
Hari reuni sekolah pun tiba. Camelia memilih memakai gamis motif etnik dan jilbab bella square yang berwarna senada. Sebelum Camelia keluar dari kamarnya, ia kembali memperhatikan penampilannya di cermin.
"Ini baru cocok," ujar Camelia kala mengingat betapa santainya ia dulu saat memilih pakaian untuk acara pelulusan sma-nya.
Mengingatnya membuat Camelia merasa sedih, bagaimana tidak? Itu adalah pertama kalinya ia mengetahui kalau Abra menyukai seseorang yang dekat dengannya juga.
"Udah Cam. Tidak usah memikirkan masa lalu lagi!" ucapnya memberi semangat.
Camelia pun keluar dari kamar menuju ruang tamu. Sambil menunggu Abra yang akan datang menjemputnya, Camelia mengirimkan pesan pada Kanaya dan Dilla
"Assalamualaikum Kanaya, Dilla. Kita ketemuan di acara reuni aja ya," tulisnya lewat pesan singkat grup chat mereka.
"Waalaikumsalam warrahamatullahi wabarakatuh, sipp lah. Kamu udah mau berangkat, Cam?" tanya Dilla yang lebih dahulu membaca pesan grup Camelia
"Iya nih, aku tinggal tunggu Abra aja," balas Camelia
"Abra? Sejak kapan kalian dekat kembali?" tanya Dilla penasaran.
Pasalnya, ia tau Camelia dan Abra belum ketemu juga setelah pertemuan terakhir mereka bertiga waktu itu.
"Baru-baru aja kok," balas Camelia
Tiba-tiba Kanaya yang baru aktif melihat dipesan grup dan berceletuk membalas, "huu dasar, kemana aja neng selama ini?"
"Beritahu dong, jangan buat aku penasaran," desak Dilla
"Udah jangan bahas ini lagi yuk," balas Camelia malu
"Tenang Dil, kan kita entar lagi ketemuan tuh. Nanti kamu bebas deh wawancara Camelia," balas Kanaya cengegesan
Tak berapa lama kemudian, deru mobil Abra sudah terdengar. Camelia pun menyudahi pesan grup mereka.
"Eh, aku udah dulu ya, Abra udah datang nih," balas Camelia.
Dilla dan Kanaya pun ikut menyudahi pesan grup mereka karena mereka juga akan segera berangkat ke acara reuni.
Abra yang tengah berdiri di depan pintu jadi terpukau saat ia melihat Camelia jalan kearahanya. Matanya seakan tak bisa tertutup melihat bidadari yang tinggalnya di bumi ini.
"Ab," panggil Camelia sambil mengibaskan tangannya didepan wajah Abra. Pasalnya Camelia sudah dari tadi berada didepan Abra, namun Abra seperti tidak menyadari kedekatannya.
"Abra! Kamu masih mau berdiri disini terus?" tanya Camelia sedikit menambah volume suaranya
"Eh, Cam. Kamu udah dari tadi sampe ternyata," ucap Abra se-santai mungkin agar Camelia tidak tau kalau ternyata Abra telah tersihir oleh pesonanya.
__ADS_1
"Iya, yuk berangkat. Nanti kita telat."
"Baiklah, ayo."
Dari dalam rumah, Mama Lia datang menghampiri mereka seraya berujar, "Kalau pulangnya jangan kelamaan ya. Nak Abra, Tante titip Camelia."
"Iya Tan, Abra siap menjadi pangeran dari putri tante ini," ujar Abra seraya memberikan kedipan mata pada Camelia.
Sedangkan Camelia membalas Abra dengan melototkan matanya tak suka dengan gombalan Abra didepan mamanya. Mama Lia pun tersenyum mendengar candaan Abra ini.
"Iya Tante percaya. Hati-hati dijalan ya," ujar Mama Lia.
"Assalamualaikum," ucap Abra dan Camelia bersamaan.
"Waalaikumsalam warrahamatullahi wabarakatuh," balas Mama Lia. sebelum beranjak masuk kedalam rumah.
Mereka pun berangkat ke acara reuni. Selama perjalanan, sekali lagi Abra selalu saja melirik Camelia. Camelia bukannya tidak tau, hanya saja ia pura-pura tidak tau. Ia terlalu malu jika melakukan hal yang sama dengan Abra.
Sesampainya disana, Kanaya dan Dilla yang sudah menunggu Camelia dari tadi pun menghampiri Camelia yang baru membuka pintu mobil.
"Cam," teriak Dilla tak sabaran akibat tergantung dengan pesan grup mereka.
Camelia memberikan isyarat menempelkan jari telunjuknya di bibir agar Dilla tidak berteriak lagi. Dilla pun ikut-ikutan menempelkan jarinya juga. Abra yang melihat hal itu jadi mengernyit heran melihat tingkah mereka.
"Camelia tunggu, kita masuk bersama," teriak Abra. Abra pun berlari menghampiri Camelia. Akan tetapi, Camelia malah mempercepat langkah kakinya menuju Dilla dan Kanaya.
"Eh, tunggu dong. Kita sama Abra juga masuknya," bela Dilla pada Abra yang berusaha mendekati mereka.
"Terima kasih udah tungguin aku," ujar Abra yang telah sampai di dekat mereka.
Mereka berempat pun masuk bersama dengan Abra yang berada disamping kanan Camelia. Sesampainya ditempat acara akan dimulai, mereka pun mencari tempat duduk yang muat untuk mereka.
Abra selalu mengekori Camelia hingga sampai di tempat mereka sekarang. Bukan karena apa, hanya saja ia ingin melindungi gadis pujaannya dari tatapan teman-teman reuni yang terus saja mencuri pandang pada Camelia.
Bahkan sudah beberapa kali Abra memberikan lototan mata pada sebahagian lelaki yang tak henti-hentinya melihat Camelia. Ia bahkan seperti bodyguard Camelia yang selalu siap menjaga Camelia dari lelaki yang tak dikenalnya.
Camelia bukannya tidak tau akan tingkah Abra itu. Hanya saja ia merasa senang mendapatkan perhatian lebih dari Abra.
"Cam, Aku kesana dulu ya. Sama teman-teman yang lain," ucap Abra hendak pergi ke teman-teman lelakinya.
Camelia mengangguk, Dilla pun melancarkan aksi penasarannya yang sudah dari tadi memberontak ingin mengetahui hubungan Abra dan Camelia.
"Ehem, ada yang hatinya lagi berbunga-bunga nih," bisik Dilla pada Camelia yang duduk dekatnya.
__ADS_1
"Ssttt, jangan ngaco, ah," balas Camelia memelankan suaranya.
"Terus apa kalau ngga berbunga-bunga? Berbuket besar, gitu?" tanya Dilla kembali masih berbisik pelan.
Saat Camelia hendak membalas kata-kata Dilla, Camelia terkejut ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Halo," ujar seorang lelaki saat Camelia berbalik melihatnya.
Camelia melongo, ia bahkan tak mengenal laki-laki yang duduk dibelakang tempat duduk Abra.
"Ini aku, yang habis tolongin kamu waktu di bandara," sapanya agar Camelia tak salah paham.
"Oh, kamu. Maaf aku kira siapa," ucap Camelia.
"Perkenalkan aku Revan devano, angkatan ke 22 sma ini," ucapnya memperkenalkan diri sambil mengangkat tangannya hendak bersalaman sama Camelia
"Aku Camelia Rahma anak angkatan 24," balasnya sambil menjabat tangan Revan.
"Pantesan ya kita ngga ketemu-ketemu karena aku udah kelas 3 waktu itu dan sedang sibuk-sibuknya kursus sana sini," jawabnya sambil tersenyum manis pada Camelia.
Kanaya dan Dilla yang melihat Camelia berinteraksi dengan pria lain, jadi tersenyum jail saat tak sengaja mata mereka melihat Abra yang memandang tak suka pada pria yang mengajak Camelia berbicara.
"Gimana janji kamu yang mau mentraktir aku makan, masih berlaku kan?" tanya Revan tanpa sungkan-sungkan.
"Masih kok. Aku ngga bakalan lupa."
"Baiklah, nanti aku buat jadwal ya."
Tiba-tiba Kanaya berceletuk, "Emang kamu orang sibuk yang kayak gimana. Sampai harus buat jadwal segala."
"Aku orang tersibuk diantara kalian," Balas Revan pada Kanaya yang cemberut mendengar kata-kata Revan.
Sedangkan Camelia dan Dilla tertawa kecil melihat tingkah Kanaya yang tidak suka pada lelaki yang ber-alis tebal ini.
"Kenapa kalian malah tertawa! Ada yang lucu?" tanya Kanaya
"Ngga kok, hanya saja kalian cocok,"
"Apa?" teriak Kanaya tidak sadar
Sedangkan Revan tersenyum menanggapi ocehan Camelia dan Dilla. Tak lama kemudian, Abra yang baru kembali ke tempat duduknya, jadi terkejut saat tau siapa lelaki yang dari tadi Camelia ajak bicara.
...To be continued ...
__ADS_1
Jangan lupa like/vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca.
...By Peony_8298...