
Halo, selamat hari jumat berkah, semoga yang like, vote dan komen diberikan kemudahan rezeki oleh Allah, aamiin. 🤲🏻
Oh iya, khusus hari ini aku up dua kali ya, karena ada permintaan dari pembaca. Ku harap kalian semua suka dengan cerita ini. Selamat membaca 🤗
...***...
Abra dan Riana pun keluar dari ruangan inap Camelia. Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju tempat parkir mobil Abra. Dari kejauhan, Abra memicingkan matanya. Ia seperti mengenal dua orang yang tengah berjalan ke arahnya saat ini. Tidak, lebih tepatnya ke arah ruang inap Camelia.
Semakin dekat, nampak jelas dimata Abra kalau dua orang itu tidak lain adalah sepupu dan keponakannya yang sudah dianggap keluarga oleh Camelia, wanita yang tadi hampir membuat jantungnya berhenti berdetak saat mendengar kalau dia masuk rumah sakit.
Mereka yang saling berlawanan itu arah itu pun akhirnya bertemu. Anak kecil yang tengah memegang boneka barbie-nya, seketika memanggilnya uncle. Tentu saja Abra tersenyum, ia merentangkan tangannya menyambut anak kecil yang berlari ke arahnya.
"Carissa, mau jenguk bunda?" tanya Abra setelah Carissa sampai didekatnya.
"Iya. Tadi kami habis kerumah bunda, tapi terkunci. Tidak taunya bunda malah ada disini." Carissa menundukkan kepalanya. "Bunda sakit karena Carissa ngga jagain bunda."
"Tidak, nak. Malah bunda Carissa akan cepat sehat karena Carissa datang kesini."
Carissa mengangguk, ia akhirnya kembali menyinggungkan senyumnya yang sempat hilang. Atha yang baru sampai didekat Abra pun mendekat untuk memeluknya.
"Ab," ujar Atha sambil menepuk pundak sepupunya. Setelahnya, ia pun melepaskan pelukan mereka.
"Kamu udah pindah ke sini?"
"Iya, ini lagi cari tempat tinggal juga. Tapi tidak sempat karena buru-buru kesini."
"Ngga usah mikirin itu. Tinggal dirumah aja. Percumakan punya rumah besar, kalau akhirnya keluarga sendiri pun harus cari rumah lagi."
Atha tersenyum, ia tau memang sepupunya ini sangat baik padanya. Disaat yang sama, ia juga sempat merasa bersalah karena pernah mencemburuinya sewaktu mereka ada di Semarang bersama Camelia.
"Oh iya, Camelia ada diruangan melati nomor lima."
"Iya tadi juga suster telah memberitaukan."
"Baiklah, aku pergi dulu. Mau antar Riana balik ke toko."
"Iya."
"Uncle, terima kasih," ujar Carissa.
"Iya nak. Uncle pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Atha dan Carissa.
Abra dan Riana berlalu dari sana meninggalkan Atha dan juga Carissa yang melanjutkan perjalanan mereka ke ruangan inap Camelia. Sesampainya Atha dan Carissa didepan pintu ruangan inap Camelia, perlahan Atha memutar knop pintu ruangan.
Secara perlahan pintu itu terbuka menampilkan sosok Camelia yang masih saja damai dalam tidurnya saat Atha dan Carissa masuk ke dalam kamar inapnya. Seketika Carissa yang masuk ke dalam kamar inap, langsung berlari mendekati Camelia. Carissa terisak, ia menangis melihat bundanya seperti ini.
__ADS_1
"Carissa," ujar Mama Lia kaget melihat Carissa berdiri didekat Camelia saat dirinya baru saja keluar dari kamar kecil.
"Omah," lirih Carissa yang masih sesegukan.
Mama Lia lantas mendekat, ia menyamakan tingginya dengan Carissa dan memeluknya.
"Bunda udah ngga papa. Kamu jangan nangis lagi ya. Ntar bunda bangun dan lihat kamu nangis, kan bunda nanti ikut sedih."
Carissa mengangguk, ia menghapus sisa-sisa air matanya yang membekas di pipi. Atha yang masih memperhatikan anaknya dan Mama Lia lantas mendekat. Ia mencium tangan Mama Lia. Setelahnya, Mama Lia mengajak mereka untuk duduk di sofa sambil menunggu Camelia tersadar dari tidur lelapnya.
"Maaf membuat kalian harus datang kesini," ujar Mama Lia setelah mereka duduk di sofa.
"Ngga papa Ma. Carissa emang mau bertemu bundanya."
Carissa hanya menoleh tersenyum saat Atha menyebut namanya. Ia masih setia berada didekat bundanya, memegang tangannya yang terlihat pucat.
Begitu pula wajahnya. Wajah yang dulu terlihat berseri-seri kini terlihat ikut memucat juga. Bahkan, wajah yang dulu selalu terlihat tersenyum kini masih saja tertidur lelap tanpa merasa terganggu dengan suara Carissa yang terus saja memanggilnya bunda. Seakan Camelia tidak terganggu dengan panggilan Carissa padanya.
...***...
Setelah mengantar mengantar Riana balik ke toko, Abra lantas kembali lagi ke rumah sakit menemui Camelia. Ia berharap Cemelia telah sadar. Namun, Sesampainya disana, ia mendapati Camelia masih tertidur lelap. Atha yang melihat Abra berdiri di pintu masuk lantas menyuruhnya duduk.
"Abra, sini duduk," ajak Atha. Abra mengangguk, ia berjalan mendekat ke arah Atha dan duduk di sampingnya.
"Belum bangun juga?" tanya Abra.
"Iya, mungkin."
Perlahan, jari-jemari Camelia mulai bergerak menandakan kalau Camelia sepertinya akan segera sadar. Carissa yang melihatnya, seketika memanggil papanya heboh. Baik Abra, Atha dan Mama Lia yang berada disana, lantas bangun dari duduknya. Mereka semua pergi mengerumuni Camelia.
Sekali lagi, perlahan Camelia mulai membuka matanya. Silau adalah hal yang pertama kali yang ia rasakan. Tidak lama kemudian, ia merasakan kalau penciuman obat disini terlalu tajam. Ia pun berangsur ingin mengangkat tangannya. Namun, ia tidak berhasil. Jangan mengangkat tangannya untuk menghalau bau yang menyengat ini, untuk membuka matanya pun ia susah sekali.
"Sayang, akhirnya kamu sadar," ujar Mama Lia begitu senang.
"Bunda, yeee bunda akhirnya bangun juga."
"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar," ujar Atha.
"Cam," panggil Abra pelan.
Segala macam panggilan pun terlontar dari bibir masing-masing orang yang ada dihadapannya ini. Camelia tentu saja tidak tau siapa orang-orang yang telah mengelilinginya. Namun, saat mendengar suara mereka, ia tau kalau salah satu diantaranya ada yang telah membuatnya berharap lebih.
Memikirkan kecerobohannya karena bisa terjebak di perasaan yang sama di masa lalu, membuat ia kembali menitihkan air matanya. Carissa yang melihat ada air mata yang keluar dari pelupuk mata bundanya, lantas mengulurkan tangannya untuk menghapusnya.
"Bunda, Carissa janji tidak akan pernah lagi meninggalkan bunda."
Berangsur, akhirnya tangan Camelia bisa terangkat. Namun penglihatannya masih belum stabil. Camelia lantas mengulurkan tangannya mengusap pipi Carissa sayang.
__ADS_1
"Iya nak."
Abra berpaling, bukannya ia tidak suka melihat keakraban dua orang wanita yang berbeda usia itu. Hanya saja ia merasa kalau rintangan didepannya untuk mendapatkan Camelia seutuhnya akan sangat melelahkan. Untuk sedikit menghilangkan kecemasannya, ia pun berlalu dari sana pergi memanggil dokter yang merawat Camelia.
Camelia yang sudah sadar sepenuhnya, beringsut ingin menyandarkan dirinya ke sandaran tempat tidur. Mama Lia pun mendekat dan membantu anaknya bersandar.
"Gimana perasaannya?" tanya Mama Lia.
"Alhamdulillah udah baikan, ma."
Camelia tersenyum agar kekhawatiran mamanya dan lainnya berangsur mereda. Ia mengedarkan pandangannya mencari sesosok yang tadi juga ikut memanggilnya sebelum kesadarannya terkumpul. Namun, ia tidak melihat keberadaannya dimana pun.
"Mungkin hanya halusinasiku saja," batin Camelia.
Sedikit demi sedikit pintu ruangan terbuka. Menampilkan sosok yang tengah dicari oleh Camelia berjalan mendekat dengan seorang dokter disampingnya.
Sesampainya didekat Camelia, Abra tersenyum melihat Camelia telah sadar sepenuhnya. Mata mereka saling memandang, menuntaskan segala kecemasan yang sempat dirasakan.
Hingga Camelia memutuskan kontak terlebih dahulu karena tidak ingin Mama Lia atau pun Atha berpikiran macam-macam antara dirinya dan Abra.
"Dok, silahkan diperiksa dulu," ujar Abra memecah kebisuan diruangan inap Camelia.
Dokter wanita itu maju untuk memeriksa kesehatan Camelia. Setelah beberapa saat memeriksa kesehatan Camelia, Dokter melihat mereka semua.
"Dia sudah mulai membaik. Namun, ada baiknya dia harus menginap dua hari lagi disini."
"Selama demi kesehatannya, apapun yang dokter bilang, saya akan setujui."
"Baiklah, nanti saya akan datang lagi. Kalau begitu saya permisi dulu."
Mama Lia mengangguk, begitu pula Atha dan Abra.
"Jangan banyak gerak dulu, ya."
"Iya ma."
Tidak lama kemudian pintu ruangan Camelia terbuka kembali, menampilkan dua orang sahabatnya yang tidak lain adalah Kanaya dan Dilla. Kanaya dan Dilla serentak memanggil nama Camelia dan mendekat ke arahnya.
Sementara ke tiga sahabat itu saling melepas rindu, Mama Lia mengajak Atha, Carissa serta Abra untuk duduk di sofa saja. Carissa awalnya menolak, tapi setelah dibujuk ia pun akhirnya menuruti kata sang papa.
"Pa, bunda akan cepat sembuhkan?"
"Iya nak. Pasti." Carissa pun memeluk papanya sebagai respon dari rasa senangnya saat ini.
...To be continued...
Selamat hari jumat berkah, semoga yang like, vote dan komen diberikan kemudahan rezeki oleh Allah, aamiin. 🤲🏻
__ADS_1
...By Peony_8298...