
Beberapa hari kemudian.
Pagi itu.
Mentari bersinar terang seperti biasanya. Cahayanya
membangkitkan semangat untuk melakukan segala aktivitas yang ada di luar sana.
Di sana di depan sebuah cermin, terlihat sosok Joenathan sedang mengancingkan
kemejanya, bersiap-siap ke kantornya.
Tania, yang tadinya duduk dengan santai di atas ranjang
dengan sebuah remote di tangannya, kini memilih bangkit dari tempat nya dan
berjalan menghampiri Joenathan.
“Sayang, sini biar aku saja,” Tania dengan cepat mengambil
alih, merapikan kemeja Joenathan dengan tangannya.
Joenathan lantas berdiri tegak, membiarkan Tania merapikan
pakaiannya.
“Makasih ya sayang,” mengecup kening Tania dengan lembut.
“Sama-sama, lagipula ini memang sudah tugasku,” Tania
mengedipkan kedua matanya, menatap manja ke arah Joenathan.
“Istriku memang yang terbaik!”
Cup!
Kembali mengecup dahi Tania dengan lembut.
Sebuah dasi kini sudah terpasang rapi, jas berwarna hitam
juga telah Tania kenakan di tubuh Joenathan, tinggal sepasang sepatu yang belum
terpakaikan. Tania lantas membalikkan tubuhnya beralih ke arah lemari sepatu
yang masih terletak di ruangan yang sama, tinggal menggeser pintu kaca yang ada
di sana, lalu sampailah di ruangan yang di penuhi berbagai macam sepatu dan
juga tas.
Tania mengambil salah satu sepatu yang ada di sana, sepatu
kulit berwarna hitam salah satu favorit Joenathan yang di belinya saat pergi
berbulan madu di paris.
Setelah menutup kembali pintu yang terbuat dari kaca itu,
Tania kini lantas beralih menuju ke arah Joenathan yang saat ini terlihat duduk
di sofa. Ia terlihat memainkan ponselnya, dengan raut wajah serius.
“Sayang, ini sepatunya,” ujar Tania yang saat ini sudah
berdiri di depan Joenathan.
__ADS_1
Joe, mengambilnya dengan sebuah senyuman yang terlontarkan.
“Terima kasih sayangku,” timpalnya.
“Sama-sama,” balas Tania. “Sini, biar aku yang pakaikan!”
serunya dengan tubuh yang kini sudah berjongkok di depan Joenathan.
“Sayang, tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri,” Joe
tak tega. Bagaimana bisa ia membiarkan Tania berjongkok di depannya dengan
perut yang sudah membesar seperti itu.
“Tidak apa-apa, karena ini sudah tugasku. Aku istrimu, sudah
kewajibanku melakukan ini semua,” timpal Tania.
“Iya, aku tau, tapi sekarang perutmu sudah semakin membesar,
kau tidak boleh kelelahan, jadi aku tidak akan membiarkanmu melakukannya
untukku,” kedua tangan Joenathan saat ini sudah melekat di bahu Tania.
Mendengar apa yang diucapkan Joenathan, membuat Tania
menghela napas dengan kasar.
“Hmm, baiklah,” Tania melepaskan sepatu yang saat ini sudah
di tangan. “Sekarang aku mau tanya, apa kau mencintaiku?” tatapnya serius.
“Tentu saja! tentu saja aku sangat mencintaimu sayang,”
“Kalau begitu, kau tidak akan menolakku untuk berbakti
kepadamu,” tukas Tania seraya kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ucapan bakti yang saat itu disebutkan oleh Tania, membuat
Joenathan tak dapat lagi menolak. Ia hanya bisa pasrah melihat sang istri yang
saat ini memakaikan sepatu di kakinya, menatapnya dengan teduh sembari mengusap
lembut pucuk kepalanya.
Terima kasih ya Tuhan, telah kau berikan sosok bidadari
tanpa sayap ini untukku. Aku berjanji, kelak akan selalu membahagiakannya di
sepanjang hidup ku.
Batin Joenathan.
Di depan teras.
Terlihat, Tania kembali merapikan dasi yang saat ini sudah
terpasang di antara kerah kemeja Joenathan. Setelah dipastikan telah rapi,
sebuah tas hitam yang tadi Tania letakkan di meja kecil yang ada di sana,
lantas kembali diraihnya, dan diserahkannya kepada Joenathan.
“Sayang hati-hati ya di jalan,” ucap Tania setelah menyalim
__ADS_1
tangan suaminya.
“Ya, kau juga,” jemari Joenathan mengelus lembut pundak
Tania.
Tania pun mengangguk mengerti dengan apa yang didengarnya.
Setelah kembali mendaratkan sebuah kecupan di dahi Tania,
Joenathan lantas berbalik pergi menuju ke arah mobil. Namun, balum lagi sampai
di sana, ia kemudian kembali menghampiri Tania.
“Sayang, kok balik lagi?” tanya Tania heran.
“Iya, aku tadi lupa untuk bilang suatu hal. Nanti malam kita
akan pergi ke acara ulang tahun perusahaan Vydrick.”
“Perusahaan Vydrick? Apakah itu perusahaannya Kak Sam?”
“Ya, perusahaannya Sam,” Joe mengangguk. “Sebagai partner
bisnis, aku sebagai pemilik dari Alexandre Group harus datang memenuhi
undangannya,” jelas Joenathan.
“Tapi, bukankah selama ini kau tidak suka hadir dalam acara
seperti itu? Bayu yang selalu menggantikanmu bukan?” tanya Tania.
“Ya, kau benar. selama ini Bayu yang selalu pergi ke acara
seperti itu, menggantikanku di sana,” ujar Joenathan. “Namun, beberapa bulan
belakangan ini sikap Bayu berubah. Ia terlihat kurang bersemangat setiap
harinya, sering termenung sendiri dan terkadang suka abai akan tugasnya.”
“Oya, kok bisa?!” Tania terkejut, tak menyangka dengan apa
yang baru saja didengarnya. “Bukankah Bayu itu tipe orang pekerja keras? Selama
ini ia selalu mengerjakan semuanya dengan baik kan? Bahkan di saat kau sendiri
abai akan tugasmu, dialah yang selalu mengingatkanmu dan juga membenahi seluruh
tugasmu?”
“Ya, kau benar. tapi itu dulu, sekarang Bayu sudah tidak
lagi seperti itu. semenjak Wulan sahabatmu itu tidak lagi bekerja di
perusahaanku. Sikap Bayu tiba-tiba saja berubah, dia sering termenung saat
bekerja dan selalu tidak fokus dengan apa yang dikerjakannya. Sepertinya,
sahabatmu itu memiliki tempat yang special di hatinya, terlebih lagi tentang
alasan Wulan mengundurkan diri dari perusahaan, itu semua karena Bayu, sehingga
kini Bayu sendiri merasa bersalah sekaligus menyesal akan tindakan yang
dilakukannya itu,” jelas Joenathan dengan kalimatnya yang panjang.
__ADS_1