CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 176


__ADS_3

Wulan, duduk sendiri di sebuah meja yang berada didalam kantin perusahaan. Terlihat, ia sedang menyantap seporsi makanan yang ada di depannya. Sangat lahap, sehingga kini makanan itu sudah hampir habis tak tersisa di piringnya.


Disedotnya, minuman dingin yang ada di depannya. Lalu kini, Wulan, melahap sesendok terakhir yang ada di piringnya.


“Alhamdulillah,” kalimat itu lantas tercetus begitu saja tatkala makanan itu telah habis tak bersisa.


Sluurrrpp!


Air dingin yang ada di gelasnya pun kini telah habis, hanya menyisakan beberapa butir kristal yang belum mencair di sana.


“Kau ini wanita apa bukan sih, kenapa begitu cepat menghabiskan makanannya?” terdengar, sebuah pertanyaan dari seseorang yang tak asing dari arah sampingnya.


Wulanpun lantas menoleh, dan melihat—“Kau!” keningnya, seketika mengerut sekarang. “Sejak kapan kau duduk di sini?” pertanyaan itu pun tercetus begitu saja. Padahal, dia sendiri belum menjawab pertanyaan yang tadi. Namun, kini sudah melontarkan pertanyaan yang lain kepada sosok yang duduk di sampingnya. Bayu.


“Dasar, sapi! Aku duduk di sini pun kau juga tidak tau,” Bayu menggeleng pelan. “Ishh.. ishh.. ishh.”


“Kau, berani mengataiku sapi!” mata Wulan melotot.


“Ya, terus kenapa?” tantang Bayu. “Memang nyatanya seperti itu kok! Kau, makan saja sampai tidak menyadari orang lain sedang duduk di sampingmu.”


“Dasar kambing! Main nyelonong gitu aja,” ketus Wulan, yang kemudian memilih bangkit darisana.


“Apa kau bilang!? Berani sekali, kau mengataiku kambing?” Bayu menahan, Wulan, dengan menarik tangannya.


Gadis itupun tak jadi beranjak dari tempatnya.


“Lah, kan emang iya. Kambing itu masuk ke pekarangan orang lain tanpa permisi, main nyelonong gitu aja. Sama persis, seperti seseorang yang sedang berada di sini sekarang,” cibir Wulan.


Dikatai sapi, dan disamakan pula seperti binatang membuat Wulan naik pitam. Enak saja, memangnya siapa dia. Jangan mentang-mentang jabatannya lebih tinggi, jadi bisa mengatai orang lain sesuka hatinya. No, no, no! Hal itu, sama sekali tak berarti bagi, Wulan. Apalagi, saat ini waktunya jam istirahat. Jadi, tidak ada istilah atasan dan bawahan di sana.


“Kau!” Bayu, semakin mempererat cengkramannya. Membuat, pergelangan tangan, Wulan, terasa pedih sekarang.


Puk!


“Awww!!!” cengkraman tangan itu lepas. Tatkala, Wulan, yang dengan sengaja menginjakkan kakinya keatas kaki, Bayu. Hingga,  membuat pria lajang itu menjerit kesakitan. Sampai-sampai, menjadi tontonan orang-orang yang masih ada di ruang kantin sekarang.


Tak tinggal diam. Wulan pun mengambil kesempatan itu untuk segera pergi darisana. Langkah seribu dinilai tepat, mengingat begitu banyak pasang mata yang tengah memperhatikan mereka sekarang.


Cih! Semua ini gara-gara si, Bayu, sialan itu. Coba saja, tadi dia duduk anteng di sana. Tidak menyamaiku dengan binatang. Pasti, aku tidak akan melakukan hal seperti tadi kepadanya. Malah, tanganku di pelintir sampai pedih lagi. Jadinya kan reflek!


Sungut, Wulan dalam hati.


Sementara itu.


Terlihat, orang-orang yang ada di sana, menahan senyumnya. Saat melihat, Bayu, yang ditinggal sendirian. Sangat mengenaskan, seorang pria tampan, dan juga muda, mempunyai jabatan cukup bagus di perusahaan, kini malah

__ADS_1


ditinggal sendirian oleh seorang wanita yang tak lain adalah sekretaris pribadinya sendiri. Benar-benar, sangat memalukan. Hahaha!


Wulan, berani sekali kau membuatku malu. Tunggu, dan lihat saja, perhitungan apa yang akan aku lakukan padamu.


Batin Bayu.


Pria itupun lantas beranjak pergi darisana, dengan kaki yang masih terasa sakit akibat injakan keras dari kaki, Wulan.


Disebuah lingkungan apartemen elit.


“Emm… mmm,” terdengar suara desahan disebuah kamar.


Cuaca diluar sangatlah panas. Sementara, didalam sebuah kamar. Terlihat, sepasang anak manusia yang tengah terbakar gelora. Panas yang tengah berkobar, seakan sulit untuk dipadamkan. Sebelum, benar-benar mendapatkan kepuasan.


Peluh-peluh terlihat berjatuhan. Seiring irama hentakkan yang terus dilakukan. Bermain-main diatas sebuah pembaringan yang sedari tadi terus bergoyang.


Diluar sana. Orang-orang terlihat tengah menikmati makan siang mereka. Mengisi perut dengan beraneka ragam makanan kesukaan. Terlihat, canda tawa serta senyum keriangan taktkala sedang berkumpul dengan rekan-rekan


yang lainnya.


Ya, waktu istirahat makan siang biasanya digunakan untuk beristirahat, berleha-leha sejenak sambil bercengkrama santai dengan sesama. Ketegangan saat sedang bekerja, kini bisa sedikit terlepas saat jam istirahat makan siang.


Namun, lain halnya dengan seorang gadis yang tengah terkulai di sana. Ia terlihat  begitu lelah setelah dikalahkan dalam sebuah pertempuran sengit yang tak dapat dielakkan. Wajahnya, terlihat muram. Dengan kening yang sengaja dikerutkan, karena perasaan tak senang yang ada di dalam hati. Sampai kapan semua ini harus terjadi?


Mungkinkah, takkan ada akhir dari kisah ini? Beberapa pertanyaan itu, kini terbesit dalam hati seorang gadis yang tengah terbaring di sana.


“Menjauhlah dariku,” tepis, Katty, dengan tangan. Menjauhkan wajah, Kevin, yang menempel di telinga.


Hembusan nafas itu, seolah bagaikan cambuk yang begitu menyakitkan. Sedari tadi, ia sudah merasakan itu. Sehingga kini, Katty, ingin sedikit lebih tenang dalam peristirahatannya.


Kevin menjauh. Mendengar, apa yang diminta oleh Katty. Sedikit menjarakkan tubuhnya, meski masih dalam satu pembaringan yang sama. Tapi, setidaknya sekarang, kulit mereka tak lagi bersentuhan. Tidak seperti sebelumnya.


Ditatapnya tubuh polos yang saat ini sedang membelakanginya. Terlihat, banyak sekali bekas-bekas merah di area punggung, sekitar pundaknya. Membuat, seulas senyuman melingkar di bibir, Kevin.


Entah mengapa, saat ini ia seolah candu dengan, Katty. Semenjak tragedy yang begitu mengasyikkan itu terjadi. Kevin, tak lagi pernah melakukan hal itu dengan orang lain. Bukannya tidak ada yang mendekati, ataupun tidak ada


yang memberi. Namun, entah mengapa yang ada difikirannya hanyalah, Katty, Katty, dan Katty. Membuatnya, menolak berbagai hal diluar sana. Dan hanya ingin dengan, Katty, melampiaskan, menyalurkan segala keinginannya bersamanya. Apakah ini cinta? Atau, hanya sekedar hawa nafsu belaka? Entahlah, yang pasti saat


ini, Kevin, merasa begitu nyaman dengan wanita yang sedang terbaring disisinya.


Sementara itu.


“Sayangku, makasih ya atas waktunya siang ini,” sebuah ucapan terimakasih yang terdengar begitu lembut saat ini barusaja terlontarkan dari mulut seorang pria yang dulunya begitu angkuh untuk mengucapkan hal itu.


“Hmm, sama-sama,” Tania, mengangguk pelan. “Terimakasih juga, karena telah bersedia menemaniku untuk menghabiskan waktu siang ini,” Tania, kini mulai meraih tangan, Joenathan. “Terimakasihku lagi, karena hari ini kau begitu terlihat tenang. Meskipun kau tau ini adalah tempatnya, Kak Roy.”

__ADS_1


Joe, melontarkan senyum manisnya. Ternyata, nggak sia-sia tadi ia menahan emosinya di sana. Jujur saja, saat mengetahui jika, Tania, mengajaknya makan siang di Caffenya, Roy. aliran darahnya seketika naik kekepala, membuatnya seakan ingin meledak. Namun, ia tetap berusaha menenangkan dirinya mengingat, barusaja membaiknya hubungan ini.


“Jangan berterimakasih seperti ini kepadaku. Sudah seharusnya aku menyenangkanmu. Dan untuk, Roy, aku bisa bersikap tenang seperti itu, karena dia sendiri juga bersikap tenang padaku. Dia menyambutku, meskipun dia tau jika aku ini adalah perebut miliknya. Tapi, pria itu tetap menyambutku dengan hangat, meskipun sebelum sebelumnya aku sudah berbicara ketus padanya.”


“Joe, jangan mulai lagi. Kau tidak pernah merebutku darinya. Aku dan Kak Roy tidak mempunyai hubungan yang seperti itu. Dia hanya menganggapku sebagai adiknya, dan begitupula sebaliknya,” tukas Tania.


“Hmm, ya, ya, ya, baiklah.” Joe, menghelas nafas panjang. Mengalah, ya, itu jalan yang terbaik sekarang.


Setelah perbicangan singkat itu. Tania, kini pamit untuk segera pulang kerumah. Hari ini, ia telah merasa cukup dengan segala rencannya. Waktunya beristirahat sekarang, berleha-leha di rumah. Sebenarnya, Joe, masih


menginginkan, Tania, di sana. Menemani dirinya, hingga saat nanti jam pulang tiba. Pastilah, sangat bersemangat baginya jika bisa melihat, Tania, terus bersamanya. Namun, sayangnya, Tania, menolak.


 Tak ingin memaksa. Joe, akhirnya merelakan, Tania, untuk kembali kerumah. Tapi, sebelum, Tania, benar-benar


pergi. Joe, mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningnya. Baru, setelah itu ia bisa membiarkan, Tania, pergi dengan tenang.


Para pengawal, kini sudah bersiap di tempatnya. Satu telah bersiap duduk di setir kemudinya. Sementara satunya lagi, kini terlihat sudah membukakan pintu samping mobil. Mempersilahkan, Nona Mudanya untuk segera masuk


kedalam.


Tania, akhirnya pergi. Dan, Joe, pun kini kembali masuk kedalam. Melanjutkan kembali aktivitas pekerjaan yang masih menumpuk.


Ditengah perjalanan menuju keruang kerjanya. Terlihat, Bayu, yang sedang berjalan dengan tertatih-tatih. Tangannya, terlihat memegang kesebelah kaki. Layaknya seseorang yang sedang menahan sakit.


Ada apa dengan, Bayu?


Tanya, Joe, dalam hati. Kemudian, ia pun berjalan menghampiri, Bayu, yang ada di sana.


“Kakimu kenapa, Bay?” tanya, Joe. Yang membuat, Bayu, tersentak.


“Eh, Joe!” menoleh kearah, Joe. “Ini, kakiku sakit,” ringisnya.


“Sakit? Kenapa bisa?” tanya, Joe, penasaran.


“Di injak, Wulan,” cetus, Bayu, dengan wajah kesal.


“Puufffttt!!! Hahahah!” Joe, tergelak. “Ternyata, selain Miska, masih ada wanita lain yang seberani itu denganmu. Hahah!” lagi, Joe, tak dapat menahan tawanya.


“Sialan kau Joe! Teman lagi sakit, malah diketawain,” sungut, Bayu. Terlihat sekali, wajahnya semakin kesal sekarang. Karena, Joe, yang semakin mengejeknya.


“Saranku sih, Bay. Jadikan saja, Wulan, sebagai kekasihmu. Toh, Miska, juga sama sekali tak membalas cintamu kan?!”


“Siapa yang suka dengan, Miska!”


“Jangan mengelak. Kau tidak bisa berbohong kepadaku. Miska, sudah bertunangan dan tak lama lagi akan menikah. Jadi, labuhkan saja hatimu kepada, Wulan. Gadis itu terlihat sangat cocok denganmu,” tukas, Joe dengan analisanya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2