CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 181


__ADS_3

“Aaa… rasanya, senang sekali hari ini,” sebuah senyuman


tampak begitu mengembang dari sudut bibir, Tania.


Joe, membalasnya. Pria itu, ikut menyunggingkan senyumnya. Merasa


sama bahagianya dengan, Tania.


“Syukurlah jika, sayangku, merasa senang.”


Tania, menolehkan pandangannya kearah, Joenathan. “Joe,


terimakasih untu hari yang menyenangkan, ini.”


“Jika, sayangku, mau. Setiap haripun, aku rela menghabiskan


waktuku seperti ini,” kalimat, Joe, terdengar begitu tulus.


“Tentu saja tidak bisa. Jika kau terus menemaniku bermain


seperti ini. Terus, kapan kau akan kerja?”


“Tidak, kerja. Gampang, kan!”


“Tidak bisa! Kau harus tetap kerja. Jika tidak, bagaimana


kelak kau akan menghidupi aku dan calon bayiku?”


“Hahahah!” Joe, tergelak. “Jadi, sayangku takut jika kita


jatuh miskin nantinya?”


“Bukan seperti itu,” Tania, menggeleng. “Aku, tidak takut


jika kita jatuh miskin.”


“Lalu, kenapa kau melarangku untuk terus bersamamu, setiap


saat bermain bersamamu?” alis, Joe, sedikit terangkat saat mengajukan


pertanyaannya.


“Joe, kau seorang kepala rumah tangga. Dan juga, seorang bos


dari begitu banyaknya orang-orang yang bekerja bersamamu. Kau tidak bisa terus


bermain bersamaku seperti ini. Karena, tanggung jawab sebagai seorang pemimpin


sedang menunggumu. Pemimpin dari keluarga kecil kita, dan juga pimpinan dari


usaha yang telah kau bangun selama ini. Orang-orang membutuhkanmu, aku dan bayi


kita juga. Kami semua membutuhkanmu,” jelas, Tania.


Joe, tersenyum. Sebelah tangan kirinya lalu terlihat


mengulur, meraih tangan, Tania. “Ya, kau benar. Aku adalah seorang pemimpin. Pemimpin


dari sebuah perusahaan besar, dan juga pemimpin dalam keluarga kecil kita. Dan aku


berjanji, meskipun kelak sesibuk apapun itu. Aku, akan tetap menyediakan


waktuku untukmu, untuk keluarga kecil kita.”


“Terimakasih, Joe. Terimakasih untuk semuanya.”


Mobil melaju membelah jalanan Ibukota. Mentari perlahan


tenggelam, menyongsong gelapnya malam. Joenathan dan Tania, kini sudah tiba di

__ADS_1


kediamannya. Namun, lain halnya dengan, Wulan. Gadis itu, terlihat masih duduk


di kursi kerjanya, sembari membereskan lembaran kertas yang bertumpuk di sana.


“Hufft! Akhirnya, selesai juga.”


Hembusan nafas yang terasa berat, barusaja keluar dari


mulutnya. Di ambilnya tas berukuran sedang miliknya.  Yang, ia letakkan di meja kerja. Wulan,


menyandangnya baru setelah itu ia melenggang keluar darisana.


Jalannya, terlihat sangat terburu-buru. Mengingat, hari yang


sudah gelap. Sudah tidak ada orang lain lagi di sana. Membuatnya, sedikit


merinding jika terus berlama-lama ada di sana.


Sebenarnya, sore tadi, Wulan, sudah ingin segera pulang. Namun,


saat ia hendak beranjak dari tempatnya. Tiba-tiba saja, Bayu, datang dengan


membawa tugas tambahan. Dan juga memintanya, untuk menyelesaikannya hari itu


juga. Terpaksa, Wulan, menunda waktu kepulangannya.


Derapan sepatu kian terdengar, bersamaan dengan kecepatan langkah


yang memenuhi isi ruangan.


Bruuk!


Tiba-tiba saja, tubuhnya menabrak sesuatu. Terasa keras,


hingga membuatnya jatuh.


“Aahh.. sial!” umpatnya, dengan wajah yang mengerut. “Pinggangku,


“Dasar, gadis bodoh!”


Terdengar, suara hujatan dari seorang pria. Sangat tidak


asing, terasa sering didengar. Wulan, menengadahkan kepalanya, melihat sosok


yang berdiri di sana.


“Kau!” keningnya semakin mengerut.


Remang-remang, Wulan, dapat melihat sosok yang tengah


berdiri di sana.


“Bantu ak—“ belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sosok


itu terlihat berlalu pergi darisana tanpa ada sedikitpun rasa bersalah. “Aaaa…


dasar, pria berengsek!” menghempaskan tangannya, di lantai.


Wulan menggerutu kesal. Akan sosok yang barusaja lewat. Bisa-bisanya,


ia berlalu begitu saja setelah membuatnya terjatuh terduduk di lantai tanpa


adanya perasaan bersalah.


Perlahan, Wulan, bangkit sendiri darisana. Dengan memegang


sebelah bagian pinggangnya. Wulan, berhasil bangkit, lalu perlahan melangkah


pergi darisana.

__ADS_1


Kini, Wulan, sudah tiba di depan pintu masuk kantor. Sudah


memegang handle pintunya, akan segera membukanya dan keluar darisana. Lalu,


ketika Wulan sudah menapaki lantai keramik teras kantornya. Tiba-tiba saja,


langkahnya terhenti karena sebuah tangan yang menempel di bahunya.


“Kau, akan pulang dengan siapa?” tanya seorang pria, yang


suaranya sama persis dengan sosok yang menabraknya tadi.


Wulan, menoleh. Matanya menyipit, menatap sosok lelaki yang


tangannya ada di bahunya.


“Bukan, urusanmu!” sungutnya dengan segenap rasa kesal yang


mengganjal di hatinya.


Kembali, ia membalikkan badan. Setelah terlebih dahulu


menepis tangan si pria. Namun, saat kaki itu mulai kembali melangkah. Si pria,


malah menahannya, menarik tangannya dengan kasar hingga, Wulan, jatuh kedalam


pelukannya.


“Kenapa kau menjawab dengan sangat ketus? Bukankah, aku


menanyakanmu dengan sangat baik,” tangannya masih menggenggam erat. Tak ingin


agar, Wulan, terlepas.


“Kau, pria berengsek! Tidak ada yang bagus dari dirimu. Barusan,


kau bahkan menabrakku, tapi jangankan meminta maaf. Menolongku untuk bangkit


saja, tidak kau lakukan. Malah melenggang tanpa perasaan, cih!” cibir, Wulan.


“Oo.. jadi itu masalahnya,” pria itu tampak mengangguk


pelan. “Baiklah, sekarang aku minta maaf.” Dengan seulas senyuman yang tampak


disunggingkan. “Jadi, bisakah sekarang aku mengantarmu? Hitung-hitung sebagai


permintaan maaf dariku,” lirihnya kemudian.


Wulan, menghentakkan tangannya. Dengan raut kekesalan yang masih


begitu tampak di wajahnya.


“Terimakasih atas niat baikmu. Tapi sayangnya, aku lebih


suka pulang sendiri. Jadi, kau tak perlu repot-repot untuk mengantarku,”


kembali berbalik dan pergi meninggalkan pria itu di sana.


Ya, pria itu adalah, Bayu. sosok lelaki yang amat sangat di


benci, Wulan. Barusaja ia menabrak gadis itu hingga terduduk di lantai tanpa


adanya perasaan bersalah. Malah setelah itu, ia langsung pergi kedalam


ruangannya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.


Di tempatnya berdiri sekarang. Bayu, terlihat menatapi


kepergian, Wulan. Entah, mengapa penolakan, Wulan, membuat hatinya terasa  kecewa.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2