
Halo, aku datang lagi nih. Terima kasih yang telah setia menunggu kelanjutan cerita ini 🤗
...***...
"Kalau nanti uncle punya anak, nanti wajahnya mirip siapa ya?"
Abra tertegun, namun secepat mungkin ia dapat menguasainya dengan menjawab pertanyaan Carissa. "Mirip uncle, dong."
Carissa langsung saja terkikik geli. "Uncle benar. Uncle ngga boleh kalah sama aunty nantinya."
"Mau bantu cariin aunty untuk Carissa, ngga?"
"Mau," serunya.
"Kalau begitu, uncle sebutin ciri-cirinya biar Carissa mudah mencarinya."
"Iya uncle. Uncle katakanlah."
"Ciri calon aunty mu yaitu, dia harus mandiri, pintar masak, sayang sama anak kecil dan keluarga, lalu ...."
"Cantik," ujar Carissa sigap. "Tapi ..., kok mirip bunda, ya," ujarnya saat menyadari kalau ciri-ciri yang disebutkan oleh Abra seperti ciri-ciri bundanya, Camelia. "Uncle, uncle mau aunty Carissa nanti mirip bunda Camelia?"
Abra diam.
"Tidak boleh uncle. Uncle cari yang lain saja. Bunda sudah punya papa," katanya pelan dengan wajah yang cemberut.
"Nak, wanita seperti yang uncle sebutkan tidak mesti adalah bunda Camelia. Mungkin bisa jadi orang lain," kata Abra menenangkan.
"Benarkah?"
"He'em benar," jawab Abra.
"Kalau begitu, nanti Carissa cariin yang seperti bunda."
Mereka berdua tersenyum. Lalu beberapa detik kemudian, Abra mulai mengerjakan tugasnya, sedangkan Carissa mulai sibuk memakan cemilan yang tadi dibelikan oleh Abra untuknya.
***
Seperti janjinya pada Camelia, Abra kembali membawa Carissa ke toko saat jam istirahat tiba. Saat Abra baru saja meninggalkan kantornya, tanpa sengaja Carissa melihat sosok wanita yang telah mengandungnya selama sembilan bulan.
Sebuah kata pun tanpa sadar keluar dari bibirnya yang mungil. "Mama!"
Sontak Abra meminggirkan mobilnya. "Siapa, nak."
"Uncle, Carissa lihat mama tadi disana," tunjuk pada sebuah toko pakaian.
Abra lantas keluar dari mobil diikuti oleh Carissa. Mereka pergi ke toko yang tadi ditunjuk oleh Carissa. Siapa tau mereka bisa menemukan sosok wanita yang dimaksudkan oleh Carissa.
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang penjaga toko saat Abra dan Carissa hanya berkeliling saja tanpa berniat melihat-melihat pakaian.
"Maaf sebelumnya, kami kesini karena mencari seseorang."
"Siapa kalau boleh tau? Siapa tau saya bisa bantu."
Saat Abra hendak mengatakannya, ia lupa kalau ia tidak tau ciri-ciri Sabila maupun mempunyai sebuah foto untuk diperlihatkan pada penjaga toko ini. Carissa pun sama, ia tidak bisa mengatakan apa-apa karena ia sudah lupa warna pakaian yang dipakai oleh Sabila, mama kandungnya.
"Maaf, kami tidak mempunyai foto atau semacamnya untuk diperlihatkan kepada Anda," ujar Abra. Hingga tiba-tiba Abra tersadar. "Apa Anda punya cctv disini?"
"Ya, kami punya."
"Kami bisa melihatnya? Siapa tau kami bisa menemukan wanita yang kami maksud dengan melihat tayangan ulang di cctv."
"Baik, mari ikut saya."
Abra dan Carissa pun mengikuti langkah kaki wanita penjaga toko itu kesebuah komputer yang menayangkan video dari cctv toko ini. Tidak tinggal lama, Abra dan Carissa melihat video cctv dari beberapa menit belakangan. Seperti penglihatan Carissa, benar wanita yang dipanggil mama oleh Carissa tadi adalah Sabila. Tapi saat Carissa melihatnya tadi, Sabila telah meninggalkan toko dan terlihat masuk ke sebuah mobil suv berwarna putih.
"Mama," ujar Carissa sendu. Kini air matanya tidak dapat ia bendung lagi. Sungguh, ia sangat merindukan sosok yang telah melahirkannya itu. Namun, lagi-lagi keadaan tidak dapat mempertemukan mereka.
Carissa berbalik, ia langsung saja memeluk Abra untuk menyembunyikan rasa sedihnya. Abra yang tau kalau anak kecil berpipi tembem ini tidak dapat menerima kenyataan, langsung saja ia mengendongnya dan mengusap kepalanya sayang.
"Carissa mau pulang, uncle," ujar Carissa pelan dengan isakan pelan.
"Iya, nak. Kita pulang sekarang," ujar Abra. Abra lalu beralih melihat penjaga toko yang terus saja memperhatikan mereka. "Terima kasih atas informasinya. Kalau begitu, kami pergi dulu."
"Aamiin."
Abra dan Carissa pun kembali ke mobil.
"Carissa mau ke tempat bunda Camelia atau pulang ke rumah sama papa?"
"Carissa mau pulang sama papa saja."
"Baiklah, kalau begitu Carissa duduk disamping uncle, ya."
Carissa mengangguk. Abra pun menaruh Carissa dikursi depan. Lalu sesaat kemudian, ia melajukan mobilnya menuju rumah untuk membawa Carissa bertemu dengan Atha.
Sesampainya mereka dirumah, Carissa bergegas membuka pintu mobil dan kemudian berlari masuk ke dalam rumah dengan memanggil-manggil Atha. Atha yang mendengar suara Carissa menjadi rada-rada tidak percaya. Pasalnya, Atha taunya kalau saat ini Carissa sedang bersama Camelia.
Mendengar suara Carissa yang kian terdengar jelas langsung saja bergegas keluar. Ia ingin memastikan kalau perasaan tidak tenangnya itu memang benar adanya.
Benar, Carissa sudah ada dirumah. Ia berlari kearah papanya sambil memanggil-manggil dirinya.
"Papa."
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Atha menyamakan tingginya dengan Carissa seraya mengelus-elus kepala Carissa bermaksud untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Mama."
"Mama?"
Carissa seakan tersendat untuk mengatakan apa yang telah dilihatnya. Untung saja Abra yang baru tiba, mengatakan apa yang mereka lihat tadi.
"Carissa ikut denganku ke kantor, jadi saat jam istirahat, aku hendak mengantarkannya kembali pada Camelia. Tapi tidak disangka, saat dalam perjalanan, Carissa melihat Sabila."
"Sabila?"
"Hem, Carissa tidak sengaja melihatnya disebuah toko baju. Kami pun pergi ke toko baju itu, tapi dia sudah tidak ada disana saat kami tiba. Untuk itulah Carissa seperti ini."
Atha lalu kembali melihat putrinya yang kini sudah tertunduk dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Ia sungguh kasihan melihat anaknya yang sudah sangat merindukan ibu kandungnya.
"Sayang, lihat papa," pinta Atha.
Perlahan Carissa mendonggakkan kepalanya melihat tepat di manik mata papanya.
"Mama tidak sayang Carissa lagi," katanya serak. "Tadi Carissa lihat mama, tapi kenapa mama tidak dapat melihat Carissa."
"Sayang, mungkin kamu salah lihat karena kamu sangat rindu pada mama."
"Tidak, Carissa yakin dia mama."
"Baiklah. Papa janji akan mencari mama, ok!" ujar Atha. "Tapi nangisnya udah, ya."
"Hem."
"Anak pintar."
Atha pun membawa Carissa masuk kedalam rumah, diikuti oleh Abra yang berjalan dibelakang mereka. Atha pun membawa masuk Carissa ke kamar, sedangkan Abra pergi ke ruangan keluarga.
Ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa, lalu sedetik kemudian, ia mengeluarkan ponselnya dari saku jas untuk mengabarkan pada Camelia lewat pesan singkat kalau ia mengantar Carissa pulang kerumah.
"Kenapa bisa?" balas Camelia lewat pesan singkatnya juga.
Merasa kalau Abra tidak bisa menuliskan apa yang telah terjadi pada mereka tadi sehingga membuat Carissa memilih pulang kerumah, akhirnya Abra memilih untuk menelepon Camelia saja.
Setelah tersambung, Abra pun menceritakan apa yang telah terjadi tadi. Seperti apa yang telah ia katakan pada Atha, ia juga mengatakannya pada Camelia hingga membuat Camelia terkejut.
"Mbak Sabila?"
...To be continued ...
Like, vote dan komen ya gaes
By zolovelypeony
__ADS_1