
Joe, kembali meraba. Mengusap pelan pucuk kepala Tania. Membelainya lembut, penuh kasih sayang. Tapi, lagi-lagi perbuatannya itu membuat Tania berang. “Singkirkan tangan kotormu itu Joe!” suara Tania berseru. Matanya,
menatap tajam. Dengan lingkaran kelopak yang terbuka lebar. Tania, membelalak seraya menepis kembali tangan Joe.
Joe, mengerutkan dahinya. Merasa aneh dengan sikap Tania.
Haruskah ia bersikap hingga seperti ini?
Pertanyaan itu terlintas di benak Joe.
“Sayang, kenapa kau bersikap seperti ini kepadaku? Bukankah, aku sudah meminta maaf kepadamu?” tanya Joe. Suaranya, terdengar begitu lembut, bahkan bisa di bilang sangat lembut.
“Maaf? Apa kau fikir, maaf mu itu bisa mengembalikan kepercayaanku?” tanya Tania, yang tak bergeming di tempatnya. Pun matanya menatap sinis kearah Joe.
“Kepercayaan? Apa maksudmu?” tanya Joe tak mengerti.
“Jangan bertingkah sok polos didepan’ku.” lirih Tania, sambil menatap lurus kedepan. Bola matanya, terlihat berkaca-kaca.
Melihat wajah, Joe. Membuat fikirannya seketika melayang. Imajinasi, membayangkan bagaimana asiknya wajah itu saat menyantap makanan lain di luar.
Joe, masih tak mengerti. Sok polos? Apa maksudnya? Pertanyaan itu kembali lewat. Joe, merasa saat ini dia sedang tidak berakting. Memasang wajah sok polos seperti yang di katakan, Tania. Apa yang dilakukannya juga apa yang di ucapkan, semuanya tulus berdasarkan dari hati.
Namun, kini, mendengar hal itu. Membuat, Joe, hampir tidak sabaran. Egonya berkumpul menjadi satu, saat kelembutan, dan juga ketulusan yang telah ia tunjukkan tak kunjung mendapatkan respon yang baik. Tapi, Joe, kembali menahannya. Mengingat, jika itu adalah kesalahannya, dan juga jika dilihat dari kondisi saat ini. Tania, sangat lemah. Raut wajahnya, juga terlihat seperti orang depresi, seolah menahan beratnya beban kehidupan. Belum lagi, dengan kehamilannya. Jika ditambah lagi dengan amarahnya, Joe, takut. Jika itu akan berujung tak baik bagi Tania.
Kembali, Joe, menepis segala ego yang ada. Hanya, demi Tania, wanita yang di cintainya.
“Sayang… bukankah wajahku ini memang polos, imut, dan lucu.” canda Joe. Terdengar garing, berusaha agar Tania tersenyum. Namun, sayangnya hal itu malah semakin membuat Tania berang. Hal itu, terlihat sangat jelas, dari ekspresi wajah yang Tania yang terlihat semakin suram.
__ADS_1
Joe, tak berputus asa. Diulurkan kembali tangannya, hendak memegang permukaan halus telapak tangan, Tania. Menggenggamnya dengan erat. Penuh cinta, dan juga kasihsayang. Tapi, lagi-lagi, Tania, menepisnya. Bahkan kini, ia mulai menunjukkan kemurkaan yang sesungguhnya.
“Joe! berapa kali harus kuingatkan, jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku!!!” Tania memekik, hingga menggema keseluruh isi ruangan.
Joe, tertegun. Terpaku, dengan mata yang menyipit di tempatnya. “Tania, kau..”
“Menyingkirlah dariku Joe… aku merasa jijik denganmu. Sangat jijik, bahkan amat-sangat jijik.” lirih Tania, dengan tubuh yang meringkuk, menunduk, membelakangi Joe. “Hiks…..” tangis tak terbendung. Airmata, kini mengalir membasahi bantal tempat bersandarnya kepala. Di tariknya, selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Tania, membenamkan diri disana.
Joe, semakin tak mengerti. Sebenarnya, apa yang telah terjadi? Mungkinkah, itu ada hubungannya dengan perlakuan kasarnya tadi malam? Joe, mengerutkan dahinya. Benaknya seolah penuh, dengan berbagai pertanyaan
yang menganggu. Sikap Tania, membuatnya semakin tak mengerti.
“Kau, jijik melihatku?” tanya Joe, dengan suara dingin. Posisinya masih duduk di tempat semula.
Tania, tak menjawab. Hanya meringkuk, di balik selimut dengan isak yang terdengar.
“Ya, aku jijik. Sangat jijik, dengan lelaki yang hanya memikirkan bagian bawahnya saja. Yang selalu berhasrat, bahkan setelah ia menyalurkan hasrat. Berjanji untuk setia, tapi setelahnya, ia mengingkarinya!” tekan Tania, dengan mata yang memicing menatap kearah Joe.
“Kau!” Joe, mengepalkan tangan. “Jika masalah hasrat. Ya, aku tau jika aku sangat buruk dalam mengendalikan hal itu.” lirih Joe. “Tapi, jika soal setia. Aku, merasa jika selama ini aku sangat setia kepadamu.” ujar Joe.
“Setia, hah!” Tania, memalingkan muka. “Baru saja kau menaiki tubuhku. Mengatakan, cinta kepadaku. Lalu, setelah aku terbaring disampingmu. Kau, dengan cepat mencari wanita lain. Memposisikannya, sama persis sepertiku. Lalu, apa itu bisa disebut setia?” tanya Tania. “Dan bahkan, setelah kau selesai dengannya. Kau, kembali lagi kepadaku dengan barang murahanmu itu, dan kembali melakukannya denganku. Sungguh, kau sangat gila Joe. Sehingga membuatku jijik, hanya saat membayangkan wajahmu.” jelas Tania.
“Tania, apa yang kau katakan? Aku sungguh tidak mengerti.” Joe menatap tajam.
“Tadi malam. Setelah selesai denganku, kau keluar untuk menlanjutkannya dengan wanita lain kan!” seru Tania.
“Apa,” Joe, semakin tak mengerti.
__ADS_1
“Aku menelfonmu beberapa kali, tapi tidak ada yang menjawab. Lalu, saat ada jawaban. Sialnya, aku malah mendengar, hal yang begitu menjijikkan. Desahan erotis yang begitu nikmat, seakan-akan ingin segera klimaks, membu—“ Tania, memutuskan kalimatnya. Ia tak sanggup meneruskan, bayangan percintaan yang ada di benaknya.
“Joe, kau berengsek! sangat berengsek! aku benci padamu!” seru Tania, dengan tangan yang memukul keras otot-otot kekar yang ada didepannya.
Joe, hanya diam, menerima setiap hentakan keras yang mendarat di tubuhnya. Sekarang, ia sudah mengerti tentang apa yang sedang terjadi. Ingatannya, akan ponsel yang di letakkan dimeja ruang tamu Katty, serta beberapa panggilan setelahnya. Joe, yakin. Jika itu adalah Katty, yang melakukannya.
“Tania, aku bisa menjelaskannya. Suara itu, semuanya sama sekali tidak sama seperti yang kau fikirkan.” ujar Joe, berusaha menjelaskan.
“Tidak sama,” Tania menyipit. “Apa kau fikir jika aku ini bodoh?”
“Bukan, bukan itu maksudku. Ceritanya panjang, aku bisa menjelaskannya.” tutur Joe.
“Panjang, heh! Sayangnya, aku sama sekali tak berminat untuk mendengarnya.” lirih Tania.
Ya, Tuhan… apa yang harus aku katakan kepada Tania? Bagaimana aku harus menjelaskan, jika malam itu aku sama sekali tak melakukan hal itu. Bahkan saat obat itu mulai bekerja, aku dengan buru-buru pulang kerumah hanya untuk melakukan hal itu dengannya.
Batin Joe.
Situasi yang sedang pelik, membuat Joe sungguh kesulitan untuk menjelaskan. Itu memang salahnya. Tak seharusnya, Joe nekat meninggalkan Tania tengah malam. Ditambah lagi, ia melakukan itu untuk menemui Katty.
Meskipun, nyatanya, Joe, berniat untuk membantu. Tapi, apakah Tania akan percaya. Ditambah lagi, dengan suara yang Katty perdengarkan.
Tangan Joe, mengepal. Merasa geram, karena Katty yang telah menjebaknya. Joe, kemudian memutuskan untuk bangkit dari duduknya. “Aku, akan menjelaskan semuanya. Tapi, tidak sekarang.” kata Joe.
“Sekarang, ataupun nanti. Aku juga tak ingin mendengarkan.” sambut Tania.
Joe, diam tak menjawab. Dihelanya nafas dengan kasar, sembari menatap tajam. Lalu kini, ia membalikkan badannya, hendak meninggalkan tempat itu. Namun, sesaat kemudian, Joe, kembali menoleh. “Disana ada makanan yang di bawakan Mirna. Jika kau sayang kepada bayimu, makanlah. Jika tiak, biarkanlah. Nanti aku akan menyuruh Mirna untuk membereskannya.” Joe, kembali beralih. Meninggalkan kamarnya, tak memberikan sedikitpun kesempatan untuk Tania menjawabnya.
__ADS_1
TBC.