
Sebuah ponsel telah berada di tangan. Jemari lentik milik seorang wanita terlihat dengan cekatan mengetikkan setiap huruf yang ada di layar ponselnya. Tania, hari ini telah memulai rencananya.
Hari ini, Tania, berdandan dengan sangat rapi. Drees berwarna navy ia pakai, hampir menutupi bagian lututnya. Tubuhnya, tampak terangkum begitu indah dengan memakai pakaian itu. Wajahnya di rias dengan make-up yang tak terlalu tebal. Ya, seperti biasanya, hanya make-up tipis dengan sentuhan lipbalm di bibirnya sudah mampu membuat aura cantiknya, kian terpancar.
Pesan telah terkirim, dan kini saatnya bagi, Tania, untuk melangkah pergi. Sebuah tas yang tak terlalu besar, kini sudah tersandang di bahu, Tania. Pengecekan terakhir, dalam penampilannya juga sudah dilakukan dengan sempurna. Kini, sudah saatnya ia meninggalkan kamarnya.
Di halaman depan. Terlihat, dua orang pengawal sudah berdiri di sana. Sebuah mobil, juga sudah terparkir di depan teras, menanti sang Nyonya keluar dari dalam rumah. Tania, kini sudah tampak muncul, dari balik pintu kayu jati asli yang membentang lebar dan tinggi keatas.
Para pengawal pun, kini terlihat membungkuk hormat menyambut, Nyonyanya.
“Bagaimana, sudah siap!?” seru Tania setibanya di sana.
“Sudah, Nona,” salah satu pengawal, terlihat sudah membukakan pintu samping mobil. “Silahkan, Nona, masuk!” Pengawal itu, mempersilakan dengan hormat.
Tania, tersenyum. Mengangguk pela, lalu kemudian melangkah masuk kedalam.
***
Di kantor.
Terlihat, Joe, sedang memegang sebuah bingkai. Sebuah foto pernikahannya dengan, Tania, beberapa bulan yang lalu ditatapnya. Diperhatikannya dengan seksama sembari sesekali menyunggingkan senyumnya.
Hari ini, Joe, telah menyusun rencana untuk mengajak, Tania, makan siang di luar. Hal ini, sudah difikirkannya sedari tadi, saat ia berangkat dari rumah. Sikap, Tania, yang sudah mulai membaik. Membuat, Joe, seolah tak lagi sungkan untuk mengutarakan niatnya.
“Jika aku mengajaknya makan siang di luar. Dia, tidak akan menolakkan?” lirih Joe, dengan tangan yang mulai menggenggam ponsel.
Joe, ingin segera menghubungi, Tania. Untuk segera mengutarakan niatnya. Namun, saat ia mulai menekan nomor kontak yang bertuliskan nama ‘sayangku’ itu. Tiba-tiba saja, ponselnya bergetar disusul deringan pesan.
“Tania,” lirih Joe.
Pesan itu ternyata dari, Tania. sehingga kini, tanpa menunggu lama, Joe, segera membukanya.
Sayangku, siang ini kita makan siang bersama ya. Aku, akan datang ke kantormu sekarang.
Sebuah kalimat pesan disertai caption kecupan dan hati telah dibaca oleh, Joe. Seketika, semangatnya membara, diiringi lingkaran senyum yang melebar. Rasanya ia begitu senang, merasa hatinya dan Tania, seolah saling bertaut, terikat satu sama lain. Baru saja ia ingin menelfon untuk mengajaknya makan siang. Sekarang, sebuah pesan malah masuk dari Tania dengan niatan yang serupa.
Rapat telah selesai. Orang-orang terlihat beriringan keluar darisana. Wulan, terlihat memegang beberapa dokumen di tangannya. Semua dokumen itu, ia katupkan mendekat kedalam dada, mendekap erat karena tak ingin jika
salah satunya sampai tercecer di lantai. Ya, lumayan banyak berkas-berkas yang harus ia bawa. Membuatnya tak boleh lalai dalam hal pengerjaannya.
__ADS_1
“Kenapa, apa kau merasa berat?” lirikan mata, Bayu, mengarah ke setumpuk dokumen yang terlihat di dekap.
“Berat ataupun ringan, bukankah ini memang sudah tugasku?” jawab Wulan dengan nada malas.
“Mau aku bantu?” Bayu, mengernyitkan dahinya. Tangannya, tampak mengulur kearah, Wulan, layaknya seperti hendak membantu. Tapi, sesaat kemudian ia kembali menariknya. Sambil mengatakan, “Tapi, inikan memang tugasmu. Jika aku bantu, terus untuk apa perusahaan menggajimu.” cetusnya dengan nada tak bersalah.
“Aku, juga tidak membutuhkan bantuanmu!” mata Wulan membelalak. Dengan kasar, ia mengayunkan tubuhnya, pergi meninggalkan tempat itu.
Entah mengapa, melihat kejengkelan, Wulan. Bayu, merasa sangat senang. Senyumnya, tampak merekah saat, Wulan, melangkah dengan tergesa-gesa, meninggalkan dirinya di sana.
Dari arah lain. Masih di tempat yang sama. Terlihat, Katty, sedang berbicara dengan rekannya. Setelah perbincangan singkat itu selesai. Gadis itu, kini melangkah menghampiri, Bayu, yang sedang berjalan sendirian.
“Bayu, tunggu!” panggil Katty.
Bayu, menghentikan langkahnya. Kepalanya lalu menoleh kearah belakang. Dilihatnya, Katty, tengah berjalan kearahnya, dengan langkah sedikit berlari.
“Apa yang diinginkan wanita itu,” gumam Bayu. keningnya juga tampak mengerut tak senang.
Rasanya, malas sekali jika harus berbicara dengan, Katty, jika itu diluar pekerjaan.
“Ada apa?” tanya Bayu.
“Oh, itu karena, Joenathan, telah melimpahkan seluruh pekerjaannya kepadaku. Kedepannya, dia tidak akan pernah lagi hadir. Akulah yang akan menangani semuanya,” jelas Bayu.
“Benarkah? Kenapa bisa?” rententan pertanyaan tercetus begitu saja. Mata Katty, terlihat memicing menatap, Bayu, sekarang.
“Tanyakan saja padanya,” cetus Bayu begitu saja. “Eh, tapi dia kan sudah tidak mau lagi bertemu denganmu, ya.” kembali, Bayu menimpali kalimatnya.
“Apa maksudmu?” Katty, mengernyitkan dahi.
“Maksudku, kau sendiri pasti sudah tau. Mengingat, tentang apa yang telah kau lakukan padanya. Tidak mungkin, terlupakan begitu saja kan?” Bayu menaikkan sebelah alisnya.
Katty terdiam. Kalimat, Bayu, seolah kembali mengingatkannya akan kalimat terakhir yang diucapkan, Joenathan, saat ingin membuka pintu apartemennya.
Ternyata, kata-kata itu bukan sekedar ancaman. Joe, benar-benar sudah tak menganggapku lagi sekarang.
Batin Katty.
“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?” telisik Bayu.
__ADS_1
Katty hanya diam.
“Yasudah, kalau begitu aku akan pergi. Masih begitu banyak pekerjaan yang sedang menantiku sekarang.”
Bayu lantas segera pergi darisana tanpa ingin mendengarkan tanggapan apapun dari wanita yang berdiri di depannya. Sementara, Katty, tampak merengut kesal sambil mengepalkan sebelah tangan.
**
Di depan perusahaan. Baru saja sebuah mobil mewah berwarna putih terlihat berhenti. Seorang pria tinggi, tubuh tegap, dengan perawakan yang lumayan tampan terlihat turun darisana. Pakaiannya serba hitam, dengan pangkasan cepak yang menata rapi rambutnya. Terlihat berjalan, kearah pintu samping lalu membukanya.
“Silahkan turun, Nona,” badannya membungkuk, saat mempersilahkan, Nonanya itu turun darisana.
“Hmm, terimakasih!” terdengar seruan hangat, menanggapi layanan dari pengawal itu.
Pengawal itu mengangguk pelan, sembari terus membungkukkan badan. Sementara tangannya, terlihat mempersilakan.
Sejenak, Nonanya itu berdiri di sana. kepalanya menengadah, melihat tingginya gedung yang berdiri di depannya.
“Akankah, Joe, merasa senang?” lirih Tania.
“Pasti! Tuan, pasti akan sangat senang dengan kehadiran anda, Nona.” pengawal itu menimpali.
Tania, menyunggingkan senyumnya. “Itu, harus.”
Diayunkannya kakinya masuk kedalam gedung perusahaan. Bersama, pengawal yang terus membuntuti dari belakang. Tania, lantas disambut hangat oleh karyawan yang bekerja di bagian depan, bersamaan dengan senyum, Tania, yang
juga melebar.
Ya, Tania tak akan pernah lupa dengan statusnya dulu. Gelar karyawan yang pernah disandangnya dulu. Membuatnya, tak pernah angkuh meskipun sudah memiliki segalanya. Ia tetap rendah hati, dalam menghadapi karyawan yang bekerja di sana.
Dari arah yang berlawanan. Terlihat, Katty, tengah berjalan kearah pintu keluar. Namun, langkahnya terhenti saat melihat, Tania, yang sedang berdiri berbalas sapa dengan orang-orang di sana.
Dia, sedang apa dia datang kesini? Apa itu untuk menemui, Joe?
Batin Katty.
Entah mengapa, semenjak kejadian malam itu. Katty, merasa sangat kesal terhadap, Tania. Mengingatnya saja sudah membuat kesal. Apalagi, melihatnya hari ini. Sungguh, rasanya ingin sekali ia menghancurkan, Tania. Agar, Tania, juga merasakan. Bagaimana perasaan sakit, seperti kehancurannya sekarang.
TBC.
__ADS_1