
Waktu telah menunjukkan jam tiga sore bertepatan dengan terdengarnya suara adzan yang kian memanggil dirinya untuk segera menghadap Sang Maha Pencipta.
Camelia pun menyudahi membaca buku hariannya dan memilih pergi mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Ia sholat dengan begitu khusya-nya hingga salam terakhir. Setelah beristigfar dan berzikir sebentar, kini tangannya telah menengadah, meminta pada Allah, Sang Pengabul doa.
Saat berdoa, ia benar-benar meminta, memohon dan merendah pada Allah. Karena hanya Dia-lah tempatnya meminta, mengadu dan berharap. Ia bahkan sudah tidak sadar lagi dengan air mata yang telah mengalir di pipinya sedari tadi. Ia hanya tau, Dia-lah yang Maha Pengabul doa-doanya selama ini.
Setelah berdoa, ia menyeka air matanya yang masih membekas di pipi dan membenahi mukena dan sejadah yang telah dipakainya.
Selesai dengan kewajibannya, Camelia memilih pergi membantu Mama Lia yang sedang memasak didapur untuk makan malam mereka nanti. Sambil membantu mamanya, Camelia membuka percakapan tentang nama seorang yang berada didalam diarynya.
"Ma, saat Camelia pergi apa ada orang yang mencariku?" tanya Camelia.
"Em ... ada. Itu, teman kamu yang cowok, yang suka main basket sama kamu, nak. Siapa ya namanya. A ... Abra kalau tidak salah," jawab Mama Lia sambil terus mengaduk masakannya.
"Abra, Ma? Kapan dia datang?" tanya Camelia.
"Seminggu setelah kamu pergi ke Turki, sayang. Setelah itu ngga ada kabar lagi," terang Mama Lia.
"Em ... gitu, ada lagi ngga Ma?"
"Ada, teman kamu yang perempuan sering main kesini juga kalau hari minggu. Mama lupa namanya," ucap Mama Lia yang hanya menyebutkan kebiasaan teman perempuan Camelia.
"Adelia, ya ma?" tebak Camelia tepat sasaran.
"Iya itu Nak Adelia. Pertama dia datang bersama Abra. Kedua sendiri. Sama mencarimu lagi," terang Mama Lia lagi.
"Tapi mama beritahu mereka kalau aku ke Turki?" tanya Camelia cemas pasalnya, ia tidak ingin teman-temannya tau kepergiannya kesana.
"Tidak sayang. Mama tidak memberitahu mereka."
"Terima Kasih, Ma. Oh iya, Ma. Camelia berencana ingin buka toko brownies. Bagaimana menurut mama?"
"Mama setuju dengan usulanmu, nak. Apapun itu, Mama akan selalu mendukungmu," ujar Mama Lia seraya memegang kedua tangan putrinya ini.
"Kalau begitu, nanti Cam pergi belanja bahan-bahan buat brownies. Lalu Cam akan membuatnya. Kalau udah jadi, coba berikan pendapat Mama, ya. Kalau Mama suka berarti Cam udah bisa buka usaha kecil-kecilan dulu."
"Baiklah, Mama akan menjadi pengkritik terbaik untuk usaha terbaik kamu, nak."
Camelia terkekeh mendengar respon Mama. Ia pun lantas memeluk sang Mama karena telah mendukungnya untuk tumbuh menjadi sosok yang mandiri.
"Terima kasih Ma."
"Apapun Mama akan lakukan untukmu. Ngomong-ngomong berapa biaya yang kamu butuhkan? Biar Mama beri."
"Ngga usah Ma. Cam punya tabungan kok. Biar pake tabunganku aja. Lagipula Cam ingin usaha Cam ini benar-benar modal dari Cam sendiri," ujar Camelia.
"Yakin?" tanya Mama menaikkan alisnya.
"Cam, sangat yakin. Kalau Mama mau bantu, Mama bantu aja cariin aku lokasi yang strategis buat usaha aku. Soalnya Cam udah ngga terlalu mengenal seluk beluk daerah ini."
"Iya sayang, tentu."
Mereka pun melanjutkan aksi masak-masak mereka. Tidak lupa pula, Camelia membuat cemilan ringan untuk menemani mereka saat lagi bersantai didepan tv.
Setelah bergelut didapur cukup lama, akhirnya Masakan Mama Lia untuk makan malam pun telah selesai yang hampir bertepatan dengan cemilan ringan yang Camelia buat.
__ADS_1
Saat ini mereka tengah berada diruangan keluarga menikmati cemilan buatan Camelia dengan ditemani secangkir teh hangat dan sebuah film keluarga yang mengundang gelak tawa Camelia.
"Sayang istighfar. Jangan terlalu berlebihan tertawanya, ngga baik loh!" nasehat Mama Lia.
"Iya Ma, maaf. Abisnya Camelia baru nonton kayak ginian lagi. Biasanya kalau disana Camelia cuma fokus sama kesibukan Camelia jadi ngga terlalu sempat nontonnya. Oh iya Ma, kapan Papa pulang?"
"Cariin Papa?" ujar Papa Carel yang sudah berada di pintu masuk rumah.
"Papa, sini Pa. Cobain cemilan yang Cam buat," panggil Camelia melambaikan tangannya pada Papa yang baru masuk kedalam rumah.
Papa Carel lantas mendekat, duduk dan mencoba cemilan ringan yang dibuat oleh putrinya.
"Enak. Ternyata anak Papa udah pintar masak. Papa kira masih kayak dulu," canda Papa membuat Camelia cemberut. Pasalnya, dulu Camelia belum bisa sama sekali memasak apapun kecuali memasak mie ataupun menggoreng telur saja.
"Loh kok responnya gitu. Kan Papa bicara apa adanya," ujar Papa Carel masih sengaja membuat Camelia cemberut.
"Tapi kan itu masa lalu Cam. Malu aja, Cam taunya hanya masak mie sama goreng telur aja."
Mama Lia dan Papa Carel seketika tertawa mendengar penuturan singkat Camelia.
"Oh iya Pa. Besok papa bisa tolong anterin Camelia ke pasar tidak?" ujar Camelia mengalihkan pembicaraan.
"Mau apa ke pasar, nak?"
"Cam mau beli bahan-bahan buat bikin brownies. Papa dan Mama nanti komentarin brownies buatan Cam ya. Beri Cam pendapat Papa dan Mama yang sebenar-benarnya."
Kedua orang tua Camelia mengangguk, menyetujui perkataan Camelia.
"Papa besok anterin Cam sampai depan aja. Ngga usah nungguin Cam sampai selesai belanja."
"Biar Papa menunggumu saja nak."
"Baiklah, Papa ikut kemauanmu. Apapun itu asal kamu senang, sayang. " ucap Papa Carel.
Camelia beranjak dari tempat duduknya dan berlalu memeluk Papa Carel. "Terima kasih. Cam sayang Papa dan Mama."
Papa Carel dan Mama Lia lantas mengusap kepala Camelia lembut. Mereka ikut bahagia saat melihat Camelia bahagia. Tidak lama kemudian, secara tidak disangka, perut Papa Carel berbunyi. Camelia dan Mama Lia sontak tertawa mendengar perut Papa yang berbunyi.
"Makan dulu Mas," ajak Mama Lia
Mereka bertiga pun beralih menuju meja makan. Mereka makan dengan penuh kehangatan. Apalagi saat ini Camelia sudah bersama dengan mereka. Setelah makan malam dan melaksanakan kewajibannya selepas isya, Camelia kembali melanjutkan membaca diarynya lagi. Membacanya pun ditempat yang sama dengan coklat panas dan cemilan yang buatannya tadi.
Flashback
Hari setelah peng-ospekkan. Camelia dan Abra semakin akrab saja meskipun sewaktu pertama kali ospek Abra membuat Camelia marah, tapi dengan Abra yang minta maaf membuat Camelia tidak kuasa untuk tidak memaafkannya.
Keakraban mereka bertambah tatkala ternyata mereka berada dikelas yang sama. Abra senangnya bukan main saat mengetahui itu semua. Sampai-sampai sepanjang hari itu, Abra tidak mau jauh-jauh dari Camelia sedetikpun dan hal itu membuat Camelia sedikit risi. Tapi dibalik kerisihannya itu, Camelia senang karena bisa berteman dengan Abra. Lelaki yang pernah membuatnya kesal.
"Cam kekantin yuk, aku udah lapar nih," ujar Abra seraya memegang perutnya.
"Iya ... tunggu, aku beresin dulu buku-buku pelajaranku, baru setelah itu kita pergi ok?" ucap Camelia.
"ok ... ok, cepetan ya! Aku tunggu kamu didepan kelas, siapa tau ada perempuan cantik yang lewat," ucap Abra sengaja hanya untuk membuat Camelia kesal.
"Dasar, sana keluar. Kalau kamu mau pergi duluan pun tak apa nanti aku nyusul, tapi sejam kemudian," ucap Camelia menoleh dan menyinggungkan senyum tipis.
"Ok, ok aku akan tetap nungguin kamu kok," ucap Abra
__ADS_1
"Ngga jadi lihat yang putih?" ujar Camelia.
"Kan ada kamu," kekeh Abra malah mendapat lemparan kertas yang telah di bentuk seperti bola oleh Camelia.
"Ayo, aku udah selesai," ajak Camelia setelah membereskan buku-bukunya.
Diperjalanan, Camelia kembali membuka percakapan saat Abra hanya diam dari tadi, namun mata selalu mencari.
"Ab!" panggil Camelia.
"I ... Iya, kenapa?"
"Kenapa apanya?" Camelia menarik dasi Abra agar Abra menoleh padanya. "kamu mau pesan apa?" lanjut Camelia.
"Seperti biasa aja deh. Cam lepas dong. Ketampanan aku jadi berkurang tau," ujar Abra
"Ketampanan yang mana?" ujar Camelia sambil celigak-celiguk mencari apa yang dimaksudkan Abra.
"Cam, ketampanan aku ada diwajah."
"Oh, aku kira ada di hutan. Itu tuh yang punya ekor," ujar Camelia.
"Emang aku monyet."
"Loh, aku ngga bilang gitu ya. Kamu tuh yang bilang."
Sekali lagi Abra menyerah karena selalu saja ia kalah dengan Camelia. Sesampainya dikantin sekolah, baik Abra maupun, Camelia memesan makanan mereka masing-masing.
"Boleh aku tebak, pasti makanan ini makanan favorit kamu kan?" tebak Camelia
"Kamu tahu dari mana?" tanya Abra
"Tentu tahu, kalau makanannya tiap hari gitu terus," ucap Camelia terkikik geli
"Ternyata kamu bisa tertawa juga ya. Aku kira cewek tomboy seperti kamu ngga tertawa," ucap Abra ikut-ikutan tertawa geli.
"Eh, begitu-begitu aku juga masih normal tau, nih rahasia kita ya. Sebenarnya aku sengaja berpenampilan seperti ini," ujar Camelia setengah berbisik.
"Lantas mengapa kamu malah memilih seperti ini? " tanya Abra tidak percaya.
"Hahaha, maaf aku bercanda. Ternyata kamu mudah dibohongi ya. Tau begini bisa lebih sering aku membohongi kamu. Lucu tau ekspresi kamu. Coba aja aku punya cermin yang biasa dibawa oleh teman perempuan kita, pasti aku perlihatkan bagaimana ekspresi kamu tadi," ujar Camelia disela-sela gelak tawanya.
"Kamu," ucap Abra terpotong.
"Sudah-sudah, ayo makan nanti keburu masuk," lerai Camelia.
"Baiklah selamat menikmati Camelia Rahma. " ucap Abra.
"Selamat menikmati juga Abraham Fauzi," ujar Camelia tak mau kalah.
...To be continued....
Penasaran dengan kisah mereka? Yuk ikuti terus cerita mereka. Jangan lupa kalian juga like, vote dan komen, ya!
Terutama tambahkan cerita ini ke favorit kalian agar kalian mendapatkan update terbaru dari tiap bab-nya dan info-info lainnya.
Sampai jumpa di bab berikutnya.
__ADS_1
...By Peony_8298...