
Baru Gea tahu, jika Denis pergi sejak beberapa minggu yang lalu. Ntah apa alasan kenapa Denis harus pindah sekolah. Tapi, yang Gea tahu cuma satu. Saat terakhir ia bertemu dengan Denis adalah di wc cowok waktu itu.
"Ge kamu udah kemas-kemas barang mu nak." kata mama Elang tiba-tiba saja datang membuat Gea kaget.
"Kemas-kemas barang tante?" kata nya tak mengerti.
"Mama lho Ge, bukan tante lagi." kata mama Elang.
"Eh... Maaf tante, eh mama." kata Gea.
"Iya, gak papa Ge. Kamu harus terbiasa panggil mama ya, karna kamu kan sudah jadi mantu mama. Dan kamu akan tinggal di rumah mama." kata mama Elang.
"Tinggal di rumah mama, di rumah Elang?" kata nya seakan tak percaya.
"Iya nak, tinggal di rumah mama lah kan kamu istri Elang. Jelas dong tinggal serumah sama Elang." kata mama.
"Tapi.... " kata-kata Gea terhenti ketika oma datang.
"Iya dong Ge, mana ada anak perempuan yang tinggal di rumah nya. Jelas dong kamu ikut suami mu." kata oma.
"Awas nya memang berat nak, tapi nanti nya kamu akan terbiasa juga kok." kata mama nya juga ada.
__ADS_1
Baru saja hati nya merasa tenang sudah melewati masa kritis nya beberapa menit yang lalu. Eh, ternyata bukan melewati masa kritis yang tadi itu. Malahan ia masuk dalan masa sekarat nya sekarang.
Karna tadi ia merasa setelah akad nikah, ia akan merasa tenang. Eh malah penderitaan nya baru saja di mulai.
Membayang kan hidup serumah dengan Elang saja bagi nya sangat tidak mungkin. Apa lagi untuk membayang kan sekamar dengan manusia seperti Elang itu. Itu lebih tidak mungkin lagi bagi nya.
Apa kah bisa, ia dan Elang bersikap baik-baik saja. Padahal kenyataan yang sebenar nya malah sebalik nya.
"Bagai mana Ge, mau kan ikut mama pulang kerumah mama." kata mama Elang.
Ia melihat mama nya, mama menganguk kan kepala nya sambil tersenyum. Lalu, ia melihat pada kakak nya. Kakak nya juga setuju pada apa yang mama Elang kata kan.
Ia tidak punya pilihan lain, selain ikut mama mertua nya untuk pulang dan tinggal di sana.
"Gitu dong istri baik kan ikut suami nya." kata oma.
Dalan hati Gea berkata, jika bukan karna mama dan kakak nya. Ia tidak akan mau jadi apa yang oma nya ingin kan. Ia akan menentang keras apa yang oma nya mau.
Setelah acara pesta kecil-kecilan itu usai. Gea pun di bawa oleh mertua dan suami nya pulang kerumah suami nya.
Sesampai nya di rumah Elang, Gea merasa cukup kaget dengan gaya rumah Elang yang lebih mirip istana dari pada rumah.
__ADS_1
Halaman nya yang luas, lengkap dengan taman yang juga sangat luas di samping rumah nya. Ada pohon besar di tengah taman, dan juga terdapat ayunan di sana.
Sempurna untuk di kata kan sebagai rumah orang yang memiliki peringkat orang terkaya nomer satu di negara itu.
"Ini tempat tinggal kamu yang baru ya nak. Semoga kamu suka ya dengan suasana rumah ini." kata mama Elang.
"Iya, ma...rumah mama sangat cantik sekali ma." kata Gea.
Mama tersenyum, ia memang wanita yang lembut tapi sangat manja. Ia mama mertua yang baik. Tapi, Gea tidak ada mendengar papa Elang bicara pada nya. Papa Elang tidak ada mengeluar kan sepatah kata pun pada Gea.
Sejak pertama ia bertemu, sampai Gea sudah menjadi istri dari Elang anak nya. Papa Elang tidak pernah mengajak nya bicara. Entah apa yang sebenar nya terjadi dengan papa Elang itu, Gea pun tidak mengerti.
"Ayo Ge masuk, barang-barang mu biar kan aja pelayan yang membawa kan nya nanti." kata mama pada Gea.
"Lang, bawa Gea kekamar mu ya." kata mama pada Elang yang berada di depan mama dan Gea.
"Kamar ku ma, kan kamar rumah kita masih banyak ma." kata Elang seakan menolak.
"Lang.... " kata mama sambil menatap nya.
"Iya ma, kekamar ku aja." kata Elang.
__ADS_1
"Ikut sama Elang Ge, kamu pasti mau istirahat kan nak." kata mama.
"Baik ma," kata nya sambil ikut suami nya dari belakang.