
Tidak terasa acara reuni sekolah telah selesai. Saat ini mereka telah berada di parkiran sekolah untuk balik ke rumah masing-masing. Disaat Kanaya hendak masuk kedalam mobil Dilla, Dilla secepat mungkin keluar dari mobil hingga membuat Kanaya tidak jadi masuk kedalam.
"Ada apa Dil?" tanya Kanaya heran.
"Aduh gimana ya, Kay. Kayaknya aku ngga bisa anterin kamu pulang," ujar Dilla merasa bersalah sekali.
"Kok bisa sih? Terus aku pulang sama siapa dong, aku kan ngga bawa motor kesini," ujar Kanaya.
"Ini mami ku, mau diantar ke acara arisan. Kata mami, aku harus cepat," ujar Dilla baru teringat akan pesan maminya sebelum ia berangkat ke acara reuni.
"Aunty Fira, kalau gitu kamu anterin aunty aja, aku bisa kok pulang naik mobil online," ujar Kanaya.
"Coba aja arah rumahmu ngga berlawanan arah, pasti aku anterin. Maaf banget ya, Kay," ujar Dilla.
"Udah ngga papa, sana pergi."
Dilla pun kembali melangkah ke pintu kemudi. Namun langkahnya kembali ke pintu tatkala ia melihat mobil yang dikendarai Revan baru saja melewati mereka.
Seketika Dilla berteriak memanggil Revan, "Rev, Revan, tunggu."
"Kenapa kamu malah teriakin dia?" seru Kanaya.
"Udah diam aja, kali ini kamu ngga bakalan naik mobil online," ujar Dilla cengegesan dan berlalu menghampiri Revan yang telah menghentikan laju mobilnya.
"Iya, ada apa, Dil?" tanya Revan.
"Ini, aku mau minta tolong boleh ngga?" ujar Dilla.
"Boleh dong, kita kan udah menjadi teman," ujar Revan sengaja memperbesar suaranya agar Kanaya mendengarnya.
"Teman, teman apaan," sunggut Kanaya memalingkan wajahnya kearah lain.
Dilla yang mendengar suara omelan Kanaya jadi berbalik melihatnya, ia hanya ingin mendapatkan kendaraan pulang untuk Kanaya, tapi apa yang dilakukan gadis berjilbab navy itu, dia malah dengan entengnya mengomentari ucapan Revan.
Dalam hati Dilla berkata, "Ya Allah, anak ini kapan sadarnya."
"Mau minta tolong apa, Dil?" tanya Revan kembali.
"Ini, tolong anterin Kanaya pulang ya, soalnya aku lagi buru-buru mau anterin mami ke acara arisan. Mau ya," ujar Dilla memelas.
Kini mulut Kanaya berbentuk huruf O. Ia seakan tidak percaya akan perkataan Dilla barusan. Dilla bukannya ingin menjual nama temannya, hanya saja Dilla merasa tidak tega meninggalkan sahabatnya sendirian ditempat parkiran sekolah.
"Boleh kok. Asal kamu yang minta, aku selalu siap," ujar Revan membuat Dilla tersenyum, sedangkan Kanaya seperti ingin muntah mendengar ucapan manis Revan.
Dilla pun pergi menghampiri Kanaya.
"Ayo sana, ikut pulang sama Revan," ujar Dilla.
"Tapi Dil, aku ngga enak. Aku naik mobil online aja deh," ujar Kanaya membuat alasan.
"Loh, loh, kok gitu. Kalau ada yang gratisan kenapa mencari yang berbayar," ujar Dilla kembali cengegesan.
Ia paham betul bagaimana keuangan sahabatnya ini. Meski sudah bekerja dan mendapat gaji yang lumayan, tapi sahabatnya ini juga harus membantu ibunya dan membiayai sekolah adik-adiknya. Andai saja Papa Kanaya masih hidup, Dilla yakin Kanaya tidak akan terlalu memikirkan persoalan uang.
"Udah deh, sana," ujar Dilla.
"Tau gini, aku minta antar juga sama Abra," ujar Kanaya.
__ADS_1
"No, no. Kamu mau menganggu pendekatan Abra ke Camelia?" ujar Dilla membuat Kanaya manggut-manggut.
"Iya juga ya, baiklah. Tapi aku lakukan ini karena kamu ya," ujar Kanaya.
"Iya, iya karena aku. Sana pergi, kamu udah di tungguin tuh," ujar Dilla.
Kanaya pun menuju mobil Revan. Sampainya Kanaya disana, ia membuka pintu tengah yang membuat Revan malah mengomentarinya, "Jangan duduk dibelakang, Kay. Sini duduk depan sama aku," ujar Revan.
Kanaya kikuk, tapi ia pun menuruti kata Revan juga.
"Terima kasih," ujar Kanaya.
"Belum juga sampai, udah bilang terima kasih. Gimana kalau nanti aku ngga sampai anterin kamu sampai ke rumah, kan ngga mungkin aku kembaliin terima kasih kamu," ujar Revan.
Kanaya menarik nafas dan mengembuskannya pelan. Jika saja ia tidak ingin sahabatnya khawatir, ia tidak akan mau diantar pulang sama Revan.
"Ngga usah dikembaliin, ngga papa kok, kan gratis," ujar Kanaya.
Ia beralih melihat keluar jendela karena tidak ingin lagi berdebat dengan Revan yang menurutnya tidak pernah mau mengalah.
...***...
Abra tidak lantas mengantar Camelia pulang. Mereka pergi ke sebuah rumah makan dekat sekolah. Sebuah rumah makan yang selalu mereka datangi jika mereka pulang bersama saat masa sma dulu.
"Masih ingat tempat ini, kan?" ujar Abra.
"Masih kok, aku kira ngga bakalan kesini lagi buat cobain mi ayam terenak yang pernah ku makan," ujar Camelia kala mengingat betapa enaknya mi ayam buatan Bu Sumi. Ibu yang punya rumah makan ini.
"Sama, sebenarnya dari dulu aku mau kesini. Cuma ngga enak aja, ngga ada kamu yang temani," ujar Abra.
"Masih ingat saat kita pertama kali kesini?" tanya Abra setelah mereka duduk.
"Masih, kenapa?"
"Beneran?"
"Iya bener!"
"Kalau mengingatnya lagi, aku seperti ingin tertawa terus," ujar Abra di sertai tawa kecilnya.
"Udah Ab, itukan udah masa lalu."
"Tapi itu adalah kenangan masa lalu kita. Aku ngga bakalan lupa bagaimana kita berantem gara-gara memilih meja makan saja."
"Itukan gara-gara kamu," sunggut Camelia.
"Iya, tapi itu gara-gara kamu yang ngga mau ngalah," ujar Abra.
Tiba-tiba saja mereka tertawa bersama seperti dulu, hingga membuat mereka seperti kembali ke kenangan lama mereka.
Hari itu, Hujan turun dengan sangat derasnya. Abra yang lagi naik motor bersama Camelia, lantas mencari tempat berteduh karena ia tidak ingin membuat Camelia khawatir akan kesehatannya.
Mereka yang memang sudah kelaparan. Secara kebetulan, Abra membawa Camelia berteduh di sebuah rumah makan. Mereka lantas masuk kedalam untuk mengisi perutnya mulai keroncongan.
"Cam, kita duduk di meja nomor empat aja ya," ujar Abra.
"Ngga, aku maunya di nomor delapan aja, Ab," bantah Camelia seraya berjalan ke meja nomor yang diinginkannya.
__ADS_1
Abra yang tidak ingin mengalah pun lantas berjalan ke meja nomor empat. Jadi, mereka saat ini hanya bisa melihat dari jauh tanpa menyapa.
Hingga tiba-tiba Abra menurunkan sedikit egonya, agar hubungannya dengan Camelia tidak rusak akibat mempermasalahkan nomor duduk saja. Apalagi ia tau, kenapa Camelia sampai bertindak seperti itu hanya gara-gara nomor saja. Dengan langkah pelan, Ia pun menghampiri Camelia.
"Cam," panggil Abra.
"Ada apa? Kalau kamu ajak aku untuk duduk disana, aku ngga mau," ujar Camelia.
"Ngga, aku mau katakan. Bagaimana kalau kita duduk di meja nomor duabelas," ujar Abra bermaksud untuk menengahi
"Ngga, kamu aja yang duduk disana," ujar Camelia masih mempertahankan keras kepalanya.
"Aku sengaja pilih nomor duabelas karena itu adalah gabungan dari tanggal lahir kita. Mau ya, ngga enak kalau makan sendirian. Padahal kan kita bersama datang kesini, Ya walaupun sebenarnya untuk berteduh saja sih," ujar Abra yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah, ayo."
Abra senangnya bukan main, ia dan Camelia lantas berpindah duduk ke meja duabelas. meja yang menjadi saksi bisu masa lalu mereka.
"Ab," panggil Camelia seraya mengibaskan tangannya didepan wajah Abra yang dari tadi hanya diam tanpa menikmati makannya.
"Eh, Cam. Ada apa?"
"Kamu lagi mikirin masa lalu," tanya Camelia.
"Hem, seru ya jika mengingat masa lalu kita."
"Lumayan. Udah kita makan gih, aku udah lapar mau nyobain ini," ujar Camelia.
"Emang kamu ngga mikirin masa lalu kita disini?"
"Pikir sih, cuma sebentar."
Mereka pun menyudahi pembicaraan mereka dan lanjut memakan mi ayam. Saat Camelia masih menyantap makanan, tidak disangka Abra malah membersihkan sudut bibirnya yang tertempel sedikit makanan.
"Eh," Camelia terperanjat kaget dengan tindakan Abra yang tiba-tiba.
"Aku ngga sengaja, soalnya ada makanan yang tertinggal disudut bibirmu. Kulihat, dia udah dari tadi nongkrong, tapi ngga mau pergi-pergi."
"Oh, terima kasih."
"Ayo nikmatin lagi," seru Abra saat Camelia tidak henti melihatnya.
Mereka makan dengan tenang hingga makanan mereka tandas. Setelahnya, Camelia berjalan duluan ke kasir untuk membayar makanan mereka.
"Kamu udah bayar semua?" tanya Abra tidak menyangka. Pasalnya ia yang ingin mentraktir Camelia makan.
"Sudah ngga papa, hari ini aku yang traktir," ujar Camelia.
"Baiklah kalau begitu, kita pergi sekarang?"
"Hem ayo."
...To be continued ...
Jangan lupa like, vote sama komen ya, sebagai timbal balik dari yang kalian baca 🤗.
...By Peony_8298 ...
__ADS_1