
Hari ini adalah hari yang sangat menyebalkan bagi Tania. Bagaimana tidak, hari ini beberapa orang dari salon datang kerumah hanya untuk mencuci rambutnya. Bahkan mereka juga melakukan serangkaian perawatan rambut lainnya yang membuat Tania kesal dengan itu, ya Tania kesal. Karena serangkaian perawatan itu menghabiskan waktu cukup lama yaitu tiga jam. Meskipun ia tak menampik jika ia suka dengan keindahan rambutnya setelah serangkaian perawatan. Namun ia juga tetap kesal karena harus duduk hingga berjam-jam disebuah kursi dengan membiarkan orang-orang tersebut melakukan pekerjaan nya. Sebenarnya bukan hanya rambut, tangan bahkan kaki Tania juga mereka sulap menjadi indah dengan serangkaian perawatan mereka.
Di dalam kamar.
" Kau kenapa?" Tanya Joe seraya duduk disamping nya.
Heh! masih saja bertanya aku kenapa! semua ini karena mu tau!
Rutuk Tania kesal.
" Kenapa kau diam saja? Bukankah tidak sopan jika suami mu sedang bertanya namun kau tak menjawabnya." Tatap Joe lekat-lekat.
Jangan gunakan status suami mu didepanku!
Tania masih tak menjawab sehingga kini membuat wajah Joe seketika berubah. Sehingga mau tak mau Tania pun menjawabnya.
Sial! Jika dia marah maka habislah aku
" Joe, aku minta lain kali jangan undang mereka lagi untuk datang kemari ya." Ujar Tania lembut.
" Mereka? Mereka siapa?" Tanya Joe.
" Orang-orang yang kau suruh datang kemari untuk merawat rambut ku." Ucap Tania.
" Apa mereka kasar terhadapmu?" Joe mulai memperhatikan keseluruh tubuh Tania.
" Tidak, bukan seperti itu. Mereka bersikap lembut dengan ku, bahkan bisa dibilang sangat lembut." Jelas Tania.
" Hmm, terus apa masalahmu?" Joe mulai menaikkan alisnya.
Glek
Sial! Kenapa wajah nya terlihat tampan sekali sih jika sedang menunjukkan ekspresi seperti ini.
" Masalahku adalah aku tidak suka jika orang lain mencuci rambutku! Apa kau tau, mereka juga bahkan mengecat kuku-kuku ku hingga seperti ini!" Tania menunjukkan kuku tangan dan juga kakinya.
Hahaha, kenapa kau lucu sekali sih..
Joe tergelak dalam duduknya. Ia tak berhenti tertawa sehingga membuat Tania semakin kesal karena nya. Kini Tania berdiri dan berjalan menuju kearah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya disana.
Joe pun kemudian ikut bangkit dari duduknya dan berjalan kearah ranjang, lalu ia juga menghempaskan tubuhnya disana.
" Coba sini aku lihat tangan mu." Joe meraih tangan Tania. Ia melihat kuku-kuku Tania terlihat semakin indah dengan warna barunya. " Hmm, tidak terlalu buruk. Bahkan ini terlihat jauh lebih bagus dari pada sebelumnya." Ujarnya. " Rambut mu juga terlihat lebih sehat dan menawan dari sebelumnya. Jadi kenapa kamu harus protes?" Tanya Joe.
Ya tuhan . . seharusnya aku tau ini tidak akan mudah
" Joe, aku tidak suka jika duduk terlalu lama disana, Bagiku itu sungguh menyiksa." Keluhnya.
" Tapi sayang nya, mulai dari sekarang aku mau kau membiasakan diri dengan itu. Karena aku sudah terlanjur suka dengan keindahan rambut dan juga kuku-kuku mu." Joe memainkan rambut Tania. Menciumi nya dan membelainya.
" Tapi Joe . ."
" Tidak ada tapi-tapian, kau tau kan aku tidak menerima penolakan." Ucap Joe tegas.
Tania merengut kesal, ia sama sekali tak punya kesempatan untuk menolak. Karena Joe sangat tegas dengan sikapnya. Kini ia membalikkan badan nya dan tidur dengan membelakangi suaminya.
Joe kemudian meraih pinggang nya dan memeluknya dari belakang, ia lalu menyusupkan tangan nya kedalam pakaian yang dikenakan Tania dan meraba isinya. Sontak saja Tania terkejut,ia lalu segera bangkit dari tidurnya dan memilih duduk dengan menarik selimutnya.
" Apa yang kau lakukan?" Wajah Tania terlihat gusar.
" Aku ingin sedikit bermain dengan tubuhmu." Seringai Joe.
" Tapi Joe, a-aku.."
" Kenapa? Apa sekarang kau ingin menolak ku lagi?"
Bagaimana ini, jika dia tahu datang bulan ku sudah selesai maka.. Aaaa... ha-habislah aku..
Tania meradang, mungkin hari ini sudah saatnya ia melepaskan mahkota paling berharga nya itu kepada Joe suaminya. Tania mulai pasrah, tak dapat lagi berbicara apa-apa, tak ada lagi kesempatan baginya untuk mengelak apalagi menolak jika itu sudah menyangkut dengan keinginan Joe. Kini ia hanya duduk ditempatnya seraya memejamkan mata menantikan serangan dari suaminya itu.
Drrttt.. drrt..
Ponsel Joe bergetar lalu membunyikan sebuah alunan lagu. Pertanda jika saat ini seseorang sedang menelponnya. Dengan gerakan cepat Joe kemudian meraih ponsel yang ia letakkan diatas meja kecil yang ada disamping ranjang nya. Ia lalu ia melihat Bayu yang sedang memanggilnya. Joe kemudian menerima panggilan tersebut.
Tania terselamatkan. Kini ia bisa merasa lega karena Joe tak jadi melancarkan niatnya.
__ADS_1
" Hallo . ." Suara Joe terdengar dingin.
" Joe, kau dimana? Apa kalian sudah bersiap-siap? Setengah jam lagi waktunya kita terbang." Suara Bayu terdengar khawatir dari balik telepon. Ia takut segala persiapan yang telah ia siapkan batal hanya karena kelalaian Joe.
Sial! Bisa-bisanya aku lupa
Joe memegangi kepalanya. Ia lalu menatap kearah Tania. Gadis itu masih terlihat patuh ditempat nya tak bergeser sedikitpun. Kini ia sedang menatap wajah Joe dengan gugup.
" Baiklah, aku akan segera datang."
Joe mematikan ponselnya. Kini ia kembali menatap wajah gadis nya itu.
Kenapa dia menatapku seperti itu. Apa ia mau melanjutkan kembali serangan nya
Gleek. Tania menelan ludahnya.
" Segeralah bersiap, karena sebentar lagi kita akan terbang." Ucap Joe.
" Terbang? Terbang kemana?" Wajah Tania terlihat bingung.
" Dasar gadis bodoh!" Joe menjentikkan jarinya tepat di dahi Tania.
" Auww!!" Erang Tania, ia lalu mengusap dahinya di bagian rasa sakitnya. " Joe, sakit!!" Pekiknya lagi.
" Hahaha.." Joe tergelak, suaranya terdengar sangat nyaring saat itu.
" Joe! kenapa kau malah tertawa, tidakkah seharusnya kau meminta maaf kepadaku!" Seru Tania, ia merasa sangat kesal dengan sikap Joe yang selalu saja bertindak seenaknya.
" Kenapa aku harus melakukan itu, bukankah kau istriku. Aku hanya ingin sedikit bergurau denganmu." Ujar Joe.
" Kau!!"
" Ssstt, jangan lanjutkan lagi. Jika tidak maka kita tidak akan terbang hari ini." Joe menepelkan jarinya di bibir Tania. " Bukankah tamu bulanan mu telah berlalu, sekarang aku tidak akan keberatan jika harus menunda penerbangan kita ke paris hanya untuk mengambil hadiah ku." Seringai Joe sembari mengulas senyum licik.
Apa! jadi dia tau jika tamu bulanan ku telah berlalu
Tania seketika bangkit dari ranjang.
" Aku akan segera pergi bersiap-siap!" Tanpa pikir panjang lagi Tania berlari kearah lemari, ia mengambil pakaian yang akan dikenakan nya dan setelah itu ia pun pergi ke ruang ganti.
Pesawat mulai melayang di udara. Tania merasa gemetar karena ini kali pertama baginya ia menaiki sebuah pesawat. Meskipun di hantui perasaan takut, namun tatapan matanya tak henti mengerling kesekitar. Jujur ia sangat kagum dengan itu, bahkan ia tak menyangka jika pengalaman pertama nya akan berada didalam sebuah pesawat yang super mewah.
Benar-benar menakjubkan!
Decak nya kagum.
Aku sungguh tak menyangka, jika pengalaman pertamaku ini akan terlaksana didalam sebuah pesawat yang super mewah seperti ini. Bisa naik pesawat di bagian kelas ekonomi saja itu bagaikan sebuah berkah bagiku, apalagi yang super mewah seperti ini, sungguh seperti mimpi saja.
Gumam nya.
Tapi kenapa tidak ada banyak orang disini, cuma beberapa kru, Bayu dan kami berdua saja yang ada disini.
Pikirnya, sehingga kini ia ingin langsung menanyakan nya kepada Joe.
" Joe, kenapa pesawat ini tidak mengangkut penumpang yang lainnya?" Tanya Tania.
" Kenapa? Apa kau tidak suka?" Sahut Joe dengan garis senyum menyamping kesebelah kiri.
" Bukan begitu, aku suka bahkan suka sekali. Tapi setahu ku jika pesawat telah terbang makan akan ada banyak penumpang didalam nya." Ucapnya polos.
" Hahaha . ." Joe tergelak, ia lalu merangkul tubuh Tania yang berada disamping nya.
" Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" Tania mengerutkan dahi nya. Bagaimana tidak, ia merasa Joe mempermainkannya karena membalas pertanyaaan dengan gelaknya.
" Dasar bodoh!" Seru Joe, ia lalu menjentikkan jarinya di dahi Tania sehingga membuatnya mengerang kesakitan.
" Auuww!!" Pekik Tania. " Apa salahku! kenapa kau selalu menjentikkan jari besar mu itu di dahi ku!" keluh nya.
" Itu karena kau terlalu bodoh." Ucap Joe. " Bukankah kau tau jika aku ini seorang pengusaha muda yang sangat disegani dikalangan pengusaha senior lainnya. Apa kau pikir dengan kekayaan ku ini maka aku harus ikut berdesak-desakan dengan yang lainnya!." Seru Joe.
" Oh, jadi kau menyewa pesawat ini?" Tania kembali bertanya dengan polosnya. Sehingga membuat Joe kembali mendaratkan sentilan jarinya di dahi Tania.
" Auww!!" Ringis Tania.
" Apa kau meragukan kekayaanku?" Joe menatap nya dengan tajam, raut wajahnya juga seketika berubah menunjukkan amarahnya. Namun apakah kalian tau? jika sesungguhnya didalam hatinya saat ini ia sedang menertawakan kebodohan Tania. Ya Tania terlihat bodoh dengan pertanyaan nya, ia sangat polos.
Tania diam tak menjawab. Ia takut jika ucapannya selanjutnya akan kembali salah dan itu malah akan membuat Joe semakin marah. Kini ia berfikir cara aman baginya adalah diam, duduk dak nikmati saja tanpa harus banyak tanya. Namun sayangnya saat ini Joe tak menginginkan nya diam.
__ADS_1
" Kenapa kau diam? Jawab!!" Tekan Joe.
Ya tuhan . . kenapa aku bisa menikahi pria gila sepertinya. Aku harus jawab apa, jika setiap kalimat ku selalu disalah artikan olehnya.
" Tuan, maafkan saya. Sungguh saya tidak bermaksud menyinggung hati Tuan. Jujur ini pertama kalinya bagi saya bisa menaiki sebuah pesawat, dan saya merasa beruntung karena Tuan mau memberikan kesempatan bagi saya untuk bisa naik didalam pesawat yang super mewah seperti ini." Tania bicara formal.
" Apa kau bilang, Tuan?" Joe menyipitkan matanya, menunjukkan amarahnya. " Panggil aku sayang!" Seru Joe.
" Eh, iya, sa-sayang." Suara Tania terdengar gagap.
Ya tuhan . . bagaimana ini? Bahkan didalam pesawat pun dia tak berhenti bertingkah gila seperti ini.
" Ini pesawat ku, aku membelinya khusus hanya untuk penerbangan ku. Ingat itu!" Seru Joe.
Ya tuhan . . dasar orang kaya. Ingin terbang saja harus membeli pesawat pribadi. Benar-benar boros.
Tania menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak habis fikir dengan kehidupan para konglomerat.
" Kenapa kau menggelengkan kepala mu? Apa kau begitu terpukau dengan diriku. Aku sudah terbiasa." Joe menyombongkan diri.
Sedangkan Tania hanya bisa mengulas senyum tanpa ingin menjawab pertanyaan dari Joe. Namun sesaat kemudian fikiran nya kembali terusik saat mendengar suara tawa dari kursi belakang.
Dikursi belakang terlihat Bayu duduk dengan seorang wanita. Mereka tergelak bersama disana. Entah apa yang mereka tertawakan, yang pasti suara mereka terdengar begitu nyaring hingga ketelinga Tania. Tania melirik kearah kursi belakang, ia berusaha mencari tau gadis yang duduk bersama Bayu.
Siapa dia? kenapa mereka terlihat begitu akrab, dan juga suara gadis tersebut terasa tak asing baginya.
Sungguh membuat Tania dicekam rasa penasaran.
" Apa yang kau lihat!" Joe membuyarkan lamunan Tania.
" Eh, ti-tidak.." Tania gugup. Kini ia kembali fokus menatap Joe yang saat ini terlihat menatapnya dengan tatapan tidak senang.
" Baru saja kau berani berbicara formal kepadaku dan sekarang kau langsung berani menatap pria lain tanpa izinku. Apa kau sudah bosan hidup?" Joe terlihat dingin. Sedangkan Tania semakin menciut.
Dasar Tania bodoh! bisa-bisanya kau memilih fokus pada suara itu. Jelas-jelas disamping mu ada seekor singa yang bisa saja menerkam mu kapanpun!
" Ma-maaf."
" Heh, maaf saja tidak cukup!" Seru Joe.
Terus apa lagi yang kau inginkan! Haruskah aku mencium mu dihadapan semuanya!
" Bagaimana aku menunjukkan nya agar kau merasa cukup."
" Cium aku!" Seru Joe.
Apa! Dia benar-benar sudah gila!
" Kenapa kau diam?" Joe terlihat serius.
" Tapi Joe, disini ada orang." Ujar Tania berusaha membuat Joe mengerti dan mnegurungkan niat nya meminta Tania mencium nya.
" Memang nya kenapa?"
" Aku malu jika mereka melihatnya." Saut Tania.
" Itu jika mereka berani." Joe mulai mendekatkan wajahnya. " Sekarang mulailah, cium aku." Pintanya.
Bagaimana ini? Joe, kau sungguh membuatku gila..
Joe semakin merapatkan tubuhnya. Wajahnya pun kian mendekat, namun Tania belum juga melancarkan aksinya. Tak ingin menunggu Tania yang begitu lama, kini Joe pun melancarkan aksinya mendaratkan ciuman nya di bibir Tania. Sehingga kini didalam pesawat hanya ada kemesraan diantara keduanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1