CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 147


__ADS_3

Angeline keluar dengan kekesalan yang melanda hatinya. Sepeninggalnya Anngeline, kini dari ujung sana terlihat seorang Dokter sedang menuju kearahnya. Naufal, menatap Angeline, memperhatikan wajahnya yang terlihat sangat kesal. Entah mengapa, kesan pertama yang di tangkapnya dari wajah gadis itu adalah rasa ketidaksukaannya.


Sadar akan dirinya yang menjadi pusat perhatian Naufal. Angeline pun kini membalas tatapan Naufal yang memandang kearahnyaa. Sinis, tapi Naufal tak menggubris. Pria itu kini memilih pergi, masuk kedalam kamar


tempat Tania dirawat.


Ceklek!


Pintu terbuka. Naufal masuk dengan dua orang suster yang mengikutinya di belakang. Dilihatnya, Kalisna sedang duduk di sana. Wanita yang sama sekali tak asing baginya. Naufal, menyunggingkan senyumnya, seraya berjalan menghampiri ranjang Tania.


Joe, Tania dan juga Kalisna menoleh. Lalu, saat melihat seorang pria tampan dengan jas putih khas Dokter itu, Kalisna tersenyum dan bangkit dari duduknya.


“Naufal.”


“Hai, Tante.” Naufal melangkah dengan pasti menuju kearah Kalisna. Dengan sopan, pria tampan itu mengambil tangan Kalisna, lalu menciumnya. “Apa kabar Tante?”


“Alhamdulillah Tante, baik.” Kalisna mengulas senyumnya.


“Alhamdulillah.”


“Kamu yang periksa Tania?” tanya Kalisna.


“Iya, Tante.” jawab Naufal hangat. “Oya, Tania, siang ini kamu sudah boleh pulang.”


“Pulang? Alhamdulillah.” Tania mengatupkan kedua tangannya. Bersyukur, akhirnya bisa segera kembali kerumahnya.


“Syukurlah, kalau begitu.” Kalisna, menarik nafas lega. “Tapi, sayang. Mama nggak bisa nganterin kamu pulang ya. Karena, sebentar lagi, Mama mau kerumah Tante Farah ada acara.”


“Iya, Ma, nggak apa-apa. Kan ada Joe yang bakalan bawa pulang Tania.”


“Iya, Tante, lagipula di sini ada Naufal juga. Jika Joe nggak sanggup bawa Tania pulang, Naufal siap kok buat nganterin Tania pulang.” timpal Naufal.


“Bukankah kau seorang Dokter. Pasti banyak sekali yang harus kau kerjakan di sini, masih banyak orang yang membutuhkanmu di sini. Jadi tak usah repot-repot mengantarkan Tania-ku.”  tatap Joe dingin kearah Naufal.


***


Sekitar pukul 15:12 WIB.


Tania akhirnya tiba di kediaman Joenathan. Hari itu, sepulangnya dari rumah sakit. Tania tak ingin langsung pulang. Ia mengajak Joe, untuk makan siang di restoran jepang, dan sepulangnya darisana, Tania kembali meminta mampir ke sebuah mini market kecil untuk membeli beberapa es krim yang di habiskannya di mobil.


Setelah memarkirkan mobilnya, Pak Min yang bertugas sebagai supir. Lantas segera membukakan pintu untuk mereka. Mempersilahkan keduanya untuk segera turun darisana.


“Silahkan Tuan.” sambut Pak Min dengan segala hormat.


Joe, mengangguk. “Sayang, yuk turun.” Joe meraih tangan Tania, mengajaknya turun bersamanya.


Tania tersenyum, lalu kini mengikuti Joe turun bersamanya.


Setelah turun dari mobilnya, Joe lantas menggendong Tania. Hal itu tentu saja membuat Tania terkejut. Apalagi, di sana ada Pak Min yang masih berdiri menyaksikan mereka masuk kedalam. Joe tak memperdulikan hal itu, yang terpenting baginya kini adalah tak ingin membuat Tania lelah jika harus berjalan sendiri masuk kedalam. Itu semua ia lakukan karena Tania yang baru saja keluar dari rumah sakit.


“Joe, kenapa kau menggendongku? Aku bisa jalan sendiri masuk kedalam.” bisik Tania, tak ingin Pak Min mendengar.


“Kau baru saja keluar dari rumah sakit. Aku tak ingin membuatmu lelah, maka dari itu aku menggendongmu untuk masuk kedalam.” jawab Joe.


“Tapi, Joe, di sini—“

__ADS_1


“Di sini apa? Kau malu dengan Pak Min?” tanya Joe yang menyela ucapan Tania.


Tania mengangguk, lalu Joe tersenyum. “Kau, lihat. Pak Min, berdiri di sana tanpa menatap kearah kita. Jadi, untuk apa kau malu dengannya.”


“Tapi, Joe—“


Lagi, Joe menyela ucapan Tania. “Ssstt! Diamlah, jika kau berisik, mungkin saja sekarang Pak Min akan menoleh kearah kita dan melihatku sedang menggendongmu.”


Tania menunduk patuh, mendengar apa yang di katakan Joe sekarang.


Beberapa saat kemudian. Tania sudah tiba didalam kamarnya. Joe membaringkan tubuh Tania dengan lembut di sana, pelan-pelan tak ingin wanita yang di cintainya itu merasa tak nyaman.


“Aaa… makasih Joe.” Tania memegang lembut pipi Joe. Gemas, lalu kini mencubitnya pelan.


“Cuma ucapan terimakasih saja nih?” tanya Joe, menaikkan kedua alisnya.


“Lalu, kau mau apa lagi? Aku tidak punya apa-apa untuk di berikan padamu. Lagipula, kau sudah mempunyai segalanya. Jadi aku rasa, kau sudah tidak membutuhkan hal yang lebih sekarang.”


“Siapa bilang tidak butuh.” Dengan cepat Joe menanggapi.


“Apa, apa yang kau inginkan dariku?” tanya Tania.


“Aku ingin kau menciumku sekarang.” ucap Joe tanpa segan.


“Apa!” Tania mendelikkan matanya. Sedikit terkejut, tapi kini dengan santainya ia menanggapi. “Yasudah, sini, bungkukkan badanmu.” Memerintahkan dengan jari telunjuknya.


“Kau, berani sekali memerintahku.” Joe memicingkan matanya.


“Bukannya tadi kau yang bilang menginginkan aku menciummu?”


“Hmm, ya.” Joe mengangguk.


Joe tersenyum, entah mengapa ia tak bisa menolak. Ucapan Tania bagaikan sihir yang mau tak harus ia turuti.  Melihat Joe yang kini sudah membungkukkan badannya, dengan segera Tania lantas mendaratkan bibirnya. “Cup!”


***


Sore itu. Setelah membereskan semuanya. Wulan kini beranjak pergi dari ruangannya. Sore ini ia berniat akan mengunjungi Tania di rumahnya. Menurut informasi yang di dapatnya dari Bayu. Hari ini Tania sudah pulang kerumahnya.


Wulan, kini sudah tiba di pintu masuk perusahaan. Pintunya di bukakan oleh satpam yang bertugas berjaga di sana. “Terimakasih Pak.” ucap Wulan sungkan. Gadis itu, lalu kini melangkahkan kakinya bergerak keluar. “Hmm, udara diluar memang lebih menyegarkan.” Wulan mengulas senyuman.


Momen-momen saat pulang kerja seperti ini adalah hal yang sangat menyenangkan baginya. Berkutat seharian di depan layar, dan juga harus berhadapan dengan para bos-bos besar, membuat fikiran Wulan sangat jenuh.


Dilangkahkannya kakinya pergi meninggalkan kantor tersebut. Namun, setibanya di gerbang kantor. Sebuah mobil behemti, dan berdiri tepat di depannya. Wulan mengerutkan dahinya, menatap kearah mobil yang sama sekali tak asing baginya.


Sementara itu, sang pemilik mobil tampak membuka pintu mobilnya lalu berkata, “Ayo masuk!”


Wulan semakin mengernyit. “Masuk, untuk apa?”


“Nggak usah banyak tanya. Ini perintah!” titah Bayu dengan gaya sok nya.


“Perintah, ini sudah bukan lagi jam kerja!” sungut Wulan.


Tak ingin meladeni Bayu di sana. Wulan pun kini membalikkan badannya, hendak beranjak pergi darisana. Namun, baru saja dua langkah ia menapaki kakinya. Tangannya kini sudah di tarik oleh Bayu, diseret masuk kedalam mobilnya.


Buk!

__ADS_1


Pintu mobil tertutup. Bayu dengan segera beralih ke kursi setirnya. “Duduk yang manis. Karena aku akan membawamu ke tempat yang ingin kau tuju.” Berucap sambil mengedipkan sebelah matanya.


Wulan mendelik. Sikap Bayu membuatnya tak habis fikir. Bagaimana pria itu bisa memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi, bahkan terkesan narsis.


“Cih! Dasar playboy murahan.” desah Wulan.


Dan ternyata hal itu di dengan oleh Bayu.


“Apa katamu?” pria itu mendekatkan wajahnya.


“Heh, nggak ada. Nggak ada apa-apa.” Semakin mengerutkan dahinya.


“Ada, barusan aku mendengarnya.”


“Sudah dengar kan. Yasudah, jalankan mobilnya.” Wulan memalingkan muka.


Bayu tersenyum. Persamaan sikap Wulan dan juga Miska membuatnya sangat tertarik dengan gadis itu. Entah karena ia belum bisa move on dari Miska, atau memang karena daya tarik Wulan yang sangat kuat. Sehingga menarik dirinya, untuk selalu bisa berdekatan dengannya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Membelah hiruk-pikuk jalanan kota di sore hari. Suasana hening tercipta, tak ada suara apapun di sana. hanya terdengar bunyi kalkson dari arah luar. Bayu terlihat menatap kearah Wulan, sementara Wulan memilih melihat keramaian kota di sore hari itu.


Saat hampir mendekati sebuah supermarket yang ada di ujung sana. Bayu, lantas membuka suaranya, memecah keheningan yang tercipta. “Kita mau pergi dengan begini saja, tidak ada yang akan di bawa?” tanya Bayu kini.


“Di bawa, maksudnya?” Wulan tak mengerti. Fikirannya sama sekali tak tersambung kemana arah yang akan mereka tuju.


“Bukankah kita akan mendatangi rumah Joe. Menjenguk Tania yang sedang sakit?” Bayu menjelaskan maksudnya.


“Oh, iya-ya.” mulai tersambung dengan apa yang di maksud Bayu tadi. “Nanti, di persimpangan jalan sana, tolong hentikan kendaraannya ya. Karena aku akan membelikan sesuatu yang sangat Tania suka.” tunjuk Wulan kearah


persimpangan yang di maksud.


Bayu pun mengangguk mengerti, mematuhi apa yang di katakan Wulan.


Beberapa saat kemudian.


“Terimakasih ya Pak.” Ucap Wulan setelah membayarkan jumlah makanan yang ia beli.


“Sama-sama Non.” sahut Bapak-Bapak yang menjual kue.


Setelah kantong kue yang di inginkannya berpindah tangan. Wulan pun kini kembali masuk kedalam mobil Bayu dengan wajah sumringah. “Sudah, yuk!”


“Makanan apa yang kau beli?” mata Bayu terlihat menatapserius kearah kantong yang berisikan makanan itu.


“Kue Rangi,” jawab Wulan cepat.


“Kue Rangi?” Bayu mengerutkan dahinya. “Kau menjenguk sahabatmu, dengan membawakannya makanan pinggir jalan?” cela Bayu.


“Iya, terus kenapa?” tanya Wulan polos. Toh, itukan kue kesukaan Tania sejak dulu. Membawakannya kue ini, pasti akan membuat Tania merasa senang.


“Jajanan pinggir jalan?” kembali, pertanyaannya terdengar mencela.


Wulan mulai menyadari hal itu. Lalu kini dengan memasang wajah tak senangnya, Wulan berkata. “Ini makanan kesukaan kami sewaktu masih bersama. Dan aku yakin, Tania pasti akan sangat senang melihatku membawakannya ini.” Matanya melotot kearah Bayu.


Melihat ekspresi Wulan yang mulai tersinggung. Bayu, lantas tak melanjutkan lagi ucapannya. Pria itu kini mulai menghidupkan mobilnya, dan kembali jalan meninggalkan tempat itu.


Huh! Dasar pria sombong!

__ADS_1


Umpat Wulan dalam hati.


TBC.


__ADS_2