Cantik Cantik Galak

Cantik Cantik Galak
S 46


__ADS_3

Sejak malam itu, Kirana tidak pernah muncul sebagai gadis penggoda lagi. Ia selalu bersikap biasa saja saat bertemu dengan Elang. Ia bersikap layaknya karyawan dengan bos mereka. Ia selalu ingat, apa yang Gea katakan. Perkataan Gea selalu muncul dalam benaknya, dimanapun ia berada.


"Bos ceo, tumben Kirana jadi manusia normal. Apa yang sudah ia alami sebenarnya?" kata Herika saat melihat Kirana mengantarkan berkas pada Elang.


"Mungkin ia sudah bagun dari tidur panjangnya sekarang," kata Elang sambil melihat dokumen.


"Ah, masa iya bos ceo. Selama ini Kirana selalu bersikap layaknya manusia yang tidak punya muka, tapi sekarang jauh berbeda kayaknya."


"Kenapa? Kamu suka sama dia Her?" kata Elang.


"Ya ngak lah bos, mana mungkin saya suka gadis seperti dia. Saya hanya merasa sangat heran saja pada gadis itu. Selama ini, bentakan dari bos ceo tidak pernah bekerja buat dia. Tapi sekarang, ia malah berubah dengan sendirinya."


"Aku sudah bilang padamu, kemarin dia sedang tidur, dan sekarang ia baru bangun dari tidurnya."


Elang tersenyum saat mengatakan hal itu, sedangkan Herika merasa ada yang aneh dengan senyum yang Elang berikan. Herika tidak percaya kalau perubahan yang Kirana tunjukkan tidak ada sebabnya. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi pada Kirana.


'Aku yakin, Gea sudah merubah gadis itu menjadi seperti sekarang. Siapa lagi kalau bukan ia, mana mungkin gadis seperti Kirana bisa berubah tanpa ada sesuatu yang terjadi. Ge, Ge, kamu memang penuh kejutan,' kata Elang dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.


"Bos ceo sedang memikirkan apa sih?" kata Herika dengan sangat hati-hati.


"Eh gak ada apa-apa," ucap Elang.


....


Setelah persiapan yang lumayan melelahkan. Akhirnya, hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Dewa dan Rika datang juga. Hari ini, mereka melakukan pernikahan yang sangat meriah. Resepsi pernikahannya diadakan disebuah hotel berbintang. Sedangkan ijab khobulnya diadakan dirumah Dewa.


Selesai ijab khobul yang dilakukan tadi pagi. Kedua keluarga kini telah berada ditempat resepsi akan dilaksanakan.


Gea yang terlihat sangat cantik, membuat pusat perhatian tertuju hanya padanya. Tak jarang, mereka yang jadi sorotan mata tamu yang hadir diacara resepsi itu berlangsung.


Bukan hanya satu atau dua tamu yang memuji kecantikannya, hampir separuh dari yang hadir, asik membicarakan Gea dan Elang saja.


"Sayang, kamu jadi pusat perhatian tamu hari ini. Aku merasa sangat cemburu atas apa yang terjadi," ucap Elang.

__ADS_1


"Apaan sih Lang, mana ada yang bicara soal aku. Yang jadi mempelainyakan Rika dan kak Dewa."


"Kamu gak dengar ya sayang, mereka pada muji kecantikan kamu tuh."


"Biar ajalah."


"Iya yah, biar ajalah, yang penting, kamu adalah istri aku."


"Oh ya sayang, dimana Danu?" kata Elang.


"Eh iya, Danu kok gak ada sih. Aku juga baru ingat kalau Danu gak ada di sini Lang," kata Gea sambil melihat keseluruh sudut.


"Mungkin belum datang sayang," kata Elang.


"Lho, kok bisa tuh anak belum datang. Bukannya saat ijab khobul tadi dia bilang sebentar lagi nyampai."


"Mungkin terjebak macet kali yah, sabar aja sayang. Sebentar lagi tuh anak juga sampai kok."


Rika yang sedang menyambut tamu pun ikut merasa cemas, saat ia melihat Elang dan Gea hanya duduk berdua. Ia rasanya ingin bertanya pada mereka, dimanakah Danu berada.


"Kak Dewa, apa kakak udah melihat Danu hari ini. Apa dia udah datang saat kita ijab khobul tadi," kata Rika berbisik pada Dewa.


"Lho, kak belum lihat tuh anak sama sekali. Kak pikir ia sudah datang sejak tadi," ucap Dewa sambil berbisik pula.


"Apakah aku bisa menghampiri Gea sebentar kak? Aku ingin sekali bertanya, dimana Danu sekarang," kata Rika.


"Bisa, pergi aja kamu kemereka. Biar tamu disini, aku yang hendel."


Tanpa bicara apapun lagi, Rika langsung saja meninggalkan Dewa sendirian disana. Ia langsung berjalan cepat menuju Elang dan Gea. Ia tidak peduli pada tamu yang ada disana, karna ia sangat cemas pada satu sahabatnya yang masih belum sampai.


"Lho, kok pengantinnya malah kesini sih?" kata Gea.


"Ge, aku cemas sama Danu nih. Apa dia masih belum datang juga sejak tadi?" kata Rika langsung bertanya.

__ADS_1


"Belum Rik, Danu belum datang juga dari tadi."


Saat mendengarkan apa yang Gea katakan. Wajah panik Rika semakin jelas terlihat. Ia sangat mencemaskan sahabatnya yang masih belum sampai.


"Maaf ya, kami agak telat," kata seseorang yang baru datang.


Dengan cepat, Rika menolah kearah suara wanita yang minta maaf karna ia telat datang. Ia melihat disana berdiri Sella dan Denis sambil membawakan sebuah kado ditangannya.


"Selamat Rika," ucap Sella sambil bersalaman dengan Rika.


Rika membalas senyum yang terpaksa ia tunjukkan buat Denis dan Sella. Rika masih terlihat sangat amat cemas pada sahabatnya saat ini. Sehingga ia tidak terlihat bahagia saat Sella dan Denis yang datang.


"Kamu kok kelihatannya gak senang banget saat ini Rika," ucap Denis.


"Eh, ngak kok, aku hanya sedang menunggu seseorang yang sangat telat datangnya," kata Rika.


Mereka tidak bicara apapun lagi, Elang memberi isyarat pada Denis untuk tidak bicara pada Rika yang sedang gelisah saat ini. Denis pun sangat peka pada isyarat yang Elang berikan. Ia pun pamit untuk ketempat Dewa menyambut tamu. Denis ingin menyerahkan kadonya pada Dewa sekaligus mengucapkan selamat.


Mereka berdua pun meninggalkan Rika yang sedang berdiri tegak sambil melihat Gea dengan tatapan yang panik.


"Ge, coba kamu hubungi lagi itu anak. Aku sangat cemas akan keberadaannya saat ini," ucap Rika.


"Aku sudah menghubunginya Rika, tapi ia masih belum menjawab panggilanku."


"Rika, sebaiknya kamu kembali saja ketempat kamu. Jangan cemaskan Danu, aku yakin dia baik-baik saja. Kasihan Dewa berdiri sendirian untuk menyambut tamu kalian," kata Elang.


Rika mendengarkan apa yang Elang katakan. Ia pun memutuskan untuk kembali ketempat dimana ia seharusnya berada. Rasa cemas dihatinya masih saja tidak bisa ia lupakan.


Baru juga setengah jalan Rika berjalan, ia dihentikan oleh sebuah suara.


"Maaf ya, aku baru bisa datang sekarang. Jalanannya sangat macet," ucap suara yang tidak asing lagi bagi Rika.


Rika pun menoleh kearah asal suara yang membuat langkahnya terhenti itu. Ia sangat berharap kalau yang punya suara itu adalah temannya yang ia tunggu sejak dari tadi.

__ADS_1


__ADS_2