Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Dibawah Rintikan Hujan


__ADS_3

Saat mereka tengah asik berbincang tentang Camelia, pintu masuk cafe berbunyi. Entah dari mana ketertarikan mereka berdua melihat orang yang baru masuk ke cafe ini. Tanpa bisa menahannya, mereka menyebut nama seseorang dari masa lalu.


"Camelia?" ucap Abra dan Delia hampir bersamaan.


Yah, Dia adalah Camelia. Camelia yang mendengar ada orang yang menyebut namanya, langsung memalingkan wajahnya. Ia tertegun melihat dua sahabat masa sma nya ada di cafe ini juga. Namun sedetik kemudian, ia dapat menguasai keadaan. Mencoba bersikap biasa saja dan tersenyum pada mereka.


"Camelia, sini!" panggil Delia sambil melambaikan tangannya. Agar Cemelia mau menghampiri mereka.


Camelia pun mengangguk, ia pun menunjuk arah tempat pemesanan dulu. Ia seperti mengatakan kalau dirinya ingin memesan dulu sebelum menghampiri mereka. Baru sesudahnya, dengan langkah biasa, ia berjalan mendekati dua orang berbeda jenis itu.


"Kamu ke Jakarta juga ternyata," ucap Abra saat Camelia mengambil tempat duduk disamping Delia.


"Ah, iya. Aku ke Jakarta karena ada keperluan untuk toko juga."


Abra mengangguk, sedangkan Delia kembali memanggil pelayan cafe. Hendak memesankan Camelia minuman juga.


"Kamu mau minum apa Cam?" tanya Delia.


"Nagg usah, Del. Aku hanya sebentar saja kok. Ini juga mau ku bungkus," ujar Camelia.


"Mau pesan apa mbak?" tanya pelayan cafe yang baru tiba.


"Maaf mbak, ngga jadi," ujar Camelia.


Delia mengangguk dan menyuruh pelayan cafe itu pergi dari dekat mereka.


"Tau gitu saat kamu mau ke Jakarta, sekalian saja kita samaan tadi," ucap Abra membuat Delia tersedak saat meminum kopinya.


"Del, kamu tak apa?" respon Abra.


"Tidak, tidak apa," ucap Delia.


"Hati-hati," ujar Camelia sambil menepuk-nepuk pundak agar Delia berhenti tersedak.


"Terima kasih Cam. Aku sudah ngga papa."


Tidak lama kemudian, pelayan cafe membawakan pesanan Camelia yang tadi telah dipesannya. Camelia tersenyum dan mengucap terima kasih pada pelayan tersebut. Pelayan mengangguk dan kembali ke kerjaannya.


"Untuk teman perjalanan pulangmu?" tanya Delia.


"Iya, aku sengaja mampir kesini. Tidak taunya malah bertemu kalian."


"Mungkin takdir sengaja mempertemukan kita karena kita udah lama banget ngga kumpul bersama," imbuh Delia.


"Bukan mungkin lagi, tapi udah pasti," koreksi Abra.

__ADS_1


Dari bawah meja, Camelia langsung menginjak kaki Abra. Abra pun langsung mengadu kesakitan. Sedang Delia terkejut, ia khawatir melihat Abra kesakitan yang nampak jelas di wajahnya yang memerah. Sungguh, Camelia hanya ingin membuat Abra tidak membuat Delia menjadi merasa bersalah.


"amu ngga papa kan, Ab?" tanya Camelia berpura-pura terkejut juga.


Abra mengangguk, ia tau ini adalah ulah Camelia. Namun tetap saja ia bungkam. Ia juga tau Camelia sengaja melakukannya karena perkataannya barusan pada Delia.


Tidak peka dengan injakan kaki, Camelia pun memberikan kode mata pada Abra agar segera meminta maaf. Abra pun lantas meminta maaf pada Delia karena ia tidak bermaksud ingin membuat Delia tersinggung.


"Maaf Del, aku ngga bermaksud ...."


"Ngga papa kok. Aku tau juga aku salah," ujar Delia. "Kamu udah ngga papa kan?" lanjutnya bertanya.


"Iya."


Camelia yang merasa urusannya sudah selesai pun pamit pulang duluan. "Ehem. Aku rasa, aku harus segera pergi. Lagi pula pesanan aku juga udah ada."


"Kamu udah mau pulang ke Bandung?" tanya Abra.


"Belum, Ab. Aku mau pergi ke membeli alat dan peralatan untuk usahaku dulu."


Abra mengangguk paham. Begitu pula dengan Delia. Camelia pun berdiri dan pamit pada mereka.


"Baiklah kalau gitu aku pamit. Assalamualaikum. "


"Waalaikumsalam, hati-hati dijalan," ucap Abra. Sedangkan Delia hanya menjawab salam dari Camelia saja.


...***...


Sejam telah berlalu. Saat ini Abra sudah berada diperjalanan pulang menuju Bandung. Saat diperjalanan, Abra menghentikan mobilnya dipinggir jalan karena ia melihat ada seorang wanita berjilbab yang sedang melambai-lambaikan tangan kepadanya seperti minta tolong.


Dengan cuaca yang sedang hujan deras, Abra keluar dari mobil dengan menggunakan payung. Semakin dekat ... semakin dekat, Abra mengernyit heran melihat seorang wanita yang amat dikenalnya.


Sama halnya dengan wanita itu, ia heran tapi sedetik berikutnya ia merasa bersyukur karena orang yang menghampirinya adalah seseorang yang sangat dikenalnya juga.


"Camelia!" ujar Abra.


Wanita yang tidak lain adalah Camelia, lantas berlari mendekat dengan payung yang ikut bergoyang tak tentu arah karena angin yang tertiup kearahanya. Sesampainya didekat Abra, Camelia langsung saja memegang kedua tangan Abra.


"Alhamdulilah, akhirnya itu kamu." Sangking senangnya, Camelia bahkan tidak sadar kalau dirinya masih menggenggam tangan Abra sambil mengayun-ayunkannya seperti anak kecil.


Abra tersentak, mengapa ia sampai terpesona pada Camelia disaat seperti ini? Ia pun menggelengkan kepalanya, berusaha meluruskan niatnya semula.


"Camelia? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Abra.


"Ini, mobil aku mogok." Tunjuknya pada mobil putih yang terparkir dipinggir jalan. "Aku ngga tau kenapa bisa seperti itu. Untung kamu lewat tepat waktu, tolong bantu aku," lanjutnya.

__ADS_1


Mereka pun pergi ke dekat mobil Camelia.


"Kamu masuk aja ke dalam. Biar aku yang memperbaiki mobil kamu."


"Tapi kamu ...."


"Ngga papa. Masuklah, nanti kamu sakit."


"Baiklah." Camelia pun masuk kedalam mobil meninggalkan Abra yang sedang mencoba memperbaiki mobilnya.


Tiba-tiba saja angin bertiup sangat kencang hingga membuat payung yang sedang dipakai Abra terbang tinggi meninggalkan Abra yang mulai basah kuyup. Melihat hal itu, Camelia lantas bergegas keluar untuk memayungkan Abra agar tidak semakin basah.


"Apa yang kamu lakukan disini. Nanti kamu ikut basah juga," ujar Abra.


"Tapi kamu ...."


"Aku ngga papa, aku kan laki-laki. Sana masuk. Jika kamu tetap disini, aku ngga bakalan konsentrasi perbaiki mobil kamu. Gih, masuk!"


Camelia pun kembali masuk kedalam mobil. Disana, ia melamun hingga tidak mendengarkan suara ketukan di kaca mobil.


Tok tok tok


"Camelia," panggil Abra setelah beberapa menit.


Camelia tersentak, ia pun membuka kaca mobilnya. "Udah selesai, Ab?"


"Iya, Coba kamu bunyikan mesin mobilmu. Siapa tau udah bisa," ucap Abra seraya menghapus air hujan yang membasahi wajahnya.


"Iya."


Camelia memutar kunci dan akhirnya mobilnya sudah bisa menyala lagi.


"Alhamdulilah, mobilku udah bisa nyala, Ab."


"Syukurlah kalau gitu. Kamu udah mau pulang ke Bandung kan? Kalau gitu kita samaan. Kamu jalan duluan aja. Nanti aku mengikutimu dari belakang. Aku takut nanti terjadi apa-apa sama kamu lagi. Bagaimana?"


"Iya, aku setuju."


Abra pun kembali ke mobilnya. Ia berjalan sedikit pelan-pelan sambil menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya. Saat Camelia hendak kembali membunyikan mesin mobilnya, ia tersentak kaget. Ia baru ingat kalau Abra tidak tahan akan dinginnya air hujan.


"Astagfirullah, kenapa aku sampai lupa."


...To be continued....


Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca.

__ADS_1


Ayo vote poin juga ya 😊 10 poin ngga papa kok 😅


...By Peony_8298...


__ADS_2