
Seminggu kemudian, Camelia mulai aktif berada di toko browniesnya lagi.
Ia berangkat pagi-pagi sekali ke toko setelah membersihkan rumah dan memasak untuk sarapan papa mamanya.
Saat ia baru saja memarkirkan mobil berkapasitas empat orang itu, ia melihat Riana sedang menata kursi dan meja untuk orang bersantai didepan tokonya. Melihatnya, Camelia tersenyum. Ia tidak salah memilih karyawan, pikirnya.
Ia pun masuk ke dalam toko dan langsung ke bagian dapur melihat karyawannya yang lain membuat brownies serta cup cake yang baru-baru ini ia keluarkan sebagai menu baru.
"Pagi Sar," sapanya.
"Pagi Mbak Cam," sapa Sari balik.
"Gimana buat cup cake-nya ngga ada bahan yang kekurangan, kan?"
"Iya mbak, ngga ada."
"Syukurlah kalau gitu. Eh, kalau ada bahan yang kurang cepat katakan ya, nanti biar mbak cepat belinya."
"Iya Mbak."
"Oh iya, mana brownies yang udah mateng?"
"Ada di sana mbak," tunjukknya pada lemari kaca berpintu dua.
Camelia mengangguk, ia pun mengambil brownies tersebut untuk dibawanya ke depan dan menaruhnya di etalase toko, agar pembeli dengan mudah memilih sesuai kesukaan masing-masing.
Ia pun mulai menata brownies di etalase toko. Ia menyusunnya serapi mungkin dan tak lupa pula, ia menambahkan beberapa hiasan pemanis agar etalase tokonya terlihat menarik.
Gerakannya terhenti tatkala ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia pun menoleh dan tersenyum ramah padanya
"Tante Rania!"
Camelia menghentikan aktifitasnya dan berlalu menghampiri Mama Rania. Sesampainya disana, Camelia lantas mencium tangan Mama Rania sebagai tanda hormat.
"Ehem, menantu idaman," celetuk Bella tiba-tiba yang baru muncul.
"Bella," ujar Camelia mengira jika Mama Rania hanya datang sendiri.
"Iya, nak Cam calon mantu idaman."
Senyum merekah di bibir Mama Rania, ia sangat senang jika seandainya, Camelia lah yang menjadi menantunya. Camelia lantas ikut tersenyum menanggapi.
"Tante kesini mau beli brownies?"
"Iya, sekalian mau pesen juga."
"Tante mau beli dan pesen berapa? Biar Cam catat dulu," ujar Camelia bersiap mencatat pembelian Mama Rania dan juga pesanan browniesnya.
"Tante mau beli 3 kotak. Bel, mau berapa kotak untuk dibawa ke Jakarta?" tanya Mama Rania pada Bella yang hanya sibuk bermain gawai.
"Emmm, 5 kotak aja, Ma," ujar Bella.
Camelia pun mencatat 5 kotak brownies pesanan Mama Rania.
"Nak Cam. Bisa besok tante ambil pesanannya? Soalnya lusa Bella pulangnya pagi banget."
"Bisa kok, Tan."
__ADS_1
"Kalau gitu sambil nunggu Cam bungkusan pesanan Tante, Tante dan Bella duduk dulu gih," ujar Camelia sebelum berlalu masuk ke dalam toko.
Mama Rania dan Bella pun duduk di kursi santai depan toko Camelia. Bella sedikit heran saat mama juga ikut memesan brownies Camelia.
"Ma, bukannya mama tadi ingin membeli saja?" tanya Bella heran.
Pasalnya, sebelum berangkat tadi, Mama Rania berkata hanya ingin membeli brownies saja untuk dimakan bersama keluarganya, tapi apa ini? Malah mama mengikutkan dirinya juga dengan berkata ingin memberikan oleh-oleh pada teman-teman kuliahnya. Bella menatap mama penuh selidik, ia curiga pasti ada yang disembunyikan oleh mama darinya.
"Udah, jangan natap mama kayak gitu. Emang mama ngga boleh berlama-lama ditempat calon mantu Mama?"
Seketika Bella tertawa, jujur saja ia tidak menyangka mama akan berkata demikian.
"Beneran, Ma? Tau gini, pasti Bella bantuin agar lebih lama lagi," ujar Bella pura-pura ngambek.
Mama Rania tersenyum, ternyata anaknya juga mendukungnya, jika Camelia menjadi pasangan Abra. Mama dan anak itu pun tertawa lepas seperti dua orang yang berteman akrab.
Jika dilihat, Mama Rania memang masih terlihat awet muda walau usianya sudah hampir menginjak usia kepala lima. Tidak heran, jika orang-orang yang melintas dan tak sengaja melihat mereka tertawa lepas seperti itu, akan mengira kalau mereka adalah sahabat.
"Ma, Ma! Kak Cam datang," ujar Bella.
Mama dan Anak itu pun sontak berhenti tertawa. Namun, senyum masih terukir di wajah mereka.
"Ini brownies, Tante," ujar Camelia seraya memberikan empat kotak brownies pada Mama Rania.
"Loh kok empat nak, kan tante pesannya tiga"
"Satu kotaknya gratis tan."
Mama Rania manggut-manggut dan bertanya, "Berapa semuanya, nak Cam?" tanya Mama Rania.
"Seratus tigapuluh lima ribu, Tan."
"Terima kasih, Tan."
"Sama-sama. Baiklah kalau gitu Tante dan Bella pergi. Assalamualaikum," ujar Mama Rania.
"Waalaikumsalam warrahamatullahi wabarakatuh."
"Bye bye, kak Cam," ujar Bella melambaikan tangannya. Camelia pun juga baik melambaikan tangannya pada Bella.
Seperginya Ibu dan anaknya itu, Camelia masuk ke dalam toko. Baru saja ia menginjakkan kaki ke dalam, dua orang karyawan yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri, malah memberikannya tatapan menyelidik seperti ingin mengetahui sesuatu yang lebih.
"Ada apa kalian berada disini?"
"Mbak Cam, kayak ngga tau aja," ujar Riana.
"Apanya ngga tau?" ujar Camelia pura-pura tidak tau dan berlalu meninggalkan Riana dan Sari.
Mereka berdua lantas mengekori Camelia sampai didapur.
"Mbak Cam, Ibu yang tadi adalah Ibu Mas yang datang tempo hari kan?" ujar Riana.
"Iya, itu Ibunya."
"Wah, kok aku baru tau ya, kalau Ibu di luar itu adalah Ibu dari Mas yang lagi dekat sama Mbak Cam?" ujar Sari.
"Hehehe kamu sih, didapur aja. Coba sesekali keluar pasti tau," ujar Riana cengegesan.
__ADS_1
"Wah, Mbak Cam. Mungkin Ibu itu kesini cuma sengaja buat lihat Mbak Cam," timpal Sari mulai mengada-ngada.
"Aku sama dia cuma temenan aja, ngga lebih seperti yang ada di pikiran kalian. Udah, Kalian berdua mau kerja atau membicarakan Tante Rania?" tanya Camelia ingin mengakhiri aksi detektif dadakan kedua karyawannya ini.
"Mau kerja, Mbak. Tapi kalau bicara soal Ibu tadi kami siap kok, iyakan Sar," ujar Riana.
"Baiklah tapi gaji kalian, aku potong," canda Camelia membuat wajah dua orang karyawannya tiba-tiba memucat.
"Eh, Sari milih kerja aja mbak," timpal Sari cepat.
Camelia tiba-tiba tertawa, "Udah mbak hanya bercanda kok. Ayo, mulai kerja," lanjutnya.
Camelia pun mulai mengambil bahan-bahan pembuatan brownies. Sedangkan Sari dan Riana mengusap dada mereka lega karena ternyabos mereka hanya bercanda saja.
"Untung saja," ujar Riana.
"Iya, Ri. Untung saja, kalau tidak. Aku ngga tau harus bayar pake apa motor kredit ku itu," ujar Sari bergidik ngeri manakala mengingat kembali ancaman Camelia.
"Iya yah. Ayo kita bantu Mbak Cam," ujar Riana.
Mereka berdua pun kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Riana berlalu ke depan menerima pembelian dan pesanan pembeli. Sedangkan Sari berlalu pergi ke dapur membantu Camelia.
...***...
Mama Rania dan Bella baru saja sampai dirumah saat Abra juga baru tiba karena ada dokumen perusahaan yang lupa ia bawa.
"Ma, adik. Kalian dari mana?" tanya Abra.
"Tanya adikmu saja, Mama mau kebelakang dulu," ujar Mama Rania bermaksud pada dapur.
"Kami dari melihat calon mantu rumah ini, kak," ujar Bella membuat Abra mengernyit, melihatnya heran.
"Calon kamu?"
"Emm, no no. Calon kakak," ujar Bella sambil mengangkat dan mengoyangkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan menolak ucapan kakaknya barusan.
Abra tambah penasaran, namun karena ia harus segera kembali ke kantor. Sehingga ia tidak lagi menanyai adiknya. Biarlah, malam nanti ia akan kembali menanyakan.
"Nanti kamu ceritakan ke kakak, ya."
"No no, Bella sibuk. Kakak cari tau aja sendiri."
"Bell," pinta Abra.
"Iya, iya deh. Tapi ada gininya loh kak," ujar Bella cengegesan sambil memberikan kode pada Abra dengan sekali lagi mengangkat tangannya. Ia memperlihatkan dua jarinya yang saling bergesekan seperti meminta uang.
"Beres, tar akhir bulan. Kakak transfer."
"Bener ya kak. Baiklah kalau gitu. Nanti Bella ceritanya akhir bulan juga," ujar Bella berlalu dari hadapan Abra yang tidak percaya akan ucapannya.
"Bella," teriak Abra.
Bella cengegesan dan berlari masuk kedalam kamarnya untuk menghindari murka kakaknya. Begini kan jadinya kalau transferannya akhir bulan juga!
...To be continued....
Halo, selamat hari jumat berkah, semoga yang like, vote dan komen diberikan kemudahan rezeki oleh Allah, aamiin. 🤲🏻
__ADS_1
...By Peony_8298 ...