
Sebuah kecupan kini telah mendarat di bibir, Tania. Terasa lembut, dan juga begitu hangat. Tubuhnya, seketika terasa panas, seiring menyatu kedua bibir mereka. Jantung, Tania, pun berdegup kencang tak beraturan. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Karena kini, Joenathan, telah menghentikan aksinya. Dia, melepaskan ciumannya.
“Sudah, sudah cukup,” tangan, Joe, mengusap pelan pucuk kepala, Tania. “Malam sudah semakin larut, sudah waktunya untuk tidur,” Joe, melepaskan tangannya yang tadinya, mengungkung tubuh, Tania.
Entah mengapa, mendengar hal itu membuat, Tania, kecewa. Ia seolah tak ingin jika kemesraan yang baru saja tercipta, berlalu begitu saja. Berhenti, hanya karena masalah waktu. Apalagi, waktu tidur.
“Joe, aku—“ Tania, tak menghabiskan kalimatnya.
“Sayangku, beristirahatlah dengan baik. Jendela dan pintunya jangan di buka lagi, ya.” nasehat, Joe.
Terlihat, Joe, membalikkan badannya dan ingin segera pergi darisana. Namun, lagi-lagi, Tania, menahannya.
“Joe, a-aku ingin ki-kita kembali tidur sekamar!” seru, Tania, dengan kalimat yang sedikit terbata-bata. Lalu kini, ia pun melangkah mendekati, Joe, dan berdiri di depannya. “K-kau, ti-tidak merasa keberatan kan, Joe?” tanyanya kini.
Joe, menatap wajah, Tania. Terlihat berharap, membuatnya tak mampu menolak. Jujur, saja sebenarnya, Joe, sendiri juga merasa sangat senang dengan hal itu. namun, dia tidak ingin menunjukkannya di depan, Tania.
Joe, kemudian menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan, dan menjawab—“Baiklah,” disertai anggukan pelan kepalanya.
Senyum merekah, terlihat tersungging di bibir, Tania. Hatinya merasa sangat senang, karena sekarang ia akan kembali tidur dalam satu pembaringan dengan, Joenathan. Dihamburkannya, tubuhnya kearah, Joenathan, Tania, memeluknya dengan penuh semangat.
“Makasih, Joe!”
“Sama-sama,” Joe, kembali mengangguk. Lalu kini, ia terlihat sedikit menunduk, dengan sebelah tangan yang mengulur kearah kaki, Tania. “Karena ini sudah sangat larut, maka kita akan segera tidur,” Joe, mengangkat tubuh,
__ADS_1
Tania. Menggendongnya dan membawanya menuju kearah ranjang.
Setibanya di sana, Joe, lantas menurunkannya. Merebahkan tubuh, Tania, dengan sangat hati-hati. Tania, kini sudah terbaring di sana. Sementara, Joe, kini terlihat bergegas menuju kearah samping, merebahkan diri di sampingnya.
Joe, kini menarik selimut yang ada di sana, menutupi tubuhnya dan juga tubuh, Tania. lalu, setelah itu ia pun menoleh kearah, Tania, untuk memberinya sebuah ucapan sebelum tidur.
“Sayangku, jangan lupa berdo’a dulu sebelum tidur, ya. Selamat tidur, semoga mimpi indah.”
Joe, kini terlihat mengecup kening, Tania. Setelah, mengucapkan ucapan selamat tidur kepadanya. Direbahkannya kembali tubuhnya di samping, Tania. Lalu kini, Joe, membalikkan badannya. Tidur dengan posisi miring, membelakangi, Tania.
Tania, menatapi punggung itu. Punggung, sosok lelaki yang telah mencuri hatinya. Menjadi, suaminya dan bahkan sebentar lagi, akan menjadi sosok ayah dari anaknya.
Sementara itu, Joe. Ia kini mulai memejamkan matanya. Berusaha segera terlelap dalam tidurnya. Sebenarnya, saat ini ingin ia sendiri ingin sekali mendekap, memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Namun, mengingat
Beberapa menit telah berlalu. Namun, sepasang suami istri itu masih sama-sama terjaga. Joe, tak dapat tidur dengan nyenyak, begitupula, Tania. Mereka berdua sudah berusaha memejamkan mata. Namun, rasa kantuk itu tak kunjung datang.
Keduanya, memilik rasa yang sama. Joe, tak bisa tidur karena memikirkan, Tania. Begitupula sebaliknya, Tania, pun tak kunjung terlelap karena mata yang ingin terus memperhatikan, Joe, di balik punggungnya.
Joe, apakah kau sudah tidur? Mungkinkah secepat itu? Apakah kau tau jika belakangan ini aku sangat merindukanmu. Atau, kau, berpura-pura tidak tau akan hal itu.
Batin, Tania.
Tania, kembali memperhatikan pergerakan, Joe, dibalik punggungnya. Tak ada pergerakan apapun di sana. Mungkin, saat ini ia sudah tertidur lelap. Begitu fikir, Tania.
__ADS_1
Digesernya tubuhnya itu perlahan, mendekat kearah, Joenathan. Tania, kemudian sedikit bangkit, menggeser kepalanya mendekat kearah, Joenathan. Lalu, tanpa segan ia pun mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.
Cup!
Joe, masih terjaga. Matanya mendelik saat, Tania, mendaratkan kecupan lembutnya. Tangannya lalu secara reflek menangkap pergelangan, Tania, yang saat itu tengah membelai rambutnya dengan lembut. Ditatapnya wajah, Tania. Terasa dekat, bahkan sangatlah dekat hingga tubuh merekapun sudah tak memiliki jarak sekarang.
“Sayang, kau—“
Cup!
Belum lagi sempat, Joe, menyelesaikan kalimatnya. Tania, kini sudah menautkan bibirnya di sana. lalu, beberapa saat kemudian— “Joe, aku ingin mulai malam ini kita akan kembali tidur bersama, tidak lagi ada batas, jarak ataupun sebagainya,” bisik, Tania.
“Sayang, apa kau serius?”
“Hmm,” Tania, megangguk.
“Dan juga, apa sekarang aku sudah boleh melakukannya?”
Kembali, Tania, menganggukkan kepalanya.
Senyum, Joe, pun lantas melebar. Merekah, seiring hatinya yang dirundung rasa bahagia. Bahagia, karena sekarang, Tania, yang sudah tak lagi memberi batas, ataupun jarak diantara mereka. Menghapus semua garis, serta dinding penghalang yang selama ini ia bentangkan.
Tanpa menunggu lagi, Joe, pun lantas kembali menautkan bibirnya dengan bibir, Tania. Melepaskan segala dahaga yang selama ini terasa. Menyalurkan rasa, yang selama ini terpendam. Meskipun malam yang kian dingin, tapi di sana kehangatan itu kian terasa. Dengan pergerakan yang sangat lembut, serta keutamaan kenyamanan yang, Joe, tunjukkan. Membuat, Tania, seolah terhanyut dalam buaian indahnya kasih yang, Joe, berikan.
__ADS_1
TBC.