
Kejadian dirumah Abra sudah tiga hari telah berlalu, tapi kata-kata Abra saat itu masih saja tersimpan jelas diingatan Camelia. Tentu aja, bagaimana ia bisa lupa saat hal yang menyangkut masa depannya diusik oleh seseorang yang masih ada didalam ingatannya selama bertahun-tahun ini!
"Gimana kalau kamu aja yang aku lamar"
Memikirkannya membuat Camelia tak fokus membuat browniesnya. Ia menggeleng saat tersadar dari lamunan sesaatnya itu.
"Astagfirullah, kok ke inget kata-kata itu terus," ujar Camelia.
"Ingat apaan, kepo nih. Coba kamu ceritakan sama aku," ujar kanaya yang baru tiba di dapur toko Camelia.
"Ka ... kanaya, kapan kamu tiba?" tanya Camelia gelagapan.
"Baru saja."
"Kamu duduk dulu ya, aku selesaikan ini dulu. Tinggal di oven kok."
"Hem."
Setelah pekerjaan Camelia selesai, Camelia mengajak Kanaya duduk depan tokonya. Mereka duduk ditempat biasa.
"Aku kepo nih, sama cerita kamu saat didalam!"
"Kamu salah denger kali," elak Camelia malu untuk mengatakan apa yang tadi ada di pikirannya.
Kanaya mengangguk-anggukan kepalanya, ia tidak ingin memaksa Camelia untuk bercerita, toh nanti ia akan tau cepat atau lambat.
"Oh iya, kamu udah denger belum kalau angkatan sekolah kita mau ngadain reunian besar-besar loh. di sma kita dulu," ucap Kanaya antusias.
"Iya aku udah dengar, waktu itu aku ada dirumah Abra saat Abra mendapat telepon dari Reno."
"Jadi ini yang kamu sembunyiin!" Respon Kanaya sambil menertawakan Camelia.
Camelia menghela nafas panjang, akhirnya ia ketahuan juga. Padahal sebisa mungkin ia berusaha menyembunyikannya. Pada akhirnya ia mengakuinya.
"Iya." Camelia tertunduk menempelkan dagunya di meja. Jujur saja ia malu.
"Apa yang dia bilang sampai kamu se-galau ini? Kalau biasa-biasa aja mah, pasti respon kamu biasa juga dan ngga buat kamu uring-uringan kayak gini," ungkap Kanaya yang mengenal betul sifat Camelia ini. Ia tau jika gaya Camelia sudah sepeti anak kecil yang seperti ketahuan salah, pasti ini bukanlah cerita yang mudah.
"Apa dari wajahku ini terlihat dengan jelas, apa yang ada di hatiku?" ujar Camelia malah memalingkan wajahnya kesamping, tapi masih menyandarkan kepalanya pada mejanya.
"Pake banget. Wajah kamu tuh lusuh kek kertas kusut," ujar Kanaya
"Hua ... aku bisa apa. Kata-kata itu terus saja mengusikku," ucap Camelia akhirnya tak bisa menahan sesuatu yang bergejolak didalam hatinya.
"Makanya cerita, biar aku bisa bantu mikirin solusinya. Kalau kamu ngga cerita-cerita maka kamu akan terus seperti ini, anak kecil rese."
Camelia pikir Kanaya ada benarnya juga. Apalagi ia juga sudah tau kalau Kanaya tidak akan mungkin membocorkan rahasia ini pada orang lain. Ia percaya sahabatnya yang satu ini. Camelia mendongak, ia pun mulai menceritakan kronologi kejadian tiga hari yang lalu. Kanaya yang telah mendengar keseluruhan cerita Camelia malah manggut-manggut mengerti.
"Apa Abra sudah sadar kalau dia jatuh cinta sama kamu. Ngga sama si Del del itu."
__ADS_1
Saat Kanaya mengucapkan kata Del, Kanaya serasa ingin memakannya sampai habis tak tersisa seperti brownies buatkan Camelia yang sedang ia makan saat ini. Ya, dia sangat kesal jika mengingat betapa temannya ini sakit gara-gara si Delia itu.
"Jangan tambah membuat aku bingung dong. Emang dari dulu Abra suka sama aku? Ngga lah dia kan sama Delia," ujar Camelia kembali menempelkan dagunya di meja.
Untuk sahabatnya yang satu ini, Camelia puas berbicara blak-blakan sama Kanaya. Ya, hanya Kanaya lah tempat curhatnya saat ini.
"Iya deh. Mungkin dia bercanda kali. Tapi, mungkin juga benar. Hahaha." ujar Kanaya dengan tawa yang menggelegar didepan toko Camelia. Sampai-sampai orang yang sedang membeli brownies Camelia bergidik ngeri mendengar tawa Kanaya.
"Sstt ... kecilkan tawamu. Nanti pelanggan aku jadi lari tau, emang kamu mau tanggung jawab kalau kue aku ngga laku hari ini?"
"Masa aku yang harus tanggung jawab, Abra tuh yang harusnya tanggung jawab."
"Tanggung jawab, aku? Ada apa denganku?" tanya Abra yang baru tiba. Ia heran dengan Kanaya yang mengatakan dirinya harus tanggung jawab.
"Abra!"
Camelia yang masih nyaman pada posisinya ini langung saja diam membatu saat mendengar suara Abra. Ia tak berani lagi mengangkat kepalanya.
"Ya ampun, Kanaya!" batin Camelia.
Kanaya berbalik melihat Abra yang menatapnya heran.
"Eh Abra, kenapa?" tanya Kanaya mencoba bersikap sesantai mungkin
"Kenapa aku harus tanggung jawab?" tanya Abra kembali mengulang pertanyaannya.
Camelia tersenyum senang akhirnya Kanaya bisa mengendalikan situasi. Perlahan-lahan, Camelia mengangkat wajahnya yang sengaja ia sembunyikan saat mendengar suara Abra tadi.
"Eh, Abra! Ada perlu apa?" tanya Camelia basa basi.
"Ngga ada, aku cuma mau ajak kamu pergi bersama saat reunian nanti," ajak Abra.
Kanaya yang masih membelakangi Abra pun tersenyum penuh arti pada Camelia. Ia mengedipkan matanya pada Camelia bermaksud untuk menggodanya. Setelahnya, Kanaya berbalik menyuruh Abra duduk.
"Ehem, Abra. Duduk dulu dong baru ngomong soal reunian."
"Ehm, iya bener. Oh iya silahkan duduk Ab," suruh Camelia.
Setelah Abra duduk disamping Camelia, Abra kembali berujar kalau ia ingin mengajak Camelia untuk pergi ke acara reunian sekolah sma bersama-sama. Camelia tampak berpikir mencoba menimbang keputusan yang tepat untuknya.
Namun, belum juga Camelia menyetujui akan ikut ajakan Abra, Kanaya sudah lebih dahulu mengatakan kalau Camelia akan ikut bersama Abra. Camelia lantas melotot kepada Kanaya karena melakukan keputusan sepihak padanya.
"Ok, baiklah. Nanti aku jemput ya. Kalau gitu aku pergi dulu," ucap Abra berlalu pergi.
Seperginya Abra dari sana, Camelia bahkan tidak sadar saat ini ia malah meneriaki Kanaya, "Kanaya, kamu ...."
Sekali lagi pelanggan Camelia berbalik melihat mereka berdua.
"Lihat, pelangganmu kali ini berbalik karena suara kamu." Tunjuk Kanaya pada pelanggan Camelia. "Udah ikut aja sama Abra. Biar tau rasa tuh Delia ngga bisa dekat-dekat sama Abra lagi," lanjutnya
__ADS_1
"Tapi ngga gini juga," komentar Camelia.
"Ngga gimana maksudnya! Kamu mau Abra datang kesini dengan membawa sebuket bunga mawar merah, memberikannya padamu dan mengajakmu kereunian!"
"Ngga juga gitu kali. Kamu mah, malah melebih-lebihkan. Aku maunya, aku sendiri yang jawab," ujar Camelia
"Eemmm, jadi gitu toh? Baiklah aku telpon Abra aja, sini beri aku nomornya!" ungkap Kanaya santai seraya tangan terangkat ingin meminta ponsel Camelia.
"Eh, tidak-tidak. Kamu ada-ada saja," ujar Camelia yang kembali menempelkan dagunya di meja.
"Jadi gimana, kamu mau tetap pergi sama Abra ke acara reuni?" tanya Kanaya.
"Mau bagaimana lagi," ujar Camelia yang kali ini kembali mengubah posisi pipinya menyentuh meja.
"Berarti sudah diputuskan. Si Del-del itu ngga akan mendekati Abra lagi!" pikir Kanaya.
"Udah, jangan bahas dia lagi. Lagian dia kan juga teman kita," bela Camelia.
"Teman kamu," ujar Kanaya masih tidak terima dengan perlakuan Kanaya dulu pada sahabat baiknya.
"Minum dulu gih," ujar Camelia.
Kanaya mengangguk dan meminum minumannya.
"Jadi kamu mau pergi sama siapa?" tanya Camelia.
"Aku? Mungkin sama Dilla."
"Yakin ngga mau pergi bareng aku juga!"
"Ngga, kamu mah pergi sama Abra aja," ujar Kanaya kembali membuat Camelia menempelkan pipinya di meja untuk kesekian kalinya.
"Udah, aku balik ya. Terima kasih browniesnya."
"Hem, iya. Nanti balik lagi ya."
"Sipp, asalkan aku dapat anugrah gratis, tiap hari pasti aku juga datang," ujar Kanaya cengegesan.
"Kalau gitu jadi karyawan aku aja. Lagi pula aku lagi butuh," balas Camelia cengegesan.
"Nanti aku pikir-pikir lagi," canda Kanaya. "Baiklah, aku pamit ya. Assalamualaikum," lanjutnya.
"Waalaikumsalam warrahamatullahi wabarakatuh," balas Camelia.
...To be continued...
...Jangan lupa like, vote dan komen ya sebagai timbal balik dari yang kalian baca, ya readers....
...By Peony_8298...
__ADS_1