
Tomi kasih tahu rencana minggu ini mau ke rumahnya Dion, untuk jenguk Dion sekalian ke kantor karena Tomi mau cek apa saja yang sudah dikerjakan oleh Dion minggu ini.
"Intan, Minggu ini jadwal jalan jalan ke Rumah bang Dion , apa seneng bakal main ke rumah bang Dion?" Tanya Tomi sambil setir mobil menuju rumahnya, setelah jemput Intan dari rumahnya Sarah.
" Ke rumah bang Dion, ah Isengin bang Dion ah, mumpung pas dirumahnya kan" Batin Intan yang selalu saja Isengin Dion, karena kegemaran Intan dan Dion selalu ledek satu dengan lainnya.
" Tentu mau dong papi, masa ketemu abang sendiri tidak seneng sih." Ucap Intan yang seneng ketemu Dion, lebih tepatnya ketemu untuk diisengin.
" Syukur lah kalo Intan seneng ketemu dengan bang Dion, mami takutnya tidak seneng karena kan kalian selalu saja berantem" Ucap Anggun yang takutnya Intan maalas ketemu dengan kaka nya.
" Masa ketemu dengan kaka sendiri malas sih bunda, tentu tidak dong mami, justru bahagia sekali, walaupun sering ledek tapi tetep sayang dengan abang sendiri kok." Lanjut Intan yang tidak pernah keberatan untuk ketemu dengan Dion.
" Persaudaraan kalian unik, tapi papi seneng walaupun saling iseng tapi tidak baper sama sekali" Lannjut Tomi yang merasa lega, karena anaknya tetep akur
" Iyah dong papi" Lanjut Intan, yang sering sebel dengan Dion, tapi tetep peduli, sayang, dan kangen dengan kaka laki laki saru satunya Intan miliki.
Dilain sisi, Gea melihat Fika nangis dalam kamarnya, langsung peluk Fika yang nangis sendirian didalam kamarnya.
" Ada apa Fika? Kok nangis sayang? apa yang Fika, fikirin sayang" Tanya Gea yang melepas pelukannya.
" Fika sedih saja melihat bunda dan papi tidak bisa berdamai seutuhnya, Fika ingin sekali melihat kalian akur menjadi suami istri lagi, mau melihat orang tua kandung Fika bersatu lagi tidak seperti sekarang bunda. pisah tapi tidak akur sebagai keluarga. " Ucap Fika sedih, kedua orang tua nya sudah bercerai tapi tidak bisa akur sama sekali.
__ADS_1
" Mana bisa Sayang, bunda sudah punya suami begitu juga dengan papi sudah punya istri tidak bisa ditinggalkan begitu saja sayang, maafkan bunda yang mengkhianati pernikahan bunda dan papi yang akhirnya membuat Fika seperti ini, tapi kita tidak bisa lagi bersatu sayang" Lannjut Gea yang sejujurnya tidak tega, melihat Fika yang sedih karena kedua orang tuanya bercerai.
Fika mendengar ucapan Gea, merasa kesel,kecewa dan sedih karena keegoisan Gea membuat Fika tidak punya orang tua utuh dan melihat kedua orang tuanya saling diam seperti tidak kenal sama sekali.
Dilain sisi, Dion setelah makan malam, memutuskan untuk siap siap baju untuk rapat besok dan baju untuk kuliah setelah rapat.
" Jas kebanggan harus yang keren supaya terlihat cool, jadi tidak sabar nunggu besok karena Tasya mulai magang besok." Ucap Dion yang langsung merapihkan baju untuk besok dipakai untuk ke kampus dan kerja.
....................................................................
Tomi melihat Intan dan Anggun masak pagi pagi, langsung menghampiri istri nya yang sibuk didapur.
" Iyah dong papi, sebentar lagi kan Intan lulus sekolah, bakal punya banyak kenalan cowok yang pasti bakal diajak nikah, jadi harus belajar masak, pas ada yang ajak nikah tapi tidak bisa masak kan malu nantinya papi tidak masuk kriteria menantu idaman." Ucap Intan optimis ada yang ajak nikah
" Anak mami sudah berfikir jauh yah sayang, boleh saja sih belajar masak dari sekarang." Ucap Anggun tidak menyangka jika Intan sudah berfikiran mau nikah
" Biarin dong mami, namanya juga anak perempuan. " Lanjut Intan, bangga dengan pemikirannya sendiri.
Intan, berharap bisa menikah muda, supaya disaat Intan harus kuliah dan kerja sudah punya suami yang bisa bantuin kerjaannya Intan.
Dilain sisi, Dion minta ART nya untuk beliin cemilan yang Dion inginkan, Dion memberikan list cemilan yang sudah dibuat semalam.
__ADS_1
" Bik, tolong beliin cemilan itu yah, terus masukin kedalam kamar saya yah, terus belanja untuk bahan masakan untuk saya makan yah bik" Ucap Dion memberikan list cemilan dan amplop berisi uang untuk belanja.
" Baik tuan muda, nanti saya belanja sesuai keinginan tuan muda." Ucap bik Nur pegang kertas dan amplop yang diberikan oleh Dion
" Yah sudah bik, saya berangkat kuliah dulu." Lanjut Dion langsung pergi, Dion melihat handphone nya, untuk melihat nama cafe yang akan dikunjungi Dion untuk rapat.
Dilain sisi, Tasya siapin tas lebih besar, untuk baju ganti selama magang nanti, baju formal yang sengaja Tasya beli kemarin.
" Kemeja dan sepatu pantofel sudah, buku untuk kuliah juga sudah. oke waktunya ke kampus dan siangnya magang." Ucap Tasya yang periksa barang bawaannya sebelum berangkat.
Dilain sisi, Fika bingung karena Gea sudah sering larang Fika beberes dan masak, Gea suruh Fika siap siap ke kampus dan santai sampai masakan selesai dibuat
" Fika mau ngapain di dapur sayang? ini masih pagi sayang? kenapa tidak tidur saja sayang?" Tanya Gea yang melihat Fika jalan masuk kedalam dapur.
" Fika mau bantu bunda masak, bunda kenapa tidak pernah lagi mau Fika bantu lagi? beberes rumah tidak boleh dan masak juga tidak boleh?" Tanya Fika heran dengan perubahan sikapnya Gea yang menurut Fika aneh
" Fika kan sudah sibuk kuliah dan kerja, bunda tidak mau membuat Fika sibuk bantuin bunda beberes sayang." Lanjut Gea yang tidak ingin kasih tahu alasan sebenernya, karena tidak ingin membuat Fika marah dengan Tomi.
" Sesibuk apapun Fika, masa tidak bisa bantuin orang tua sama sekali sih." Lanjut Fika sedih karena Gea tidak lagi mengijinkan Fika bantuin pekerjaan rumah sama sekali.
" Tidak masalah sayang, sudah sekarang Fika siap siap ke kampus yah sayang dan bunda tidak masalah kok kerjain semuangm
__ADS_1