
“Wulan! tunggu!”
Di halaman parkir, seruan itu terdengar. Bayu berlari sembari memanggil Wulan yang saat ini tengah berjalan dengan cepat. Seolah tak mendengar, Wulan pun semakin mempercepat langkah nya, menuju ke tepi jalan.
“Wulan!” seru Bayu lagi.
Dipercepatkannya langkah kaki itu mengejar Wulan hingga ke tepi jalan. Bayu akhirnya menghentikan langkah saat sudah berada di samping Wulan.
“Wulan, kau mau kemana?”
“Pulang,” sahut Wulan singkat.
“Bolehkah aku mengantarnya?” tanya Bayu dengan napas tersengal.
Berlari mengejar Wulan hingga sampai di sana membuat napas Bayu ngos-ngosan, sehingga kini saat berbicara Bayu harus kembali mengatur
napas.
“Jangan, aku bisa pulang sendiri,” kata Wulan.
“Tapi, di jam seperti ini jarang sekali taksi yang lewat,” kata Bayu.
“Jarang bukan berarti tidak ada kan? Jadi, aku akan tetap menunggu.”
“Kenapa kau menolak iat baikku? Bukankah tadi kau sendiri yang bilang, jika kau sudah memaafkanku?” tanya Bayu.
“Aku hanya tidak ingin merepotkanmu. Lagipula kehadiranmu di sini karena ingin bertemu dengan relasimu kan? Jadi, kamu tidak perlu mengantarkanku,” ujar Wulan. “Kembalilah, Joe pasti sedang menunggumu sekarang,” tambahnya.
“Tidak, aku tidak akan masuk. Aku akan tetap di sini hingga kau menerima tumpanganku,” tukas Bayu.
“Jangan memaksa, karena aku tidak suka. Jika tentang maaf, aku memang sudah memaafkanmu. Tapi bukan berarti aku akan bersedia untuk ikut denganmu.”
“Kenapa … kenapa harus seperti itu? Bukankah sekarangn sudah tidak ada lagi dendam di antara kita?”
“Ya, memang benar, tidak ada dendam di antara kita. Dan pula, aku juga tidak pernah menaruh dendam kepadamu. Tapi bukan berarti saat ini aku bisa langsung dekat denganmu,” jelas Wulan.
“Kenapa tidak bisa?” Bayu kembali bertanya.
Sakit sekali rasanya saat Wulan mengatakan hal demikian, tidak bisa dekat apa berarti itu tandanya Wulan akan menolaknya? Pertanyaan itu melintas begitu saja di benak Bayu.
“Bayu, aku bukan tipe wanita yang bisa begitu saja dekat dengan seseorang. Meskipun kita sudah saling kenal, dan bahkan juga pernah bekerjasama. Tapi sebelumnya, hubungan kita tidaklah dekat.”
__ADS_1
“Ya, aku tau itu. Maka dari itu saat ini aku ingin kita lebih dekat, agar bisa menjalin hubungan yang lebih erat,” kata Bayu.
Wulan menghela napas kasar. Rasanya menjelaskan pun percuma, karena Bayu tak kunjung mengerti.
“Bayu, saat ini aku ingin sendiri. Butuh waktu untuk ini semua, ku mohon kamu mengerti,” pinta Wulan.
“Tapi Wulan, kita …”
Sebuah taksi kini sudah terlihat di ujung jalan. Wulan pun segera melambaikan tangan nya, agar taksi segera berhenti. Diselanya perkataan Bayu yang saat ini masih berharap, Wulan pun langsung masuk ke dalam dengan mengucapkan kalimat “Maaf,” kepada Bayu. Wulan pun pergi bersama taksi yang membawanya.
_______
Malam itu suasana begitu ramai. Para-para petinggi perusahaan semuanya hadir dalam acara. Tak terkecuali Katty, gadis itu juga ikut hadir di sana. Dengan memakai sebuah gaun berwarna merah, yang menjulur panjang ke bawah, Katty melenggang berbaur dengan orang-orang yang ada di sana.
Keberadaan Tania yang tak sengaja tertangkap mata, akhirnya berhasil mencuri perhatiannya. Perut Tania yang menonjol ke depan, membuatnya menaruh rasa benci yang teramat dalam. Di perhatikannya ke sekelilingnya, tak ada Joe di sana. Membuat Katty berpikir jika ini adalah sebuah kesempatan yang tak boleh terlewatkan.
Sebuah pesan kini ditulis di sebuah lembar kertas putih yang dimintanyaa dari pelayan. Katty lalu menyerahkannya kepada pelayan itu, menyuruhnya untuk mengantarkannya kepada Tania. beberapa lembaran seratus ribu rupiah, Katty berikan kepada pelayan, yang membuat pelayan itupun segera melakukan tugas nya.
“Permisi Nona, ini ada surat untuk anda,” kata pelayan dengan meenyerahkan selembar kertas putih kepada Tania.
“Surat?” Tania mengambilnya dengan pancaran heran yang terlihat dari wajahnya. “Terima kasih,” ucapnya kepada pelayan.
Pelayan itu pun kemudian pergi dari sana.
Tania berjalan menjauh dari sana, ke sudut yang sedikit sepi untuk membaca suratnya. Dibukanya perlahan kertas putih yang terlipat, lalu kemudian membacanya.
“Katty,” lirihnya.
Keningnya seketikan mengerut setelah mengetahui jika datangnya dari Katty.
Ajakan pertemuan dengan sebuah alasan rahasia besar yang ingin Katty ungkapkan, membuat Tania dirundung ke bimbangan. Haruskah ia datang ke sana, untuk mendengar semuanya? Atau memilih untuk diam dan tak menghiraukan. Tapi, mengingat percakapan Katty yang pada waktu itu dengan pacarnya. Membuat rasa ingin pergi itu seketika bergejolak. Terlepas dari segala rahasia besar yang ingin Katty katakan, saat ini yang terpenting adalah, Tania merasa harus bisa meyakinkan Katty untuk tidak menggugurkan kandungannya, membuang bayi yang ada di perutnya.
Naluri ke-Ibuannya mengatakan jika ia harus bisa meyakinkan Katty mempertahankan bayinya.
______
Di sebuah tangga…
Terlihat Katty sedang berdiri di undakan anak tangga menuggu kedatangan Tania. Sementara itu dari sisi lain, terlihat Tania sedang berjalan ke tempat di mana Katty memintanya untuk berjumpa.
Tania akhirnya mendapati Katty yang saat ini tengah berdiri di sana. Berdiri di antara anak tangga yang menanjak ke atas.
__ADS_1
“Katty,” seketika rasa kekhawatiran itu menyeruak di dalam hati Tania.
Posisi Katty yang saat ini persis di anak tangga pertama membuat Tania merasa cemas. Kalimat yang Katty lontarkan kala itu masih terngiang-ngiang di telinga Tania, bagaimana gadis itu dengan lantang nya ingin menghabisi janin kecil yang bersemayam di dalam dirinya.
Dengan langkah gontai, Tania akhirnya bergegas menaiki anak tangga. Menghampiri Katty yang sedang berdiri di sana. Namun, saat Tania mulai mendekat, hampir menyentuh pijakan anak tangga yang sama, dengan penuh kesadaran Katty lantas mendorongnya dengan kuat ke belakang.
“Aaaaaaa!!!” pekik Tania keras.
Wanita itu jatuh terhempas ke lantai. Darah segar pun mengucur deras, yang berasal dari rahim nya.Tania telentang tak sadarkan diri sekarang dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
“Cih! Dasar wanita bodoh!” senyum simpul terlihat dari sudut bibir Katty.
Di tepuk-tepuk nya kedua tangan nya, layaknya sedang menghilangkan debu dari sana. Katty kemudian berjalan menghampiri Tania dengan tatapan licik nya.
“Semoga saja, kau dan anakmu itu mengembuskan napas terakhir di sini,” sepak nya dengan sebelah kakinya.
Setelah puas melihat kondisi Tania yang tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di lantai. Katty lantas segera pergi dari sana meninggalkan Tania begitu saja. Perasaan senang, puas, karena ambisi yang tersalurkan,
membuat naluri Katty yang juga sebagai seorang wanita terabaikan. Apalagi dengan kondisi Tania yang saat ini, sungguh Katty tak berperasaan.
Bagi Katty apa yang diinginkannya harus bisa di capai. Meraihnya dengan segenap cara apapun yang ia bisa. Jika apa yang dikejarnya tak kunjung ia dapatkan. Maka orang lain pun tak boleh memilikinya. Segala macam cara akan Katty lakukan, untuk mencapai tujuan. Meskipun itu dilakukan dengan cara yang salah.
Ya … paling tidak, jika Katty tak mungkin lagi untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Maka ia sendiri jugaa tidak akan membiarkan orang lain bersenang-senang dengan apa yang tidak bisa didapatkan olehnya itu.
_______
Di tempat berlangsungnya acara.
Wajah Joenathan terlihat cemas. Sedari tadi ia terus melirik ke seluruh tempat, mencari sosok istrinya yang tadi sempat ia tinggalkan. Perasaan ingin segera ke toilet mengharuskan Joenathan meninggalkan Tania seorang diri
di sana. Namun, tanpa disangka, sekembalinya dari toilet Joenathan tak mendapati istrinya lagi di sana.
Tania, kemana kau?
Tanya Joe dalam hati.
Di telusuri nya ke setiap sudut ruangan, mencari keberadaan Tania. Namun, Joe tak dapat juga menemukannya. Di tanya nya satu-persatu kepada orang-orang yang ada di sana, sayangnya tak satupun yang mengaku melihat.
Joe semakin khawatir, dengan jantung yang berdebar kuat. Keberadaan Tania yang tak juga ia temukan, membuat pria itu semakin takut sekarang. Dicobanya untuk menggunakan ponselnya, Joe lantas segera menelpon Tania namun sayang nya taka da panggilan jawaban dari sana
Tania, sebenarnya sedang berada di mana kau sekarang?
__ADS_1
Tanya Joe dalam hatinya.