CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 142


__ADS_3

Disalah satu rumah sakit swasta yang ada di kota J. Tania terbaring lemah dengan cairan infus yang terpasang di tangannya. Sementara itu Joenathan saat ini pergi ke ruangan Dokter Naufal yang tak lain adalah sepupunya.


Tak berapa lama setibanya disana.


“Hahahahah!” Naufal tertawa keras setelah menutup pintunya.


Membuat Joenathan mengerutkan dahinya.


“Ada apa? Kenapa kau tertawa begitu keras?” Joe menatap Naufal dengan tatapan tak senang.


“Duduk dulu Bro! kita bicarakan ini sambil duduk.” Kata Naufal, sambil mempersilahkan Joe duduk di sofa yang ada di ruangannya.


Joe menuruti kata Naufal, dan duduk di sofa bersama dengannya.


“Katakan, apa yang membuatmu tertawa seperti itu tadi?” tanya Joe penasaran.


Naufal tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya, lalu kini menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


“Sehari, berapa kali kau melakukan hal itu kepada istrimu, Tania?” tanya Naufal tanpa sungkan.


“Lancang! Berani sekali kau menanyakan hal itu kepadaku.” Joe terlihat marah saat mendengar pertanyaan Naufal yang menjurus ke hal pribadinya dan Tania.


Namun Naufal sama sekali tidak takut. Malah kini pria tampan yang berprofesi sebagai Dokter itu menyunggingkan senyumnya.


“Maaf jika pertanyaanku menjurus kedalam hal yang sangat pribadi. Tapi apa kau tidak mau tau kenapa Tania bisa pingsan?” pertanyaan Naufal membuat Joe penasaran.


“Apa kau bilang? Cepat katakan! Jangan membuatku penasaran.” Tatap Joe tajam.


“Hahahahah!” Naufal kembali tergelak, membuat Joe semakin mengerutkan dahinya. Jika saja Naufal bukanlah Dokter terbaik yang ada di kota nya, mungkin sekarang Naufal sudah di tendang olehnya.


Naufal tau, jika saat ini Joe menatap tak senang kepadanya. Wajahnya yang memerah akibat menahan amarah itupun Naufal juga tau. Tapi hal itulah yang membuat Naufal puas, karena sudah sekian lamanya pria itu sudah tidak pernah lagi mengerjai sepupunya (Joe).


“Sabar Bro, sabar.” Naufal kembali menepuk-nepuk bahu Joenathan yang saat ini duduk disamping nya.


Joe berusaha meredam emosinya, dengan cara menarik nafasnya dalam-dalam lalu melepasnya perlahan.


“Apa kau sudah puas sekarang?” ketus Joe.

__ADS_1


“Hehehe.” Lagi, Naufal terkekeh di tempatnya. Lalu kini ia pun menjelaskan alasan di balik ambruknya Tania di kantor tadi. “Tania hamil.” Jelas nya.


“Apa!” Joe mendelikkan matanya, terkejut, lalu kini ia memegangi bahu Naufal dengan keras. “Kau tidak main-main kan?” memastikan apa yang barusan di ucapkan Naufal.


Naufal melepaskan tangan Joe yang menempel di bahunya, lalu kini kembali menjelaskan tentang kehamilan Tania.


“Tania hamil, usia kandungannya sudah memasuki dua minggu.” Jelas Naufal, lalu kini ia kembali menjelaskan lagi apa penyebab Tania bisa lemas, dan pingsan seperti itu. “Tapi bukan itu alasan kenapa Tania bisa pingsan hari


ini, melainkan adalah—“ Naufal tak melanjutkan lagi ucapannya. Lalu kini ia beranjak dari sofanya dan pergi ke meja kerjanya.


Membuat Joe di rundung rasa penasaran karenanya.


“Karena apa? Katakan!”


Naufal kembali tersenyum, lalu kini ia melanjutkan lagi analisanya.


“Tania pingsan karena dia terlalu lelah melayanimu urusan pribadimu.” Jelas Naufal sejelas-jelasnya. “Intinya, kau harus bisa mengontrol nafsumu selama Tania hamil. Jangan memaksakan kehendakmu, karena itu bisa berpengaruh buruk dengan kondisi Tania.” tambah Naufal lagi.


“Kenapa harus seperti itu?” tanya Joe seolah tak terima.


Joe terdiam, mendengar penjelasan Naufal. Membayangkan akan seperti apa jadinya jika ia tak melakukan hal itu dengan Tania. Belakangan, melakukan hal itu sudah menjadi kewajiban untuknya, apalagi menjelang malam. Tidurnya tak akan nyenyak jika Joe tak melakukannya.


Seolah bisa membaca apa isi fikiran Joe. kini Naufal kembali melanjutkan ucapannya.


“Kenapa? Kau pasti bingung ya? Hahaha.” Tanya Naufal, di ikuti gelak tawa setelahnya. “Aku tau, dalam sehari, kau pasti melakukan hal itu dua sampai tiga kali kan dengan Tania, bahkan bisa lebih kan?” kali ini Naufal menahan senyumnya.


Joe hanya diam, tak membalas. Karena saat ini yang ada di benaknya adalah,  bagaimana caranya agar ia bisa menahan diri saat sedang bersama Tania.


Harus, aku harus bisa. Bagaimana pun demi Tania dan Bayinya, aku harus bisa.


Joe menguatkan dirinya.


“Hei Joe!” teriak Naufal, membuat Joenathan tersentak di tempatnya.


“Sial! Kau membuat ku terkejut.” Jawab Joe ketus.


“Hahahahah!” lagi-lagi Naufal tergelak di tempatnya. “Aku tau apa yang saat ini sedang kau fikirkan, kau pasti sedang berfikir bagaimana caranya agar bisa menahan diri dengan Tania kan?” terkanya dengan tepat. “Mudah

__ADS_1


saja, selama kau tidak mendapatkan jatah dari Tania, kau tidur saja dengan wanita lain diluar sana, gampang kan.” Naufal berusaha menjebak Joe, ingin melihat bagaimana tanggapan Joe sekarang. Apakah Joe masih playboy seperti yang dulu, atau jangan-jangan Joe benar-benar sudah berubah seperti gosip yang menyebar belakangan ini.


Entahlah, yang pasti hal itu amat-sangat membuat Naufal penasaran sekarang, sehingga ingin tau bagaimana reaksi sepupunya itu tentang saran yang di berikannya itu.


“Kau gila ya!” sorot mata Joe terlihat tajam. “Tania sedang hamil, jadi mana mungkin aku melakukan hal itu.” Joe menyandarkan tubuhnya sekarang. “Lagi pula, aku sudah tobat dengan yang namanya wanita. Dalam hatiku hanya akan ada satu wanita, yaitu Tania.” jelas Joe.


Kalimatnya itu seolah mempertegas akan isu yang bertebaran belakangan ini, jika Joe benar-benar sudah berubah. Naufal menyunggingkan senyumnya, lalu kini kembali bangkit dari kursi nyamannya menuju keara Joe, dan kembali duduk disamping nya.


“Wah… ternyata sepupuku sudah benar-benar berubah ya.” menepuk bahu Joe pelan. “Sungguh aku tidak menyangka jika akhirnya kau bertekuk lutut kepada satu wanita.” Tambahnya kini.


Sementara itu diruang rawat.


“Eeeuhh.” Tania tersadar. Lalu kini perlahan ia membuka matanya dan melihat, “Dimana aku ini?” samar-samar Tania melihat ruangan yangterasa asing baginya.


“Nona sudah sadar?”


Seorang suster kini berjalan menghampirinya.


“Suster?” Tania mengernyitkan dahinya.


“Nona jangan bangun dulu, rebahan saja. Tunggu sebentar lagi, jika sudah tak lagi pusing baru Nona bisa duduk ya.” ujar Suster itu lembut.


“Suster, apa sekarang saya sedang berada di rumah sakit? Dan kenapa saya bisa ada disini?” suara Tania terdenga masih lemah.


“Tadi Nona pingsan, dan Tuan Joenathan membawa anda ke rumah sakit ini.” Jelas Suster dengan lembut.


“Pingsan?” Tania kembali mengernyitkan dahinya.


“Ya.” jawab Suster lagi.


Ceklek!


Terdengar suara pintu terbuka, sehingga hal itu membuat percakapan di antara Tania dan Suster seketika terhenti. Tania menoleh kearah pintu kamar dan melihat seseorang yang sangat di kenal nya masuk kedalam dan melangkah ke arah nya.


“Joe.” lirihnya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2