
“Sayang, apakah kau tau. Semalam tanpamu rasanya bagaikan malam yang tak berujung.” Joe tersenyum seraya menyempilkan rambut Tania di belakang telinga nya.
Sementara Tania mulai menarik selimut nya, menutupi tubuhnya. Dari ujung kaki, hingga leher, menyisakan kepalanya saja yang menonjol keatas.
“Hmm,” Tania tersenyum lemah. “Jika kau tak ingin melewatkan lagi malam mu sendirian di kamar itu. Maka berjanjilah untuk tak tergoda dengan wanita manapun, dan menampik mereka saat berusaha mendekatimu.” Ujar Tania seraya menatap sayu.
“Ya, aku berjanji akan menolak semuanya. Aku berjanji, mulai sekarang tak kana da satupun wanita yang boleh menyentuhku kecuali kau, Tania, istriku.” Di tatap nya wajah Tania, lalu kini di kecup nya kening Tania dengan lembut.
“Jangan cuma janji, namun perlihatkan juga bukti.” Tegas Tania menatap penuh harap.
“Ya, pasti.” Joe mengangguk seraya tersenyum hangat.
Semoga saja apa yang di katakan Joe benar adanya. Kedepan nya, dia akan lebih menjaga sikap nya dalam setiap bertemu dengan wanita.
Harap Tania.
Tania menundukkan pandangan nya, ingin memejamkan matanya. Pertempuran tadi sungguh melelahkan nya. Tubuh nya serasa letih ingin segera beristirahat. Namun saat Tania baru saja memejamkan matanya, Joe yang merasa masih belum puas, kini kembali menarik selimut Tania, menyingkap nya dan menjatuhkan nya ke lantai.
“Joe!” reflek Tania tersadar.
Di tutupinya tubuh polos nya, yang kini terpampang nyata disana. Namun, hanya bagian dadanya saja yang berhasil ia tutupi dengan kedua tangan nya. Sementara yang lainnya, Joe masih bisa menikmati nya dengan bebas. Bekas merah hasil karya nya ada dimana-mana, hal itu membuat semangat Joe semakin menggebu dan terpacu untuk kembali melaksanakan tugas nya. Menafkahi Tania secara “Batin”.
“Sayang, sekali lagi ya.” bisik Joe di sertai hembusan nafas nya yang menggebu, membuat Tania seketika merinding karena nya.
“Ta….”
“Cup!”
Belum sempat Tania mengucapkan kalimat nya, bibir nya kini sudah kembali di sergah oleh Joe yang membuatnya tak bisa berkata apa-apa. Ya, Joe sudah membungkam mulut Tania dengan bibir nya. Tangan nya pun juga sudah menjalar entah kemana, membuat Tania yang awalnya ingin menolak kini sudah tak kuasa melawan.
Dan akhirnya malam itu, Joe kembali mendapatkan apa yang di inginkan nya. Hingga akhirnya, pada waktu dini hari Joe dan Tania terlelap bersama dengan posisi tangan yang saling merangkul satu sama lain.
***
Hari-hari berikutnya, hubungan di antara Tania dan Joe semakin mesra. Keseriusan Joe tentang kesetiaan yang dia janjikan kepada Tania terlihat terealisasi seperti ucapan nya. Meskipun sedikit berat, namun Joe tetap berusaha dengan keras untuk menampik setiap godaan yang ada.
Salah satunya, ia menyuruh para staff yang berhubungan langsung dengan nya wajib berpakaian tertutup. Dengan tidak menonjolkan bagian dada dan juga paha mereka. Hal itu Joe lakukan agar bisa menahan matanya tatkala Joe berhadapan langsung dengan mereka.
Ya, meskipun Joe tak pernah bermain dengan staff nya itu. Namun, matanya kerap kali mencuri pandang kearah mereka yang seolah sengaja memerkan aurat mereka di depan Joe, berusaha menarik perhatian nya. Ya, layak nya wanita pada umum nya lah. Yang mengharapkan pria kaya, jatuh cinta kepada dirinya.
Siang itu Angeline kembali datang menghampiri Joe di kantor nya. Bergaya bak model majalah dewasa, dengan pakaian seksi yang memamerkan dadanya. Serta paha mulus yang di obral begitu saja, Angeline melangkah masuk kedalam ruangan Joe begitu saja.
__ADS_1
“Tania.” lirih nya saat melihat Tania yang sedang berdiri disana, memijat pundak Joe.
Tania menoleh, seraya tersenyum.
“Joe, apakah dia klien kita?” bertanya kepada Joe seraya memeluk nya dari belakang. Memamerkan kemesraan nya sekarang.
“Bukan.” Jawab Joe tegas, tanpa menoleh sedikit pun keara Angeline.
Sial! Berani-berani nya mereka memperlakukan seperti ini.
Namun Angeline tak putus asa.
“Hai Joe,” Angeline tersenyum, meredam segala emosi yang ada.
“Ada apa Ngel? Katakana saja.” Berkata tanpa menoleh, Joe memilih sibuk dengan pekerjaan nya.
“Aku kesini mau ngajak kalian makan siang. Sudah lama kan kita nggak pernah lunch bareng.” Ucap Angeline sedikit kaku.
Ya, karena bukan kalian yang seharus nya di ucapkan Angeline. Melainkan nama Joe seorang.
“Kami berdua maksud mu?” Joe sekarang mulai menatap kearah Angeline.
“Ya, tentu saja.” Terpaksa menyunggingkan senyum dengan tulus.
“Bagaimana sayang, apa kau setuju?” tanya Joe yang kini mulai menengadahkan kepalanya, menatap Tania yang masih berdiri di belakang nya.
“Boleh saja, lagian nggak enak juga kan menolak ajakan teman lama. Oya, bukan teman lama ku, tapi teman lama mu sayang.” Tania tersenyum tipis, kearah Joe lalu sesaat kemudian melirik karah Angeline. Seolah melempar ejekan kepadanya.
Tania, wanita ******. Lihat saja, sampai kapan kau bisa bersikap begitu sombong di depan ku.
Angeline mengepalkan tangan nya, namun tetap tersenyum kearah Tania.
“Hmm, baiklah. Jika kau setuju siang ini kita makan siang bersama ya.” Joe tersenyum kearah Tania, sementara Angeline seolah seperti terabaikan sekarang.
Siang itu, atas persetujuan Tania, mereka bertiga akhirnya pergi makan siang bersama di sebuah restoran ternama di Ibukota. Mereka duduk di meja Vip yang di khususkan hanya bagi kaum elit yang mempunyai kartu khusus kaum elit.
Tania duduk di samping Joe, sementara Angeline duduk berhadapan langsung dengan mereka. Menatap keduanya, dengan tatapan penuh amarah karena kemesraan yang mereka tunjukkan.
Sial! Benar-benar seperti jualan kacang aku sekarang.
Desah Angelline.
__ADS_1
Pelayan tiba, membawakan buku menu di tangan nya. Mereka ada dua orang dengan masing-masing buku menu di tangan nya. Senyum ramah mereka sunggingkan seraya menyerahkan buku menu yang mereka bawa.
“Silahkan, Tuan dan Nyonya memesan makanan yang Anda suka.” Kedua pelayan itu secara bersamaan dengan hormat membungkukkan badan, di depan mereka.
Joe mengambil buku menu yang di serahkan pelayan, lalu menunjukkan nya kepada Tania. begitupula dengan Angeline yang ikut mengambil buku menu itu. Ia lalu mulai membukanya dan melirik isi daftar yang ada disana.
“Joe, boleh ku pesankan makanan untukmu?” tanya Angeline seraya menatap kearah Joe.
“Sayang, apa yang ingin kau makan sekarang?” Joe terlihat sibuk dengan Tania, sehingga sama sekali tak mengindahkan pertanyaan Angeline.
“Apa ya? Emm,” terlihat Tania mulai memikirkan sesuatu.
“Joe, aku pesankan kau Wagyu Beef burger ya?” tanya Angeline, karena itu salah satu makanan kesukaan Joe saat masih menempuh pendidikan bersamanya dulu.
“Sayang, bagaimana dengan yang ini. Ini salah satu menu favorit di restoran ini loh.” Tunjuk Joe kearah buku menu yang di pegang nya kepada Tania. Lagi-lagi sama sekali tak mengindahkan pertanyaan yang di ajukan Angeline tadi. Yang membuat kedua pelayan itu menahan senyum disana.
Angeline merasa jika saat ini kedua pelayan itu seolah ingin tersenyum sekarang. Hingga membuatnya melirik kearah kedua pelayan itu. Di tahan nya emosinya disana, berusaha menjaga cintra nya di depan Joe. Tak ingin jika pria yang tengah jadi incaran nya tak respect lagi padanya.
Joe sialan! Bisa-bisa nya dia mengacuhkanku di depan kedua pelayan ini.
Angeline memilih mengumpat di dalam hati sekarang.
“Hmm, enggak deh. Aku pesan yang ini saja, Lobster Thermidor dan Gnocchi Parisienne.” Tunjuk Tania kearah menu yang menyajikan Lobster dan juga jamur Fricassee itu.
“Hmm, baiklah.” Joe mengangguk setuju. Lalu kini ia memalingkan wajah nya kearah pelayang yang ada di sebelah nya. “Mba, saya pesan Lobster Thermidor, Gnocchi Parisienne, Wagyu Beef Brochette ya. Terus minuman nya,” Joe lalu kembali memalingkan wajah kearah Tania, mencari jawaban darinya.
Sepertinya Joe sama sekali tak perduli dengan keberadaan Angeline saat ini disana.
“Minuman nya saya pesan Es teh Manis aja ya Mba, plus nasi putih nya.” Ucap Tania sembari tersenyum. Yang membuat kedua pelayang yang ada disana membelalakkan matanya, lalu sedetik kemudian ikut tersenyum karena nya.
“Sayang, disini banyak menu minuman yang segar-segar loh.” Timpal Joe.
“Ya, memang. Tapi sekarang aku lagi ingin minum Es Teh Manis, jadi nggak apa-apa kan?!” Ujar Tania. “Oya Mba, jangan lupa segelas air putih ya.” pintanya lagi kepada pelayan yang ada disana.
“Baik Nyonya,” Pelayan tersebut kini telah mencatat semuanya, menu makanan yang di inginkan Tania.
Joe menggelengkan kepalanya. Gadis nya ini memang berbeda dengan wanita lainnya. Tak perduli di manapun dia berada, Tania selalu menjadi dirinya sendiri.
Dasar wanita kampung! Bisa-bisanya makan di restoran minum nya Es Teh Manis.
Angeline menggelengkan kepalanya, tak habis fikir dengan Tania.
__ADS_1
TBC.