
“Lan, yuk masuk!” ajak Tania yang saat ini telah meraih
tangan Wulan.
“Masuk?” tanya Wulan.
“Ya,” Tania mengangguk.
“Ngapain kita masuk kesana?” tanya Wulan.
“Tentu saja untuk berbelanja!” seru Tania.
“Nia … apa kau tau tempat ini? Ini tempatnya para kalangan
elit untuk berbelanja,” kata Wulan.
Tania pun tersenyum, dengan gelengan pelan. “Aku tau itu,
dan sekarang kita akan masuk ke dalam untuk bersenang-senang,” sahut Tania
dengan santai.
“Tapi, Nia…” sedikit ragu.
“Tapi apa?”
“Aku takut, jika kita tidak akan….” Wulan tidak melanjutkan
lagi kalimatnya.
“Wulan, lihat aku.” Tania memposisikan tubuh Wulan berdiri
tegak di hadapan nya. “ Apa kau lupa jika aku ini siapa? Aku bukanlah Tania
yang dulu, yang jika ingin membeli apa-apa harus melihat bandrol harga terlebih
dahulu. Aku sekarang adalah Tania Alexandre, istri dari Joenathan Alenxandre.
Selagi aku mau, apapun bisa ku miliki,” jelasnya. “Selama pernikahanku, aku
belum pernah membelanjakan uang Joenathan. Kartu hitam yang diberikannya
untukku, selama ini tak pernah terpakai. Tadi pagi sebelum berangkat kerja, dia
memarahiku karena aku tak pernah memakai uangnya, dan sekarang aku ingin
meminta bantuanmu untuk menghabiskan uangnya. Aku ingin membelanjakanmu
beberapa, membantuku menghabiskan sedikit uang nya, karena jika tidak aku takut
nanti saat Joenathan pulang ia akan kembali memarahiku,” ujar Tania.
“Tapi Nia, aku….”
“Sssttt! Jangan menolak ya,” kata Tania. “Kau sahabatku,
__ADS_1
selama ini kau selalu membantuku, jadi sekarang aku ingin memberimu sebuah
hadiah dan kau tidak boleh menolaknya.” tukas Tania.
Sungguh Wulan sangat segan menerima hadiah mewah dari
sahabatnya. Namun, ia tak dapat menolak permintaan Tania, terlebih saat ini
Tania sedang mengandung, pasti penolakannya akan membuat Tania bersedih dan
Wulan tidak mau itu. Ia pun lantas memutuskan untuk menerima apa yang ingin
diberikan Tania kepadanya.
Beberapa menit telah berlalu, berganti dengan waktu jam yang
sudah terlewati. Beberapa kantong belanjaan saat ini sudah memenuhi tangan.
Tania bahkan tak mampu memegang, hingga akhirnya ia memutuskan untuk
menyerahkan semua barang belanjaan mereka kepada kedua pengawal yang sedari
tadi mengikutinya.
Sekarang, kedua tangan mereka sudah kosong, dan waktunya
untuk kembali bersenang-senang. Setelah beberlanja hampir setengah harian,
perut Tania merasa lapar. Maklum saja, saat ini Tania sedang mengandung, hingga
Tania pun akhirnya mengajak Wulan masuk ke dalam salah satu
restoran chicken yang ada di sana.
Pesanan sudah di catat, waktunya menunggu sambil
berleha-leha mengistirahatkan diri sejenak. Rasanya, berjalan kesan-kemari
membuat lutut Tania sedikit merasa pegal. Hal itu dikarenakan belakangan ini,
selama dirinya hamil, Tania jarang sekali melakukan pergerakan, karena Joe yang
selalu melarangnya.
Apa saja yang ingin Tania lakukan di rumah, semuanya diambil
alih oleh para asisten rumah tangganya. Sebenarnya Tania sempat protes kepada
mereka, namun setelah mendengar penjelasan dari para asisten rumah tangga itu,
akan tanggung jawab yang Joe berikan kepada mereka atas kesehatan ia dan juga
bayinya, barulah Tania mengerti dan tak lagi melakukan apapun yang membuatnya
lelah, karena tak ingin menjadi beban untuk semuanya. Tania tau betul, jika
__ADS_1
sampai ia jatuh sakit akibat kelelahan, pasa asisten rumah tangganya lah yang
akan menanggung semuanya, kemarahan dari Joenathan.
“Kau tau Wulan, hari ini aku merasa sangat senang sekali,”
ujar Tania dengan ekspresi bahagia di wajah nya.
“Oya? Syukurlah,” balas Wulan dengan senyumnya.
“Beberapa bulan ini, Joe selalu melarangku melakukan
aktivitas apapun di rumah, karena ia tak ingin aku jatuh sakit karena
kelelahan.”
“Hmm … itu bagus, tandanya Joenathan saat ini benar-benar
menyayangimu.”
“Kau benar, tapi apa kau tau? Terkadang aku sendiri merasa
jengah di rumah, makan tidur tanpa melakukan apapun, sungguh sangat
membosankan!” wajah Tania terlihat muram. “Tapi … hari ini aku sangat bahagia,
karena bisa menghabiskan waktu denganmu,” sekejap berubah menjadi ceria.
Wulan ikut tersenyum, melihat keceriaan yang tersungging di
wajah Tania. ternyata, menyenangkan seseorang itu tidaklah terlalu rumit, cukup
dengan meluangkan sedikit waktu, maka hal itu akan menjadi hal yang sangat
menyenangkan bagi mereka.
“Nia, aku juga sangat senang bisa menghabiskan waktu
bersamamu hari ini. Terlebih, kau membelanjakanku banyak barang, mahal-mahal
pula, membuatku bingung kelak harus membalasnya dengan apa,”
“Hehehe … tenang saja!” Tania menyambutnya dengan cepat.
“Jika kau merasa tidak enak denganku, maka tebuslah dengan datang ke ulang
tahunnya perusahaan Kak Sam nanti malam. Joe mengajakku, dan pastinya nanti
malam ia akan sibuk bersama teman-temannya, aku pasti akan sangat bosan di
sana. Jika kau ikut denganku, maka aku
akan merasa sangat senang dan tidak akan bosan karena ada kau yang menemaniku
di sana,” ajak Tania.
__ADS_1