Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Bertukar Posisi


__ADS_3

Keesokan harinya, Abra telah bersiap-siap pergi menjenguk Camelia. Oh tidak, lebih tepatnya ingin mengantarnya pulang. Ia pun menyambar kunci mobil yang ada diatas nakkas dan beralih mengambil jaket yang tergantung di lemari Setelahnya, ia bergegas keluar dari kamar. Belum juga ia mencapai pintu depan, panggilan mama dibelakangnya membuat ia membalikkan badan.


"Iya ma," jawab Abra.


"Mau kemana? Entar lagi loh kita mau pergi ke rumah pak Samuel. Ngga siap-siap, apa!" tegur Mama Rania.


"Mama aja yang pergi, Abra masih punya hal yang lebih penting dari hal itu," ujar Abra pergi meninggalkan Mama Rania yang tidak mengerti maksud dari perkataannya.


Belum juga ia sampai di mobil, Abra kembali berjalan masuk ke dalam rumah. Ia menoleh kanan kiri mencari keberadaan sang mama. Saat melihatnya, Abra berjalan mendekat.


"Ma," panggil Abra pelan.


"Hem, berubah pikiran?"


"Ngga, Abra hanya berharap mama mengerti perasaan Abra saat ini sama siapa. Untuk itu, Abra percayakan semuanya sama mama," ujarnya sebelum kembali meninggalkan Mama Rania.


Mama yang melihatnya berjalan menjauh, hanya mampu menatap sedih anaknya. Ia tidak menyangka, anaknya akan sampai di tahap yang seperti ini. Awalnya ia hanya ingin memastikan apakah Camelia memiliki perasaan yang sama dengan anaknya. Namun, karena rencananya itu juga malah membuat anaknya berada dikeadaan seperti ini.


Bella yang baru selesai bersiap, keluar dari kamar pergi mencari Mama Rania. Setelah mendapati mama, Bella mengernyit heran melihat mama yang terus saja berdiri ditempat yang sama sambil terdiam. Bella lantas menghampiri mama.


"Ma, mama kenapa?"


"Bella, mama ngga papa. Udah selesai siap-siapnya?"


"Iya ma, Bella gini aja. Lagian ini baru mau pembahaskan, ma?"


"Iya, tapi ini juga penting."


"Jadi Bella ganti baju lagi dong?"


"Udah, ngga usah. Ini juga udah bagus."


"Iya ma. Ma, kak Abra mana? Udah siap-siap juga kan?"


Mama menghela nafas berat, ia kemudian melangkahkan kakinya ke sofa terdekat. Bella yang melihatnya pun mengikuti langkah mama.


"Mama kenapa?"


"Ini semua salah mama. Jika saja mama tidak bermain-main, mungkin saja keadaan tidak akan parah sampai seperti ini."


"Apa maksud mama?"


"Awalnya mama hanya ingin tau perasaan nak Camelia sama kakakmu dengan mengatakannya saat kemarin lalu kita pergi ke toko brownies. Tidak disangka, ide mama itu malah membuat kakakmu seperti hari ini. Ini semua salah mama, jika saja mama tidak ceroboh, pasti perjodohan kakakmu tidak akan sampai ke tahap ini."


"Bella percaya pada keputusan mama waktu itu. Jikalau pun Bella ada di pihak mama, Bella pasti akan melakukan hal yang sama dengan mama. Jadi, mama ngga usah merasa bersalah, pasti kak Abra bakalan ngerti kalau sudah dijelaskan," ujar Bella seraya mengusap lengan mamanya.

__ADS_1


Mama menoleh melihat Bella sambil tersenyum. Akhirnya ia bisa sedikit bernafas lega.


"Iya, nak."


Tidak lama kemudian, Atha dan Carissa yang memang menginap dirumah kelurga dari ibu, baru kembali dari belanja pribadi di toko eceran terdekat. Saat anak dan bapak itu melalui ruangan tengah, langkah kaki mereka dihentikan oleh suara panggilan Mama Rania. Lantas Atha maupun Carissa pergi menghampiri Mama Rania.


"Iya tan, ada apa?"


"Nak Atha, sudah ini kamu ngga kemana-mana lagi kan?" tanya Mama Rania.


"Atha mau pergi ke rumah sakit, tan. Antar Camelia pulang."


"Bisa tidak nak, ikut tante saja ke rumah pak Samuel. Soalnya Abra udah pergi, tapi ngga bilang-bilang mau kemana!"


Atha tengah berpikir sejenak sebelum mengambil keputusan. Pasalnya ia sudah berjanji sama Camelia, kalau dirinya akan mengantarnya pulang hari ini.


"Papa udah janji omah," celetuk Carissa tiba-tiba.


"Emm ...." Mama Rania mengucapkannya seperti tidak bertenaga. "Baiklah, kalau gitu nak Atha penuhi janji saja," lanjutnya kemudian.


"Ngga papa tan, Atha ikut tante saja. Nanti Atha menghubunginya."


"Pa ...," ujar Carissa pelan sambil menarik-narik lengan baju papanya.


"Kalau gitu, Atha dan Carissa siap-siap dulu."


Mama Rania mengangguk, Atha dan Carissa pun berlalu dari sana. Bella yang masih setia berada disana, pergi menghampiri Atha.


"Mas biar Carissa, aku yang bantu siap-siap."


"Iya dek, anak papa ikut sama aunty Bella ya." Carissa mengangguk. Ia pun mengikuti Bella yang akan membantunya bersiap.


Sesampainya Atha di kamarnya, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan mendial nomor ponsel Abra. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya suara Abra terdengar mengucapkan salam.


Atha pun membalas salamnya, "waalaikumsalam, Abra."


"Atha, ada apa?"


"Ini, aku mau minta tolong. Kamu bisa tidak gantiin aku anterin Camelia pulang ke rumahnya?"


"Iya bisa, lagipula kerjaan aku dikantor tidak terlalu padat."


"Alhamdulillah, syukurlah. Terima kasih ya."


"Hem."

__ADS_1


"Baiklah, aku tutup dulu telponnya."


"Iya."


Abra yang ada diujung sana tersenyum. Padahal saat ini ia berada dijalan menuju rumah sakit untuk menjemput Camelia meski ia tau kalau Atha pasti akan datang menjemputnya.


Ia pun menambah laju mobilnya menuju rumah sakit tempat Camelia dirawat. Sesampainya disana, ia memarkirkan mobilnya. Ia pun keluar dan tak lupa pula mengunci mobilnya. Baru sesudahnya, ia melangkahkan kaki menuju ruangan inap Camelia.


Sedangkan keadaan Camelia sudah mulai membaik. Jadinya, Camelia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang merawatnya. Mama Lia yang senantiasa menjaga Camelia mulai berbenah, membereskan semua yang dibawahnya dari rumah.


Saat Mama Lia tengah sibuk berbenah, Mama Lia melihat Abra yang sedang berdiri didepan pintu tanpa ada niatan untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Mama Lia lantas menghampiri Abra yang memang berniat untuk mengantar Camelia pulang.


"Nak Abra, kok berdiri aja disitu? Sini masuk."


Abra mengangguk, ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan inap Camelia. Sesampainya didalam, matanya langsung tertuju ke tempat tidur, tapi ia tidak mendapati Camelia berada disana.


Abra lantas mempercepat langkah kakinya, ia ingin memastikan kalau Camelia masih berada di ruangan ini. Camelia yang memang dari kamar kecil pun terkejut melihat Abra berada di dalam ruangannya.


"Abra!"


"Cam! Syukurlah, aku kira kamu hilang."


Camelia tertawa menaggapi perkataan Abra. "Kamu ada-ada saja. Mana ada aku sampai menghilang," ujarnya sambil berjalan ke tempat tidurnya kembali. "Kamu udah dari tadi datang ke sini?" lanjutnya bertanya.


"Ngga, baru saja tiba."


Mama yang melihat interaksi mereka pun, mengambil tasnya dan keluar dari kamar Camelia menuju tempat pembayaran inap Camelia. Namun sebelum ia keluar, ia membuka pintu ruangan inap lebar-lebar.


Camelia yang masih menanggapi ucapan Abra mengangguk dan kembali bertanya yang membuat Abra seketika gugup. "Kenapa datang kesini?"


"Aku ... aku ingin mengantarmu pulang."


"Ngga usah, mas Atha dalam perjalanan ke sini kok, mau anterin aku pulang."


Abra tentu tidak terkejut, karena Atha-lah yang menyuruhnya datang kesini. Saat Abra hendak mengatakan kalau Atha tidak bisa datang menjemputnya, Camelia lebih dahulu mengatakannya apa yang terlintas di pikirannya.


"Bukannya hari ini kamu harus pergi kerumah Delia?


"Hah! Oh itu ... aku ...."


...To be continued ...


Jangan lupa like vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya readers


...By Zolovelypeony...

__ADS_1


__ADS_2