Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Si Tuan Pemaksa


__ADS_3

Camelia baru selesai membuat semua pesanan pembeli saat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Rasanya, Camelia tidak punya tenaga lagi jika ingin menyetir mobil sendiri. Untuk itu, ia pun memutuskan untuk bermalam saja.


Walaupun sebelumnya, ia cepat-cepat menyelesaikan pesanan agar bisa bermalam dirumah, tapi semua tidak sesuai harapannya. Apalagi Riana yang tiba-tiba tidak bisa menemaninya karena ada acara keluarga.


Untung saja ia menyediakan satu ruangan kosong untuk dipakainya istirahat kalau pesanan lagi sedikit. Ia pun mulai membersihkan diri. Setelah berpakaian lengkap, Camelia kembali masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Pantulan cahaya yang menyinari wajah Camelia yang basah akan air wudhu, membuat wajah baby face Camelia semakin bercahaya. Apalagi dengan kulit wajahnya yang putih bersih bebas dari gunung-gunung kecil berwarna merah (jerawat).


Camelia pun memakai mukenanya. Setelah itu, ia menghamparkan sejadah dan memulai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Ia sholat begitu khusyu sampai mengucapkan salam.


Tangannya kini menengadah meminta doa pada Sang Maha Kuasa. Tangisnya pecah saat ia meminta ampunan pada-Nya. Ia tau, bahwa hari-harinya tidak luput dari dosa. Baik disengaja maupun tidak disengaja. Untuk itulah ia meminta ampunan kepada-Nya.


Tidak lupa pula ia memanjatkan doa untuk kedua orang tua. Sebuah doa yang telah dihafalnya sejak ia kecil.


Hingga terakhir, ia meminta doa untuk dirinya sendiri. Ia berdoa begitu sungguh-sungguh seperti doa-doa sebelumnya. Selesai berdoa, ia pun merapatkan kedua tangan, menggosok-gosoknya dan menempelkannya diwajah sambil memutar kedua tangannya berlainan arah.


"Alhamdulillah," ujarnya.


Saat ia ingin melepas mukena yang habis dipakainya, Ia teringat pada perkataan sang Mama, "Nak, kalau mau melepas pakaian atau jilbab yang membuat auratmu terlihat, jangan lupa membaca doa saat membuka pakaian."


"Baca doa itu untuk apa, Ma?" ujar Camelia yang saat itu baru menginjak usia 6 tahun.


"Agar mahluk halus ciptaan Allah yang lainnya ngga bisa lihat aurat kamu. Paham?" ujar Mama Lia.


"Camelia paham, Ma."


Camelia tersenyum, kala mengingat pesan Mama. Ia pun mengucapkan, "bismillaahi laa ilaaha illa huwa" dan membuka mukenanya.


Kini rambutnya yang hitam legam telah terlihat. Ia berlalu menggantung mukenanya dan beralih kembali untuk melipat sejadah yang habis dipakainya.


Tidak lama kemudian, Ponsel yang ditaruhnya diatas meja kecil samping tempat tidur, berdering. Menampilkan sebuah nama yang selalu membuat jantung Camelia berdetak tidak karuan.


"Abra?"


Camelia lantas mengangkat panggilan Abra. Ia terkejut saat Abra mengatakan kalau dirinya telah berada didepan pintu tokonya.


Camelia lantas buru-buru memakai jilbab pasangnya dan bergegas keluar untuk menemui Abra.


Saat Camelia sudah dekat dengan pintu, ia heran dengan ketukan pintu yang begitu banyak seperti bukan cuma Abra saja yang berada diluar.


Perlahan Camelia memutar kunci dan membuka knop pintu. Camelia terkejut saat tiba-tiba Dilla dan Kanaya memperlihatkan diri dan memanggilnya secara bersamaan, "Camelia, kami datang." Camelia mengelus dadanya. Sedangkan Abra tersenyum melihatnya.


"Apa yang kalian lakukan disini? Ini udah malam tau," ujar Camelia.


"Yah, untuk nemuin kamu lah. Masa orang lain," jawab Dilla.


"Maaf aku ajak mereka kesini karena tadi aku ke rumahmu, tapi kata Tante Lia, kamu sedang bermalam disini," jelas Abra.


Camelia mengangguk paham. Mereka berempat pun duduk kursi santai depan toko Camelia. Dengan cahaya bulan yang terang benderang, membuat suasana disana tampak indah.


"Tunggu, aku ambil cemilan sama minuman dulu. Dil, kunci mobil kamu," ujar Kanaya.


Dilla pun memberikan kuncinya pada Kanaya. Saat Kanaya hendak beranjak pergi, ia dihentikan oleh Abra.


"Biar aku saja yang ambil," ujar Abra.


Sepeninggal Abra, Camelia menatap kedua sahabatnya itu bergantian. Dilla tersenyum menampilkan gigi mungilnya.


"Kanaya bisa jelaskan," ucap Dilla.

__ADS_1


"Loh kok aku?"


"Iya kamu, cepatlah sebelum si tuan pemaksa itu datang," ujar Dilla yang dimaksudkan adalah Abra.


"Iya, ini ... ini, Cam. Seperti katanya tadi, Abra ingin ke rumahmu, tapi kamu ngga ada disana. Jadi, dia ngajakin aku kesini dan aku mengajak Dilla kesini juga," terang Kanaya cengegesan.


"Sebenarnya kami ngga mau, takut menganggu istirahat kamu, tapi dia memaksa, jadilah kita disini sekarang," tambah Dilla.


"Itu saja?" tanya Camelia menatap penuh curiga dengan sahabatnya ini.


"Bener, deh!" jawab Dilla.


"Eh sebenarnya ... sebenarnya ...," ujar Kanaya sengaja membuat mereka penasaran.


"Sebenarnya apa?" tanya Camelia dan Dilla penasaran.


"Sebenarnya Abra mengajak kita kesini itu untuk melihat kamu," tawa Kanaya pecah saat melihat ekspresi kedua sahabatnya ini.


"Huu, dasar. Kalau itu aku pun tau," komentar Dilla.


Kanaya tertawa lepas, membuat Abra mengernyit heran. Abra pun berjalan mendekat dengan beberapa bungkusan ditangannya. Ia heran dengan Kanaya yang tertawa begitu kencang.


"Kamu kenapa?" tanya Abra.


"Oh tuan pemaksa. Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Kanaya yang masih berusaha menghentikan tawanya.


"Tuan pemaksa?" beo Abra.


"Iya, itu panggilan baru buat kamu," ujar Dilla.


Camelia tertawa, ia tidak menyangka malamnya habis dengan bercanda dengan sahabat-sahabatnya.


"Sini, aku buka belanjaan kalian," ujar Camelia tidak sabar mencicipi makanan yang dibeli oleh sahabatnya.


"Sini duduk dekat aku," ujar Camelia pada Abra sambil menepuk kursi yang ada disampingnya.


Setelah Abra duduk, Camelia membuka bungkusannya. Empat pasang mata itu menatap ngiler pada makanan yang telah mereka beli.


"Uh, cacing di perutku sudah meminta jatah," ujar Dilla.


Dilla memang orang yang ceplas ceplos, jadi baik Camelia, Abra dan Kanaya, tidak terkejut lagi dengan ucapan Dilla.


"Mari makan," lanjut Dilla.


"Basmalah, Dil. Basmalah," ujar Camelia.


"Eh, iya. Bismillahirrahmanirrahim."


Saat mereka tengah menikmati makanan mereka, pemilik kedai kopi pinggir jalan pun menghampiri mereka.


"Hai, Cam. Kita ketemu lagi," ujar Revan.


"Oh, Rev. Mari gabung sama kita," ajak Camelia.


"Ternyata kamu yang punya toko brownies ini. Tau gitu, aku malah lebih sering kesini."


Abra berdehem mendengar penuturan Revan yang tidak ada canggung-canggungnya.


"Hai, Cantik. Ternyata kalian berdua ada juga disini," ujar Revan beralih pada Kanaya dan Dilla.

__ADS_1


"Akhirnya kamu sadar juga," ujar Dilla membuat Revan tersenyum.


"Aku boleh duduk?" tanya Revan pada mereka semua.


"Boleh."


"Ngga."


Kedua kata itu membuat Revan bingung. Ia pusing memilih perkataan siapa yang harus ia ikuti. Disatu sisi Camelia dan Dilla memperbolehkan. Disisi lain Abra dan Kanaya melarangnya.


"Jadi?"


"Duduk aja, ngga papa kok," ujar Dilla.


Dilla tersenyum kala mengetahui kalau sahabat dan temannya itu sama-sama dimakan oleh api cemburu.


"Baiklah, aku duduk disamping Kanaya saja," ujar Revan sepertinya sengaja.


"Ngga, kamu ngga boleh duduk disini," larang Kanaya.


"Terus aku harus duduk dimana, Kay? Secara tinggal kursi ini yang kosong," balas Revan. Tidak ada tanggapan lagi, Revan pun duduk disamping Kanaya.


"Eh, gimana kalau kita main truth or dare?" ajak Dilla.


"Kayaknya seru tuh, aku mau," ujar Revan mengambil langkah pertama.


"Aku ikut saja," jawab Camelia.


"Aku juga," jawab Abra karena Camelia ikut game ini.


Semua melihat Kanaya yang belum juga memberikan jawaban.


"Aku ... aku. Baiklah aku ikut," jawab Kanaya.


Mereka pun memulai permainan menjawab jujur atau tantangan itu. Setelah melakukan hompimpa, giliran pemutar botol pertama jatuh pada Dilla, dikuti oleh Camelia, Abra, Kanaya dan terakhir Revan.


Dilla pun mulai memutar botolnya. Semua harap-harap cemas, menanti siapa yang akan menjawab pertanyaan yang muncul dari kata truth dan menyelesaikan tantangan dari kata dare.


Camelia, Dilla dan Revan bernafas lega saat tau tutup botol itu tidak menunjuk ke arah mereka bertiga.


"Syukurlah," ujar Kanaya tertawa kecil.


Dilla menaik turunkan alisnya, melihat Abra. Di kepalanya kini telah bersarang satu pertanyaan yang malam ini, ia akan ketahui jawabannya. Dalam hati ia merapalkan, "semoga Abra memilih true."


"Kamu pilih apa, Ab? Truth or dare?" tanya Dilla.


"Truth," jawab Abra mantap.


"Yakin? Dilla ngga main-main loh kalau ada yang ingin dia ketahui," saran Camelia.


"Ngga papa, aku siap."


"Baiklah tuan pemaksa, satu pertanyaan untukmu. Kenapa kamu belum nikah sampai saat ini?" tanya Dilla.


Semua harap-harap cemas mendengar jawaban yang akan Abra berikan.


"Aku ... aku ...."


...To be continued ...

__ADS_1


Wkwkw maaf ya buat kalian ke gantung bacanya. Oh iya, Jangan lupa vote di sudut kanan bawah, like dan komen sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya readers.


...By Peony_8298...


__ADS_2