CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 200


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Pagi itu.


Mentari bersinar terang seperti biasanya. Cahayanya


membangkitkan semangat untuk melakukan segala aktivitas yang ada di luar sana.


Di sana di depan sebuah cermin, terlihat sosok Joenathan sedang mengancingkan


kemejanya, bersiap-siap ke kantornya.


Tania, yang tadinya duduk dengan santai di atas ranjang


dengan sebuah remote di tangannya, kini memilih bangkit dari tempat nya dan


berjalan menghampiri Joenathan.


“Sayang, sini biar aku saja,” Tania dengan cepat mengambil


alih, merapikan kemeja Joenathan dengan tangannya.


Joenathan lantas berdiri tegak, membiarkan Tania merapikan


pakaiannya.


“Makasih ya sayang,” mengecup kening Tania dengan lembut.


“Sama-sama, lagipula ini memang sudah tugasku,” Tania


mengedipkan kedua matanya, menatap manja ke arah Joenathan.


“Istriku memang yang terbaik!”


Cup!


Kembali mengecup dahi Tania dengan lembut.


Sebuah dasi kini sudah terpasang rapi, jas berwarna hitam


juga telah Tania kenakan di tubuh Joenathan, tinggal sepasang sepatu yang belum


terpakaikan. Tania lantas membalikkan tubuhnya beralih ke arah lemari sepatu


yang masih terletak di ruangan yang sama, tinggal menggeser pintu kaca yang ada


di sana, lalu sampailah di ruangan yang di penuhi berbagai macam sepatu dan


juga tas.


Tania mengambil salah satu sepatu yang ada di sana, sepatu


kulit berwarna hitam salah satu favorit Joenathan yang di belinya saat pergi


berbulan madu di paris.


Setelah menutup kembali pintu yang terbuat dari kaca itu,


Tania kini lantas beralih menuju ke arah Joenathan yang saat ini terlihat duduk


di sofa. Ia terlihat memainkan ponselnya, dengan raut wajah serius.


“Sayang, ini sepatunya,” ujar Tania yang saat ini sudah


berdiri di depan Joenathan.

__ADS_1


Joe, mengambilnya dengan sebuah senyuman yang terlontarkan.


“Terima kasih sayangku,” timpalnya.


“Sama-sama,” balas Tania. “Sini, biar aku yang pakaikan!”


serunya dengan tubuh yang kini sudah berjongkok di depan Joenathan.


“Sayang, tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri,” Joe


tak tega. Bagaimana bisa ia membiarkan Tania berjongkok di depannya dengan


perut yang sudah membesar seperti itu.


“Tidak apa-apa, karena ini sudah tugasku. Aku istrimu, sudah


kewajibanku melakukan ini semua,” timpal Tania.


“Iya, aku tau, tapi sekarang perutmu sudah semakin membesar,


kau tidak boleh kelelahan, jadi aku tidak akan membiarkanmu melakukannya


untukku,” kedua tangan Joenathan saat ini sudah melekat di bahu Tania.


Mendengar apa yang diucapkan Joenathan, membuat Tania


menghela napas dengan kasar.


“Hmm, baiklah,” Tania melepaskan sepatu yang saat ini sudah


di tangan. “Sekarang aku mau tanya, apa kau mencintaiku?” tatapnya serius.


“Tentu saja! tentu saja aku sangat mencintaimu sayang,”


“Kalau begitu, kau tidak akan menolakku untuk berbakti


kepadamu,” tukas Tania seraya kembali melanjutkan pekerjaannya.


Ucapan bakti yang saat itu disebutkan oleh Tania, membuat


Joenathan tak dapat lagi menolak. Ia hanya bisa pasrah melihat sang istri yang


saat ini memakaikan sepatu di kakinya, menatapnya dengan teduh sembari mengusap


lembut pucuk kepalanya.


Terima kasih ya Tuhan, telah kau berikan sosok bidadari


tanpa sayap ini untukku. Aku berjanji, kelak akan selalu membahagiakannya di


sepanjang hidup ku.


Batin Joenathan.


Di depan teras.


Terlihat, Tania kembali merapikan dasi yang saat ini sudah


terpasang di antara kerah kemeja Joenathan. Setelah dipastikan telah rapi,


sebuah tas hitam yang tadi Tania letakkan di meja kecil yang ada di sana,


lantas kembali diraihnya, dan diserahkannya kepada Joenathan.


“Sayang hati-hati ya di jalan,” ucap Tania setelah menyalim

__ADS_1


tangan suaminya.


“Ya, kau juga,” jemari Joenathan mengelus lembut pundak


Tania.


Tania pun mengangguk mengerti dengan apa yang didengarnya.


Setelah kembali mendaratkan sebuah kecupan di dahi Tania,


Joenathan lantas berbalik pergi menuju ke arah mobil. Namun, balum lagi sampai


di sana, ia kemudian kembali menghampiri Tania.


“Sayang, kok balik lagi?” tanya Tania heran.


“Iya, aku tadi lupa untuk bilang suatu hal. Nanti malam kita


akan pergi ke acara ulang tahun perusahaan Vydrick.”


“Perusahaan Vydrick? Apakah itu perusahaannya Kak Sam?”


“Ya, perusahaannya Sam,” Joe mengangguk. “Sebagai partner


bisnis, aku sebagai pemilik dari Alexandre Group harus datang memenuhi


undangannya,” jelas Joenathan.


“Tapi, bukankah selama ini kau tidak suka hadir dalam acara


seperti itu? Bayu yang selalu menggantikanmu bukan?” tanya Tania.


“Ya, kau benar. selama ini Bayu yang selalu pergi ke acara


seperti itu, menggantikanku di sana,” ujar Joenathan. “Namun, beberapa bulan


belakangan ini sikap Bayu berubah. Ia terlihat kurang bersemangat setiap


harinya, sering termenung sendiri dan terkadang suka abai akan tugasnya.”


“Oya, kok bisa?!” Tania terkejut, tak menyangka dengan apa


yang baru saja didengarnya. “Bukankah Bayu itu tipe orang pekerja keras? Selama


ini ia selalu mengerjakan semuanya dengan baik kan? Bahkan di saat kau sendiri


abai akan tugasmu, dialah yang selalu mengingatkanmu dan juga membenahi seluruh


tugasmu?”


“Ya, kau benar. tapi itu dulu, sekarang Bayu sudah tidak


lagi seperti itu. semenjak Wulan sahabatmu itu tidak lagi bekerja di


perusahaanku. Sikap Bayu tiba-tiba saja berubah, dia sering termenung saat


bekerja dan selalu tidak fokus dengan apa yang dikerjakannya. Sepertinya,


sahabatmu itu memiliki tempat yang special di hatinya, terlebih lagi tentang


alasan Wulan mengundurkan diri dari perusahaan, itu semua karena Bayu, sehingga


kini Bayu sendiri merasa bersalah sekaligus menyesal akan tindakan yang


dilakukannya itu,” jelas Joenathan dengan kalimatnya yang panjang.

__ADS_1


__ADS_2