Camelia Rahma: Kamulah Jodohku

Camelia Rahma: Kamulah Jodohku
Masa Depan Abra


__ADS_3

Abra kini telah berada diruangan keluarga bersama papa dan mama yang telah berada disana sedari tadi. Abra kian meremas jari saat ia menduga kalau pertemuan keluarga yang tidak biasa ini adalah pertemuan untuk membahas perjodohannya.


"Kamu masih ingat percakapan kita tempo hari?" tanya Papa Fauzi.


"Iya pa, Abra masih ingat."


"Hari rabu nanti papa akan mengajakmu ke rumah Pak Samuel untuk pergi membahas perjodohanmu dengan anaknya. Kamu siap-siaplah mulai sekarang. Luangkan waktumu untuk itu."


"Pa, Abra tidak ingin perjodohan ini terjadi. Abra masih bisa kok milih perempuan untuk masa depan Abra tanpa papa dan mama jodohkan. Apa papa dan mama merasa kalau Abra tidak dapat mencari seorang wanita yang tepat? Jika itu yang mama dan papa khawatirkan, mama dan papa salah besar."


"Bukan seperti itu maksud kami, sudahlah ikuti saja perjodohan ini. Dari dulu juga kamu bilang gitu, tapi sampai sekarang belum ada hasil. Lihat, umurmu udah hampir masuk kepala tiga. Tapi belum ada satupun perempuan yang kamu kenalkan pada kami. Mau lihat mama dan papa tiada dulu baru mau nikah, gitu?" ujar Mama Rania membuat Abra beralih melihatnya.


"Ma ... ngga seperti itu juga. Abra tau, Abra ngga pernah mengenalkan kalian pada seorang perempuan, tapi tidak serta merta Abra tidak mempunyai kemauan untuk menikah. Apalagi minat pada seorang wanita."


"Papa tau, untuk itu ketemuan aja dulu. Siapa tau nanti kamu berubah pikiran. Siapa tau kan!" saran papa.


"Sampai kapan pun, Abra ngga akan berubah pikiran."


Papa tersenyum memaksakan, papa lalu berdiri. "Baiklah, itu saja yang ingin papa sampaikan. Rabu nanti, luangkan waktumu," ujar Papa Fauzi sebelum meninggalkan Abra yang tidak dapat membantah kata-katanya.


"Ma ... mama kok malah mendukung papa sih, mama kan tau kalau Abra ... kalau Abra ...."


"Kalau apa? Kalau belum mau menikah?"


"Ngga juga. Hanya saja Abra ...."


"Lama! Mama mau pergi. Ikuti aja dulu kata papa, biar belakangnya urusan mama," ujar Mama Rania setelah menunggu jawaban Abra yang lama sekali.


Seperginya papa dan mama, Abra meremas rambutnya. Meski sudah menduganya, ia sama sekali tidak menyangka kalau mama malah ikut mendukung papa dalam hal ini.


Kini masa depannya semakin rumit saja. Apakah karena ia terlalu suka menunda hal baik? Tapi jika seperti itu keadaannya, ia hanya ingin membuat Camelia merasa nyaman dulu berdekatan dengannya. Baru setelahnya, ia akan maju dan datang kerumahnya. Memintanya pada kedua orang tua Camelia.


Abra mengusap kepalanya, tertunduk menyesali tindakannya yang terlambat. "hufft ... keadaan apa ini? Malah aku yang terjebak didalamnya!"


Abra pun berlalu dari sana. Ia melangkahkan kaki menuju kamar. Ia ingin cepat bersih-bersih diri. Saat dirinya hendak memutar knop pintu, ia tersadar akan bagaimana reaksi Camelia nanti saat dia mengetahui kalau dirinya akan dijodohkan. Abra menghela nafas saat dirinya mencoba memikirkan reaksi Camelia.


"Kenapa jadi serumit ini!"

__ADS_1


Ditengah Abra yang kian merasakan kerumitan, disisi lain Camelia merasa sangat senang karena tinggal sehari lagi, ia akan puas melihat Carissa, anak yang telah dianggapnya sebagai anak sendiri. Ia merasa hari-harinya akan semakin berwarna dengan kedatangannya.


Awalnya, beberapa hari belakangan ia sempat punya niatan pergi ke Semarang. Pergi menemui Carissa dan meminta izin pada Atha untuk membawa Carissa bersamanya. Namun, tidak disangka hal baik ini terjadi tanpa ia duga. Camelia tentu sangat bersyukur akan hal itu. Rindu yang awalnya kian menumpuk, kini akhirnya bisa terkikis sering berjalannya waktu dikemudian hari.


Mama yang melihat wajah Camelia yang kian tersenyum, membuatnya penasaran. Mama Lia lantas pergi menghampiri anaknya yang sedang bermain ayunan itu.


"Ehem, boleh mama duduk?"


Camelia mendongak melihat mama yang saat ini berdiri didepannya. Camelia tersenyum dan mempersilakan mama duduk di sampingnya. "Iya ma, boleh."


"Sayang, melihat wajahmu yang berseri-seri sepertinya akan ada berita baik yang akan dalam waktu dekat ini," ujar Mama Lia.


Camelia menoleh melihat mama yang kini ikut juga tersenyum. "Iya ma. Mas Atha dan Carissa akan tinggal di Bandung dalam waktu dekat ini."


"Nak Atha pindah kerja?"


"Ngga ma, Mas Atha dapat promosi di tempat kerjanya. Jadi dia dipindah tugaskan kesini."


"Syukurlah kalau begitu. Berarti mama bisa lebih banyak menghabiskan waktu buat cucu mama."


Mama seketika terdiam, tatkala tanpa sadar mengatakan kata cucu. Tentu sebagai orang tua yang mempunyai anak gadis yang telah dewasa, ia tentu ingin secepatnya meminang cucu kandung sendiri, tapi sebagai orang tua juga, ia tidak ingin memaksa kehendaknya pada sang anak. Biarlah kehidupan pribadi anaknya, dia sendiri yang menjalani. Tugasnya hanya mengawasi dan menuntun.


Mama Lia pun beralih kembali melihat Camelia dan berdehem, berharap agar suaranya bisa terdengar santai di telinga Camelia.


"Kapan mereka tiba? Biar mama siapkan sesuatu."


"Lusa ma, mungkin mereka tiba sore," ujar Camelia.


"Kalau gitu mama siap-siap dulu ke pasar membeli bahan-bahan makanan. Biar nanti saat Carissa datang, dia senang karena mama membuatkan makanan kesukaannya."


"Iya ma, nanti Camelia bantu mama buatkan makanan untuk mereka."


"Baiklah, mama pergi dulu. Jangan terlalu lama disini. Nanti kamu masuk angin."


"Iya ma, ntar lagi Camelia masuk."


Mama pun pergi meninggalkan Camelia yang masih ingin menikmati kesejukan udara yang berhembus dari cela-cela pohon dan bunga yang telah ditanamnya.

__ADS_1


Setelah bersiap-siap, Mama Lia pergi ke pasar dengan mengendarai motor matic-nya. Sesampainya disana, Mama Lia langsung saja pergi ketempat toko langganannya.


Sangking seriusnya membeli bahan, Mama Lia sampai tidak sadar saat seorang wanita seumuran anaknya telah mengucapkan salam padanya. Mama Lia baru tersadar saat wanita tersebut kembali mengulang salamnya.


"Assalamualaikum, tan."


"Eh, waalaikumsalam. Maaf siapa ya nak?" tanya Mama Lia yang memang tidak mengetahui wanita didepannya ini.


"Saya Delia, tan. Teman sma Camelia."


"Oh, nak Delia. Maaf tante lupa. Maklum faktor umur."


"Ngga papa kok tan. Delia paham. Oh iya, Camelia ikut juga kesini?"


"Ngga nak, Camelia dirumah sedang istirahat soalnya tadi pagi habis ikut olahraga sama nak Abra."


"Olah ... raga," beo Delia.


"Iya, makanya ngga ikut tante belanja. Nak Delia sama siapa kesini?"


"Sendiri juga tan. Tan, kalau gitu Delia kesana dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Delia pergi meninggalkan Mama Lia yang kembali sibuk mencari bahan-bahan keperluannya. Jujur saja, hatinya seketika sakit mendengar perkataan Mama Lia barusan. Ia lantas memukul-memukul dadanya yang sedikit nyeri.


Bagaimana tidak, lelaki yang ingin di jodohkan dengannya masih saja pergi menemui wanita lain. Apalagi hari perjodohan mereka tinggal menghitung hari saja. Apakah Abra tidak memikirkan perasaannya?


Bisa saja ia menjadi egois dan bahkan ia bisa saja membatalkan perjodohan ini, tapi jika keadaan menjadi seperti itu malah akan membuat dirinya semakin sakit dan ia tidak ingin hal itu sampai terjadi. Cukup selama ini ia menahan perasaanya. Selanjutnya, apapun yang terjadi, ia akan tetap berusaha agar perjodohannya dengan Abra berjalan lancar.


Memikirkannya, membuat Delia mempunyai ide yang bisa mewujudkan impiannya itu. Ia pun lantas tersenyum dan bergegas mencari bahan-bahan yang ia butuhkan lagi.


...To be continued....


Jangan lupa like/vote dan komen sebagai timbal balik dari yang kalian baca ya readers.


...By Peony_8298...

__ADS_1


__ADS_2