
Halo, aku datang lagi. Maaf ya, baru sempat update lagi. biasa author lagi sibuk banget di dunia nyata. tapi tenang, aku bakalan up 3 bab hari ini. semoga dengan itu, bisa membuat kalian senang 🤗
Baiklah, happy reading gays 😉
***
"Cam," panggil Abra.
Camelia menoleh pada lelaki yang terlihat tampan dengan balutan jas kerjanya itu.
"Ada apa?"
"Aku bisa membawa Carissa ke kantor?"
"Kalau Carissa mau, bisa aja."
Carissa yang mendengar Abra hendak membawanya ke kantor, lanjut saja bersorak, "Carissa mau, bunda."
Camelia tersenyum. "Kalau mau, Carissa ngga boleh minta yang macam-macam disana."
"Iya, bunda."
Camelia lantas melihat Abra. "Kamu bisa membawanya, tapi kalau Carissa udah minta pulang, kamu mau mengantarkannya?"
"Tentu saja."
"Baiklah, karena Carissa mau dan kamu juga udah menyanggupinya, kalian bisa pergi."
"Terima kasih, bunda."
"Sama-sama sayang. Kalau gitu bunda masuk dulu ambilkan pesanan uncle Abra."
"Hem."
Sambil menunggu pesananya siap, Abra sesekali menggelitik Carissa. Carissa yang sudah tidak tahan dengan gelitikan dari Abra, lantas berlari masuk ke dalam toko sambil tertawa cekikitan. Namun karena sesekali menoleh ke belakang untuk melihat seberapa dekat Abra dengan dirinya, Carissa sampai menabrak Camelia yang tengah berjalan berlainan arah dengannya.
"Aduh," ujar Carissa sambil memegang jidatnya.
Berbeda dengan Carissa, Camelia hampir saja menjatuhkan kotak berisi brownies-nya jika saja Abra tidak sigap menangkapnya.
"Sayang, kenapa lari-lari begitu?"
"Maaf bunda, Rissa ngga sengaja. Abisnya uncle sih gelitikan Rissa. Kan, geli."
"Iya, Cam. Ini salah aku."
Camelia menghela napas panjang. "Lain kali jangan seperti ini lagi. Nanti kalau Carissa jatuh, gimana?"
"Bunda jangan marahi uncle, ini salah Carissa."
Camelia pun menyamakan tingginya dengan Carissa. Ia lalu mengelus kepala Carissa lembut. "Tidak, bunda tidak marahi uncle, sayang. Bunda cuma ingatkan saja."
"Bunda yang terbaik," katanya lalu menghambur masuk ke pelukan Camelia. Setelah beberapa detik, Carissa kembali melepaskan pelukannya.
"Sepertinya uncle Abra udah mau pulang, nak."
Carissa menoleh. Ia melihat Abra mengangguk.
"Kalau begitu, Carissa pamit, bunda."
"Hem, jangan nakal selama sama uncle, ya."
"Iya, bunda."
__ADS_1
Carissa pun mencium pipi kanan dan kiri Camelia, lalu kemudian ia berujar, "kami pergi dulu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Kami pergi, Cam."
"Hem. Maaf merepotkan."
Abra tersenyum. Ia lantas mengenggam tangan kecil Carissa menuju mobilnya.
Setelah masuk ke dalam mobil Abra, Carissa menurukan kaca mobilnya. Saat Abra baru saja melajukan mobilnya, Carissa pun melambaikan tangannya pada Camelia.
"Kita singgah di mini market dulu ya."
Carissa menoleh "Uncle mau beli apa?"
"Bukan untuk uncle, nak. Tapi untuk kamu. Biar nantinya kamu ngga bosen jalan sama uncle."
"Ngga usah uncle, kata bunda, Carissa ngga boleh merepotkan uncle."
"Ngga merepotkan kok, nak."
"Baiklah, kita singgah. Carissa mau camilan banyak sekali," kekeh Carissa.
Sangking bersemangatnya, ia seakan lupa akan perkataan Camelia sebelumnya kalau dirinya tidak boleh merepotkan Abra.
"Boleh. Carissa pilih aja cemilan yang Carissa suka."
"Uncle yang terbaik."
Sesampainya mereka di mini market terdekat, Abra lantas mengambil troli dengan Carissa yang berjalan disampingnya.
"Uncle, kita kesana," tujuk Carissa saat matanya menangkap cemilan ringan tidak jauh dari tempat mereka mengambil troli.
Ia dibantu oleh Riana. Sedang Sari masih setia bertugas didapur, melihat-lihat Brownies yang telah matang dalam oven.
"Mbak Cam," ujar Riana.
"Iya, Ri. Ada apa?"
"Mbak Cam, baik-baik aja kan?"
"Hem. Mbak baik. Kenapa, Ri?"
"Aku lihat, mbak kayak lemes gitu. Ngga bertenaga. Pucat lagi."
"Ah, masa sih? Mbak ngga merasa gitu, kok," jawab Camelia. "Mungkin karena mbak ngga tidur nyenyak, jadi kelihatan pucat gitu."
"Mungkin juga ya, mbak."
"Oh, iya mbak. Apa mbak ngga khawatir kalau Carissa ikut sama mas Abra?"
"Khawatir pasti ada, khawatirnya kalau Carissa membuat repot Abra saat bekerja."
"Bukan itu maksud Riana, mbak."
Camelia tersenyum. "Mbak percaya sama Abra. Jadi, kamu juga harus gitu."
Riana lantas tersenyum tidak enak. Ia seperti tertangkap tidak terlalu mempercayai Abra yang sayang pada anak kecil.
"Mbak lupa bilang, Carissa itu adalah keponakan Abra, makanya Carissa ingin ikut saat diajak."
"Oalah, tau begini aku bakalan percaya mas Abra seratus persen!" kekeh Riana. "Eh, tapi mbak. Keponakan dari mana? Bukannya mas Abra anak pertama ya?"
__ADS_1
"Emm itu ... Abra bersepupu dengan mas Atha. Jadi otomatis, Carissa menjadi keponakan Abra."
Riana mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti akan ucapan Camelia barusan.
"Maaf ya, mbak kalau Riana terlalu banyak bertanya."
"Ngga papa kok. Selama mbak bisa jawab, pasti mbak jawab."
Mendengar pembicaraan Riana dan Camelia yang kian menarik, membuat Sari kian penasaran. Setelah mengerjakan tugasnya, ia lalu ikut bergabung dengan mereka.
***
Sesampainya Abra di pelantaran kantor, ia pun keluar dari mobilnya dan bergegas memutari mobil untuk membukakan Carissa pintu. Setelah Carissa keluar, ia pun memberikan kunci mobilnya pada petugas valet parking.
Dengan satu tangan membawa belanjaan dan satu tangannya lagi mengenggam tangan Carissa, Abra membawa masuk Carissa kedalam kantornya. Para karyawan yang berpapasan dengannya pun memberi hormat padanya dengan cara tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Namun, tak jarang dari karyawan yang berpapasan dengannya merasa penasaran dengan anak kecil yang ikut dengan atasan mereka.
Tentu saja mereka bertanya-tanya saat tidak ada badai dan hujan, lalu tiba-tiba atasan mereka membawa pulang seorang anak kecil ke kantor dengan belanjaan cemilan yang hampir terisi penuh.
"Siapa anak itu?"
"apa anak itu, anak pak Abra?"
"Kenapa pak Abra membawa anak kecil ke kantor, apa hubungan anak itu sama pak Abra?"
Berbagai pertanyaan hinggap di hati masing-masing karyawan yang berpapasan dengannya. Bahkan tak jarang ada yang langsung bertanya langsung padanya seperti, "siapa anak itu?"
Dengan santai, Abra pun menjawab kalau anak kecil yang sedang bersamanya itu adalah anak dari sepupunya yang baru pulang dari luar negeri.
Mendengar penuturan Abra, para karyawan yang mendengarnya lantas mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Namun ada juga beberapa karyawan wanita yang bernafas lega karena semula mereka mengira kalau anak kecil itu adalah anak Abra jadinya mereka berpikir kalau mereka tidak memiliki kesempatan lagi.
"Kalau begitu kami duluan, pak."
"Hem."
Seperginya para karyawan itu, Abra tersenyum lucu. Bagaimana tidak, mereka menganggap kalau Carissa adalah anaknya.
"Ada-ada saja," ujarnya sebelum melanjutkan langkah kakinya menuju ruangannya.
"Uncle, aunty-aunty tadi kenapa?" tanya Carissa setelah mereka berada didalam ruangan Abra.
"Oh itu, mereka kira kamu adalah anak uncle."
"Beneran, uncle?"
"He'em."
"Kok gitu ya, padahal wajah Carissa kan mirip papa Atha."
Abra langsung saja terkekeh pelan. Ia tidak menyangka kalau pemikiran Carissa sampai sejauh ini.
"Uncle, uncle," panggil Carissa tidak sabaran.
"Ada apa, nak?"
"Kalau nanti uncle punya anak, nanti wajahnya mirip siapa ya?"
Abra tertegun.
To be continued
Jangan lupa like, vote dan komen ya.
By Zolovelypeony
__ADS_1