pada tamu mereka. Camelia pun langsung tersadar atas apa yang telah diucapkannya barusan. Padahal baru beberapa menit setelah apa yang telah diajarkannya pada Carissa, ia sudah lupa gara-gara ia ingin Abra cepat pulang kerumahnya sendiri karena papa telah datang.


Camelia pun berlalu masuk ke dalam rumah dengan mengikutkan Carissa bersamanya. Kini tinggallah Papa Carel dan Abra yang masih berbincang santai disana.


"Om dengar kamu dijodohin sama anak pak Samuel," ujar Papa Carel setelah mereka duduk. Dengan tidak mau, Abra terpaksa menganggukan kepalanya mengiyakan.


"Selamat nak."


"Iya om."


"Kapan tanggal penetapannya?"


"Eh, itu. Abra kurang tau."


"Loh kok bisa."


"Abra ngga datang diperjodohan itu, jadi Abra kurang tau."


Lansung Papa Carel tertawa kecil. "Anak muda zaman sekarang ternyata masih malu-malu ya."


Dengan sedikit tersenyum, Abra menganggukkan kepalanya. Lalu tanpa disangka, gerimis mulai turun di waktu yang semakin sore itu. Mau tidak mau, Papa Carel dan Abra pun masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Oh iya! Sebelum pulang makan malam disini dulu ya," ujar Papa Carel setelah mereka berada di ruangan tamu.


"Ngga usah om. Ini juga Abra mau pulang," tolak Abra pelan. Pasalnya, ia takut kalau Camelia akan menolak.


"Loh kok nolak. Ngga papa sekali-kali aja. Ini juga nak Atha mau datang."


"Iya, ikuti aja kata papa aku. Lagipula saat ini sedang hujan. Aku takut kejadian tempo hari akan terjadi lagi."


Papa menoleh pada Camelia, lalu bertanya, "kejadian seperti apa?"


"Itu pa, yang waktu Camelia ke jakarta tapi ditengah jalan pulang, mobil Camelia mogok. Apalagi saat itu hujan deras. Untung ada Abra yang nolongin, Cam. Tapi malah Abra jadi jatuh sakit karena nolongin Cam."


Papa Carel mengangguk-anggukan kepalanya. Sedangkan Abra senyum-senyum sendiri karena telah menjadi pahlawan kepagian bagi Camelia.


"Terima kasih nak Abra telah menolong anak om."


"Sama-sama om."


Lama kedua lelaki beda usia itu bercakap, terdengarlah suara dari mesjid dekat rumah yang mulai berkumandang. Papa Carel lalu mengajak Abra untuk sholat magrib berjamaah dengan mereka.


Ya, sholat berjamaah telah menjadi rutinitas utama didalam keluarga Papa Carel kalau papa lagi ada dirumah. Semua anggota keluarga pun ikut sholat kecuali bagi perempuan dikeluarga itu yang mendapat lampu merahnya di tiap bulan.


Didalam rumah Papa Carel, terdapat sebuah ruangan khusus yang mereka sebut sebagai musholla keluarga. Dingin ruangan itu di cat dengan warna hijau daun yang indah, sedangkan langit-langit ruangan itu di lukis sedemikian rupa seperti langit pada umumnya. Hingga membuat siapapun orang itu akan betah berlama-lama disana.


Sesampainya mereka di musholla kelurga, Papa Carel meminta Camelia memberikan baju koko yang pernah dibelikan untuknya untuk Abra pakai saat sholat. Camelia lalu bergegas ke kamar Papa Carel. Membuka lemari pakaian baru dan mengambilnya dari salah satu rak.


Setelah mendapatkannya, Camelia kembali ke musholla keluarga lalu memberikan baju koko pembeliannya untuk Abra pakai didalam sholat berjamaah keluarganya. Baru setelahnya, ia pun juga ikut bersiap untuk sholat magrib berjamaah.


Di musholla keluarga, Abra tengah mengumandangkan adzan saat Camelia, Mama Lia maupun Carissa datang kesana. Mendengar suara adzan yang merdu itu membuat jantung Camelia seketika berdetak lebih cepat. Camelia lantas memegang dadanya tiba-tiba.


"Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah," ucap Camelia dalam hati.


Mama Lia yang melihat ada yang aneh dengan putrinya, lantas bertanya seraya memegang lengan Camelia.


"Kenapa nak?"


"Ti ... tidak apa-apa ma," ujar Camelia gugup sambil balas memegang tangan Mama Lia dengan tangan yang satunya. Ia baru melanjutkan, "ma sepertinya Cam sholat di kamar aja."


"Baiklah, gih sana. Biar Carisaa sholat disini sama mama."


Camelia mengangguk. Ia pun pergi dari sana dan bergegas pergi kedalam kamarnya sendiri untuk menunaikan sholat magrib-nya.


Beberapa waktu telah berlalu, semua keluarga telah menyelesaikan kewajiban mereka masing-masing. Camelia yang baru saja melipat sejadah, tersentak kaget saat Carissa tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.


"Bunda," panggil Carissa seraya berlari kearahanya.


"Sayang, semua orang dimana?"


"Opah dan uncle ada di ruang tamu. Kalau omah ada didapur, menyiapkan makanan."


"Baiklah, ayo pergi bantu omah," ajak Camelia pada Carisaa seraya memegang tangannya.


Carissa mengangguk mengiyakan. Mereka pun keluar kamar dan pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan malam keluarga. Sesampainya di tangga, Carisaa melepaskan tangan Camelia dan berlari menuruni anak tangga.


"Hati-hati, jangan lari-lari di tangga nak. Nanti ...."


"Aaa ...."


Belum juga Camelia menyelesaikan kata-katanya, Carissa sudah kehilangan keseimbangan tubuh hingga membuatnya hampir tergelincir jika saja Camelia tidak segera memegang tangannya. Namun naas, Carissa yang berhasil ditolongnya malah membuat dirinya kehilangan keseimbangan. Tanpa disangka, kaki Camelia ikut tergelincir.


Hampir saja Camelia jatuh - mendaratkan tubuhnya ke bagian rumah yang tidak rata, saat tiba-tiba ada sebuah tubuh kokoh nan kuat menahan tubuhnya yang kehilangan keseimbangan itu. Camelia menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang telah menolongnya.


...To be continued ...


Jangan lupa like vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya readers.

__ADS_1


Kalau like-nya udah mencapai 55 like, saya akan up lagi šŸ™


...By Zolovelypeony ...


__ADS_2