Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Apakah kita akan berjodoh?


__ADS_3

"Mbak, Riana pengen berubah ke arah yang lebih baik lagi. Tapi, Riana tidak tau harus mulai dari mana."


"Gimana kalau ubah kebiasaan sholat bolong-bolong mu dulu. Sering waktu, semua akan ikut membaik," ujar Camelia memberikan saran.


"Iya mbak, Riana usahain."


"Jangan diusahain Ri, karena sewaktu-waktu kamu akan bosan. Tapi harus di jalani, anggap itu adalah kebutuhan pokok mu. Jika kamu tidak  melakukannya, maka kamu merasa seperti ada yang hilang. Mau ngga, mbak beri tips agar tetap istiqomah dalam beribadah contohnya dalam sholat?"


"Mau banget mbak, apa?"


Riana semakin mendekatkan dirinya pada Camelia. Ia sangat penasaran sekali tips apa yang ingin dikatakan oleh wanita yang telah memberinya secercah harapan ini.


"Kamu pernah jatuh cinta?"


Dengan malu-malu Riana menganggukkan kepalanya pelan. Camelia tertawa kecil, melihat pipi Riana yang bersemu merah.


"Ri, fokus."


"Eh, iya mbak."


"Dulu mbak juga sholatnya bolong-bolong tapi suatu saat, mbak bertemu dengan seorang ustadzah yang pada akhirnya, dia menjadi guru ibadah mbak. Dia mengatakan, jika ingin terus melakukan sholat tanpa bolong-bolong, maka kita harus membuat sholat itu jatuh cinta pada kita. Dengan begitu, apapun kesibukan, lelah dan segala macam keadaan yang akan membuat kita berfikir untuk tidak ingin melaksanakan sholat, maka kita tidak akan memikirkan itu semua."


"Hah! Emang bisa ya mbak?" ujar Riana seperti tak percaya.


"Bisa banget. Jika ingin membuat sholat jatuh cinta sama kita, maka dengan perlahan kita mulailah sholat. Suatu saat, saat dirimu lelah ataupun telat bangun pagi, maka dengan ajaibnya, kamu akan terbangun dengan sendirinya karena kita juga telah jatuh cinta pada sholat yang membuat kita tidak bisa meninggalkan rasa cinta kita. Disaat seperti itu, kita hanya terus berfikir untuk tetap sholat, walau ada saja segala keadaan membuat kita malas."


Riana menyinggungkan senyumnya selebar mungkin. Kini beban di dadanya perlahan-lahan telah hilang entah kemana. Ia senang akan hal tersebut. Berkat sosok wanita beberapa bulan yang telah memperkerjakan dirinya, ia merasa mempunyai semangat beribadah lagi.


"Riana bersyukur bisa bertemu dan bahkan menjadi karyawan Mbak Cam. Jika saja Riana tidak bertemu dengan Mbak Cam, entahlah, Riana tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya."


"Jika kamu ngga bertemu dengan Mbak, mungkin diluaran sana ada seseorang yang juga akan memberimu saran seperti Mbak. Selama kamu masih mau berubah ke arah yang lebih baik, kamu akan selalu didatangi oleh orang-orang yang ingin melihatmu baik dan mengajakmu untuk berbuat baik juga," ujar Camelia.


"Alhamdulillah, salah satu orang baik itu adalah mbak."


Camelia tersenyum kecil menaggapi ucapan Riana. "Mbak ngga sebaik yang kamu kira. Udah, mbak ke dalam dulu ya," ujar Camelia menyisakan tanda tanya pada Riana.


"Iya mbak, Riana juga mau kedepan," ujar Riana pada akhirnya. Ia tidak ingin menaggapi lebih jauh perkataan bosnya barusan. Camelia mengangguk. Ia pun pergi meninggalkan Riana.


...***...


Keesokan harinya setelah Camelia melaksanakan shalat subuh, ia bergegas membersihkan semua yang menjadi rutinitasnya setiap hari minggu. Sambil membersihkan, ia juga membuatkan sarapan pagi untuk orang tuanya. Seperti pepatah 'sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui yang artinya sekali mengerjakan sesuatu maka akan dapat menyelesaikan pekerjaan lain atau juga bisa mendapatkan keuntungan sekaligus'


Camelia tersenyum, ia seperti super women saja. Bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus atau bisa dikatakan multitasking. Tapi, itulah perempuan, apapun yang bisa dikerjakan secara bersamaan, akan dikerjakan saat itu pula.


Camelia yang masih saja tersenyum membuat mama heran. Mama Lia yang baru keluar kamar pun pergi mendekati Camelia yang masih asik dengan dunia senyumnya sendiri.

__ADS_1


"Ehem, senyum-senyum sendiri. Sini bagi sama mama, biar mama ketularan juga," ujar mama.


"Eh mama. Ngga kok ma, ini Camelia ingin senyum saja," jawab Camelia kikuk.


"Mau kemana nanti, sampe rumah udah bersih begini?" tanya Mama Lia yang mengetahui kebiasaan anak gadisnya jika ingin berpergian.


"Mau pergi olahraga, Ma."


"Sendiri atau ...."


"Cam pergi sama Abra. Dia mengajak Cam bermain bola basket di taman kota."


Mama menganggukkan kepalanya. "Mama perhatikan, belakangan ini kamu dan nak Abra dekat kembali. Apa ada sesuatu yang mama tidak ketahui?" tanya Mama Lia hanya ingin tau seberapa dekat hubungan mereka kembali.


"Ngga ada kok, ma. Kami seperti sahabat, kayak dulu," ujar Camelia.


"Jadi kapan nak Abra datang?"


"Mungkin sebentar lagi, ma."


Camelia pun melanjutkan pekerjaan rumahnya. Ia merasa kalau Abra akan datang menjemputnya sebentar lagi.


"Kalau gitu biar mama bantu. Biar cepat selesai."


"Eh, ngga usah ma. Ini juga ngga lama selesai kok. Mama duduk santai aja di depan tv. Duduk yang cantik dan nonton sambil menikmati cemilan yang Camelia buat," ujar Camelia sambil menuntun Mama Lia agar duduk di sofa.


"Kalau gitu Camelia bersih-bersih dulu."


Camelia pun berlalu dari hadapan mama yang telah duduk santai didepan tv, menikmati berita pagi yang masih hangat-hangatnya. Sesekali Mama Lia memperhatikan Camelia yang masih sibuk membersihkan dan sesekali melihat masakannya.


Ia sangat bangga memiliki putri seperti Camelia. Karena sesibuk apapun Camelia, Camelia tidak akan bisa membuatnya mengeluh soal pekerjaan rumah. Bahkan memasak pun Camelia sendiri yang mengerjakan. Kecuali Camelia pulang malam, barulah Mama Lia maju memasak didapur.


"Ma, mama," panggil Camelia sambil mengibaskan tangannya didepan wajah Mama Lia.


"Iya nak kenapa?"


"Ma, kayaknya orang yang sedang ketuk pintu, Abra deh Ma. Cam ngga pakai jilbab saat ini."


"Biar Mama yang bukain. Kamu siap-siap aja pergi. Kasian nak Abra kalau harus nungguin kamu lagi."


"Tapi masakan Cam gimana, baru sayur aja yang masak, Ma. Ikan sama nasinya belum."


"Biar Mama yang lanjutin. Gih, sana ganti pakaian."


Camelia mengangguk, ia pun bergegas naik ke kamarnya dan berganti baju training yang kedodoran agar lekuk tubuhnya tidak terlihat jelas. Sedangkan Mama Lia pergi membukakan pintu buat Abra.

__ADS_1


"Assalamualaikum, tan. Camelia ada?"


"Waalaikumsalam, ada nak. Mari masuk. Camelia lagi bersiap dulu," ujar Mama Lia sambil melangkah masuk kedalam ruangan tamu. "Silakan duduk nak Abra," seru mama lagi.


"Iya, tan."


"Mau kemana sama Camelia, nak?" tanya Mama Lia hanya ingin memastikan kembali, padahal beliau sudah mengetahuinya dari Camelia tadi.


"Mau ke taman kota, tan. Abra mau ajakin Camelia main basket."


"Em, baiklah mainnya jangan sampai lupa waktu."


"Iya, tan."


Camelia yang sudah bersiap, lantas turun ke lantai satu menuju ruangan tamu, dimana Abra telah menunggu dirinya.


"Ab, maaf ya buat kamu menunggu," ujar Camelia.


"Ngga papa kok. Kita pergi sekarang?"


"Iya. Ma, Cam pergi dulu. Assalamualaikum," ujar Camelia seraya mencium tangan mamanya.


"Kami pamit, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati saat disana. Pulangnya jangan kelamaan ya."


Camelia dan Abra serentak mengangguk. Mereka pun keluar dari rumah menuju mobil Abra.


"Silakan masuk putri Cam" ujar Abra saat membukakan pintu mobil buat Camelia.


Camelia tertawa, "kamu ada-ada saja. Terima kasih."


Setelah memasang sabuk pengaman, Abra pun melajukan mobilnya menuju taman kota. Tempat yang mereka datangi untuk bermain basket.


Limabelas menit berlalu, mereka telah sampai di lapangan itu. Berhubung hari ini adalah hari minggu, membuat taman yang bisanya sedikit pengunjung, kini banyak didatangi oleh orang-orang sekitar untuk bersantai bersama keluarga. Ada yang jogging, ada yang bersantai sambil menggelar tikar, dan berbagai aktivitas lainnya.


"Ayo Cam," ajak Abra.


"Ayo," ujar Camelia mengikuti langkah kaki Abra.


Sesampainya mereka dilapangan basket, Camelia tersenyum lebar melihat para remaja yang menggunakan lapangan basket ini berlarian kesana kemari, mencoba satu sama lain merebut bola yang dominan warna orange itu.


"Kenapa Cam?" tanya Abra yang melihat Camelia hanya diam saja.


...To be continued....

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya 🤗


...By Peony_8298...


__ADS_2