
“Aaa… rasanya, senang sekali hari ini,” sebuah senyuman
tampak begitu mengembang dari sudut bibir, Tania.
Joe, membalasnya. Pria itu, ikut menyunggingkan senyumnya. Merasa
sama bahagianya dengan, Tania.
“Syukurlah jika, sayangku, merasa senang.”
Tania, menolehkan pandangannya kearah, Joenathan. “Joe,
terimakasih untu hari yang menyenangkan, ini.”
“Jika, sayangku, mau. Setiap haripun, aku rela menghabiskan
waktuku seperti ini,” kalimat, Joe, terdengar begitu tulus.
“Tentu saja tidak bisa. Jika kau terus menemaniku bermain
seperti ini. Terus, kapan kau akan kerja?”
“Tidak, kerja. Gampang, kan!”
“Tidak bisa! Kau harus tetap kerja. Jika tidak, bagaimana
kelak kau akan menghidupi aku dan calon bayiku?”
“Hahahah!” Joe, tergelak. “Jadi, sayangku takut jika kita
jatuh miskin nantinya?”
“Bukan seperti itu,” Tania, menggeleng. “Aku, tidak takut
jika kita jatuh miskin.”
“Lalu, kenapa kau melarangku untuk terus bersamamu, setiap
saat bermain bersamamu?” alis, Joe, sedikit terangkat saat mengajukan
pertanyaannya.
“Joe, kau seorang kepala rumah tangga. Dan juga, seorang bos
dari begitu banyaknya orang-orang yang bekerja bersamamu. Kau tidak bisa terus
bermain bersamaku seperti ini. Karena, tanggung jawab sebagai seorang pemimpin
sedang menunggumu. Pemimpin dari keluarga kecil kita, dan juga pimpinan dari
usaha yang telah kau bangun selama ini. Orang-orang membutuhkanmu, aku dan bayi
kita juga. Kami semua membutuhkanmu,” jelas, Tania.
Joe, tersenyum. Sebelah tangan kirinya lalu terlihat
mengulur, meraih tangan, Tania. “Ya, kau benar. Aku adalah seorang pemimpin. Pemimpin
dari sebuah perusahaan besar, dan juga pemimpin dalam keluarga kecil kita. Dan aku
berjanji, meskipun kelak sesibuk apapun itu. Aku, akan tetap menyediakan
waktuku untukmu, untuk keluarga kecil kita.”
“Terimakasih, Joe. Terimakasih untuk semuanya.”
Mobil melaju membelah jalanan Ibukota. Mentari perlahan
tenggelam, menyongsong gelapnya malam. Joenathan dan Tania, kini sudah tiba di
__ADS_1
kediamannya. Namun, lain halnya dengan, Wulan. Gadis itu, terlihat masih duduk
di kursi kerjanya, sembari membereskan lembaran kertas yang bertumpuk di sana.
“Hufft! Akhirnya, selesai juga.”
Hembusan nafas yang terasa berat, barusaja keluar dari
mulutnya. Di ambilnya tas berukuran sedang miliknya. Yang, ia letakkan di meja kerja. Wulan,
menyandangnya baru setelah itu ia melenggang keluar darisana.
Jalannya, terlihat sangat terburu-buru. Mengingat, hari yang
sudah gelap. Sudah tidak ada orang lain lagi di sana. Membuatnya, sedikit
merinding jika terus berlama-lama ada di sana.
Sebenarnya, sore tadi, Wulan, sudah ingin segera pulang. Namun,
saat ia hendak beranjak dari tempatnya. Tiba-tiba saja, Bayu, datang dengan
membawa tugas tambahan. Dan juga memintanya, untuk menyelesaikannya hari itu
juga. Terpaksa, Wulan, menunda waktu kepulangannya.
Derapan sepatu kian terdengar, bersamaan dengan kecepatan langkah
yang memenuhi isi ruangan.
Bruuk!
Tiba-tiba saja, tubuhnya menabrak sesuatu. Terasa keras,
hingga membuatnya jatuh.
“Aahh.. sial!” umpatnya, dengan wajah yang mengerut. “Pinggangku,
“Dasar, gadis bodoh!”
Terdengar, suara hujatan dari seorang pria. Sangat tidak
asing, terasa sering didengar. Wulan, menengadahkan kepalanya, melihat sosok
yang berdiri di sana.
“Kau!” keningnya semakin mengerut.
Remang-remang, Wulan, dapat melihat sosok yang tengah
berdiri di sana.
“Bantu ak—“ belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sosok
itu terlihat berlalu pergi darisana tanpa ada sedikitpun rasa bersalah. “Aaaa…
dasar, pria berengsek!” menghempaskan tangannya, di lantai.
Wulan menggerutu kesal. Akan sosok yang barusaja lewat. Bisa-bisanya,
ia berlalu begitu saja setelah membuatnya terjatuh terduduk di lantai tanpa
adanya perasaan bersalah.
Perlahan, Wulan, bangkit sendiri darisana. Dengan memegang
sebelah bagian pinggangnya. Wulan, berhasil bangkit, lalu perlahan melangkah
pergi darisana.
__ADS_1
Kini, Wulan, sudah tiba di depan pintu masuk kantor. Sudah
memegang handle pintunya, akan segera membukanya dan keluar darisana. Lalu,
ketika Wulan sudah menapaki lantai keramik teras kantornya. Tiba-tiba saja,
langkahnya terhenti karena sebuah tangan yang menempel di bahunya.
“Kau, akan pulang dengan siapa?” tanya seorang pria, yang
suaranya sama persis dengan sosok yang menabraknya tadi.
Wulan, menoleh. Matanya menyipit, menatap sosok lelaki yang
tangannya ada di bahunya.
“Bukan, urusanmu!” sungutnya dengan segenap rasa kesal yang
mengganjal di hatinya.
Kembali, ia membalikkan badan. Setelah terlebih dahulu
menepis tangan si pria. Namun, saat kaki itu mulai kembali melangkah. Si pria,
malah menahannya, menarik tangannya dengan kasar hingga, Wulan, jatuh kedalam
pelukannya.
“Kenapa kau menjawab dengan sangat ketus? Bukankah, aku
menanyakanmu dengan sangat baik,” tangannya masih menggenggam erat. Tak ingin
agar, Wulan, terlepas.
“Kau, pria berengsek! Tidak ada yang bagus dari dirimu. Barusan,
kau bahkan menabrakku, tapi jangankan meminta maaf. Menolongku untuk bangkit
saja, tidak kau lakukan. Malah melenggang tanpa perasaan, cih!” cibir, Wulan.
“Oo.. jadi itu masalahnya,” pria itu tampak mengangguk
pelan. “Baiklah, sekarang aku minta maaf.” Dengan seulas senyuman yang tampak
disunggingkan. “Jadi, bisakah sekarang aku mengantarmu? Hitung-hitung sebagai
permintaan maaf dariku,” lirihnya kemudian.
Wulan, menghentakkan tangannya. Dengan raut kekesalan yang masih
begitu tampak di wajahnya.
“Terimakasih atas niat baikmu. Tapi sayangnya, aku lebih
suka pulang sendiri. Jadi, kau tak perlu repot-repot untuk mengantarku,”
kembali berbalik dan pergi meninggalkan pria itu di sana.
Ya, pria itu adalah, Bayu. sosok lelaki yang amat sangat di
benci, Wulan. Barusaja ia menabrak gadis itu hingga terduduk di lantai tanpa
adanya perasaan bersalah. Malah setelah itu, ia langsung pergi kedalam
ruangannya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
Di tempatnya berdiri sekarang. Bayu, terlihat menatapi
kepergian, Wulan. Entah, mengapa penolakan, Wulan, membuat hatinya terasa kecewa.
__ADS_1
TBC.