
Halo Peony datang lagi nih. Aku mau ucapin selamat kepada kak Anisa Al-ghibrani karena telah berhasil menebak lagu yang ingin di nyanyikan oleh Abra. selamat ya kak ♥️.
Ok, kita lanjut baca lagi 💪
...***...
"Baiklah. Untuk acara ini, aku akan menyumbangkan sebuah lagu untuk kalian semua dan khususnya untuk wanita yang ada disampingku ini. Lagu ini sengaja ku pilih untuk mengenang kembali masalah lalu kami dan mungkin juga masa lalu kalian semua. Silahkan nikmati lagu ini," ujar Abra.
Camelia terkejut dan langsung menoleh melihat Abra yang sampai menyebut-nyebut dirinya saat ingin bernyanyi. Namun, ia juga penasaran lagu apa yang hendak Abra nyanyikan sampai bisa mengenang masa lalu mereka. Camelia bertanya-tanya dalam hati. Sedangkan Abra, ia pun memberikan kode pada anak band sekolah untuk memulai memainkan alat musik mereka agar mengiringi saat dirinya mulai bernyanyi.
Petikan gitar dan suara bagian drum dipukul mulai terdengar indah di telinga para tamu. Bahkan dengan mudahnya mereka menebak lagu yang ingin dinyanyikan oleh Abra hanya dengan mendengar awal musik itu.
Tak terkecuali dengan Camelia, ia bahkan sangat menyukai alunan musik tersebut. Apalagi lagu yang hendak Abra nyanyikan adalah salah satu grup band favoritnya. Abra pun mulai bernyanyi dan membius fokus para tamu yang telah menanti dirinya.
Hari telah terganti
Tak bisa ku hindari
Tibalah saat ini bertemu dengannya
Jantungku berdegup cepat
Kaki bergetar hebat
Akankah aku ulangi merusak harinya
Mohon Tuhan
Untuk kali ini saja
Beri aku kekuatan
'Tuk menatap matanya
Mohon Tuhan
Untuk kali ini saja
Lancarkanlah hariku
Hariku bersamanya
Hariku bersamanya.
Sambil bernyanyi, sesekali Abra melihat Camelia dan teringat bagaimana pertemuan pertama mereka digerbang sekolah. Abra tersenyum kala mengingatnya. Ia pun melanjutkan kambali bernyayi karena musik yang mengalun membuatnya harus menyambung bait lirik lagu selanjutnya.
Kau tahu betapa aku
Lemah dihadapannya
Kau tahu berapa lama
Aku mendambakannya
Mohon Tuhan
Untuk kali ini saja
Beri aku kekuatan
'Tuk menatap matanya
__ADS_1
Mohon Tuhan
Untuk kali ini saja
Lancarkanlah hariku
Hariku bersamanya
Hariku bersamanya.
Saat Abra nyanyikan lirik lagu 'Tuhan tolonglah', para tamu reunian pun ikut bernyanyi juga mengikuti alunan musik yang begitu menghipnotis mereka semua untuk ikut bernyanyi.
Sampai lagu berakhir, Abra begitu bersemangat dan begitu pula para tamu yang juga sudah menyumbangkan suara mereka dengan suka rela.
Sang Mc pun kembali naik ke atas panggung menghampiri Abra dan Camelia yang senantiasa berdiri disamping lelaki yang habis menyanyikan lagu dari band kesukaannya.
"Terima kasih pada Abraham karena telah menyumbangkan lagu untuk kami dan terima kasih juga pada Camelia yang juga ikut berpartisipasi dalam acara ini," ujar sang Mc.
"Sama-sama," ujar Abra dan Camelia.
Sedangkan para tamu undangan yang masih belum move on gara-gara Abra, pun kembali meminta Abra untuk bernyanyi. Mereka seakan sudah terhipnotis akan suara Abra yang hampir mirip dengan penyanyi Aslinya, Duta.
Namun karena memang sesi ini hanya untuk sekali bernyanyi, maka Sang Mc pun mengambil alih acara agar para tamu tidak merasa kecewa karena Abra tidak bisa lagi menyumbangkan lagu, walau untuk satu lagu pun.
"Baiklah, berikan mereka tepuk tangan yang meriah," ujar sang Mc.
Para tamu undangan memberikan mereka tepuk tangan yang meriah dan sorakan terima kasih karena telah menghibur mereka. Setelah itu, sang Mc kembali mengambil alih pembicaraan dengan mengajak Abra dan Camelia berbincang.
Beberapa orang terlihat membawa masuk tiga buah kursi untuk Abra, Camelia dan tentunya sang Mc yang akan menanyakan mereka beberapa pertanyaan untuk mereka berdua.
"Baiklah, karena Abraham telah bernyanyi, bagaiman kalau kita menanyakan maksud dia memilih lagi tersebut," ujar sang Mc.
"Pasti teman-teman juga penasaran, mengapa kamu lebih memilih menyanyikan lagu milik band sheila on seven, ini. Apa yang membuatmu untuk menyanyikan lagu itu? Apakah dengan menyanyikan lagu itu bisa membuatmu mengingat masa-masa sma-mu disini?" tanya sang Mc.
Abra tersenyum sebelum menjawab, "Hem, ya. Lagu tersebut seperti memiliki kenangan tersendiri bagi diriku dan juga bagi Camelia." Ujar Abra membuat seorang wanita yang berada diantara banyak tamu jadi memalingkan wajahnya karena tidak ingin melihat Abra tersenyum pada Camelia.
"Kamu kenapa Delia?" tanya Dilla penuh selidik saat ia melihat Delia memalingkan wajahnya. Kali ini ia akan benar-benar mengawasi Delia agar tidak merusak hubungan Abra dan Camelia yang mulai terbangun kembali setelah sekian lama.
"Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya menggoyangkan kepala saja karena pegal habis tampil tadi," dalih Delia.
Dilla mengangguk.
"Mau ku pijitin, mungkin dengan begitu pegalmu akan hilang," ujar Revan tiba-tiba menawarkan diri hingga membuat Kanaya melototinya.
"Ya ampun Revan, sadarlah. Kamu itu laki-laki ngga bisa sedekat itu dengan perempuan," tegur Kanaya.
"Jadi, kalau dekat kamu, bisa gitu?" tantang Revan.
"Ngga, kamu ya. Susah sekali dibilangin," ujar Kanaya seperti ingin menabok kepala Revan, agar Revan sadar kalau disini banyak orang yang bisa melihat tingkah mereka.
"Udah kalian berdua, dari tadi tuh bertengkar mulu. Ngga capek apa?" potong Dilla.
"Dia dulu yang mulai," ujar Revan dan Kanaya lagi-lagi bersamaan.
"Bisa berhenti ngga?" bentak Delia tanpa sadar membuat orang-orang yang duduk didekat mereka langsung saja menoleh padanya.
Delia tiba-tiba saja menutup mulutnya saat tersadar kalau orang didekatnya melihat dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Maaf, maaf, aku kelepasan," ujar Delia.
"Santai aja, Del. Wajar kok kamu gitu, pasti karena lelah," bela Revan.
__ADS_1
"Nah kan, dia udah nunjukkin sifat asli dia," bisik Dilla pada Kanaya.
"Mungkin benar dia ngga sengaja," ujar Kanaya.
"Ya ampun, Kay. Kamu tuh kayak Revan aja. Mau aja simpati sama si perebut itu," ujar Dilla masih berbisik.
"Tapi kan ...," bela Kanaya
"Udah deh, jangan belain dia didepan aku. Ngga bakalan mempan," ujar Dilla kala mengingat betul bagaimana Delia pernah membuat sahabatnya merasa tersisihkan sejak kedatangannya.
"Kalian lagi bisikin apa?" Tanya Delia tiba-tiba menganggu aksi bisik-bisik Kanaya dan Dilla.
"Kamu ternyata kepo juga orangnya," ujar Dilla asal setelah kembali bersandar pada kursinya.
"Ngga juga sih, biasanya," jawab Delia.
"Udah, udah. Mending kita lihat keseruan di panggung saja," ujar Revan menengahi.
"Yah, yah. Kok udah selesai sih," sesal Dilla.
"Makanya jangan sibuk sendiri," ujar Revan memang sengaja memberitahu mereka saat Abra dan Camelia telah selesai diatas panggung.
"Kamu," ujar Kanaya seperti ingin kembali menabok kepala Revan.
"Apa kamu?" tantang Revan.
"Udah, udah. Kalian berdua, kapan sih akurnya," ujar Dilla.
"Sampai kapan pun kami ngga bakalan akur," sergah Kanaya.
"Siapa juga yang mau akur sama kamu!" ujar Revan tidak terima akan kata-kata Kanaya.
Mereka berdua pun tidak lagi saling melihat apalagi saling berbicara.
Setibanya Camelia dan Abra kembali ditempat duduk mereka, mereka heran dengan ekspresi yang ditampilkan oleh teman-temannya itu.
"Kalian kenapa?" tanya Abra disela duduknya kembali.
"Mereka ngga papa. Eh gimana tadi waktu di panggung, seru ngga?" tanya Delia.
"Seru tapi deg-degan juga sih, untung ada Camelia," ujar Abra.
Camelia tersenyum menanggapi. Kalau dipikir, malah harusnya Camelia lah yang harus berkata seperti itu. Bukan malah Abra. bagaimana tidak, meski sudah terbiasa akan banyaknya orang, tapi jika sebegitu banyaknya dan terfokus pada mereka berdua, pastinya deg-degan pun tidak bisa terhindarkan.
...***...
Tidak terasa acara reuni sekolah telah selesai. Saat ini mereka telah berada di parkiran sekolah untuk balik ke rumah masing-masing.
Saat Kanaya hendak masuk kedalam mobil Dilla, Dilla secepat mungkin keluar dari mobil hingga membuat Kanaya tidak jadi masuk ke dalam.
"Ada apa Dil?" tanya Kanaya heran.
...To be continued....
Ada apa dengan Dilla ya?
Penasaran? Ikuti terus cerita ini dan jangan lupa follow aku, agar kalian tau update terbarunya dan jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya. 🤗♥️
...By Peony_8298...
__ADS_1