CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 184


__ADS_3

“Joe, jangan pergi,” lirih, Tania.


Membuat, Joe, mengerutkan dahinya, “Kenapa?”


“Ka-karena a-aku masih ingin, kau berada di sini!” seru, Tania, dengan wajah yang tertunduk malu.


Ya, Tania, merasa malu  sekarang. Malu, karena sudah mengingkari janjinya. Malu, karena juga sudah kembali mengingat janjinya. Janji, yang ia buat sendiri. Membolehkan, Joe, menciumnya malam ini. Mencium bibirnya,


layaknya sepasang kekasih yang ada di bioskop itu tadi.


Astaga… kenapa aku jadi sangat kikuk sekarang. Bukankah hal ini sudah biasa. Hanya sebuah ciuman kan, tapi kenapa perasaanku jadi aneh begini ya.


Batin, Tania.


Seketika, Joenathan, melemparkan senyumnya. Sangat lembut, hingga membuat, Tania, semakin salah tingkah


karenanya. Namun kini, Joe, melepaskan tangan, Tania, yang memegang erat pergelangan tangannya.


“Joe, apa ku sungguh tidak ingin berada di sini bersamaku?” terlihat, gurat kekecewaan begitu terpancar di wajah, Tania, saat, Joe, melepaskan tangannya.


Hal itu tentu saja membuat, Joe, sangat tak tega. Sehingga kini membungkukkan badannya, mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan pipi, Tania.


“Sayangku, aku harus pergi sekarang. Tidak bisa duduk terus di sini, karena aku tidak ingin kau sakit nantinya,”


suara, Joe, terdengar sangat lembut. Mencoba, memberi penjelasan agar, Tania, bisa mengerti.


Tapi, sepertinya hal itu tidak terjadi.  Bukannya mengerti, Tania, malah semakin menarik tangan, Joe, mengenggamnya dengan sangat erat. Tak ingin, Joe, meninggalkannya. “Joe, please,” Tania, memohon. Membuat, Joe, semakin bingung dengannya.


“Sayang, kenapa kau melakukan itu. Sayangku, tidak boleh memohon seperti ini,” Joe, menimpali tangannya di atas tangan, Tania.


“Maka dari itu, kau jangan pergi. Tetaplah di sini bersamaku.”


“Tidak bisa sayang, aku harus pergi. Karena jika tidak—“


“Ssssttt! Jangan katakan lagi, aku tidak ingin mendengarnya,” sela Tania, menempelkan jari tangannya di permukaan bibir, Joenathan. Membuat, pria itu bungkam tak dapat melanjutkan lagi kalimatnya.

__ADS_1


Tapi, sepertinya keinginan, Joe, sangat kekeh. Pendiriannya sangat teguh, untuk pergi darisana. Menutup jendelanya, dan juga pintu balkon yang terbuka lebar di sana. Tidak ingin, angin yang begitu kencang itu  dapat membuat, Tania, sakit nantinya.


Dipindahkannya jari tangan, Tania, yang menempel di permukaan bibirnya. lalu kini, Joe, kembali berdiri tegak dan bergegas pergi darisana. Joe, membalikkan badannya, hendak melangkah meninggalkan, Tania, yang masih duduk di sofa.


“Joe, ku mohon jangan tinggalkan aku!”


 Lagi-lagi langkah kakinya tertahan. Karena, Tania, yang kemudian bangkit dari duduknya. Memeluk tubuh, Joenathan, dari belakang. Melingkarkan tangannya di tubuh itu dengan sangat erat. Seolah-olah menunjukkan, jika ia benar-benar tak ingin jika sosok yang berdiri dihadapannya itu benar-benar meninggalkannya.


Tania, haruskah ia sampai bersikap seperti ini. Aku hanya ingin pergi ke sana, menutup jendela dan juga pintunya. Tapi, sikapnya ini menunjukkan, seolah-olah aku—


Ah, tidak… jangan-jangan, Tania, berfikir jika aku ingin kembali ke kamarku. Meninggalkannya sendiri di sini.


Joe, menggelengkan kepalanya. Dipegangnya tangan, Tania, yang melekat erat di tubuhnya. lalu, perlahan ia melepasnya dan kembali berbalik menghadapnya.


“Sayangku, apa saat ini kau berfikir jika aku akan kembali ke kamarku?” tanya, Joe, yang ingin meluruskan pertanyaan yang terbesit di benaknya.


“Hmm,” Tania, mengangguk pelan. “Bukankah, kau memang berniat seperti itu? Kembali ke kamarmu, dan meninggalkan aku sendiri di sini tanpamu,” tukas, Tania, dengan wajah yang semakin mengerut seiring kalimat yang terlontar dari mulut.


Joe, mengulas senyumnya. Kalimat yang baru saja didengar, seorang semakin memperjelas. Jika saat ini, Tania,


memang benar-benar takut jika ia benar-benar pergi darisana. “Sayang, aku hanya ingin pergi ke sana, menutup pintu dan jendela,” Joe, menunjuk kearah pintu dan jendela yang terbuka.


Astaga… jadi, Joe, bukannya ingin meninggalkanku. Dia, hanya pergi karena ingin menutup pintu balkon dan juga


jendela yang masih terbuka! Aaa… malu sekali jadinya, bisa-bisanya aku bersikap seperti itu tadi. Tidak membiarkannya pergi, bahkan seolah-olah tak ingin jauh sama sekali darinya….


Tania, merasa sangat malu sekali sekarang. wajahnya, terlihat sangat merah bagaikan kepiting yang tengah berada


dalam air rebusan. Terlihat sangat jelas, rona yang terpancar di wajahnya, membuat, Joe, tak dapat menahan senyumnya.


“Angin di luar berhembus dengan sangat kencang, aku tidak ingin kau jatuh sakit nantinya,” Joe, mulai berjalan


menyusuri ruang kamar, pergi ke arah jendela, lalu sesaat kemudian beralih ke arah pintu dan menutupnya dengan rapat.


Tidak ada angin yang masuk lagi sekarang, dan kini, Joe, sudah kembali melangkah mendekati, Tania, yang masih

__ADS_1


terpaku di depan sofa.


“Sayangku, jendela dan pintunya sudah kututup dengan rapat. Anginnya, sudah tidak masuk lagi. Apa sekarang, kau akan menyuruh pergi?” tanya, Joe, yang kini sudah berdiri di depan, Tania, membungkukkan badannya. Menelisik dengan jelas, rona yang terpancar di sana.


Wajahnya merah bagaikan kepiting rebus. Apakah, dia merasa malu sekarang?


Tania, hanya diam tak menjawab. Tak bergeming sama sekali di tempatnya.


“Diammu berarti menandakan jika aku harus pergi sekarang,” Joe, lantas segera membalikkan badannya. Sengaja,


karena ingin melihat ekspresi apa yang akan ditunjukkan oleh, Tania. Apa dia akan membiarkannya pergi, atau malah menahannya untuk tetap di sini.


Tak tinggal diam. Tania, segera mencegatnya. Ia menarik pergelangan tangan, Joe, saat hendak melangkah meninggalkanya.


“Joe, jangan pergi!” seru, Tania. “Bukankah, kau datang kesini karena janji yang aku ucapkan?”


Seketika langkah kaki, Joe, terhenti. Dan kembali membalikkan badannya. “Kau, sudah ingat janjimu?” tanya, Joe.


“Ya, aku sudah ingat!” seru, Tania. “Saat kita di bioskop tadi, kau meminta sebuah ciuman dariku. Tapi, aku tidak memberikannya, malah berjanji padamu jika kita akan melakukannya di rumah,” ucap Tania dengan penuh keyakinan.


Joe, kembali mengulas senyuman. Sebenarnya, bukan kalimat itu yang ingin di dengar. Tapi, yasudahlah…


setidaknya, Tania, sudah ingat akan janjinya. Mungkin malam ini, Joe, hanya bisa menyentuh bibirnya saja. Namun, meskipun begitu, hal itu sudah membuat, Joe, merasa sangat senang.


“Karena, kau sudah ingat. Bolehkah aku menciummu sekarang?”


“Hmm, ya,” Tania, mengangguk pelan.


Tanpa menunggu lagi, Joe, pun segera mendaratkan bibirnya di bibir, Tania. Cup! Mengecupnya dengan sangat lembut.


Kedua bibir saling bertaut. Membuat aliran darah mulai terasa panas, mengalir di dalam tubuh. Sudah dua minggu lamanya, Joe, tidak merasakan sentuhan itu. Terasa begitu nyaman, seolah-olah tak ingin lepas.


Tapi itu tidak mungkin. Gairah, Joe, mulai bergejolak sekarang, dan hal itu tak mungkin ia lakukan. Ia tak ingin memaksa, jika tidak ada kesiapan dari, Tania. Ingatan akan sikap kasarnya masih terbesit di benaknya. Membuat, Joe, merasa cukup dan tak lagi melanjutkan. Joe, tak ingin  nafsunya kembali merajai fikirannya. Sehingga nantinya, ia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Tak ingin, Tania, wanita yang dicintai merasakan kembali trauma yang sama.


“Sudah, sudah cukup,” Joe, membelai lembut pucuk kepala, Tania. “Malam sudah semakin larut, sudah waktunya

__ADS_1


untuk tidur.”


Tania, terlihat mengerutkan dahinya. Seperti, tidak senang mendengar hal itu.


__ADS_2