CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 210


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa minggu pun telah terlewati. Hingga sekarang Tania tak kunjung ada kabar. Sudah lelah Joenathan mencarinya ke sana-sini, ke seluruh penjuru kota. Tapi sayangnya Tania tak kunjung ditemukan.


Sebuah kabar yang di dengar dari mulut Bayu, membuat seorang Wulan yang notabene nya adalah sahabatnya Tania menjadi resah. Padahal pada malam itu sikapnya biasa-biasa saja dan juga keadaan rumah tangganya dan Joe setahu Wulan juga sangat bahagia. Terus kenapa Tania pergi tanpa meninggalkan kabar, ditengah kebahagiaan yang tengah di rasa. Entahlah, Wulan sendiri tidak mengerti akan hal itu.


Wulan juga ikut andil dalam mencari, menghubungi teman-teman yang dulunya pernah dekat dengan mereka. Tapi tidak ada hasil yang didapat, semua mengatakan jika mereka  tidak tau keberadaan Tania ada di mana.


“Nia … kau di mana sekarang?” helaan napas itu terdengar berat. “ ‘Ku harap kau dan bayimu tetap sehat di mana pun kau berada.” doa Wulan untuk sahabatnya..


________


Di kediaman Joenathan.


“Bagaimana, apakah sudah ada kabar?” tubuh itu bangkit dari duduknya, berjalan cepat ke arah Bayu yang baru saja menutup pintu mobilnya.


“Belum.” Bayu menggeleng pelan. “Aku belum menemukan informasi apapun terkait Tania,” ucapnya dengaan terpaksa. Sebenarnya Bayu sendiri tidak tega mengatakan hal itu, tapi kejujuran lebih utama karena tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Joenathan.


“Ah … sudah satu minggu berlalu, tapi kita masih belum bisa menemukan informasi apapun tentang Tania.” menyibak rambut yang menutupi dahi ke belakang dengan seluruh jemari tangan.


Beberapa hari ini semenjak hilangnya Tania. Joenathan terlihat sangat berantakan. Rambut yang biasanya ia berikan pomade serta disisir rapi ke belakang, sekarang dibiarkan terurai begita saja. Badannya juga terlihat menyusut karena belakangan ini kurang makan. Selama satu minggu terakhir ini Joenathan terus memikirkan Tania, hingga membuat  selera makannya berkurang.


“Kapan, kapan kita akan menemukannya Bay?!” seketika wajah Joenathan tampak menegang, memegang kedua lengan Bayu, kuat.


“Kita pasti akan menemukannya Joe, sabarlah.” berusaha menenangkan, padahal Bayu sendiri juga tidak tenang sekarang. Tania hilang dengan sekejap, tidak ada jejak ataupun kabar, menghilang bagaikan ditelan bumi.


“Kapan Bay, kapan?” dahi Joenathan mengerut dengan alis yang hampir menyatu. “Kau tau kan apa arti Tania bagi diriku, jiwaku, hidupku, separuhnya adalah dia. Aku tidak bisa kehilangannya seperti ini, tidak bisa!.”


“Kita akan segera menemukannya. Tapi semua itu butuh proses, jadi bersabarlah.” Bayu kembali mencoba meyakinkan.


Sementara itu di Rumah Sakit.

__ADS_1


“Bagaimana, apa kau sudah memeriksanya?” Sam duduk di antara kursi yang berjejer di luar ruang Rumah Sakit.


“Sudah Tuan, dan pelakunya sendiri adalah seorang wanita.”


“Seorang wanita?”


Malik mengangguk.


“Hmm … jadi seorang wanitalah yang telah membuat Tania ‘ku hingga seperti ini.” kedua mata Sam terlihat memicing sekarang. “Siapa wanita itu?” sebuah pertanyaan akan keingintahuan tentang sosok wanita itu.


Malik merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. Dimainkkannya jempol tangan demi membuka sebuah video yang ada di ponselnya. Hasil rekaman yang tertangkap cctv yang terpasang di tangga itu.


Rekaman hasil invetigasinya di hotel itu.


“Ini, Tuan lihatlah sendiri.” menyerahkan ponsel kepada Sam.


Sam mengambilnya, lalu melihat apa yang ada di sana. Sebuah adegan yang dilakukan dengan sengaja, mendorong dari atas hingga jatuh ke lantai. Dikerutkannya keningnya saat melihat sosok wanita yang mendorong Tania. Sam lantas memperbesar gambar itu demi memastikan sosok yang ada di sana.


“Ya, aku mengenalnya. Gadis ini adalah Katty, putri dari Bambang Sutomo yang dulunya pernah ingin menjodohkan putrinya denganku, tapi aku tolak. Tidak disangka ternyata dibalik penampilannya yang elegan ia memiliki hati yang yang begitu kejam.” mengingat momen di mana saat orangtua Katty menyodorkan Katty putrinya. “Malik, sekarang juga aku ingin kau membereskan semua hubungan kerjasama dengan perusahaan mereka. Jika perlu, akuisisi perusahaannya dan seret wanita itu ke penjara,” titah Sam setelahnya.


Setelah percakapan itu berakhir, Sam lantas bangkit dari duduknya. Pria itu kemudian kembali masuk ke dalam, di mana saat ini Tania dirawat. Begitupula dengan Malik, pria bertubuh tegap dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitaran wajahnya itu lantas segera pergi dari sana, guna menjalankan tugasnya. Tugas yang barusaja Sam berikan padanya.


_______


Sudah satu minggu lamanya Tania terbaring di Rumah Sakit. Di ranjang dengan beberapa selang yang melekat di tubuh. Selang-selang yang membantunya agar tetap bertahan hidup, ditengah kesakitan yang saat ini melanda.


Selama sepekan terakhir pula, Samuel Vydrick terus berada di Rumah Sakit. Menemani Tania tanpa jeda. Ia bahkan tidak mengunjungi perusahaannya selama sepekan terakhir, memilih untuk menemani Tania yang masih


tidak sadarkan diri.

__ADS_1


“J … Joe..” samar-samar suara itu terdengar keluar dari mulut Tania, disertai kedua jemari yang kemudian ikut bergerak.


Sontak Sam terlonjak dalam diamnya. Ia yang baru saja masuk ke dalam ruangan itupun seketika bergerak mendekati Tania, demi mendengar langsung apa yang wanita itu ucapkan.


“Joe…”


Samar, suara itu kembali keluar dari mulut Tania.


“Nia … kau sudah sadar?” tanya Sam seraya meraba jemari Tania yang tadi digerakkan.


“J..joe…”


Lagi, kalimat itu terucap. Apa yang Sam tanyakan tidakah terindahkan karena Tania yang masih di bawah alam sadar. Di dalam tidurnya Tania bermimpi, melihat sosok Joenathan yang terlihat meringkuk di sudut dinding sendirian. Di mimpi itu Tania melihat tubuh Joenathan yang begitu kurus, dengan penampilan tak terurus terus menangis di sana sembari memanggil nama Tania. Tania membalasnya dan memanggil kembali nama Joenathan. Namun, Joenathan tidak mendengar padahal saat itu Tania memanggilnya dengan teriakan. Dicobanya untuk menggapai tangan Joenathan, tapi tidak dapat tersentuh karena sebuah dinding penghalah. Dinding yang terbuat dari kaca, memisahkan dirinya dan Joenathan.


Tak henti-hentinya Tania memanggil nama Joenathan di dalam mimpinya itu hingga akhirnya terbawa ke alam nyata.


“Joe… Joe…”


Tania … kenapa kau memanggil nama itu? kenapa bukan aku?


Kesedihan begitu terpancar di wajah Sam.


Selama ini bukankah kau tidak bahagia hidup dengannya? Kau menderita seperti ini karena dia, kelalaiannya yang tidak bisa menjagamu.


Sam kembali mengingat tentang pesan yang Tania kirimkan malam itu. Dimana Tania memintanya untuk segera datang ke kediaman Joenathan, menjemputnya di tengah malam buta. Meskipun setibanya di sana Tania tidak ada


di luar, malah sudah tidur kata penjaga rumahnya.


Sam pun akhirnya pergi dari sana, setelah memastikan jika apa yang dikatakan penjaga itu adalah benar. Namun, meskipun begitu hatinya tetap menduga jika malam itu telah terjadi sesuatu sehingga Tania mengirinkan pesan seperti itu padanya.

__ADS_1


Meskipun sedikit tidak tenang, tapi Sam mencoba melegakan hatinya dengan menghilangkan semua prasangka buruk itu. Memanjatkan doa agar Tania bahagia dengan pernikahannya dan Joenathan. Namun, pada malam itu saat Sam mendapati Tania yang tergeletak bersimbah darah di lantai. Hatinya sedih,  serta marah kepada Joenathan yang di anggap tidak mempedulikan Tania. Jika saja Joenathan memang peduli dengan istrinya itu, maka tidak mungkin wanita itu bisa jatuh di sana bukan? Di mana letak tanggung jawab lelaki itu sebagai seorang suamin, membiarkan istrinya sendirian di tempat seperti itu?


Pikiran Sam kalut, membuatnya tidak bisa berpikir hernih. Cintanya kepada Tania membuatnya berbuat hal seperti itu. Jika saja ia yang menjadi suami dari Tania sekarang. Maka pria itu pasti akan menjaganya dengan baik, tidak akan membiarkannya sendirian, akan selalu mengawasi Tania kemanapun ia pergi.


__ADS_2