
Jangan lupa like, vote dan komen ya, sebagai timbal balik dari yang kalian baca. 🤗🤗🤗
...***...
"Bella ngga setuju."
"Ngga setuju? Tentang perjodohan kakak?"
"Iya kak. Kakak gimana sih!"
Abra manggut-manggut, seketika ide muncul di kepalanya. Ia pun menoleh dan memanggil Bella pelan.
"Bel, kamu mau bantu kakak ngga?"
"Bantu apa kak?"
"Kakak mau kamu bantu rahasiakan perjodohan ini sama kak Cam. Biar bagaimana pun kalau kakak tidak salah nebak, pasti mama nanti akan datang ke toko brownies Camelia. Membeli brownies untuk pertemuan nanti."
"Kalau itu serahin sama Bella, kak!" ujar Bella sambil mengacungkan jempolnya.
"Baiklah. Urusan mama, kakak serahin sama kamu. Lainnya, biar kakak tangani sendiri," ujar Abra penuh keyakinan.
"Ok. Biar bagaimana pun Bella ngga ikhlas kalau kakak sama yang lain."
"Iya tau," ujar Abra kembali ke kebiasaan lamanya yaitu mengacak jilbab yang dikenakan Bella.
"Uh kakak. Kebiasaan buruk belum di ubah-ubah juga," keluh Bella. Ia pun memperbaiki jilbabnya yang sedikit teracak itu.
"Susah dek, kalau mau diubah. Udah terima aja."
Abra pun kembali fokus menyetir mobilnya agar cepat sampai di rumah. Mengistirahatkan diri dan pikiran yang sedikit lelah. Jujur saja ia ingin cepat-cepat beristirahat.
Setelah lama berkendara, akhirnya mobil yang dikendarai dua adik kakak itu pun terparkir manis di garasi mobil. Bella keluar duluan, meninggalkan Abra yang mengambil barang bawaannya.
"Assalamualaikum, ma ... kami sampai," ucap Bella saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, sayang. Sini, duduk dekat mama."
Bella berjalan mendekati mama yang lagi menonton sebuah sinetron yang tayang di stasiun tv swasta. Lagi-lagi Bella tersenyum kala melihat mama kembali menonton sinetron kesukaannya.
"Masih sinetron yang sama ma?" tanya Bella.
"Iya, ceritanya tambah seru loh, Bel," ujar Mama Rania seperti anak remaja.
"Seru mama bilang? Malah tambah banyak masalah disana sini. Mana penjahatnya ada terus," ujar Bella yang memang tidak terlau menyukai sinetron yang banyak musuh didalam ceritanya.
"Mama nonton gini bukan karena apanya nak. Hanya saja, mama bisa ambil pelajaran didalamnya. Jangan asal nonton saja tanpa bisa mengambil hikmah yang terkandung didalamnya."
Bella manggut-manggut mendengar penjelasan mama yang benar adanya. Jujur saja, selama ini ia hanya asal nonton saja. Jika ceritanya menarik, ia akan ikuti terus. Kalau tidak, boro-boro nonton sampai habis, pertengahan saja sudah ia tinggalkan.
"Oh iya, mana kakakmu?"
"Mungkin terus ke kamar ma. Mungkin lagi siap-siap mau ke kantor."
"Bentar temani mama ke toko brownies nak Camelia, ya. Mama mau pesan browniesnya untuk acara kakak kamu."
Bella tentu saja tidak terkejut, ia santai dalam menanggapinya karena sudah lebih dahulu kakaknya memberitahu dirinya. "Ok ma. Siap! Kapan kita pergi?
"Ini abis tontonan mama. Kamu istirahat aja dulu, pasti capek habis perjalanan jauh."
__ADS_1
"Iya ma. Kalau gitu Bella ke kamar dulu." Bella pun pergi meninggalkan Mama yang masih asik dengan tontonan sehari-harinya.
...***...
Di toko, Camelia sedang sibuk mengurus beberapa pelanggannya yang berdatangan hari ini. Sangking sibuknya, ia bahkan tidak pernah sekalipun beristirahat kecuali saat makan siang dan sholat lima waktu.
Ditengah kesibukannya, Mama Rania dan Bella datang membeli brownies untuk dibawanya nanti ke rumah Delia. Seperti dejavu, Camelia menghampiri Mama Rania dan Bella.
"Assalamualaikum, Tante," ujar Camelia sambil mengambil tangan Mama Rania untuk disalaminya.
"Waalaikumsalam, nak Cam."
"Bella libur?" tanya Camelia kini beralih pada Bella.
"Ngga kak. Bella izin kuliah dulu. Coba bukan urusan keluarga, Bella ngga akan pulang ke Bandung." Bella menoleh sebentar pada Mama dan langsung mendapat lototan mata Mama Rania. "Hehe, Bella bercanda Ma," lanjut Bella.
"Ngga ada sayangnya sama orang tua," gerutu Mama Rania.
Bella yang mendapat kegurutuan dari Mama Rania hanya dapat melebarkan bibirnya membentuk sebuah senyum yang membuat gigi kelincinya terlihat.
"Oh iya, Tante mau beli atau pesan?" tanya Camelia.
"Tante ingin pesan brownies kamu. Tapi rabu baru tante ambil. Bisakan nak Cam?"
"Bisa Tan. Tante mau pesan berapa?"
"10 kotak aja nak."
"Cam catat dulu kalau gitu."
Camelia pun berlalu kembali ke toko untuk mencatat pesanan Mama Rania. Sedangkan Mama Rania dan Bella, berlalu duduk di tempat bisanya.
"Hus, anak kecil. Kamu cukup diam saja, soal itu biar papa dan mama yang urus."
"Ih, mama selalu saja menganggap Bella anak kecil. Bella kan udah dewasa."
"Mananya yang dewasa, biar Mama pergi kesini juga, kamu minta ikut. Ngga takut dibilangin anak ayam apa? Ikut-ikut Mama terus."
"Tapi tadi kan mama yang ajak Bella."
"Kan mama tadi juga udah bilang, kalau mama bisa pergi sendiri."
Bella diam, apa yang dikatakan Mama memang ada benarnya. Hanya saja, ia melakukan ini demi kakaknya. Ia ikut dengan mama karena ia ingin mengetahui apa saja yang terjadi saat mama bertemu dengan Camelia. Dalam hati ia berdoa, semoga mama tidak membahas perjodohan kakaknya dengan Delia. Dengan begitu, Camelia tidak akan merasa sakit.
"Mama bercanda," ujar Mama Rania saat mendapati Bella hanya diam saja.
Bella mengangguk. Tidak lama kemudian, Camelia datang dengan beberapa potongan brownies yang dibawanya di nampan dan tiga buah cangkir berisi teh untuk mereka.
"Nak Cam, kenapa repot-repot segala."
"Ngga kok Tan, Tante kan jarang datang kesini."
"Coba aja Papa ...," ujar Bella tiba-tiba menutup mulutnya. "Fiuh, hampir saja. Bukannya jadi pahlawan kesiangan, malah aku datang kesini hampir jadi biang kerok," lanjutnya dalam hati
"Kenapa Bel?"
"Ngga kok kak, Bella cuma ingat papa," ujar Bella.
"Silahkan diminum teh nya, tante, Bella."
__ADS_1
Mama Rania dan Bella pun mencicipi teh buatan Camelia, serta brownies dengan varian terbaru yang mereka lihat.
"Varian baru lagi kak?" tanya Bella.
"Iya, baru beberapa hari ini kakak buat. Gimana rasanya?"
"Enak kak. Ngga kalah sama varian lainnya."
Camelia tersenyum. Lalu ia beralih melihat Mama Rania yang baru selesai mencicipi brownies baru Camelia.
"Browniesnya untuk acara di perusahaan lagi, Tan?"
"Ngga nak, ini untuk acara dirumah teman Papa Abra."
Camelia manggut-manggut, ia pun kembali bertanya lagi yang nanti akan membuat ia menyesal sendiri. "Memangnya ini untuk acara apa, Tan?"
"Acara perjodohan anak tante sama anak teman papanya."
Bella jadi memalingkan wajahnya saat Mama Rania mengatakan tentang perjodohan. Ia tidak tega melihat ekspresi wajah sahabat kakaknya ini. Biar bagaimana pun, ia juga seorang perempuan. Ingin menyela, takutnya ia tidak sopan.
"Bella mau di jodohin, Tan." Camelia tersenyum, kala mengingat kalau Bella yang masih berstatus mahasiswa, sudah ingin dijodohkan.
"Ngga, bukan Bella, tapi Abra."
Camelia terkejut, jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Ia tidak menyangka karena keingintahuannya yang tinggi, malah membuatnya harus menahan rasa kecewa yang besar. Ia mengira jika semuanya akan baik-baik saja dari sekarang. Tenyata dugaannya salah. Ia pun hanya mampu ber-O ria sebagai jawabannya.
"Wah, berarti ngga lama lagi temen Cam bakalan laku dong, tan," lanjut Camelia setelah menguasai keadaan dirinya.
"Iya, doain semuanya agar lancar."
"Iya tan, pasti."
Mama Rania dan Bella pun pamit pulang setelah mengobrol dengan Camelia cukup lama. Sesampainya dirumah, Bella cepat-cepat masuk ke dalam kamar, mengeluarkan ponselnya dari tas salempang dan mendial nomor ponsel kakaknya, Abra.
"Assalamualaikum kak," ujar Bella setelah mereka terhubung.
"Waalaikumsalam, kenapa dek?" tanya Abra.
"Kak, kakak. Gimana ini, kak Cam, kak Cam. Dia ... dia ...."
"Dia kenapa?" potong Abra tidak sabaran.
"Kak Cam udah tau, kalau kakak akan dijodohkan."
"Apa! Kok bisa?" seketika Abra berdiri dari kursi kebesarannya.
"Bella ngga jalankan tugas dengan baik, kak?" ujar Bella merasa bersalah.
"Kamu dimana sekarang?"
"Bella udah ada dirumah. Kalau kakak punya waktu luang, gih pergi temui kak Cam. Jelaskan pada kak Cam tentang perjodohan kakak," saran Bella.
"Iya kakak akan segera ke sana."
...To be continued...
Jangan lupa like, vote dan komen ya, sebagai timbal balik dari yang kalian baca. 🤗🤗🤗
Note: dejavu - suatu peristiwa atau perasaan yang pernah dialami dimasa lalu dan terulang dimasa sekarang.
__ADS_1
...By Peony_8298...