
Gea telah berada durumah sakit sekarang. Ia dilarikan kerumah sakit beberapa saat yang lalu. Ia mengalami tanda-tanda ingin melahirkan yang seperti biasa para ibu hamil perlihatkan.
Semua keluarga sedang berkumpul dirumah sakit saat ini. Bukan hanya keluarga, teman Gea juga ada disana. Rumah sakit itu terlihat sangat ramai hanya karna Gea melahirkan. Mereka tidak ada yang mau tinggal dirumah. Semuanya mau ikut melihat dan mendoakan Gea di sana.
Semua terlihat sangat cemas menanti peroses kelahiran anak pertama Gea dan Elang. Mereka sibuk berdoa agar Gea dan bayinya selamat. Sedangkan Elang, ia sedang berada dikamar untuk menemani Gea melahirkan anak mereka.
Satu jam lamanya, mereka semaikin cemas dengan keadaan didalam ruang bersalin itu. Mungkin karna berkat doa orang tua dan semua yang ada di sana. Tidak lama, terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan bersalin itu. Semuanya merasa sedikit lega, namun belum bisa dikatakan nenar-benar lega. Karna Gea dan yang lainnya belum keluar dari kamar bersalin itu.
Setengah jarang beberapa menit kemudian, mereka mendengarkan suara bayi yang bersambut-sambut dari kamar bersalin itu.
"Ma, apa telingga aku yang salah. Aku dengar ada dua bayi menangis didalam sana," kata papa Gea pada oma.
"Yang benar saja kamu, masa iya ada dua bayi menangis," kata oma.
"Iya oma, aku juga mendengarkan suara bayi menangis bersambut-sambut. Aku yakin itu bukan suara gemaan saja," kata Dewa dengan wajah berbinarnya.
Semua yang ada di sana satu persatu mencoba mendengarkan suara bayi itu dengan tenang. Namun, karna suara berisik dari rumah sakit. Mereka tidak bisa mendengarkan dengan jelas suara tangisan itu.
Mereka hanya bisa menunggu orang yang ada didalam ruangan bersalin itu segera keluar. Agar mereka bisa tahu, apakah anak yang ada didalam sana kembar atau hanya pendengaran mereka saja yang salah.
Setelah tiga puluh menit lamanya mereka menunggu dengan sangat tidak sabaran. Akhirnya, pintu kamar bersalin itu pun terbuka juga. Mereka dengan tidak sabarnya menghampiri dokter yang keluar pertama kali sambil membawa satu bayi laki-laki digendongannya.
"Dokter, bagaimana keadaan ibunya Dok?"
"Anaknya bagaimana Dok?"
Satu persatu pertanyaan mereka lontarkan pada dokter itu. Dengan tenang, dokter itu menjawab satu persatu pertanyaan yang keluarga Gea lontarkan.
"Ibunya baik-baik saja, karna kesehatannya saat hamil begitu terjaga. Sedangkan anaknya, ia anaknya juga baik-baik saja dan sangat sehat."
"Anaknya berjenis jelamin laki-laki dan iya, anaknya kembar," kata dokter menjelaskan.
__ADS_1
"Kami harus permisi dulu, agar bisa memindahkan pasien keruang rawat. Harap beri jalan agar kami bisa lewat. Jika ada pertanyaan, bisa bertemu saya nanti," jata dokter itu dengan cepat.
Benar saja, saat dokternya dapat jalan keluar. Mereka pun membawa Gea pindah kekamar rawat. Gea terlihat masih sangat lemah.
Sedangkan satu bayinya berada digendongan suster yang berjalan keluar setelah mereka mendorong Gea keluar. Dan Elang juga menyusul Gea dari belakang.
"Lang, anak kalian kembar?" kata mama sangat bahagia.
"Iya mah, cucu mama kembar. Dan jenis kelaminnya laki-laki keduanya."
"Ya ampun, oma gak tahu harus bilang apa lagi saat ini. Kamu memang papa muda yang terbaik, dan cucu pilihan," kata oma.
Semua yang ada di sana sangat amat bahagia. Mereka tak henti-henti bersyukur karna telah menyelamatkan Gea dan bayinya. Mereka sangat bersyujuk pada yang maha kuasa karna telah membantu Gea melahirkan secara normal walau ia punya anak kembar.
Mereka kini sudah berada didalam kamar rawat Gea. Gea terlihat baik-baik saja walaupun ia baru melahirkan bayi kembar.
"Selamat ya sayang, bayi kembar kamu tampan sekali nak," kata mama mertuanya.
"Sayang, cicit oma ini mau dikasih nama siapa yah? Apa kalian berdua sudah punya nama untuk diberikan?" kata oma sambil menggendong salah satu cicitnya.
"Iya Ge, Lang. Apa kalian sudah punya nama untuk bayi tampan ini?" kata papa Elang, ia juga sedang menggendong bayinya Gea.
"Aku gak punya pa, oma. Tapi gak tahu kalau Elang nya udah punya nama atau belum," kata Gea sambil melihat Elang yang sedang membelai rambutnya.
"Hmz ... aku sih punya dua nama yang aku suka. Namun gak tahu kamu setuju apa ngak," kata Elang.
"Siapa namanya, coba katakan. Biar aku yang bantu memikirkan nama itu cocok atau tidak buat dua jagoanku ini," kata Dewa yang menyambut pertanyaan Elang buat Gea.
"Iya Lang, coba kamu utarakan namanya. Jangan aja namanya langit dan bumi atau air dan api, mungkin akan terdengar baik," kata Rika ikut bicara.
"Iya sayang, siapa sih nama yang kamu punya buat anak kita," kata Gea.
__ADS_1
"Gimana kalau namanya, Adnan dan Adrian. Adnan itu punya arti kesenangan, sedangkan Adrian adalah pemberani. Bagaimana?" kata Elang.
"Iya, aku setuju dengan nama itu. Adnan kesenangan, yang artinya, kita sangat senang saat ia terlahir didunia ini. Sedangkan Adrian, kita berharap ia jadi anak yang sangat berani. Bagaimana menurut kamu Ge?" kata kak Dewa dengan bahagianya.
"Aku mah setuju aja, tapi gaj tahu para sesepuh yang sedang sibuk sama bayiku itu. Mereka gak perduli sama namanya, aku lihat mereka sangat seneng berebut untuk menggendongnya," kata Gea.
"Kita mah setuju aja sayang, apapun namanya, yang pentung kalian senang," kata mama Elang yang sibuk sama bayinya. Karna saat ini, giliran ia menggendong sang bayi.
"Oma juga setuju aja, namanya bagus. Yang oma pegang ini, namanya Adrian. Ia memiliki satu tahi lalat kecil dibibirnya," kata oma sibuk memperhatikan bayi itu sejak tadi.
"Berarti, yang mama pengang itu adalah Adnan yah," ucap Elang.
"Iya deh, yang punya mama ini namanya Adnan. Mama lihat, ia punya lesung pipi disalah satu pipinya. Tepatnya, di pipi kiri Adnan."
"Wah, mudah juga membedakan mana Adnan dan yang mana Adrian yah. Ternyata ia punya tandanya masing-masing," kata Dewa.
"Tapi dari tadi sampai sekarang, kita belum dapat giliran buat megang itu bayi," kata Rika.
"Jangankan kalian, mama aja belum dapat giliran buat pegang cucu mama," kata mama Gea.
"Kasihan amat sih ma," ucap Gea.
"Yah, kamu kasihan sama siapa sayang. Sama mereka apa sama kita sih, orang kita juga beluk kebagian buat gendong bayi kita," ucap Elang.
"Eh iya, mama lupa kalau kalian berdua belum dapat giliran gendong bayinya," kata mama Elang sambil menyerahkan bayi itu pada Elang.
"Dasar anak ini, gendong bayinya yang bener dong Lang," kata mama sambil mengajrkan anaknya buat gendong bayi.
"Yah mama, orang baru pertama gendong juga."
"Pertama apanya, yang adzanin bayi kamu tadi siapa dong kalo ini yang pertama," ucap mama kesal.
__ADS_1
"Itukan lain mah, bukan gendong tadi itu mah."