
Apa yang kita perbuat itulah yang akan kita tuai. Hal baik pasti akan berakhir dengan baik, begitupula sebaliknya. Hal jahat, akan berakhir buruk pula bagi si pelakunya.
Katty akhirnya menerima ganjaran atas perbuatan yang telah ia perbuat. Hukuman penjara selama belasan tahun kini telah menanti dirinya. Tidak dapat berbuat apa-apa, hanya bisa menerima. Mau mengajukan banding pun sudah tidak bisa. Jangankan untuk menyewa pengacara, untuk bersandar saja Katty sudah tidak punya siapa-siapa. Kedua orangtuanya telah meninggal akibat serangan jantung yang di derita. Kehilangan perusahaan, rumah disita bersama aset-aset yang lainnya membuat kedua orangtua Katty terkena serangan jantung mendadak yang membuat keduanya tidak dapat terselamatkan.
Frustrasi, itulah yang saat ini Katty rasakan. Menyesal pun sudah tidak ada guna. Andai saja ia tidak melakukan hal bodoh seperti itu, mungkin saat ini hidupnya akan baik-baik saja.
Penyesalan selalu datangnya terlambat, karena jika datangnya pertama itu namanya pendaftaran. Tapi, sesal pun sudah tiada guna karena apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. Dan saat ini Katty sedang memanen
hasil dari yang ditanamnya. Perbuatan buruk yang akhirnya menjerumuskan Katty ke dalam lembah hitam yang paling dalam. Jatuh pada titik terendah, sangat hina di mata manusia.
________
“Huuuwwaaaaa!”
Bayi yang berusia sekitar lima bulan itu menangis. Suaranya sangatlah keras, hingga memekakan telinga. Aarav Alexandre namanya. Bayi lelaki hasil buah cintanya Joe dan Tania.
“Sayang … bisakah kau diamkan sejenak Aarav?” Joenathan yang saat itu masih terbaring di tempat tidur terlihat sangat terganggu dengan suara Aarav yang pagi itu menangis.
“Shshshsh …” Tania mengambil putranya lalu menepuk-nepuk bokongnya perlahan, berusaha menenangkan Aarav.
“Huwaaa … huwaaa…”
Tetap saja bayi lelaki itu menangis meskipun Tania telah berusaha menenangkannya. Dibawanya Aarav ke sana-sini, mondar-mandir di dalam kamar, menuju ke balkon, menunjukkan burung-burung yang singgah di ranting pohon.
Namun tetap saja hal itu tidak berhasil, Aarav tetap menangis sembari mengerlingkan pandangan matanya ke arah Joenathan yang terbaring di ranjang.
__ADS_1
“Aarav sayang, diamlah…” membuka kancing piyama yang dikenakan guna memberikan ASI kepada Aarav, berharap putranya itu akan diam dan berhenti menangis.
Manjur, tapi itu hanyalah beberapa saat karena setelah dua menit kemudian Aarav kembali menangis dengan kerlingan mata yang terus mengarah ke arah Joenathan yang baru saja kembali memejamkan mata. Dua menit sudah cukup membuat Joe kembali tertidur lelap dari keterjagaannya.
“Huwaa… Huwaa…. Huwaa…” kali ini suara Aarav terdengar lebih keras.
Sontak saja hal itu membuat Joenathan kembali terjaga.
“Astaga … sebenarnya apa yang terjadi pada Aarav? Kenapa dia menangis terus?” Joenathan kini bangkit dari tidurnya lalu duduk dengan selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya.
“Entahlah Joe, aku juga tidak tau. Dari tadi Aarav menangis terus. Saat ku beri ASI tadi dia diam, tapi itu hanya sebentar saja.”
Tania berbicara sembari terus menggendong Aarav bersamanya. Mulai berjalan mendekati Joenathan, lalu setibanya di sana Tania lantas mengulurkan tangannya menyerahkan Aarav kepada Joenathan.
“Bisakah kau menggendongnya sebentar? Sedari tadi aku ingin pipis, tapi tidak bisa,” ucap Tania.
Aneh, tapi itulah yang saat ini sedang terjadi. Setelah berpindah tangan, Aarav seketika terdiam dari tangisnya. Matanya yang bulat berkedip-kedip dengan gerakan bibir yang mengerucut imut, lantas melebarkan senyumnya. Sangat manis dan lucu, ia seketika terlihat tenang saat Joe menggendongnya.
Masih di dalam kondisi kantuk yang melanda. Joenathan pun lantas membaringkan Aarav bersamanya. Dan anehnya, Aarav si bayi lelaki yang baru berusia sekitar lima bulan tersebut kini juga ikut terlelap bersama Joenathan ‘Papanya’.
Sekembalinya Tania dari kamar mandi. Dilihatnya anaknya dan juga suaminya terlelap bersama. Aarav tertidur pulas di samping Joenathan. Begitupula sebaliknya, Joenathan yang semalaman tidak bisa tidur itu juga tertidur pulas di samping anaknya.
Semalaman Joenathan terus berjaga menemani Aarav. Hal itu dilakukan karena Joenathan merasa iba melihat Tania yang mengurusi anaknya sendiri satu harian penuh di rumah.
Ya, Tania memilih merawat serta menjaga Aarav sendiri tanpa adanya bantuan dari babysitter. Hal itu ia lakukan karena ingin melihat serta merasakan sendiri setiap gerak-gerik pertumbuhan Aarav.
__ADS_1
Malam itu sudah pukul 00:35 WIB, tapi Aarav belum tidur juga. Matanya enggan terpejam, dengan kedua tangan yang digoyang-goyangkan serta kedua kaki yang menjulur menendang. Ocehannya terdengar, dengan senyum
yang dikembangkan. Seolah-olah mengajak orangtuanya untuk bermain bersamanya.
Joe terbangun dari tidurnya, tersentak karena mendengar ocehan anaknya. Suasana malam memang membuat sedikit suara saja begitu terdengar apalagi di dalam kamar. Dilihatnya ke arah Tania yang terduduk di sebuah kursi yang berada di samping box tempat Aarav tidur. Kepalanya mengangguk-angguk berusaha menahan kantuk demi menemani Aarav. Tak tega, Joenathan pun bangkit dari tidurnya. Ia berjalan menghampiri Tania, lalu memegangi bahunya menyuruhnya untuk tidur dan menggantikannya menjaga Aarav.
Awalnya Tania menolak, mengingat jika esok harinya akan ada pertemuan penting yang harus dilakukan Joenathan. Jadi, butuh tenaga serta fisik stamina untuk esok hari bukan. Namun, kegigihan Joe dalam membujuk akhirnya meluluhkan hati Tania. Ia akhirnya beristirahat di pembaringan sedangkan Joenathan menggantikannya berjaga menemai Aarav.
Malam semakin larut, hingga tanpa terasa waktu akhirnya menunjukkan pukul 04:15 WIB. Sudah subuh dan akhirnya Aarav tertidur juga. Melihat anaknya yang saat itu sudah tertidur pulas. Joenathan lantas membungkukkan kepala, mengecup pelan kening Aarav. Baru setelah itu ia lantas bangkit dari duduknya dan menyusul Tania di pembaringan.
Namun, baru satu jam berlalu. Aarav sudah kembali terjaga dengan suara tangisan yang menggelegar. Membuat Joenathan kembali terjaga dalam tidur singkatnya. Dilihatnya ke arah Tania yang saat itu ternyata sudah terlebih
dahulu terjaga dari dirinya, hingga akhirnya menyerahkan Aarav kepada Joenathan karena panggilan alam yang mendesak.
Tak disangka, ternyata Aarav begitu nyaman dalam dekapan Joenathan. Bayi itu akhirnya kembali tertidur pulas di samping Papanya hanya dalam hitungan menit. Membuat Tania sendiri tercengang melihatnya.
“Hmm … jadi ini alasannya mengapa sedari tadi Aarav melirik terus ke arah Papanya. Ternyata dia ingin dekat-dekat dengan Papanya,” Tania menyunggingkan senyumnya.
SELESAI…
Assalamu’alaikum semua …
Akhirnya setelah setahun berlalu, kisah Joenathan dan Tania selesai juga. Jujur, sebenarnya sangat sulit untuk menamatkan cerita ini. Banyak lika-liku yang terjadi hingga pada akhirnya kisah ini berakhir pada hari ini. Maaf jika selama ini Ra belum bisa memuaskan kalian semua dengan suguhan cerita yang Ra berikan. Dari alur yang mungkin bertele-tele, drama yang terkesan seperti sinetron ikan terbang, dan juga dari segi tulisan yang masih
membuat kalian semua sakit mata. Menulis adalah hobi yang berusaha Ra salurkan. Karena memang bukan ini bidang yang Ra kerjakan, sehingga masih perlu banyak belajar dalam segala hal. Mendapat apresiasi dari kalian semua, membuat Ra merasa senang. Apalagi, dengan adanya kritikan/masukan yang diberikan. Sungguh Ra sangat menghargai semua itu.
__ADS_1
Terimakasih Ra ucapkan kepada kalian semua yang sudah mengikuti cerita ini hingga episode terakhir. Yang sudah memberikan vote poin dan juga tips koin nya, Ra sangat berterimakasih kepada kalian. Sampai jumpa lagi dilain kesempatan, dan dilain cerita. Da ….. semua… I Miss You All… peluk sayang dari jauh…
TTD FAKRULLAH.