
“Sayang, terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku,” tangan Joenathan mulai meraih pipi Tania, memegangnya dan kemudian mengusapnya dengan lembut.
Tania tersenyum, lalu dengan lembut ia membalas, “Terima kasih juga karena selama ini kau sudah setia, meskipun aku tau jika itu tidaklah mudah.”
“Tidak,” Joe menggeleng, “Semua akan terasa sangat mudah jika kau terus berada di samping ku,” tukasnya dengan sebuah kecupan lembut di kening Tania yang saat ini sudah memejamkan matanya, kala Joe mendaratkan kecupannya.
Hari sudah semakin sore, setelah sedikit berbincang-bincang di dalam rumah sakit tadi, dan juga resep obat serta vitamin yang sudah ditebus, kini Joe dan Tania pun bersiap-siap untuk pulang. Setibanya di depan mobil, dengan segera Joe berlari ke arah pintu samping, membukanya untuk Tania.
“Terima kasih hubby,” sebuah sentuhan lembut saat ini sudah mendarat di sebelah pipi Joenathan.
“Sama-sama, sayang,” Joenathan membalasnya dengan seulas senyuman serta sentuhan lembut yang mendarat dipermukaan kulit tangan Tania yang saat itu sedang menyentuh pipinya.
Tania ikut mengembangkan senyumnya, mengukirnya dengan sangat indah, lalu kini ia pun melangkah masuk ke dalam. Joe lantas kembali menutup pintu mobilnya, baru setelah itu ia berlari kecil menuju ke pintu lainnya, membukanya serta masuk dan duduk di kursi kemudinya.
“Sudah siap?” tanya Joe dengan kedua alis yang sengaja dinaikkan.
Tania mengangguk pelan, “Sudah.”
Joe pun lantas bersiap mengidupkan mesin mobilnya, hendak menginjak pedalnya namu tertahan saat Tania mengatakan…
__ADS_1
“Tunggu!”
Diurungkannya niatnya itu sambil menatap heran ke arah Tania.
“Sayang, kamu kena—“
Belum sempat kalimat itu dituntaskan oleh Joenathan, Tania dengan cepat menimpalinya.
“Ssstttt! Diamlah, dan dengan apa yang terjadi di sana.”
Mata Tania terlihat sangat serius menatap ke arah depan, membuat Joe semakin mengerutkan dahinya seraya melirikkan matanya ke arah yang di maksud oleh Tania.
“Aku hamil!”
“Apa, kau hamil?!”
Ekspresi terkejut seolah tak percaya tampak jelas terlihat dari raut wajah seorang pria muda dengan perawakan tampan yang saat ini sedang memungut sepucuk surat yang dilemparkan ke wajahnya. Lalu, saat pria itu mulai membuka kertas itu, dan membaca isinya, wajah sang pria mulai melukiskan kebahagiaannya.
“Ya, dan sekarang aku ingin segera menggugurkannya.”
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan sang wanita yang saat ini terlihat jelas, seolah tak senang dengan hal yang baru saja didapatkannya.
Tania dan Joenathan semakin serius menatap ke arah keduanya.
“Apa kau gila? Kau ingin menggugurkan anakmu?!”
Sang pria terlihat sangat tidak senang, saat mendengar pernyataan yang baru saja terlontar dari mulut sang wanita yang bisa dikatakan adalah kekasihnya.
“Aku tidak ingin melahirkan anak ini!” ujar si waniat dengan nada menekan.
“Tidak, kau harus melahirkannya, karena aku akan bertanggung jawab dengan ini semua.”
Sang pria terlihat mulai memegang kedua belah bahu kekasihnya, berusaha meyakinkannya.
“Tanggung jawab, cih!”
Namun sayang nya si wanita terlihat tidak menerima hal itu, malah kini dengan angkuhnya ia berkata— “Aku tidak butuh tanggung jawabmu!” seraya mengibaskan kedua tangan sang pria yang saat itu melekat erat di bahu nya.
Sang pria terlihat tak terima, ucapan si kekasih yang tak ingin menerima pertanggung jawabannya itu membuatnya sangat marah, apalagi saat ini wanita itu bersikukuh untuk menggugurkan kandungannya, benih dari hasil buah cintanya.
__ADS_1
Sabar ya guys ... nantikan episode selanjutnya^_^.
wkwkwkwk.