
"Camelia!" seru Delia tidak menyangka kalau didalam ruangan Abra ada Camelia yang terus saja membuatnya merasa bersalah.
Bersalah selama bertahun-tahun ini karena tidak sengaja memisahkan dua orang yang bersahabat dan mungkin dua orang yang sama-sama tidak paham akan perasaan mereka masing-masing. Begitu pula dengan Camelia. Ia bahkan menyebutkan nama Delia dengan sangat pelan sehingga Delia tidak mendengarkannya.
Keadaan mereka cukup kikuk, hingga tidak lama kemudian, lelaki yang telah membuat dua wanita tersebut menunggu, akhirnya muncul juga dari arah belakang Delia.
"Eh Delia, mari masuk. Camelia ada didalam juga!" ujar Abra yang belum melihat Camelia karena posisi Camelia saat ini masih tertutupi oleh dinding ruangan.
Delia mengangguk. Delia pun masuk ke dalam ruangan Abra. Disusul dengan Abra yang juga hendak masuk kedalam ruangannya. Kini, Abra juga tertegun saat melihat Camelia berdiri melihatnya tanpa berkata.
"Cam, ayo duduk. Kita makan brownies dulu," ujar Abra.
Mereka bertiga pun duduk di sofa ruangan Abra. Merasa makan brownies tidak lengkap dengan minuman, Abra pun menghubungi sekretarisnya lewat intercom untuk membawakan tamunya dua cangkir teh dan untuknya juga. Setelah menghubungi, Abra kembali ke dekat mereka.
"Ab, kamu mau makan brownies dengan tangan?" tanya Camelia menaikkan salah satu alisnya.
"Eh iya yah. Tunggu aku hubungi dia lagi."
Abra pun kembali lagi ke meja kerjanya menghubungi sekretarisnya. Selagi Abra menghubungi sekretarisnya, Delia mengajak Camelia berbicara.
"Ini brownies milikmu?" tanya Delia.
"Iya, Abra memesannya. Jadi aku antarkan kesini."
"Sampai kamu yang mengantarkan jika yang pesan cuma satu aja?"
"Oh, ngga. Abra tadi pesan sepuluh kotak brownies tapi brownies yang lainnya telah diberikan sama karyawannya yang lain," jelas Camelia membuat Delia manggut-manggut.
"Ada keperluan apa kamu datang kesini?" tanya Abra menghampiri mereka.
"Aku kesini untuk bertemu kamu, kamu pasti udah tau kan?" ujar Delia membuat Camelia penasaran namun tidak mungkin ia mengutarakan rasa penasarannya itu.
"Kamu jauh-jauh kesini hanya untuk bertemu Abra?" tanya Camelia tanpa sadar telah menanyakan hal sesensitif itu.
__ADS_1
Camelia tahu saat ini Delia telah menetap di Jakarta karena sebuah pekerjaan meski Ayah Delia masih tinggal dikota Bandung. Namun, apa hanya gara-gara ingin bertemu dengan Abra saja, Delia sampai rela datang ke sini. Jujur Camelia tidak tau.
Abra berdehem dan duduk di kursi sofa lainnya. Baru saja Abra hendak berbicara, sekretarisnya datang membawakannya apa yang tidak ia bicarakan lewat intercom kantor.
"Ini pak."
"Terima kasih."
Setelahnya, sekretarisnya itu pun pergi meninggalkan mereka bertiga yang sempat terjadi keheningan gara-gara ucapan Delia barusan.
"Em, brownies kamu makin enak Cam," puji Delia mengalihkan pertanyaan Camelia sebelumnya.
"Terima kasih, kalau udah dari sini, kamu jangan lansung pulang dulu. Ngga afdol rasanya kalau kamu ngga mampir di toko aku," ujar Camelia.
"Tenang aja, karena aku bakalan tinggal lama disini. Setelah urusanku selesai, baru deh pulang kembali ke Jakarta. Itu pun mungkin ingin meminta resign ditempat kerja aku."
Abra jelas tahu mengapa Delia sampai berkata seperti itu. Namun dirinya tetap diam, ia tidak ingin Camelia sampai tahu perjodohan mereka karena bagaimana pun, Abra akan usahakan kalau perjodohannya dengan Delia harus batal. Meski itu adalah suatu hal yang paling sulit ia harus lakukan.
"Loh kok bisa?" tanya Camelia.
Abra tersedak minumnya saat Delia mengatakan lelaki yang ingin dijodohkan dengannya saat ini tinggal di Bandung. Camelia dan Delia otomatis melihat Abra.
"Tidak apa-apa," ujar Abra menenangkan.
Camelia mengangguk. "Nanti kenalkan kami ya. Aku ingin melihat lelaki mana yang beruntung mendapatkanmu."
"Pasti aku kenalkan."
Delia menduga sepertinya Camelia belum tau perihal perjodohannya dengan Abra karena dari tadi Camelia bersikap biasa saja. Padahal sudah dari tadi ia menyinggung perjodohannya dengan Abra walaupun ia belum mengungkapkannya terang-terangan.
Sebenarnya ia ingin sekali memberitahukan berita sebesar ini pada Camelia. Hanya saja, Delia kembali menahannya. Ia ingin Abra lah yang akan memberitahukan kebenarannya pada Camelia cepat atau lambat karena ia tidak ingin sekali lagi merasa bersalah pada Camelia.
Dulu awal kepergian Camelia, ia sangat merasa bersalah sekali. Bagaimana tidak, ia telah membuat Camelia pergi tanpa pamit dan membuat Abra menjadi sakit gara-gara mencari Camelia kemana-mana walau hasilnya tetap saja tidak ada.
__ADS_1
Mengapa ia baru sadar bahwa telah terjadi sesuatu diantara mereka setelah kepergian, Camelia. Betapa bodohnya ia, tidak bisa menduga kalau persahabatan antara perempuan dan laki-laki yang telah terjalin lama, bukan hanya menghasilkan sebuah persahabatan saja tapi bisa jadi adanya sebuah rasa yang terpendam.
Kemungkinan salah satu diantara mereka tidak mengutarakannya karena takut persahabatan mereka akan merenggang dan bahkan bisa hancur berantakan. Namun karena ketidaktahuan Delia waktu itu, membuatnya semakin mendekati Abra hingga membuat Camelia jadi tersisih.
Hanya saja Camelia yang tersisih tidak sampai lama karena Abra kembali mendekatinya sejak pertandingan basket antara mereka berdua kala itu. Jadi mereka bertiga tetap jalan bersama walau sesekali Camelia menjauh karena telah berteman dekat dengan Dilla dan Kanaya saat Abra seperti tidak menganggapnya ada.
Sejak saat Abra dekat kembali dengan Camelia, Delia telah memendam perasaanya pada Abra. Ia mengetahui dengan sangat jelas karena tiap melihat Camelia dan Abra dekat, dadanya terasa sesak dan kecemburuannya meningkat.
Ingin mengungkapkan, ia takut dan juga malu untuk mengatakannya duluan karena ia adalah seorang perempuan. Ia takut mengatakannya karena ia tidak ingin mendengar sebuah kata penolakan. Kata yang tidak ada dalam cerita hidupnya.
Hari ini ia bertekad untuk mendapatkan hati Abra. Walau ia jelas tau kalau hati Abra mungkin hanya milik Camelia seorang. Ia bertekad dalam hati untuk mendapatkannya sekali lagi seperti kata pepatah 'Sebelum janur kuning melengkung, maka ia masih mempunyai kesempatan yang sama dengan Camelia.
Ia bahkan teringat juga dengan sebuah pepatah 'Kerja keras tidak akan menghianati hasil' maka denganĀ memegang kata-kata tersebut, membuat Delia semakin percaya diri kalau Abra bisa menaruh perasaan padanya juga.
"Emm, Aku udah lama kayaknya meninggalkan toko," ujar Camelia.
"Kamu udah mau pulang?" tanya Abra.
"Iya kasihan karyawan aku."
"Kita bareng yuk ke parkiran. Kebetulan aku juga udah mau pulang," ujar Delia.
"Kalau begitu, aku akan mengantar kalian sampai ke bawah," ujar Abra.
Mereka bertiga beranjak dari tempat duduk mereka. Saat Camelia hendak berdiri, tiba-tiba Camelia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya.
"Ab," ucap Camelia.
"Cam, kamu kenapa?" tanya Abra panik.
...To be continued....
Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya readers š¤
__ADS_1
...By Peony_8298 ...