
Saat waktu menunjukkan jam lima sore, Atha menyudahi pertemuannya dengan teman masa sma-nya itu. Setelahnya, ia pun kembali ke rumah Abra untuk mengambilkan baju Carissa karena rencana malam ini Carissa akan menginap di rumah Camelia.
Saat langkah kakinya tinggal sedikit lagi sampai ke tempat parkir mobilnya, Bella yang dari dalam rumah berlari kecil memanggil namanya. Atha Lantas berbalik, ia mendekat ke arah Bella.
"Ada apa dek?"
"Mas, Bella mau minta tolong, bisa ngga?"
"Bisa, mau minta tolong apa?"
"Ini mas, mas tau tempat jual ayam geprek di dekat sma nusa?"
"Iya tau. Mau mas beliin?"
Bella menganggukan kepalanya sambil tersenyum karena dengan mudah Atha menebak permintaannya itu. Lalu sebagai seorang kakak sepupu, Atha juga sudah seperti saudara kandung baginya dan tak ada bedanya dengan Abra.
"Baiklah, mas pergi beliin dulu."
Atha berlalu pergi membelikan pesanan Bella. Tidak tunggu lama, Atha sudah sampai didepan penjual ayam geprek yang dimaksudkan Bella. Ia pun masuk ke dalam dan mulai memesan ayam geprek yang ramai oleh pengunjung sore ini.
Sambil menunggu pesanannya siap, Atha berbalik dan duduk disalah satu kursi tunggu sambil melihat sekelilingnya. Hingga pandangannya tertuju pada sosok wanita berjilbab peach diseberang jalan. Atha seketika berdiri dan berjalan cepat keluar dari tempat ini. Namun saat dirinya hendak mencapai depan, namanya dipanggil oleh pelayan tempat ayam geprek ini dijual. Ia menolehkan wajahnya dan melambaikan tangan pada pelayan wanita itu untuk membuatnya menunggu sebentar.
Saat Atha kembali melihat seberang jalan, wanita itu sudah tidak ada lagi ditempat yang sama. Atha mendesah, setelah sekalian lama ia baru melihatnya kembali. Dengan sedikit tak rela, akhirnya Atha masuk kedalam kembali dan mengambil pesanannya.
"Terima kasih," ujar Atha.
"Sama-sama," ujar pelayan warung makan itu.
Atha pun berlalu dari sana dengan perasaan yang tak karuan. Bagaimana tidak - setelah bertahun-tahun lamanya, ia baru melihat lagi seorang wanita yang sampai saat ini masih tersimpan didalam hatinya yang terkhusus. Setitik air matanya jatuh, entah - kembali melihatnya membuat hatinya ikut menghangat.
Atha pun berjalan masuk kedalam mobilnya dan melajukannya kembali ke rumah untuk memberikan pesanan Bella. Baru saja ia memberhentikan mobilnya, Bella sudah ada didekat mobil dan mengetuk jendelanya.
"Terima kasih mas," ujar Bella setelah menerima pesanan ayam gepreknya.
"Sama-sama, kalau gitu mas pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati mas." Bella melambaikan tangan, baru setelah melihat mobil Atha tidak terlihat lagi, ia pun masuk ke dalam rumahnya.
Didalam perjalanan, Atha mendengar adzan magrib telah berkumandang. Ia lalu membelokkan mobilnya - masuk ke dalam pekarangan mesjid. Sekeluarnya Atha dari mobil, ia bergegas pergi ketempat wudhu.
__ADS_1
Waktu berlalu dengan cepat, Atha telah sholat magrib dengan jamaah lainnya. Sebelum meninggalkan mesjid, ia sempat berjabat tangan pada beberapa bapak yang ada disana. Setelahnya, ia melajukan mobilnya menuju rumah Camelia.
Sesampainya disana, ia lalu mengetuk pintu rumah Camelia. Pintu terbuka menampilkan sosok yang membuat Atha terkejut.
"Abra."
"Oh, Atha. Masuklah," ujar Abra seperti tuan rumah saja.
"Assalamualaikum," ujarnya sambil melangkah masuk.
"Waalaikumsalam."
Baru saja Atha hendak mendudukkan dirinya di sofa, ia sudah berdiri tegap kembali dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah karena mendengar suara teriakan Carisaa.
Hampir saja Camelia jatuh, mendaratkan tubuhnya ke bagian rumah yang tidak rata, saat tiba-tiba ada sebuah tubuh yang kokoh nan kuat menahan tubuhnya yang telah kehilangan keseimbangan itu. Camelia menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang telah menolongnya.
"Mas."
Atha pun membuat Camelia berdiri tegap lagi. Lalu perlahan, mereka pun turun ke lantai dasar. Carissa yang melihatnya, perlahan turun sangat hati-hati dengan berpegangan pada pengaman tangga. Sesampainya Carissa juga di lantai dasar, ia lalu berlari memeluk papanya.
"Yee, untung papa datang tepat waktu," teriakan kegirangan dari Carissa saat tau papanya muncul tepat waktu.
"Iya pa, maaf Carissa ngga sengaja."
Abra dan Papa Carel yang melihat Camelia hampir jatuh tadi jadi merasa lega saat Atha tepat waktu menangkap Camelia. Namun jauh didalam hati Abra, ia merasa tidak rela jika harus melihat kejadian yang membuat hatinya ngilu.
Tiba-tiba pandangan mereka bertemu. Camelia cepat-cepat menjauh dari Atha dengan mengatakan kalau dirinya ingin pergi ke dapur. Atha mengangguk, mereka semua pun pergi kembali ke ruangan tamu - menunggu panggilan makan malam bersama.
Tidak lama kemudian, Carissa berlari kecil ke ruangan tamu dan mengatakan, "Opah, makanan sudah siap."
Papa Carel mengangguk. Papa lalu mengajak kedua lelaki yang bersepupu itu untuk makan malam bersama. Disana, sudah ada Carissa yang telah mengambil tempat duduk. Semantara Mama Lia dan Camelia baru duduk setelah ke tiga lelaki beda usia itu duduk.
"Carissa baca doa ya," ujar Papa Carel.
"Iya opah," ujar Carissa setelahnya ia pun mulai membaca doa makan diikuti oleh semua orang yang ada disana.
"Aamiin," lanjut Carissa mengakhiri doa.
"Mari makan," ujar Papa Carel.
__ADS_1
Diantara keenam orang yang makan malam dirumah Camelia itu, ada satu orang yang makan dengan canggung. Ia adalah Camelia. Meski rumahnya sendiri, ia makan dengan begitu canggung. Bagaimana tidak, ia tidak mengharapkan makan malam dengan duduk disamping Abra.
Awalnya, ia ingin duduk disamping Carissa. Namun karena ia menunggu semua lelaki duduk lebih dahulu, tempat yang semula telah ditargetkannya - malah diambil oleh Atha. Apalagi saat tau, kursi yang tersisa hanyalah tinggal disamping Abra saja. Mau tidak mau membuat Camelia harus berputar dan duduk disamping lelaki yang harus membuatnya melupakan masa lalu itu.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Mama Lia pada Camelia yang hanya sibuk mengaduk-aduk makannya saja.
"Oh!" Camelia terperanjat. "Tidak apa-apa, ma," lanjutnya.
Camelia pun sedikit demi sedikit menyendokkan makanan masuk kedalam mulutnya. Semantara yang lain, kembali melanjutkan makan malam mereka dengan lahap dan tenang.
"Bunda," panggil Carissa membuat Camelia melihat kearahanya. "Bukannya bunda suka makan tahu masakan omah, kenapa sekarang tidak mau?" lanjut Carissa membuat Camelia tersedak.
Abra refleks memberikan Camelia minum dengan dirinya yang memegangkan Camelia gelasnya - seraya menepuk pelan pundak Camelia agar batuknya reda. Semua berjalan baik sampai tanpa sengaja Abra menoleh pada orang rumah yang pandangannya beralih padanya. Hal itu membuat Abra perlahan menarik tangannya sendiri. Semantara Camelia cepat-cepat mengambil alih gelas itu dan meminum airnya.
Lalu jauh sebelumnya, Camelia awalnya sudah melihat makanan kesukaannya itu. Hanya saja, makanan kesukaannya itu tepat didepan Abra dan membuat dirinya harus mengurungkan niat awalnya itu.
Detik kembali normal, mereka pun melanjutkan makan malam dengan Camelia yang mendapatkan makanan kesukaannya - karena Abra yang mengambilkan makanan itu dan menaruhnya di piring makan Camelia.
"Terima kasih," ujar Camelia.
Selesai makan malam, Papa Carel pun mengajak Atha untuk ke ruangan kerjanya sebentar. Sementara Abra diajak oleh Carissa ke depan tv, serta Mama Lia dan Camelia mulai membersihkan bekas makan malam mereka.
Diruangan kerja Papa Carel, Papa Carel menyuruh Atha duduk didepannya yang terhalang meja kerja. Atha berlalu duduk. Setelah Papa Carel merasa agak tenang, beliau pun mulai menyampaikan maksudnya memanggil Atha datang ke ruang kerjanya.
"Papa sengaja memanggilmu kesini terkait kedatangan orang tuamu."
Atha mengangguk pelan seraya terus mendengar perkataan Papa Carel padanya.
"Seperti yang sudah kamu dengar, kalau kedua orang tuamu akan datang ke Bandung untuk kumpul keluarga."
"Iya pa."
Lalu, dengan perlahan Papa Carel melanjutkan perkataannya, "Kedua keluarga telah sepakat, dari datangnya kedua orang tuamu nanti - kami berniat menjodohkanmu dengan Camelia."
Atha tampak tak terkejut dengan perkataan Papa Carel barusan karena ia sudah menduganya tadi - sewaktu perjalanannya kemari. Berbeda dengan orang yang tengah berdiri dibalik pintu bercat kayu itu. Ia tidak menyangka hari seperti ini akan datang lebih cepat dari perkiraannya.
...To be continued...
Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya readers 🤗
__ADS_1
...By Zolovelypeony...